Nyanyian Alam Fana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 31 May 2017

Tangisan itu mulai terdengar kembali. Rintihan demi rintihan ia lantunkan di balik gubug nan tua. Rani, begitu mereka memberi nama bayi tersebut. Pardi yang sehari-hari bekerja sebagai guru magang di sekolah dasar masih belum bisa menjadi tulang punggung kokoh bagi keluarganya. Sedangkan Erti istrinya hanya sebagai ibu rumah tangga seperti pada umumnya.

Bayi mereka kini sedang mengeluh kesakitan. Entah apa sebabnya, yang jelas panas di tubuh Rani tak kunjung reda dalam seminggu terakhir ini. Sebenarnya Pardi dan istrinya sudah membawa anaknya berobat, tetapi apa mau dikata. Seusai konsultasi dengan dokter, ternyata Pardi tak bisa menebus obat untuk anaknya.

Guru memang profesi yang sangat terhormat di kalangan masyarakat. Tapi itu tidak berlaku untuk seorang guru seperti Pardi yang belum menjadi pegawai negeri, ia hanyalah guru magang yang digaji seadanya oleh sekolah. Berbeda dengan para guru di luar sana yang bisa menikmati gaji dari pemerintah.

Sungguh ironi kehidupannya semakin lama makin carut marut. Gaji 150 ribu sebulan tentu saja tidak bisa diandalkan untuk kehidupan sehari-hari. Boro-boro untuk beli susu untuk anaknya, beli makan pun mereka harus jungkir balik di tengah riuhnya kota. Terkadang Pardi rela hanya makan nasi satu hari sekali, bahkan tak jarang ia tak pernah makan sesuap nasi pun berhari-hari. Ia mencoba menabung untuk kebutuhan Rani bayinya.

“Pak, mbok ya makan, udah tiga hari loh bapak ndak kemasukan nasi sama sekali” ucap istrinya.
“Alah bukk. Tak usah lah kau pusing-pusing mikirin aku. Yang penting bagaimana ini bayi kita biar cepet sembuh”
“Semua itu ada jalannya pak, aku yakin Tuhan tidak akan menguji umatnya melampaui batasnya”
“Tuh kan, kebanyakan nonton siaran ustadz gaul di tipi, sekarang gentian bapak yang diceramahin. Pokonya bapak gak mau makan kalo si Rani belum sembuh, titik!”

Bukan tanpa alasan Erti membujuk suaminya untuk makan. Ia mengerti selain ujian mental yang begitu dahsyat yang kini dialami keluarganya, sungguh kesehatan pun menjadi barang yang sangat berharga. Ia tak ingin suaminya ikut-ikutan sakit seperti anaknya.

Malam itu Pardi termenung di teras rumah gubug tercintanya. Ia berpikir, salah apa yang sudah ia perbuat sampai cobaan selalu melekat kepadanya. Malu memang, seorang guru yang bisa mengayomi murid-muridnya, lhah kok ngrumati anaknya aja ndak bisa.

Akhirnya Pardi pun terlelap dalam lamunannya. Dalam nyenyak tidurnya ia seperti mendengar bisikan-bisikan aneh. Suara samar yang mencoba mengajak Pardi untuk berbicara.
“Pardi… Pardi… Datanglah ke hutan ronggolawe sebelah utara desamu, aku akan membantumu di sana. Aku tahu kau sedang kesulitan, maka bergegaslah” ucap suara samar tersebut.
Sontak Pardi pun bangun, kagetnya bukan main, ia bingung dari mana suara samar tadi berasal. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul satu malam hari. Dengan penuh kebimbangan, dan tak tahu harus berbuat apalagi, ia pun menuruti permintaan dari suara aneh tersebut.

“Mau kemana pak malam-malam gini? Udah toh pikirannya ditenangin dulu, ini anak kita demamnya naik lagi pak.”
“Sebentar bapak ada urusan, semoga lancar buk”.
Istrinya pun memandang keheranan. Tapi Erti tak ingin terlalu melarang suaminya pergi karena melihat tekad kuat terlihat di mata Pardi. Hanya berbekal senter dan tas ransel nan lusuh Pardi pun berangkat.

Sesampainya di hutan ronggolawe Pardi menjadi bimbang kembali. Bukan tanpa alasan, karena banyak sekali rumor warga yang mengatakan bahwa hutan itu sangatlah angker. Hutan itu hanya tinggal sepuluh kaki di depannya. Sudah tak ada alasan lagi buat Pardi untuk mundur. Terbayang wajah Rani yang sedang demam meronta kesakitan.
Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk melangkah. Belum sampai sepeluh langkah, tiba-tiba ia jatuh pingsan.

Pardi sedikit demi sedikit membuka matanya, ternyata hari sudah terlampau siang. Ia tertidur semalaman di hutan tersebut. Ketika ia berdiri, seperti ada hal yang aneh kembali menghampirinya. Badannya terasa berat, ternyata keanehan itu berasal dari tas ranselnya. Kemudian ia membuka tas ransel lusuh tersebut, barang apa sampai bisa membuat dirinya keberatan saat menggendong tasnya itu.

Entah mimpi atau bukan ternyata ia mendapati jutaan uang kertas seratus ribuan di tasnya. Sekejap ia panik, tetapi ia mencoba berpikir positif. Mungkin ini adalah pertolongan dari tuhan yang disampaikan lewat suara aneh tersebut.

Tak lama kemudian ia bergegas pulang dan mengajak istrinya untuk menebus obat untuk anaknya. Istrinya menanyakan dari mana Pardi mendapat uang tersebut. Tetapi Pardi tak menggubrisnya, yang terpenting anaknya bakal sembuh, cukup.

Setelah sampai rumah, Rani bayinya pun terlelap di bantal kesayangannya. Saat merapikan tempat tidurnya, tiba-tiba Pardi menemukan sepucuk surat berwarna coklat tua. Lalu ia ambil dan membacanya di teras rumah. Matanya melotot dan kaget setengah mati melihat tulisan isi dari surat tersebut.
“Pardi… aku lah suara aneh yang menuntunmu semalam. Ingat, kelak aku akan mengambilnya saat berumur 20 tahun sebagai permaisuriku di alam fana. Ya benar, anakmu Rani, jaga dia baik-baik sebelum aku menjemputnya. Hahahahahahaha…”

Cerpen Karangan: Hidar Amaruddin
Blog: Hidars.blogspot.com
Seorang penulis musiman, bukan sang pujangga. Ketika sedang sarapan suka mengawali makan dan mengakhirinya dengan minuman.

Cerpen Nyanyian Alam Fana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tajam Ke Bawah Tumpul Ke Atas

Oleh:
Tancapkan tongkat keadilanmu Kibarkan kotak merahmu Pertahankan nilai luhur kami Bawalah masa depan kami Mampukah kau pimpin negeriku Di mana hukum keadilanmu Lihatlah rakyatmu Tertindas karena ketidakadilanmu Ku lihat

My Angel

Oleh:
3 Juli 2014, pukul 23.30 di taman kota, terlihat seorang gadis dengan kuncir kuda yang rapi sedang berlari mengejar anak anjing yang sedang berlari di depannya. Gadis itu berusaha

Bola Bola Lucu

Oleh:
Peri-peri kecil sedang bermain bola. Noni peri juga ada bersama mereka. “Lili penyihir baik, ya. Kita masing-masing dikasih bola,” kata salah-satu peri kecil. Tiba-tiba, datanglah gerombolan peri kecil nakal.

Rahasia Toca

Oleh:
‘1… 2…” Tesya tiba-tiba berhenti menghitung jumlah gambar domba yang tertempel di dinding kamarnya. Dia selalu melakukan hal ini sebelum tidur. Namun sepertinya malam ini tidak seperti biasanya. “apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Nyanyian Alam Fana”

  1. Radiyatul Adawiah says:

    Cerpenya mantapp..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *