Pangeran Maut (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 8 May 2017

“Kerja bagus Sai!” seru Mega, kakak perempuanku. “Sepertinya aku harus lebih berhati-hati sekarang” ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya. “Kau benar Meg. Sai seperti penguasa rantai makanan teratas ketika bertarung” komentar kak Bagor. Dia kakak laki-lakiku sekaligus anak pertama. Aku hanya tertawa masam. Tentu saja aku harus bertarung dengan baik, agar kalian berdua tidak mengulitiku. Batinku kesal. Meskipun sudah kuketahui bahwa kakak perempuanku yang berotak mes*m itu bisa membaca pikiranku dengan mudah. “Ayolah Sai. Kami berdua bukan kanibal atau sejenisnya. Hanya saja kau adalah adik tertampanku dan begitu mulus” ujarnya diselingi tawa. “Kali ini aku sepakat denganmu Meg” ya Tuhan! Bahkan kak Bagor setuju dengan pendapat si mes*m itu. Aku bergidik ngeri menatap pedang di tangan mereka.

“Cukup main-mainnya” terdengar suara berat dan cukup tegas dari samping kiri kami. Itu Ayah kami, Rough. Kami tidak pernah tahu nama belakangnya karena kami pun tidak pernah memakai nama belakang kami. Aku bernafas lega, Ayah telah menyelamatkan hidupku dari si mes*m Mega dan si cerewet Bagor. Oh, jangan berpikir kakakku Mega mata keranjang atau apapun, aku menyebutnya mes*m karena dia selalu menciumku dan kak Bagor ketika kami mau tidur. Terlepas dari semua tugas kami untuk berburu iblis, dua kakakku ini sangat protektif terhadapku. Ayah selalu menugaskan kami bersama-sama.

Kami sedang mengendarai mobil menuju ke utara meninggalkan Morhan, kota kecil kami. Aku masih mengunyah permen karetku dengan hikmat dan berseni tentunya dalam menciptakan balon. Kak Mega sedang mengasah belati kesayangannya. Kak Bagor? Oh jangan tanya, karena dia sedang kencan ala pengemudi. Tentu saja dia adalah sopirnya.

Dalam keheningan sore yang hampir memudar, aku mendengar hantaman keras di bagian depan mobil. “Sh*t! Seseorang tertabrak. Lagipula orang gila macam apa yang berjalan kaki di tempat seperti ini!” seru kak Bagor. Dia keluar dari mobil. “Oh ya Tuhan! Tidak ada siapapun di sini. Dia hilang” kak Mega segera keluar. Kulihat mereka berdua sedang membicarakan sesuatu, sangat serius. “Huh, pasti iblis” tukasku.

Tiba-tiba dua orang berperawakan tinggi muncul dari balik pepohonan dengan sangat cepat, melejit seperti angin. Menyerang kakakku. Kak Mega spontan menarik pedang dan menebas ke arah iblis bertampang manusia yang menyerangnya. Tapi meleset. Iblis itu telah melompat mundur. Tak tinggal diam, kak Mega maju dan mengayunkan pedangnya dengan indah, permainan pedang kak Mega sangat menghiburku. Sedangkan kak Bagor lebih memilih adu tinju dengan iblis yang menyerangnya. Kak Bagor meninju rahang iblis itu dengan keras, hingga si iblis muntah darah. “Pukulan beracun heh!” ucap si iblis setengah terbatuk. Kak Bagor tersenyum miring. Kemudian melompat maju dengan gerakan seperti seorang balerina, dia sudah berada di belakang si iblis. Melingkar tangannya yang keras seperti besi ke rahang si iblis, memisahkan kepala menjijikkan itu dari tubuhnya dalam waktu dua detik. Awesome! Aku hampir berteriak kegirangan. Uuhk.. Wajah asli iblis itu membuatku ingin muntah. Kulit hitamnya licin dan berlendir, ada tanduk di kepalanya. Di lain sisi, kak Mega mencabut pedangnya yang menancap sempurna di jantung makhluk sialan itu, membuat si iblis hangus menjadi debu. Kak Mega pasti telah menaburkan bubuk mercu di pedangnya. Mereka membunuh iblis itu dalam waktu lima menit!

“Apa kau ingin melihat kami mati? Kerjaannya hanya menonton!” racau kak Bagor seperti biasa. Dia sungguh mewarisi sifat ibu. Aku menatap kak Mega, mengharap pembelaan. Tetapi dia malah menatapku tajam. “Ayolah, mereka haya dua iblis. Lawan yang seimbang bukan?” mereka berdua menatapku lagi, seolah bisa membaca apa yang mereka pikirkan. “Lagipula iblis morju tidak terlalu berbahaya” ucapku santai. Hasilnya, dua sentilan mendarat di hidungku. “Aww.. Baiklah, baiklah, aku minta maaf” kak Bagor langsung tertawa melihat wajah cemberutku. Dan kak Mega, dia mengusap kepalaku penuh sayang. Yap! Aku masih 13 tahun, jadi mereka tidak pernah memperlakukanku seperti seorang pria sejati. Miris bukan? Ah, tapi aku menikmatinya.

Malam menjemput kedatangan kami di kota ventasima, surganya musafir. Terletak di antara kota Norland dan Zuech, dua kota metropolitan yang sangat maju dan makmur. Cahaya bulan di langit berpendar keperakkan. Hanya ada beberapa bintang di sana. Kak Bagor memarkirkan mobil di garasi apartemen yanng sudah Ayah persiapkan. Kali ini Ayah tidak akan memantau kami. Beliau sedang dalam urusannya sendiri yang menurutku sangat penting. Biasanya Ayah akan mengunjungi kami walau kerjaannya sedang menggunung. Aku langsung menuju ke kamarku di lantai dua. Tiga hari belakangan, kami terus berburu. Waktu tidurku seolah disita. Aku benar-benar letih. Tanpa membereskan barang bawaanku atau membersihkan diri, aku sudah menutup mataku yang berat. Kudengar derap langkah memasuki kamarku. Benar saja, dua kecupan mendarat mulus di keningku. “Selamat tidur adikku sayang” ucap mereka berdua.

Kurasakan ketidaknyamanan di area mataku, seperti sebuah benda panas sedang menari-nari di sana. Aku meracau tak jelas. “Bangunlah adikku sayang, ini sudah jam delapan. Kau tidak ingin terlambat ke sekolah barumu kan?” suara halus kak Mega terdengar merdu di gendang telingaku. Aku perlahan bangun, menuju kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian ritual mandiku selesai. “Sejak kapan kak Mega rajin merapikan kamar adiknya?” tanyaku, menggoda kakakku ketika kami sedang sarapan. Dia menahan potongan terakhir roti lapisnya menggantung di udara. “Kakak tidak melakukannya. Kemarin hari yang sangat berat” ucapnya kemudian melahap roti lapisnya. “Tapi kamarku sangat rapi dan bersih. Seolah ada yang membersihkannya semalam” ucapku agak kesal. Aku tak pernah menyimpan rahasia apapun dari kedua kakakku. Bila ada hal aneh sekecil apapun yang terjadi, mereka berdualah yang akan menjadi tempatku berbicara. “Kau yakin adik kecil?” kali ini kak Bagor yang angkat bicara. Dia sangat menghargai makanannya. Hal itu menyebabkan dia selalu diam setiap menikmati makanannya. Tapi tidak bila hal yang dibicarakan itu mengenai diriku. Aku mengangguk kecil. “Aku selalu terjaga seperti biasa, dan tadi malam, dua kali aku mengunjungi kamarmu. Tak ada yang mencurigakan”. “Apa kau yakin, kak?” tanya kak Mega. “Iya. Menjelang pukul 4 pagi, barulah aku tidur”. Aku menatap mereka berdua secara bergantian.
Biasanya, kak Bagor yang selalu pandai menganalisa sebuah masalah. Tapi mungkin dia letih. Suasana sarapan seakan mencekam. “Hahahaa… Oh, lihatlah wajah serius kalian” tawa kak Mega pecah. Aku dan kak Bagor menatapnya tajam. “Baiklah tuan-tuan, sebenarnya hamba yang merapikan kamar tuan Kisai pukul 5 tadi” ujarnya diselingi tawa hingga wajahnya merah. “Kau ini” sungut kak Bagor.

“Soal kejadian kemarin, mengapa bau iblis itu tidak tercium ya?” tanya kak Mega. “Tentu saja tidak, mereka pasti mengkonsumsi vanili” ucapku. “Aku melihat darah kedua iblis itu sangat encer” kak Bagor tampak manggut-manggut. Sepertinya dia sudah menyadari hal tersebut. “Ayo berangkat adik kecil. Kamu harus bertemu teman barumu” ucap kak Mega penuh semangat.

“Selamat bersenang-senang adik kecil!” setelah mengatakan hal itu, kak Mega langsung meninggalkan aku di depan gerbang sebuah bangunan yang bernama sekolah. Huh! Syukurlah, dia tidak mengecupku. Ah, dan mengapa dia berucap seperti itu, yang benar saja. Apakah di sekolah ini aku akan diajari cara bertarung? Sangat aneh.

“Permisi, saya Sai murid pindahan” ucapku kepada wanita di balik meja resepsionis. Baunya sangat tajam, bau daging busuk dan tanah pekuburan. Ayolah belum sepuluh menit di sekolah baruku dan aku sudah bertemu dengan iblis grave. Sekarang aku mengerti maksud kak Mega. “Saya sudah menerima semua berkas anda. Ini jadwal kelas anda dan kunci loker anda” ucapnya. “Terimakasih” aku hendak melangkah pergi, “Sai, aku harap kita bisa bekerja sama. Aku di pihak yang benar dan kau tahu itu” ucapannya seolah mendesis di telingaku. “Jangan harap aku mau percaya iblis sepertimu” tukasku, kemudian menjauh, mencari kelas pertamaku. Sejarah.

Hari-hariku berjalan seperti biasanya. Aku lebih fokus ke sekolah. Sedangkan kedua kakakku senantiasa mengerjakan pekerjaan berburunya. Aku ingin sekali bergabung tetapi, kepindahanku ke sini tepat pada tahun ketiga aku di sekolah menengah pertama. Mau tidak mau, aku harus belajar agar bisa lulus. Dalam kesibukannya yang padat, kak Mega masih selalu membersihkan kamarku. Sejujurnya aku tidak mau merepotkan kakakku, karena pekerjaannya pasti sangat melelahkan. Maka kuputuskan untuk bangun lebih pagi agar mencegah kak Mega membersihkan kamarku.

Pukul 04:35, aku sudah terbangun. Aku hendak mengambil sapu di lantai bawah. Langkahku terhenti oleh derap langkah yang menuju kamarku dari arah jendela. Pendengaranku memang sangat peka, aku bisa mendengar pada jarak 10 meter. Salah satu keistimewaan pemburu iblis, begitu juga dengan penciumanku. Langkah kaki itu semakin cepat dan ada bau iblis vernon. Segera kuraih belati dan sebuah tombak, aku senang menggunakan kedua benda ini. Aku bersembunyi di balik tirai yang melapisi dinding kamarku sebelah barat, gelap karena lampu kamarku memang sengaja kumatikan sebelum tidur.

Bau iblis vernon itu semakin menyengat. Jendela kamarku terbuka dengan sendirinya. Seorang laki-laki berambut merah menyala melangkah masuk ke kamarku bersama dua orang lainnya. Seorang lelaki kurus tinggi dengan bola mata kiri yang tidak normal dan seorang perempuan berambut ungu dengan tongkat di tangan kirinya. Kulit perempuan itu seperti kulit ayam, kukunya hitam panjang sekelam bola matanya. Rambut ungunya dilipat ke atas. Perempuan itu pasti seorang penyihir. Tapi, sejak kapan kaum penyihir bekerja sama dengan iblis vernon. Si iblis berambut merah tadi mengacak tempat tidurku frustasi. Sepertinya dia bisa mencium bauku tapi tidak tahu tempatku bersembunyi. Jangan tanyakan, mengapa penglihatanku sangat baik dalam gelap. Aku dianugerahi kemampuan yang sangat langka.

Cerpen Karangan: ALis W

Cerpen Pangeran Maut (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perseturuan yang Panas

Oleh:
Pada suatu hari ada dua pembalap yang mempunyai kemampuan membalap yang kuat. Kedua pembalap ini bukan hanya memiliki kemampuan membalap yang kuat, tetapi jika mereka sudah menyetir di lintasan,

Lighting and Darkness

Oleh:
Di suatu tempat di alam semesta yang bernama dunia fantasi, ada suatu kegelapan yang sangat kuat menyelimuti dunia fantasi yang berwujud seekor naga. Di dunia tersebut, makhluk hidup digolongkan

Ke Tempat Yang Terindah

Oleh:
“Horeee, sudah sampai Di rumah Yang Baru” Ucap Izzi Woutth yang akrab dipanggil Izzi Rumah Itu Tak begitu mewah namun Begitu Pas dihati Izzi, sudah lama dia mengindam-idamkan rumah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *