Oplosan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Gokil
Lolos moderasi pada: 19 August 2017

“Kuberi kau kekuatan sihir. Tapi lenyapkan dia!”

Alkisah, hidup seorang gadis. Ia tinggal bersama ibu dan saudara tirinya. Ibu kandungnya pergi entah ke mana. Markonah, selalu menjadi target suruhan dari Sasha dan Sishi.

Suatu hari ada pesta dansa di istana. Semua warga diundang. Markonah ingin sekali mengikutinya. Sayang, dia dilarang oleh ibu tiri dan saudara tirinya. Akhirnya dia ditinggal sendiri di rumah. Hatinya sedih, detak jantungnya tak menentu, urat-urat saraf mengendur, encok kambuh.

Tiba-tiba muncul secercah cahaya. Bukan senter bapak-bapak yang lagi ronda, bukan juga layar HP ABG zaman sekarang yang cahaya HP-nya lebih terang dari otaknya. Ternyata itu adalah ibu peri yang sering muncul di dongeng-dongeng.

“Kamu kenapa sedih?”
“Ah, jangan sok-sokan nanya lah. Situ kan ibu peri, pasti tahu kan kenapa gua sedih?”
“Hehe. Tahu aja. Ya kan basa-basi dulu. Nanti kalau langsung nolong dikira gak sopan.”
“Ibu peri, aku ingin sekali pergi ke pesta dansa itu. Aku kan sudah lama bisa dansa. Siapa tahu di sana aku bisa berdansa dengan pangeran. Tapi pakaianku hanya tinggal ini, aku malu.”
“Ya udah jangan bersedih.” Ibu peri mengayunkan tongkat sihirnya. Dan ulala. Markonah kini menjadi terlihat sangat cantik dengan baju yang indah.

“Sekarang kamu bisa pergi ke pesta dansa itu. Tapi ingat, sebelum jam 12 malam kamu harus kembali karena sihir ini akan berakhir pada jam 12.”
“Jam 12 tepat?”
“Iya.”
“Gak molor kayak orang biasanya?”
“Ya enggak lah.”
“Terima kasih ibu peri.” Ucapnya lembut sambil berjalan ke istana raja.

Markonah tidak terlambat. Saat tiba di istana, acara baru saja mulai. Markonah deg-degan. Hatinya cenat cenut. Ombak di lautan pasang surut. Kulit manggis ada ekstraknya. Selangkah demi selangkah dia mendekati pintu masuk istana yang dijaga oleh dua penjaga yang menjaganya. Pintu terbuka dan terlihat banyak sekali orang sedang berdansa. Dia kaget. Bukan kaget karena banyak orang atau kaget melihat tempat yang mewah. Dia kaget karena ternyata itu pesta dansa oplosan. Semua yang ada di dalam sedang asyik goyang oplosan. Markonah menganga tidak percaya. Goyang oplosan kan goyangan kesukaannya.

Ia langsung nimbrung dan berjoget dengan semangat. Keluwesan gerakannya membuat seluruh peserta dansa terpukau, termasuk sang raja. Akhirnya mereka duet di depan barisan.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 11.55. Dia teringat akan peringatan ibu peri. Dengan tergesa-gesa dia berlari ke luar istana. Karena terlalu terburu-buru, dia sempat jatuh beberapa kali dengan gaya jatuh yang beragam. Pangeran mengejarnya. Namun, pengalaman markonah mengikuti beberapa kali kejuaraan lomba lari tingkat RT membuatnya tak terkejar. Sayang, sepatunya tertinggal. Kedua-duanya.

Markonah masih berlari.
“Sial. Aku lupa kalau lagi masak nasi.”
Sampai di rumah, ia segera bergegas ke dapur. Nasi telah menjadi bubur. Ya emang sudah jadi bubur. Dia takut kalau ibu tirinya melihat pasti akan kena marah. Akhirnya diam-diam ia akan membuang bubur itu dan memasak nasi lagi. Bubur dilemparnya ke luar jendela. Sial. Ibu tirinya melihat kelakuannya. Sialnya lagi, bubur yang dilempar kena baju kesayangan ibu tiri. Sial lagi, baju itu sedang dipakai. Kemarahan ibu tiri menjadi tiga kali lipat hingga hampir-hampir dia menjadi super saiya. Markonah langsung dikurung dalam ruangan kecil. Setelah suasana mulai kondusif, Markonah berusaha kabur dan berhasil.

Markonah sangat sedih. Dia tidak tahu harus hidup di mana. Akhirnya dia memutuskan untuk tidur di emperan toko yang sudah tutup. Rasa kantuknya yang kuat membuatnya tertidur, mengalahkan rasa dingin dan gatal yang menyerangnya.
Matahari menunjukkan sinarnya. Ayam jago menunjukkan kokoknya. Pemilik toko menunjukkan barang dagangannya. Tapi alangkah kagetnya ia melihat seorang gadis tidur di depan tokonya. Dengan kesal pemilik toko itu membangunkan gadis itu. Beraneka ragam cara dia lakukan. Tetapi markonah tetap tertidur pulas. Dia menjadi bingung.

Anak pemilik toko itu keluar dan bertanya penuh penasaran pada bapaknya.
“Mbak-mbak itu kenapa, Pa?”
“Dia tidur di sini dan susah dibangunin.”
Gadis cilik itu mendekati gadis yang lebih tua, mengamati dengan penuh konsentrasi, mengernyitkan dahi.
“Pa, Papa, jangan-jangan mbak ini kayak yang ada di cerita putri tidur. Dia baru bisa bangun kalau dicium oleh pangeran.”
Si pemilik toko bingung. Mana ada putri tidur di dunia nyata. Kalau polisi tidur memang ada. Petinggi yang lagi rapat tidur juga ada. Banyak malah.

Ia pun melanjutkan membangunkan Markonah dengan variasi aktivitas yang berbeda-beda dengan intensitas yang berbeda-beda pula. Sayang seribu sayang, Markonah tak kunjung bangun. Pemilik toko merasa putus asa dan memutuskan untuk membiarkan gadis itu tidur dengan konsekuensi kenyamanan pengunjung tokonya akan terganggu. BTW, toko itu adalah toko furniture tempat tidur. Ya lumayan bisa dijadikan tokoh peraga.

Ternyata kehadiran gadis tidur di toko tempat tidurnya membuat tokonya makin laris. Semua orang tertarik dengan dagangannya. Orang berpikir, di emperan tokonya saja orang bisa tidur nyenyak, apalagi tidur di tempat tidur yang dijual. Pasti lebih nyenyak. Dan dalam satu hari dia bisa menjual 137 tempat tidur, memecahkan rekor penjualan toko sebelah. Betapa bahagianya si pemilik toko.

Akhirnya terpikirkan untuk merawat si Markonah. Namun, beberapa saat kemudian, datang seorang ibu-ibu membawa gagang ember beserta ember dan airnya. Lalu ia menyiramkannya ke Markonah.
“Dasar anak kurang ajar! Minggat molor aja kerjaannya. Bangun! Pulang! Banyak cucian di rumah.”
Markonah terbangun dan ketakutan. Ia diseret ibu itu ke rumah. Ternyata dia adalah ibu kandungnya.
“Abis dari mana aja lu? Pasti main di rumah tante itu lagi. Dasar!”
Markonah diam, sedih kembali ke nasib aslinya, dianaktirikan oleh ibu kandungnya.

Sesampai di rumah dia disuruh mencuci pakaian kotor di sungai.
“Kan ada Siriwati, Nyak?”
“Heh! Dia itu anak tiri enyak. Harus disayang. Lah elu tuh anak kandung. Harus lebih berbakti.”
Markonah pergi ke sungai dengan perasaan sedih.

“Siapa yang sampai sini lebih dulu. Dia yang menang.”
“Aku tidak takut.”
“Dasar, kamu ini jalannya lambat masih saja sok optimis”
“Heh jaga mulutmu! Dasar makhluk paling sombong sedunia.”
Markonah mendengar percakapan kancil dan kura-kura yang sedang adu mulut akan lomba lari. Akhirnya terlintas ide di pikirannya.

“Heh kalian berdua, ngapain kalian?”
“Eh, ada mbak-mbak. Kami lagi mau balap lari, Mbak.” Jawab si kancil.
“Tidak baik saling mengejek seperti itu. Kita diciptakan Tuhan itu dengan kelebihan kekurangan masing-masing. Mungkin kancil bisa berlari lebih cepat dan itu menjadi kelebihanmu. Dan lari cepat adalah yang tidak dimiliki kura-kura. Maka dari itu tidak adil kalau kalian lomba lari. Itu artinya kalian hanya mengandalkan kelebihan kalian tanpa mempedulikan kelebihan yang lainnya, yaitu si kura-kura. Jangan seperti pendidikan di salah satu negara di dunia yang menyamakan kemampuan semua muridnya. Muridnya pinter olahraga, eh disuruh pinter matematika. Kalau gak bisa, dianggap bodoh. Kan lucu.”
Kancil dan kura-kura terdiam sejenak mendengar petuah dari Markonah. Adem rasanya.

“Lalu, kami harus bagaimana mbak?”
“Sini kalian ikut aku ke sungai.” Mereka sampai sungai.
“Kancil, kamu memiliki kelebihan bergerak cepat. Dan kamu kura-kura, kamu memiliki tempurung yang keras. Jadi, kancil, ini ada pakaian kotor. Kamu bawa satu per satu pakaian ini ke sungai itu, lalu cuci di atas tempurung kura-kura. Setelah bersih, kamu jemur di batu di sana. Dengan demikian kelebihan kalian akan menjadi manfaat bagi makhluk lain. Mengerti?”
Tanpa berpikir panjang mereka menjalankan perintah itu. Di sisi lain, Markonah pergi meninggalkan sungai dan singgah di sebuah salon.
“Full service, Jeng!”

“Dia meninggalkan sepatunya. Siapkan pasukan! Kita akan cari orang yang cocok dengan sepatu ini dan dia akan jadi istriku.”
Pagi harinya petugas kerajaan bersama sang raja berkeliling ke setiap rumah untuk mencari gadis yang pas dengan sepatu itu. Akan tetapi memasuki senja, tidak ada hasil. Raja memutuskan untuk membuat sayembara besar-besaran. Barang siapa yang bisa menemukan orang yang pas dengan sepatu tersebut, akan diberikan bayaran yang sangat besar. Orang pun tergugah hatinya. Biasa, mau bekerja asal ada bayarannya. Much money my boy, no money goodbye. Hasilnya, hari kedua banyak sekali wanita yang antre (Antre ya bukan antri) untuk menjajal sepatu itu di istana. Dari peserta nomor 1 sampai 2017 tidak ada satu pun yang cocok dengan sepatu itu. Raja pun akhirnya frustrasi.

“Aku harus menemukan dia. Masa’ tidak ada yang pas dengan sepatu ini. Kan cuma tinggal masukin kaki, kayak gini. Nah, masuk kan? Masa’ gini aja tidak ada yang pas.”
Eits, tunggu dulu, masuk! Ternyata sepatu itu pas dengan kaki sang raja. Seperti terkena sengatan petir. Raja pun langsung berubah.
“Amboi, cucok binggo sih sepatu ini. Kalau eike pekong sepatu ini, pasti banyak cowok yang jatuh cintrong sama eike. Mangkal yok baaang!”
Raja yang sekarang mungkin lebih tepat disebut rejong berlari ke luar, turun ke jalan, ke perempatan, dengan radio kecil, menghibur pengguna jalan dan menggoda para pria. Ada pengguna jalan yang merasa jijik, ada pula pengguna jalan yang gak peduli. Gak peduli keselamatan pengguna jalan lainnya maksudnya. Ya, kalau lampu merah diserobot, lampu sein ke kanan beloknya ke kiri, gak pakai helm, kebut-kebutan, semacam itu lah.

Saat berteduh dari sengatan sinar matahari yang mulai tidak bersahabat seperti tidak bersahabatnya dua manusia yang terpisah oleh gawai, rejong melihat brosur kecil menempel di tembok. LOWONGAN PEGAWAI SALON. SATU BULAN BISA BELI RUMAH.
Itu kan passionnya. Ia merasa tertarik dan merasa ngamen di perempatan bukanlah passionnya dan itu sama artinya dengan tidak mencintai dirinya sendiri. Ia pulang ke istana keraje’ong dan mempersiapkan untuk wawancara besoknya.
Ayam berkokok, tanda itu ayam. Kalau mengaum itu singa. Kalau mengeluh itu manusia menye, eh sapi maksudnya. Ia mendatangi salon “Ketombe”.

“Pak saya mau melamar kerja di sini.”
“Enak aja panggil eike pak”
“Om?”
“Ihh amit-amit dipanggil om, kayak telolet aja. Panggil eike miss. Miss Talita.”
“Baik Miss Talita, eike, eh saya, mau ngelmar kerja di sini.”
“Yaucis, besok yeti langsung kerjong. Sekaria eikye ngantuka tunggal ika. Mau bobo cantik dulu.”
Rejong pun senang bukan meong karena diterimong tanpa ujian. Ia lalu mempersiapkan diri untuk kerja esok harinya.

Tak disangka, rejong berhasil memanfaatkan kepercayaan Miss Talita dengan baik. Banyak pelanggan yang puas dengan garapan rejong. Ia pun naik gaji kayak tukang bubur. Eh itu naik haji ya. Wqwq.

Suatu saat ada customer wanita mendatangi salon Ketombe.
“Full service, Jeng!”
Rejong kaget setengah mati. Dia tidak asing dengan wanita itu. Malam itu. Goyang oplosan itu. Dia masih ingat betul betul betul. Tapi dia tidak mau malu kalau langsung menanyainya. Diam-diam dia mengganti lagu yang ada di salon dengan lagu oplosan. Tapi wanita itu hanya diam saja.

“Duh kenapa ada lagu favorit gua di sini? Entar kalau gua joget kan malu.” Pikirnya.
Markonah gelisah. badanya bergerak-gerak kecil. Dia gatal ingin joget oplosan tapi ia tahan semaksimal mungkin. Berhasil. Ia berhasil menahan dirinya, tidak seperti kebanyakan anak muda yang tidak bisa menahan diri. Musik oplosan dimatikan.

“Tuh kan die gak jogcis, pasti bukan dia orangnya. Untung eike belum nanya. Kan malu eike nanti.” Pikirnya dalam hati. Ia memberikan perawatan rambut, wajah, kuku, dan kaki pelanggan itu. Saat sedang memijat kakinya dia mendapat ide.
“Sis, kakimu centis binggo. Eike punya sepatu bagus. Meong cebong?”
“Hah? Meong cebong?”
“Mau coba?”
“Oh, boleh.”

Dia memakaikan sepasang sepatunya ke wanita itu dan pas. Markonah kaget melihat sepatu itu. Rejong juga kaget menemukan dia kembali. Saking kagetnya, dia berubah menjadi laki kembali. Di tempat itu juga rejong, eh, raja melamar Markonah. Markonah malu-malu kucing yang gak punya malu.
“Iya. Aku bersedia.”
Betapa bahagianya sang raja menemukan pujaan hatinya. Mereka memutar lagu oplosan untuk merayakan pertemuan itu.

“Sudah kuduga”
“Sudah kuduga”
“Ibu tiri? Ibu kandung?”
Kedua ibu itu tampak menyeramkan. Musik berhenti seakan takut akan kehadiran dua pemilik surga di telapak kakinya itu.
“Maafkan saya ibu tiri, saya kabur karena saya gak betah di sana. Maaf ibu kandung, saya meninggalkan pakaian di sungai.” Markonah menangis ketakutan
“Gak papa.” Ujar keduanya.
Markonah kaget. Semua terdiam.

“Yang penting jogettt. Myusik!!!”
Musik menyala lagi. Semua bergoyang dengan hati gembira, termasuk kancil yang keempat kakinya sudah berotot seperti Ade Ray dan kura-kura yang cangkangnya sudah mulus mengkilap seperti mutiaranya Jinny oh Jinny. Barisan goyang oplosan dipimpin oleh duet raja dan Markonah. Salon seketika menjadi tempat pesta.

“Hahahaha.” Ibu peri tersenyum jahat sambil mengayunkan tongkat sihirnya ke arah salon.

Cerpen Karangan: Listya Adinugroho
Blog: www.bocahsastra.blogspot.com
hai.

Cerpen Oplosan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Call From The Past

Oleh:
Untuk kesekian kalinya, aku merenggangkan badan dan menguap. Hari ini, pekerjaanku banyak sekali. Gara-gara sekretarisku cuti, aku harus mengerjakan semuanya sendirian. “Miss, sudah larut, lebih baik Miss selesaikan pekerjaan

Gagal Jadian

Oleh:
Suasana sekolah kini berangsur-angsur sepi. Siswa yang merasa bosan di sekolah, mulai mengambil motor mereka dan bergegas pulang menuju rumah mereka. Namun, sesosok laki-laki tampak dari kejauhan. Ia terlihat

Perjanjian Maut

Oleh:
Sebelum membaca cerpen “Perjanjian Maut”, alangkah lebih baik lagi jika membaca cerpen “The Train”, dan “Deja Vu”. Karena cerpen ini adalah Trilogi dari kedua cerpen sebelumnya. Terima kasih. Saat

Putri Lumpuh dan Datuk Kaya

Oleh:
Namaku Fatimah, hari ini aku sangat sedih. Sedih sekali. Entah kenapa perasaan ini begitu menghantuiku. Tidurku menjadi tak lelap, makan tak kenyang, mandi pun serasa tak basah. Aku memikirkan

Khayalan Si Bungul 1 (Sebuah Nama)

Oleh:
Namaku adalah Jimmy Sujana. Aku orang yang paling terkenal di seluruh kota. Aku seorang yang tampan, baik hati, dan kaya. Tepat hari ini, aku berjalan di sebuah taman dimana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Oplosan”

  1. WinIsASecretadmirer says:

    2th ku simpan 6 cerpen mu yg lama d note ponsel ku, skrg udah ada 13 aja :v
    Jadi tambah hebring sayanya
    Trims kuy cucok aja ah wat tante listya
    Me is your secret admire
    Salam somplakspemanent huy

  2. Bagus sekali tuan. Kocak dan sedikit menyentil bebrrapa orang.
    Hahaha. Petinggi tidur :v

    Semakin maju ya!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *