Pangeran Maut (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 9 May 2017

Waktu itu, ibuku sangat menginginkan seorang anak laki-laki meskipun tahu hal itu mustahil terjadi, Ibu bersikeras untuk memiliki seorang anak lagi. Mungkin ibu merasa sepi karena kak Baron dan kak Mega tinggal dan belajar di sebuah asrama. Mereka bersekolah di sana. Hanya keturunan dan calon pemburu iblis yang diperbolehkan bersekolah di tempat itu.

Tiga bulan kemudian ibuku mengandung. Semua orang bahagia. Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Nenekku yang seorang penyihir, mendapat ramalan bahwa aku dilahirkan tepat pada malam bulan purnama beku, bersamaan dengan lahirnya putra iblis. Hal itu berarti salah satu dari kami akan mati, dan barangsiapa yang hidup, dialah yang akan menjadi pangeran maut. Senjata terbesar bagi kaumnya. Semua anggota keluargaku sangat sedih, karena kemungkinan untukku hidup sangat kecil. Mengingat ibuku adalah manusia normal tanpa embel-embel penyihir atau pemburu, garis keturunan ibu benar-benar bersih. Normal.

Tibalah waktu aku dilahirkan, ramalan nenek terjadi. Malam itu purnama beku menghiasi langit yang gelap tanpa bintang, mengedarkan cahaya peraknya ke segala arah. Semua keluarga berada dalam penyakit cemas akut. Aku selamat, aku bernafas tapi tidak bergerak sedikitpun. Aku seolah membeku. Keadaan itu berlangsung hingga dua minggu. Begitulah, aku selamat dan putra satu-satunya raja iblis meregang nyawa bahkan sebelum keluar dari rahim ibunya yang juga iblis. Itulah mengapa aku memiliki kemampuan khusus. Aku bisa sihir dan bertarung. Seolah akulah keseimbangan dari ketiga kalangan, pemburu, penyihir dan iblis.

Si penyihir yang dari tadi diam kini mulai merapalkan mantra. Manik hitamnya berubah menjadi putih pucat. Aku tahu itu adalah mantra pelacak. Huh, aku tak sebodoh itu penyihir. “Hei bocah nakal keluarlah! Aku tahu kamu di sini” ucapnya kasar. Dua temannya berhenti mencari dan berdiri di tempatnya masing-masing. Kuayunkan tanganku ke arah kaki si penyihir, lantai kamarku ambruk dan membawanya jatuh ke bawah, aku menyegelnya. Dengan begitu dia tidak bisa merapalkan mantra konyolnya lagi. Kini giliranku bermain dengan dua iblis vernon.

Aku beranjak keluar dari tempat persembunyianku secepat kilat, dan menyalakan lampu. Dua iblis vernon itu semakin terkejut, padahal aku hanya menyegel penyihir kesayangannya. Mereka menyeringai, menatapku tajam. Seakan ingin membunuhku dengan tatapan itu. Aku tersenyum miring. “Apa yang menyebabkan paduka raja mengunjungi kediaman Kisai kecil ini?” tanyaku. “Jadi kau sudah tahu siapa aku!” serunya antusias. “Tentu saja aku datang untuk mengambil yang seharusnya kumiliki” jawabnya berapi-api. “Aku tidak mengerti maksud paduka” ucapku pura-pura polos. Tentu saja aku tahu kalau dia menginginkan jantungku untuk anaknya. Merasa dipermainkan si raja iblis itu mengerling kepada penasihat setianya. “Murdog, habisi keparat kecil ini” mendengar titah tuannya, Murdog langsung maju menyerangku. Aku berhasil mengelak tiga serangannya. “Kini giliranku, orang tua” ucapku seraya melompat kedepan dan mengunci tangannya tanpa senjata. Murdog menendang lututku keras, posisiku yang berhadapan langsung dengannya membuatku tersungkur. Dia melejit seperti angin dengan pedang terhunus ke arahku. Maaf, Murdog membunuhku tak semudah yang kau pikirkan. Aku mengambil bubuk bunga api dengan cekatan melemparnya tepat di wajah Murdog dan menendang pergelangan tangannya. Pedangnya terpental jauh, kulitnya meleleh mengeluarkan lendir menjijikkan akibat bubuk bunga apiku. Dia meracau tak jelas, masih berusaha menyerang. Aku menatapnya kesal, bola matanya hampir keluar. Kutinju perutnya bagian bawah hingga ia terlempar jauh kemudian merosot jatuh dalam lubang si penyihir tadi. Aku mendengar jeritan keras si penyihir. Pasti dia melihat Murdog suaminya mati mengenaskan.

“Ternyata aku salah karena meremehkanmu bocah kecil” ucap raja iblis. “Siapa namamu?” tanyaku. “Hahahaa.. Biarkan aku memperkenalkan diri. Aku zekot Vernonia, penguasa dari tanah iblis” jawabnya tegas dan sombong. “Tak perlu mengenalkan diri, aku tahu kau adalah Sai. Bocah yang mencuri nyawa putraku” selepas berkata itu Zekot langsung menyerangku tanpa ampun. Dia sungguh bernafsu ingin membunuhku. Mata merahnya menyala kebencian, dan oh, aku sangat muak mencium bau iblis ini dari dekat.

“Waow, pelan-pelan kakek. Kau bisa encok” ucapku membuat Zekot naik pitam. Aku membiarkannya bersenang-senang sebentar, 10 menit kemudian kurapalkan mantra mematika dan dengan belati peninggalan kakek, aku menusuk tepat di jantung Zekot ketika dia memojokkanku di sudut kamar yang lebih mirip kapal pecah. “Kau telah membuat kesalahan besar dengan menyebut namamu”. “Si-siapa kau?” tanya Zekot. Nafasnya hampir hilang. “Aku Kisai Viroz, pangeran mautmu” . Zekot tersungkur lemah dengan belati di jantungnya. Kulitnya berubah jadi abu hitam meninggalkan rangka. Kedua kakakku datang dan memelukku, aku tahu mereka juga baru saja selesai bertarung dengan iblis-iblis di sekitar apartemen kami. Akhirnya kami bisa kembali ke Morhan.

Cerpen Karangan: ALis W
Pfft! Finally, it’s done! 🙂

Cerpen Pangeran Maut (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rembulan pun Menangis (Part 2)

Oleh:
“Ayolah Pak beritahu aku dimana Suster Mawar sekarang?” “Sudah kubilang aku tidak tau. Aku ini bukan ayahnya tau! Tanya saja pada rumput yang bergoyang.” Jawab sang Satpam. “Hhh.. Eh,

Makhluk Mati dan Benda Hidup

Oleh:
Langit abu berangsur-angur menjadi gelap. Gemuruh guntur sayup-sayup terdengar berbarengan dengan gema adzan isya. Rintik hujan mulai jatuh membasahi atap amben bambu. Nampak kekecewaan timbul pada wajah pengunjung warung

Awan Putih dan Awan Hitam

Oleh:
Ada sebuah awan putih. Nama awan putih itu Putih. Putih suka berteman, dan suka mengembara. Putih menikmati hidupnya sebagai awan putih pembawa hujan. Memang sih, warnanya putih, tetapi, tetaplah,

Kutukan Sepele

Oleh:
Kutukan. Kutukan sering digambarkan mengerikan. Tapi kutukan yang “tidak menakutkan” kadang justru membawa dampak besar, membuat kita harus mengorbankan sesuatu yang berharga. Aelita, anak perempuan yang sangat gemar bermain

Air Yang Keluar Dari Mata

Oleh:
Saat itu pandora bertanya kepadaku “Kenapa kamu seperti makhluk yang terluka?” Aku menjawab “mungkin karena aku bertarung” sambil tersenyum “Tidakkah itu menyakitkan?” Tanyanya lagi, aku tersenyum kemudian menjawab “iya..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Pangeran Maut (Part 2)”

  1. kamila says:

    ceritanya bagus, terus berkarya ya!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *