Pai Berry Itzel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 21 July 2017

Di terik yang panas itu, masih sempatnya Itzel pergi memetik berry Amberblaze. Ia masuk ke dalam hutan Dinamond yang sangat lebat. Mustahil ia bisa mendapatkan semak berry yang bagaikan semut di antara gajah itu. Tapi Itzel sendiri sudah hafal jalan ke mana saja yang menuju semak berry langka yang super enak itu karena tentu saja, ia sendiri yang menanamnya!

Setelah mendapatkan sekeranjang berry, ia kembali ke toko rotinya. Silvana telah menunggu lima belas menit untuk mencicipi pai lezat yang hanya dibuat setahun sekali oleh Itzel.
“Itzel! Oh, ke mana saja kau?! Mana pai mu?! Cepatlah, aku harus pergi ke taman kota untuk menyiapkan festival. Akan kubeli berapa pun yang kau mau!” Kata Silvana mengipaskan koran pagi ke arah wajah berkeringatnya.
“Kau harus menunggu dua jam jika ingin menjadi penyicip pertama,” kata Itzel sembari meletakkan keranjang berrynya.
“Du-dua jam?!! Kukira kau membuatnya kemarin?! Ohh, apakah aku harus kembali selama itu?! Baiklah, buat selama yang kau suka selama painya enak!” Oceh Silvana menggeser bangkunya dan terus mengomel hingga keluar pintu. Itzel hanya bisa menggeleng dan tersenyum melihat tingkah Silvana yang ingin segala sesuatu berjalan secepat yang ia inginkan. Tapi siapa yang berani melawan Itzel? Peri kebun yang penyabar dan selalu benar.

Itzel menarik napas dan menutup mata sambil berkata, “Oke… kita mulai!”. Ia mengambil telur, mentega, gula, dan tepung. Ia membuat adonan dengan air hangat serta sedikit bubuk rahasia yang sangat dijaga ketat. Tak lupa kurang lebih sepuluh berry Amberblaze dan sarinya yang sudah dicairkan. Itzel mengaduk semua itu dan menunggu sampai semua menjadi ungu kehitaman.
Kemudian, Itzel mencetak satu mangkuk pai Amberblaze yang super jumbo untuk dicicip oleh beribu-ribu peri di Kota Peri Bennijarre.
“Hmm… Mungkin aku menambah susu sapi sedikit lebih banyak dan aku puas, catat itu! Tapi… Yang harus dicatat lagi, aku seharusnya menambah dua bungkus mentega lagi. Mungkin, yang menyicip paiku harus meminum air putih lebih banyak karena terlalu manis tentu saja! Yaa… Aku puas dengan pai tahun ini. Kuberi nilai delapan puluh untuk pai buatanku sendiri!” Kata Itzel setelah menunggu tiga puluh menit sampai painya matang. Itzel berdiri miring ke tembok mencatat kekurangan dan kelebihan painya agar pai tahun depan bisa lebih baik. Ide yang jitu!

“Fiuhh… Hari yang melelahkan,” ujarnya menyeka keringat. “Jadi, aku harus membawa ini setengah jam lagi ke festival seratus tahun kota Bennyjarre? Aku butuh lebih banyak waktu untuk istirahat!” Kata Itzel berbaring di sofa, sementara dapur yang masih dalam keadaan kacau.

Tak butuh waktu lama, Itzel sudah nyenyak tertidur di sofa. Ia pasti bermimpi semua peri Bennijarre mengatakan bahwa painya selezat kue keju buatan Endemmo Jakquire, koki pembuat dessert terlezat di seluruh penjuru dunia! tak salah lagi, ia pasti memimpikan itu. Bagaimana tidak? Dia terus tersenyum sambil mengatakan ‘Oh terima kasih pujiannya! Tentu saja pai ku tak seenak buatan Koki Endemmo itu! Bisa saja kau!’. Ohh, Itzel… Bagaimana bisa?

Silvana pun datang dengan gaun mekar dua meter dan rambut emas yang dikeritingkan. Ia tampak seperti… Badut!
“Oh, Tuhan! Itzel! bangunlah! Kau ingin melewatkan festival, hah?” Ujar Silvana sambil mengetuk pintu rumah Itzel. Ia memencet bel beribu kali, tapi siapa yang bisa membangunkan Itzel si tukang tidur?
“Oo… Di mana aku?!!” Ujar Itzel terkejut dengan suara peluit yang ditiup Silvana. Kebetulan, ia melatih para junior di klub basket wanita. Untuk apa menjadi pelatih jika tak punya peluit?
“Sungguh? Aku kelewatan lima belas menit festival? Celakalah diriku! mimpi buruk barusan!” Kata Itzel. Ia mengucek matanya dan melihat Silvana yang menggeram. Ia memperagakan seolah-olah ingin dirinya berpakaian dan segera membawa kue painya. Oh, kue painya! Apa jadinya pai itu? Seingat Itzel, hal yang dilakukannya sebelum tidur mengorok adalah menunggu pai nya matang! Sekali lagi Itzel, bagaimana bisa?

Itzel pun membuka pintu dan membiarkan Silvana masuk.
“Kau kelewatan 15 menit! Para peri sudah menunggu kedatangan pai mu. Ayo cepatlah!” Ujar Silvana mengoceh lagi. Kemudian ia terhenti. “Hei… Tunggu? bau gosong apa ini? Tentu saja! kau tertidur dan melupakan painya! Cerobohnya engkau Itzel. Dan lihatlah, dapur macam apa ini?” Katanya menggeleng.
“Ya, kau benar Silvana! Cerobohnya aku!” Kata Itzel menepuk jidatnya sendiri.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan? Membawa pai gelap dan membuat orang keracunan?” Tanya Silvana. Ia melihat pai di oven, dan benar saja! Pai itu gelap! Lebih gelap saat malam gulita. Untung rumah Itzel tak sampai hangus seperti painya.

Tak lama kemudian, Itzel mendapat ide cemerlang! ia berganti baju, menyisir rambutnya dan membawa keranjang yang tertutup oleh kain putih polos.
“Tunggu apa lagi? Ayo pergi!” Ajak Itzel. Silvana mengerutkan dahi.

Sesampainya di taman, peri-peri sudah berwajah masam. Mereka tak bisa mencicipi pai berry Itzel yang sudah ditunggu selama satu tahun lamanya. Tapi, begitu melihat Itzel membawa satu keranjang besar, wajah mereka langsung berseri-seri.
“Akhirnya! Sudah kuduga, pai mu tahun ini pasti lebih enak! Kau sengaja menghilangkan bau harum paimu agar kami penasaran, bukan?” Kata Pak Connor, walikota Bennijarre,
“Oh, tidak! Kalian akan terkejut! Dan lihat ini-Taadaaa…” Ujar Itzel sembari membuka kain putih yang menutupi keranjang itu.
“Apa itu? Semacam apel bercampur sirsak?” Tanya Pak Connor.
“Tidak! inilah rahasia paiku! Berry Amberblaze. Aku memetik banyak! Silahkan ambil satu-satu,” awalnya wajah semua peri mengerut ragu. Pak Connor pun merasa kecewa tidak bisa mencicipi pai Itzel. Tahukah, ia adalah penggemar berat pai Itzel!
“Apa ini Itzel? berry Ember… Semacam itulah! semua akan kecewa!” Bisik Silvana.
“Pertimbangkan ucapanmu setelah kau coba berry ini!” Kata Itzel.

Silvana menghela napas dan mengambil satu berry. Erhmm!! Gigitnya. Wajahnya terkejut. Ia melahap habis berry itu. Dan menjilati jari-jarinya.
“Aku tak percaya. Berry terenak yang pernah kurasakan! Cobalah! Itzel benar, tak sia-sia pai nya hangus!” Kata Silvana saking senangnya.
“Jadi painya hangus? Oh Itzel… Aku ragu berry ini bisa mengalahkan kelezatan paimu,” kata Pak Connor. Ia mengambil satu dan gigitan pertama itu membuatnya jatuh cinta pada berry tanaman Itzel sendiri.
Peri-peri pun berbaris ingin merasakan enaknya berry itu. Pak Connor terus kembali ke barisan belakang setelah mengambil satu berry.
“Oh, tidak! Berry nya habis!” Ujar Silvana. Masih banyak peri yang belum kebagian berry.
“Tak masalah! Kita akan menanam sepuluh semak berry di kebun kota. Aku janji, Besok aku akan petik lebih banyak berry dan aku akan beritahu apa bibit berry ini!” Ujar Itzel tersenyum.

Berry tanaman Itzel menjadi penutup manis di festival tahunan kota Bennijarre.

tamat

Cerpen Karangan: Livia Rossayyasy
IG: @liviarssy

Cerpen Pai Berry Itzel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perdamaian Untuk Pedalaman (Part 1)

Oleh:
Satu malam yang basah, dingin dan sepi, sekelompok pemuda berjalan menyusuri jalanan tanah yang becek dan licin. Pemuda-pemuda itu terdiri dari Alex, Rony, Sandra dan Nadia. Mereka berempat masing-masing

Misteri Taman Di Rumah Via

Oleh:
“Kresek, kresek,” lagi-lagi terdengar bunyi itu. Bunyi tersebut berasal dari taman di belakang rumah Via. Belakangan ini, bunyi itu selalu terdengar setiap malam. Kebetulan kamar Via di dekat taman.

Patriot Kecil

Oleh:
Rima melihat adiknya yang termenung di dekat jendela. Mengentikkan jarinya dari tadi. Sinar matahari yang sudah mulai kelihatan menyinari kepalanya. Muka sang adik tampak sedih. Rima segan bertanya kepada

Tanduk Rusa Jantan

Oleh:
Entah aku sedang berada di mana. Yang ku lihat hanyalah ilalang setinggi pinggangku dan beberapa pohon raksasa di ujung utara. Aku berjalan sendirian dengan mengenakan baju terusan selutut berwarna

Editor Waktu (Part 2)

Oleh:
Sandy mengambil laptopnya di kamarnya, lalu membuka browser dan menunjukan sesuatu pada Wijaya. “Nih Wi, coba lihat apa yang aku temukan kemarin di internet.” kata Sandy menunjukkan sesuatu. “Precognition?”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *