Pangeran Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 17 February 2018

Tetesan air langit kini tiada lagi berhamburan ke bumi. Sang raja cahaya kini mulai menampakkan dirinya yang tersipu malu, terhalang oleh mega. Di balik celah-celah batuan terjal kaki gunung mulai melesat kilatan-kilatan cahaya teduh dan cerah. Menghapus warna hitam di langit saat ini. Pagi telah menyambutku.

Aku mengerjap, menggeliat di kasur dan berusaha terjaga dari lelapnya tidur. Aku memandang ke luar jendela. Pemandangan indah Tuhan suguhkan. Aku termenung sambil menatap kosong karya Tuhan tersebut. Seketika, kilatan cahaya berpendar di hadapanku. Kilatan cahaya berwarna-warni. Cahaya itu menyentuh pundakku ramah. Lamunanku buyar seketika. Aku menoleh ke arahnya yang tersenyum hangat padaku.

“Ada apa?” Tanyaku heran.
“Sudah.. Cepatlah kau bersiap. Sebentar lagi Pangeran Mimpimu akan segera datang” ucapnya seraya memegang wajahku lembut.
“Pangeran Mimpi? Apa maksudmu Clory?”

Yaa kilatan cahaya berpendar itu adalah Clory, sahabat mimpiku. Dia sering sekali muncul dalam mimpiku juga sering kali datang ke dunia nyata untuk menemuiku. Tidak kawan… Dia bukanlah peri ataupun alien seperti yang kalian kira. Atau bahkan Dewi Cinta yang selalu ada untuk dunia ini. Dia hanyalah pendaran cahaya, sahabtku, Clory.

Perlahan dia mulai menghilang di hadapanku..
“Yahh… Kenapa secepat ini?” Keluhku kesal.
“Ya udahlah, daripada aku duduk-duduk gak jelas gini, lebih baik aku segera bersiap ke sekolah” aku bangun dari dudukku dan bergegas keluar kamar untuk mandi dan bersiap-siap.

“Hei Citra…” kata seseorang dari belakangku menepuk pundakku.
“Eh, Silvi? Tumben pagi-pagi udah rapi banget? Biasanya kan kau siangan baru rapi…” Aku menoleh ke belakang dan melihat Silvi dari ujung rambut sampai kaki.
“Hehehe… Gak papa kok, Ya udah ayo kita ke kelas bareng” anaknya sambil menarik tanganku memasuki sebuah kelas di ujung koridor.

KRING KRING KRING…
Bel jam pelajaran pertama telah berbunyi. Bu Nanin, guru IPS kami telah melangkah ke kelas kesayangan kami, 8D.
“Assalamualaikum anak-anak… Pagi yang cerah ya” Bu Nanin mulai melangkah ke mejanya setelah berdiri cukup lama di pintu kelas, menunggu kami siap memulai pelajaran.
“Waalaikumsalam.. Pagi yang cerah juga bu” serempak satu kelas.

“Hmm… Permisi bu” ucap seorang laki-laki dari balik pintu kelas.
“Eh iya, mari masuk nak” Bu Nanin menghampirinya.
Lelaki itu berjalan dengan sopannya mengikuti langkah Bu Nanin. Semua mata tertuju padanya. Sekarang, dia telah berdiri di depan kami semua dengan tatapan teduh dan bercahaya.

“M… Maaf bu, saya terlambat hari ini” ucapnya dengan lembut.
“Iya… Saya mengerti. Ini adalah hari pertamanya di sekolah ini, jadi terlambat untuk pertama kalinya saya maklumi tapi lain kali jangan diulangi lagi. Ya sudah, sekarang kamu perkenalkan diri ya” Bu Nanin menepuk pundaknya lembut sebelum akhirnya dia kembali duduk di bangkunya.

Lelaki itu memantapkan posisinya. Berdiri tegak layaknya seorang Pangeran di depan rakyatnya. Senyum indah tersambung di wajahnya yang rupawan itu.
“Hai semuanya…”

Aku tersentak. Suara itu… Iya. Itu suara Pangeran…
Aku mendongakkan kepala, melihat ke arah depan. Dugaanku benar! Wajah setampan bulan purnama. Senyum semanis buah delima. Perangai yang baik layaknya Arjuna. Hatiku mengatakan itu benar-benar dia! Pangeran Mimpiku.

“Namaku Muhammad Insan Musyaffah. Panggil aja aku Insan. Aku pindah ke sini karena kedua orangtuaku ada pekerjaan di kota ini. Aku harap kalian semua senang denganku…” Dia tersenyum ramah ke semua orang.

“Tidak… Kau bukanlah Insan” ucapku spontan. Seketika semua orang di dalam kelas menoleh ke arahku yang tengah berdiri beberapa langkah dari Insan.
“Kkau… Kau adalah Pangeran. Iya, aku yakin sekali. Kau adalah Pangeran Mimpiku, Pangeran Syaffah… Kau putra Raja Mimpi. Kau bukanlah Insan…” Aku menatapnya dalam, dan tanpa sadar kalimat itu terucap spontan oleh lisanku.

“Ngaco kamu Cit… Kamu berkhayal ketinggian. Awas! Ntar kalau jatuh sakit lho…” kata Abiel.
“Iya Cit… Di sini gak ada dokter yang sanggup nyembuhin lho…” sambung Reva.
Seluruh kelas tertawa mendengar ucapan dia remaja itu. Aku menoleh ke arah mereka berdua. Abiel dan Reva. Dua remaja yang selalu bertolak belakang denganku. Jika aku berpendapat, mereka langsung menolak. Layaknya burung kenari yang bersenandung di pagi hari, tidak henti-hentinya mengeluarkan pendapat yang bertolak belakang itu. Aku menatap mereka.

“Aku gak ngehayal Biel… Dan aku gak membutuhkan dokter apapun untuk ini Reva, aku jujur..” Aku menatap Insan kembali.

“Kita bertemu untuk pertama kalinya di kerajaan mimpi. Apa kau ingat? Kita bertemu pertama kalinya di telaga Hati. Di bawah sinar dan cahaya bulan bintang dengan dinaungi pelangi keabadian… Tepat malam Bulan Purnama, kau letakkan mahkota bunga di kepalaku dan memanggilku dengan sebutan Bidadari. Apakah kau mengingatnya?” Ucapku dengan mata berbinar.

“Itu gak mungkin Cit… Kau lagi mimpi aja kali”
“Saking indahnya mimpimu itu, kau sampai lupa membedakan kenyataan dengan khayalan belaka. Sadar Cit! Sadarlah..” sambung Silvi.

“Iya Silvi, aku sadar. Aku tidak berbohong. Itu memang benar-benar terjadi. Clory, sahabatku dari alam mimpi yang memberi kabar itu tadi pagi”

Sekali lagi satu kelas tertawa mendengar ucapanku. Kali ini mereka tertawa lebih keras, menyinggung aku mengenai Clory, serasa ada karnaval tahunan, aku langsung berteriak. Menyuruh mereka diam.
“Sudah cukup tertawanya!.. Jika kalian masih belum percaya denganku, lebih baik dengarkan perkataan Pangeran sendiri” aku kembali mendekati Insan atau yang kuanggap sebagai Pangeran Mimpiku.

“Pangeran, tolong jawablah dengan jujur” ucapku lirih.

Bagai dijatuhi durian montong… Gelombang aneh itu terasa kembali disaat dia menatapku dalam seperti ini. Yaa bahkan lebih dalam, seakan dia tengah menemukan sesuatu dan tidak ingin hal itu pergi lagi darinya. Aku melihat cahaya indah itu lagi di matanya. Persis di alam bawah sadarku. Cahaya teduh tersirat di matanya seakan hal paling indah ada di hadapannya kini.

“Apakah semua yang aku katakan sejak tadi, adalah kebenaran yang sesungguhnya?” Tanyaku dengan nada berharap dia akan menjawab iya. Dia melihatku dengan penuh perasaan.

“Tidak…” jawabnya lirih.

Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, terdengar riuh cemoohan dari seluruh penjuru kelas. Riuh suara yang mengejekku. Hingga tatapanku turun, menutup mata, langkahku cintai. Hatiku segera menyuruhku agar duduk kembali. Langkahku berat, seberat menerima semua kenyataan ini.

“Tunggu…” Dia mencegat tanganku. Spontan langkahku terhenti. Ini lebih berat dari yang tadi.
“Aku masih belum selesai bicara kan, jadi kau janganlah pergi dulu” dia mendekatiku dan membalikkan badanku untuk berhadapan dengannya.
“Tidak… Kau tidak salah dengan hal itu” ucapannya membuat semua orang terdiam, ternganga.

Aku terdiam tak berkutik. Aku sudah terlanjur menahan malu ini. Apa yang akan diperbuatnya, aku sudah tak peduli. Sekalipun kebenaran telah menghampiriku, jeruji penghinaan telah membelenggu hatiku terlebih dahulu. Mataku terpejam. Berusaha menerima perkataannya selanjutnya bola itu membuatku hancur.

“Ya kau benar. Aku adalah Pangeran Syaffah, Pangeran Mimpimu. Kita berdua memang telah bertemu di alam mimpi. Semua ucapanmu adalah kebenaran yang nyata. Aku pergi dari apa mimpimu dan datang ke dunia nyata hanya untuk menemui bidadariku. Bidadari yang selalu membuat hatiku tergelitik untuk selalu di dekatnya. Rasanya ingin kukatakan pada dunia bahwa sekarang, ya tepat saat ini aku telah menemukan dia. Kasih hatiku yang selalu membuatku menderita dikala jauh darinya. Yang selalu membuatku menahan rindu yang membelenggu hatiku dikala malam telah menjadi pagi. Semua yang kau lalui, alami di alam mimpi telah menjadi nyata. Aku di sini. Berdiri di hadapanku, wahai Permaisuriku…”
Dia berlutut sembari memegang tanganku. Semua orang ternganga, tidak percaya dengan apa yang telah mereka saksikan.

Aku membuka mataku. Cahaya itu, cahaya indah rembulan bintang berpendar di antara kami.

“Pangeran… Aku telah menunggumu sejak lama. Penantianku yang panjang, kini telah terobati oleh kehadiranmu. Berdirilah. Aku mengira, kau hanya akan menjadi bunga tidurku. Harapan yang tak bisa kumiliki. Khayal yang terlalu tinggi untuk bersamamu. Tapi, kau telah di sini, di hadapanku…” ucapku dengan mata berbinar bahagia.

“Tenanglah. Sudahlah kau jangan khawatir. Selamat maka bidadariku… Tidurlah nyenyak kasih hatiku. Tuhan… Sekarang kuserahkan padamu. Karena sekarang hanya kau yang bisa menjaga dan melindungi bidadariku. Kalimat itu akan sirna. Kini aku akan selalu bersamamu. Tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Sudah cukup penderitaan kita kali ini dan jangan sampai terulang lagi”

Kamu berdua saling menatap. Dalam. Sangat dalam. Seakan hal yang telah didapatkan kini tak ingin lagi terpisah. Semua pasang mata menitikkan cairan bening yang suci dan bersih. Terharu. Akan pertemuan dua hati yang terpisahkan dimensi ruang dan waktu. Pengorbanan demi satu kata indah. Satu kata penuh makna. Satu kata yang mampu menggelitik hati karena orang terkasih. Yaa… Semua karena Cinta.

Cerpen Karangan: Taradita Yandira Laksmi
Facebook: Taradita Yandira

Cerpen Pangeran Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jason, Aku Mencintaimu!

Oleh:
Aku memandangi tubuh tinggi salah satu personil Jasuka Band yang sedang serius memukulkan dua buah stik pada drum besar di hadapannya. Dia Jason, cowok yang telah tiga bulan ini

Reboisasi Hati

Oleh:
Namaku Kevin, aku lahir dari keluarga yang sangat kaya. Sejak kecil aku dimanjakan dengan berbagai kemewahan. Bahkan terlalu dimanjakan di rumah, aku tak pernah ingin tahu dunia luar. Yang

Lucid Dream

Oleh:
“Uhh.. Apa ini sudah pagi?” ucap naya mengucek matanya dan kini mulai bangkit serta turun dari tempat tidurnya, dia pun keluar kamar dan memanggil-manggil orang seisi rumah akan tetapi

When I Meet You

Oleh:
Kicauan burung serta cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendela kamar seorang gadis yang masih tertidur lelap, wajahnya yang tersenyum-senyum menandakan ia sedang menikmati mimpi indah. Rasanya tak ingin mimpi

Butir Butir Memori yang Terlupakan

Oleh:
Namaku Elis. Setidaknya, itulah yang ku ingat. Sejak kejadian itu, aku tak mampu mengingat apa pun kecuali namaku. Aku bahkan tak tahu dari mana aku berasal, siapa orangtuaku, dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *