Paradoks

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 20 February 2017

Semua berawal pada saat ulang tahunku yang ke-7, tepatnya pada tanggal 3 Maret 2002. Hari itu adalah ulang tahun yang sangat spesial, karena itu juga ulang tahun terakhirku yang dirayakan bersama ayahku. Sebelum Ia meninggal secara misterius. Dan ngomong-ngomong namaku adalah Darka. Seorang mahasiswa yang cukup populer di kampus namun sepertinya biasa saja untuk kalangan dunia. Hahaha.

Pada hari itu, 2 sahabatku datang ke rumahku. Mereka bernama Dana dan Desyca. Sungguh suatu persahabatan yang unik. Darka, Dana, Desyca. Biasa kami menyebutnya 3D, karena nama awalan kami semua ada huruf D. Lalu saat itu, mereka ikut merayakan ulang tahunku, dan juga turut memberikanku hadiah. Sungguh suatu hari yang sangat spesial. Tapi, dibalik semua itu. Ada satu hal yang paling kusuka, yaitu pemberian hadiah dari ayahku. Ia memberikanku sebuah arloji yang bentuknya sangat futuristis. aku sangat menyukai tampilannya, sehingga aku memakainya setiap hari, setiap menit, bahkan setiap detik. Aku tidak pernah melepaskannya karena arloji itu sangat bagus dan juga merupakan pemberian dari ayahku.

Hingga momen itu terjadi. 1 bulan setelah ulang tahunku, tepatnya 3 April 2002. Aku mendengar kabar bahwa ayahku meninggal karena dibunuh secara mengenaskan oleh seseorang yang misterius. Entah siapa itu aku tidak peduli. Aku tidak tau secara rinci tentang kematiannya tapi banyak orang yang bilang bahwa kematian ayahku sangat misterius, ada spekulasi juga berkata bahwa ada hantu yang turut campur tangan pada kematiannya. Tapi, aku tidak pernah percaya dengan hal-hal seperti itu. Meskipun begitu, aku benar-benar sedih, aku tidak bisa menahan rasa kehilangan itu saat mendengarnya. Setelah hari itu aku tidak pernah lagi mengenakan arloji itu karena setiap kali aku memakainya, aku jadi teringat ayahku. Sehingga aku memutuskan untuk menaruhnya di gudang.

Aku benar-benar mengagumi sosok ayahku. Ia adalah seorang ilmuan yang sangat terkenal di dunia ini. Ia menjadi panutanku karena dulu aku sangat ingin menjadi terkenal seperti dia. Ia juga adalah salah satu anggota dari ZOGO. Divisi sains asal Indonesia sekaligus yang paling hebat di dunia. Divisi ini tidaklah terkenal seperti NASA atau yang lainnya. Tapi meskipun begitu, dunia meyakini bahwa ZOGO adalah satu-satunya divisi sains yang paling hebat. Aku sangat mengagumi karya-karyanya. Karena proyek-proyek mereka sangatlah hebat. Seperti Pil Mystique. Suatu pil yang dapat mengubah DNA dan sel biologis seseorang. Dan itu dapat berfungsi penuh hanya dengan cara memikirkannya. Kita bisa meniru penampilan seseorang, bahkan hingga ke suaranya. Namun pil belumlah sepenuhnya selesai. Kata ayahku pil ini baru selesai sekitar 75%. Dan juga proyeknya tentang Mesin Waktu. Namun perusahaan ini terpaksa ditutup karena pemimpin perusahaannya, yaitu ayahku. Meninggal dunia.

14 tahun telah berlalu. Inilah aku yang sekarang. Dunia sudah modern, teknologi dimana-mana, semuanya berubah. Tapi, ada 1 hal yang tidak berubah. Yaitu persahabatanku dengan Dana dan Desyca. Aku berteman dengan mereka sejak kecil, mereka sudah aku anggap seperti keluarga. Kita bertiga kuliah di tempat yang sama, dan juga mengambil jurusan yang sama pula. Kami terus bersama-sama untuk menciptakan sesuatu, kami semua memiliki cita-cita menjadi seperti ayahku yaitu menjadi ilmuwan yang terkenal.

10 Agustus 2016. Dana dan Desyca datang ke rumahku untuk melanjutkan riset kita tentang sel yang dapat beregenerasi dengan sangat cepat. Kita mengerjakannya di gudang rumahku karena di situlah tempat biasa ayahku melakukan riset. Semua barang-barang untuk bekerja ada di situ juga. Lalu tiba-tiba saat sedang di gudang aku melihat arloji pemberian ayahku 15 tahun yang lalu. Lalu kami mendekatinya, dan melihat, bahwa arloji itu masih 100% berfungsi. Tidak rusak sama sekali. Dan kami pun mengambilnya. Aku penasaran mengapa masih berfungsi 100%, setelah 14 tahun sudah berlalu. Harusnya sudah tidak bisa nyala, tetapi ini masih dapat bekerja dengan sangat baik. Lalu kami membuka arlojinya karena penasaran. Dan ternyata! Arloji itu adalah teknologi dari ZOGO. Aku sangat mengagumi teknologi-teknologi dari sana, karena penemuan-penemuannya yang sangat hebat. Mereka sudah seperti melangkah lebih 20 tahun dari tahun yang seharusnya.

Lalu kami melihat ke dalam sampai ke intinya. Dan aku teringat sesuatu. Bentuk intinya, aku pernah melihatnya, itu seperti yang ada di blueprint ayahku tentang mesin waktu. Aku yakin persis itu intinya. Lalu aku pergi mencari blueprint tersebut di ruang kerja ayahku. Dan benar dugaanku! Itu adalah inti dari mesin waktu yang pernah mau dibuat oleh ayahku. Akhirnya kami memutuskan untuk mengubah riset kami menjadi riset tentang mesin waktu. Di blueprint tersebut dijelaskan dengan sangat jelas cara membuat mesin waktu. Lalu kami bertiga membuat benda itu. Semua hal yang dibutuhkan sudah tersedia di gudangku, sehingga kami bisa cepat menyelesaikan benda ini.

Ketika membuat benda ini, tidak seperti yang kami pikirkan. Banyak sekali gangguan yang terjadi. Saat hari pertama kami memulai pembuatannya, kami langsung mendapat gangguan. Yaitu mati listrik, dan berlangsung 2 hari berturut-turut. Untungnya aku dapat mengembalikan keadaan seperti semua dan melanjutkan pekerjaanku, aku yakin ini adalah ulah orang iseng. Dan juga ketika sudah setengah jadi. Orang iseng itu semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba ada batu beserta kertas bertuliskan “Kau tidak tahu apa yang sedang kau kerjakan” lama kelamaan aku penasaran siapa ini, tapi karena terlalu fokus dan bersemangat dengan mesin waktu ini. Ya, mesin yang dapat mengubah apa yang sudah terjadi. Aku jadi tidak menghiraukan gangguan itu. Dan yang terakhir, ketika sudah dalam tahap finishing. Orang ini berulah lagi. Ia melemparkan pisau dengan bekas darah yang sudah kering ke dalam gudangku. Aku semakin penasaran, ketika kulihat keluar. Tidak ada siapa-siapa, ya memang begitulah ciri-ciri orang iseng. Melakukan kegiatan usil lalu kabur. Akhirnya aku kembali dan menyelesaikan pekerjaanku.

19 Agustus 2016. Butuh waktu yang cukup lama ternyata untuk membuatnya. Dan akhirnya mesin ini pun jadi. IYA, MESIN WAKTU! Karena terlalu bersemangat kami pun langsung mencobanya. Pertama kami mencobanya menggunakan benda mati. Lalu mesin ini berhasil. Lalu kami mencobanya pada benda hidup. Yaitu kita sendiri. Kami mencobanya di halaman rumah, lalu kita mulai eksperimennya. Mesinnya hanya diset untuk 1 hari ke belakang. Ketika mesinnya dinyalakan, rasanya sangat aneh. Getarannya, energinya, semuanya kurasakan. aku seperti berada di lubang cacing, atau inilah lubang cacing? Ini adalah pelajaranku di tempat aku sekolah, Jembatan Einstein-Rosen. Yang hanya berupa teori. Namun sekarang semuanya menjadi nyata! Setelah kami melewati lubang cacing tersebut, kami terjatuh di tempat yang sama. TAPI, ini adalah kemarin! aku ingat situasi ini. Cuacanya, suhunya, dan semuanya, ini benar-benar kemarin. Kami berhasil membuat mesin waktu!! Terima kasih Ayah, sudah meninggal bertahun-tahun tapi masih memberiku PR.

Lalu kami berdiskusi, akan digunakan untuk apa mesin ini.
“Jadi, kira-kira ini mesin mau diapain?” tanyaku
“Hmm… minggu lalu ujian kimia gua dapet jelek nih, gara-gara waktu itu lagi ngerjain mesin ini nih. Kayanya mau gue betulin deh.” Tutur Desyca
“Oke, kalo lu gimana, Dan?” tanyaku kepada Dana
“Gimana kalo kita cari duit pake mesin ini, jadi kita liat lotere terakhir, catet angkanya, trus mundur deh. Dan boom langsung jadi miliarder kita.” Ucap Dana dengan semangat
“Hahahah, boleh banget tuh! gua juga butuh duit, banget. Tapi sebelumnya, ada baiknya kita bikin peraturan buat mesin ini.” Jawabku
“Gimana tuh peraturannya?” tanya Desyca
“Jadi… yang pertama, dilarang keras ‘lompat’ sendirian, jadi kalo mau mundur kita harus ‘lompat’ bareng-bareng, apapun kondisinya. Yang kedua, mesin ini, adalah rahasia kita bertiga. Gak ada pamer-pamer di FB, IG, atau apapun. Harus bener-bener rahasia. Dan yang terakhir, kita gak bisa ‘lompat’ lebih dari 10 tahun. Gak tau sih bakal kenapa, tapi di blueprint dijelasin kalo ‘lompat’ gak boleh lebih dari 10 tahun.” Jelasku
“Oke… siap bos. Jadi, ngapain nih sekarang?” tanya Dana
“Hari ini istirahat aja dulu, pulang ke rumah masing-masing. Besok baru kita mulai eksperimen kedua, gua juga ga sabar sih, tapi ya capek juga udah kerja seminggu penuh, gak tidur, gak istirahat. Sekarang waktunya puas-puasin da.” ucapku
“Ok gue juga cape sih, yauda deh. Pulang dulu ya, Bye Darka” tutur Desyca
“Sip bye..” balasku kepada mereka berdua

Setelah berdiskusi kami pun melanjutkan kegiatan kami sehari-hari seperti biasa. Mereka kembali ke rumah masing-masing dan melanjutkan aktivitasnya. Tetapi aku hanya ingin beristirahat di kamarku dan ingin memikirkan untuk hari esok yang pastinya akan sangat sibuk.

Malam pun tiba. Sungguh suatu hari yang panjang. Akhir-akhir ini aku sangat lelah. Karena mengerjakan mesin ini dan juga menghadapi gangguan orang iseng itu. Tapi meskipun begitu, sungguh menyenangkan jika sudah bisa memakainya dengan baik. Aku sudah seperti Tuhan, yang bisa melakukan apa saja yang aku inginkan. Lalu aku kembali menyusun rencana untuk kedepannya.

Setelah aku berpikir-pikir panjang, tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiranku. Aku memikirkan, ‘Bagaimana jika aku bisa kembali ke masa lalu dan menyelamatkan ayahku’. Awalnya aku pikir ‘Ah, ini tidaklah mungkin’. Namun setelah kupikir-pikir, aku sangat merindukan ayahku. Jika ia masih hidup, mungkin aku bisa menjadi penerusnya sebagai salah satu anggota ZOGO. Dan juga aku akan merasakan bagaimana rasanya memiliki sesosok ayah. Dididik olehnya, diajari, disayangi, bahkan diomelipun aku tetap bahagia. Karena itu adalah ayahku. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali, kembali ke hari dimana ayahku meninggal. Aku ke sana untuk menyelamatkannya, aku yakin pasti bisa. Tapi, jika ingin melakukan itu, teman-temanku pasti tidak akan setuju. Karena itu melebihi batas yang seharusnya untuk melompat. Tapi aku tidak peduli, jika nanti aku bertemu dengannya aku yakin ia pasti akan membantuku untuk kembali. Aku akan melakukannya sendirian. Aku tidak membutuhkan teman-temanku.

Akhirnya memutuskan untuk melanjutkan rencanaku ini. Aku mencari semua info tentang kematian ayahku. Semuanya, letak, tanggal, dan kronologis. Aku yakin jika aku sudah mempersiapkan semuanya, aku akan berhasil. Aku yakin! Tapi sebelum memulai semua ini, sepertinya aku membutuhkan tidur. Aku akan memulai perjalanan ini besok.

20 Agustus 2016. Pagi pun telah tiba. Inilah harinya. Setelah hari ini, mungkin kehidupanku akan berubah. Atau juga aku akan terjebak di masa lalu. Atau bahkan aku bisa saja meninggal di sana, karena tidak bisa menyelamatkannya. Atau apapun akan terjadi di sana.
Lalu aku menyiapkan semuanya. Perlengkapan, barang-barang bawaan, hingga senjata pun kubawa. Lalu aku memulai rangkaian mesin waktunya, dan tanpa berpikir panjang aku menyetel mesin ini untuk tanggal 2 April 2002. Ya sekitar 14 tahun yang lalu. Tepat satu hari sebelum insiden itu. Setelah itu aku langsung menyalakan mesin itu dan seperti biasa, aku terhisap ke lubang cacing dan kali ini tidak seperti biasanya. Mesin ini nampak agak tertekan, aku merasakan guncangan yang tidak enak dan juga pusing selama di mesin ini, mungkin karena aku melompat terlalu jauh. Aku takut terjebak di antara ruang dan waktu. Tapi aku tetap rileks dan diam selama di dalam lubang cacing. Akhirnya setelah beberapa lama aku pun sampai.

2 April 2002. Aku rindu dengan atmosfir tempat ini. Disaat dunia belum modern, dan teknologi dimana-mana. Terkadang kita harus rindu dengan suatu yang manual tanpa teknologi. Ya… awalnya aku menikmati saat sampai sini. Namun setelah beberapa lama, aku mencium bau asap muncul dari ranselku. Aku berfirasat buruk, aku takut mesinku akan rusak karena aku melompat lebih dari yang seharusnya. Lalu setelah aku cek ke dalam. BENAR TERJADI! Inti mesinnya… hancur… aku sangat kaget melihatnya, dicampur perasaan gundah gulana. Aku takut tidak bisa kembali. Jadi sebaiknya aku harus berhasil menyelamatkan ayahku agar aku bisa kembali, dan juga mungkin masa kini akan menjadi berubah total. Sebelum menyelamatkannya, aku harus bersiap-siap dahulu. Dan aku hanya mempunyai waktu 24 jam. Jadi aku menggunakannya dengan sangat efektif.

3 April 2002. Ini adalah puncak dari segalanya. Aku sudah bersiap untuk menyelamatkan ayahku. Menurut informasi yang kudapat ayahku meninggal di kantornya sekitar pukul 23.00. Siang sampai sore aku berlatih terus untuk berjaga-jaga jika pembunuh ayahku berbahaya. Lalu ketika malam tiba, pukul 21.30 aku berangkat dari tempat penginapanku.

22.30. Dan sampailah aku di kantor ayah. Gedungnya sudah gelap, rata-rata pekerja lain sudah pulang. Kecuali ayahku yang sedang lembur. Dan inilah saatnya, mengubah takdir. Aku dapat memasuki kantornya karena aku memakai embel-embel ‘anaknya’. Jadi aku dapat masuk dan langsung menuju ruangan ayahku. Karena lebih dahulu masuk jadi aku dapat bersembunyi agar lebih leluasa saat menemukan pembunuhnya. Akhirnya aku menunggu di dalam lemari sembari memegang pisau di tangan kiriku.

23.00. 30 menit telah berlalu. Harusnya inilah waktunya, tapi ayahku bahkan belum memasuki ruangannya. Beberapa menit kemudian, ada seorang asing yang memasuki ruangan ini. Aku yakin ini bukanlah ayahku. Tidak lama kemudian ia berkata. “Huh… akhirnya. Sudah tidak sabar aku.” DIA BUKANLAH AYAHKU! DIA ADALAH PEMBUNUHNYA! Aku dapat mengenali suara ayahku dengan sangat baik. Dan ini bukanlah suara ayahku, sangat jauh berbeda dengan suara ayahku. Lalu ia melangkah pelan ke arah meja ayahku. Aku yakin dia akan bersembunyi juga untuk menunggu ayahku. Ketika ia mulai melangkah, aku langsung bersiap untuk membunuhnya. Aku akan mengubah takdir. Aku mengencangkan tangan kiriku. Lalu setelah dia berjalan beberapa langkah. Aku langsung keluar dan… JLEB. Kutusuk persis di dada. Ya, aku berhasil membunuhnya. Aku telah menyelamatkan ayah. Hahahahah. Misi sukses, sekarang hanya perlu mencari ayah untuk mengembalikanku ke masa kini.
Lalu ia membalikkan badannya, dan berkata dengan sesak. “Kaukah itu, Nak?”
“HAH?! Siapa kamu? Kau adalah pembunuh ayahku. Dan aku telah menyelamatkannya.” Kataku dengan nada tinggi
“Hahaha. Ternyata kau sudah besar nak, kau sangat mirip denganku. Dan juga kau telah menyelesaikan mesin waktuku.” Ucapnya lembut sambil sesak
“AYAH?! Tapi?!?” seruku keheranan
“Ini adalah Pil Mystique nak, aku yakin kau masih ingat dengan ini. Aku pernah menceritakan ini kepadamu, dan inilah, sudah bekerja dengan sempurna pilnya. Dan juga aku sudah tidak sabar menceritakan ini kepada anak kecilku.” Jelasnya
“ASTAGAAAA… Tapi, ayah. Ini sangatlah diluar ekspektasi! Maafkan aku ayah… aku berencana untuk menyelamatkanmu. Tapi, aku sendirilah yang membunuhmu.” Kataku sambil mengeluarkan air mata
“Tidak apa nak, ini memang sudah ditakdirkan oleh sang pencipta. Ini, Pil Mystique. Peganglah, kau hanya perlu memikirkan wujudku. Dan tubuhmu akan berubah. Kau dapat menggunakannya untuk melarikan diri dari sini.”
“Maafkan aku… ayah… aku benar-benar minta maaf.” Tuturku sambil menangis
“Tidak apa… nak. Aku tau… kau ke sini… karena… aku sudah meninggal. Tapi… ada satu hal pasti… yang harus kau tau. Engkau… tidak… bisa… mengubah… tak…dir…” Setelah ia mengatakan itu, ia menutup matanya dan meninggal di pelukanku.

Aku sangat depresi setelah tau ini. Aku menangis tersedu-sedu, ternyata akulah pembunuhnya selama ini. Iya, AKU! AKULAH SANG PEMBUNUH!!! AKU, DARKA. TELAH MEMBUNUH AYAHNYA SENDIRI! HAHAHAHAH. Aku pun menjadi gila, gila setelah tau kenyataan yang pahit. Dengan perasaan gundah, aku pun akhirnya mengkonsumsi Pil Mystique tersebut dan meninggalkan jasad ayahku dan mencari tempat untuk menyendiri.

Aku terjebak di masa lalu. Karena belum sempat bertanya kepada ayah cara untuk kembali. Dan juga aku gagal menyelamatkan ayahku. Karena perbuatan bodohku sendiri. Benar-benar. Mesin waktu adalah suatu hal yang sangat sangat buruk.

Akhirnya aku menunggu, menunggu waktu yang tepat agar bisa membatalkan rencanaku di garis waktu ini untuk menciptakan mesin waktu yang sangatlah sia-sia. 14 tahun menunggu. Aku semakin menua, dan diriku di garis waktu ini sedang semangat-semangatnya menciptakan mesin waktu. Sungguh ide yang sangat bodoh! Aku selalu mencoba untuk mengagalkannya. Tapi semua usahaku hanyalah sia-sia. Semua yang kulakukan untuk mencegahnya, tidaklah berhasil. Mulai dari mematikan sambungan listrik mereka, mengirim pesan, bahkan sampai melempar pisau yang kugunakan untuk membunuh ayahku sendiri. Mereka tetaplah bersikeras untuk melanjutkan proyek bodoh itu.

Akhirnya aku teringat kata-kata terakhir ayahku sebelum ia meninggal. Kita tidak bisa mengubah takdir. Kita bukanlah Tuhan, hanya Tuhan yang dapat menentukan takdir kita. Jadi, perjalananku selama ini hanyalah sia-sia. Aku kehilangan segalanya. Sahabatku, keluarga, kehidupanku yang menyenangkan, semuanya itu berada di garis waktuku yang asli. Bukan di sini.

Hingga akhirnya aku sadar. Inilah kejadiannya, dan akan selalu seperti ini. Lagi dan lagi. Aku tidak dapat bermain menjadi Tuhan. Aku tidak bisa mengubah takdir sesuka hatiku. Inilah takdir yang kudapatkan, semua yang telah kujalani. Adalah memang apa yang harusnya terjadi.
Bagaikan seekor ular yang memakan ekornya, lagi dan lagi. Demikianlah hidupku ini.

Cerpen Karangan: Kristian Wilianto
Facebook: Kristian Wilianto

Cerpen Paradoks merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penolong Misterius Rara

Oleh:
Hal yang paling ibu khawatirkan tengah terjadi saat ini. Dua orang pria berbadan besar dan berpakaian hitam terus saja berlari di belakangku. Sepertinya mereka orang jahat, entah apa yang

Magic Book

Oleh:
Clara, gadis berumur 11 tahun ini sangat menyukai pelajaran di laboratorium. Maklumlah, ayahnya seorang ilmuwan. Bahkan, Clara sudah dibuatkan ruangan oleh ayahnya untuk experimen-experimen barunya. Ya, walaupun ruangannya tidak

Dream Wanderer

Oleh:
Seorang pria tersentak dan tersadar, “apa yang barusan terjadi?” perasaan bingung menghantui pikirannya. Satu yang dia tahu, seseorang berusaha menyadarkannya dari sesuatu, ya sesuatu dari masa lampau. Pria itu

Dialog Pikiran

Oleh:
Hawa panas mulai memasuki kamarku. Gorden jendela kamar kubiarkan tetap menutup. Suasana kamar terasa sedikit pengap, tapi kubiarkan saja. Keadaan di sekitar sudah tidak berpengaruh banyak. Aku sudah tenggelam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Paradoks”

  1. Aliyakh says:

    ceritanya keren, I like it.

  2. thomy says:

    Keren cerpenya “paradox ” sesuai judulnya sesuatu yang sulit di pecahkan oleh logika

  3. aritma says:

    kereeen

  4. Arif Suragadhing says:

    saya suka ceritanya, tapi sayang… ada bagian yang mirip di film “Project Almanac”
    saya suka endingnya. .
    semangat ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *