Paradoks Penyelamat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 19 September 2017

Langit mulai berwarna jingga pekat, matahari sudah mulai tak terlihat menunjukkan malam akan segera tiba. Seperti biasa setiap hari, bos menyuruhku untuk bekerja lembur karena akhir-akhir ini perusahaan kami sedang mengejar proyek pemerintah yang menggiurkan karena nilai yang ditawarkan mencapai miliaran rupiah. Maka dari itu bos menyuruhku untuk kerja lebih larut demi memenangkan tender untuk proyek pemerintah tersebut.

Melihat jam tanganku tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Karyawan kantor yang lain sudah mulai pulang ke rumah dan menikmati hangatnya suasana malam bersama keluarga. Namun berbeda denganku yang masih terduduk di atas kursi kantor berhadapan dengan monitor sambil memikirkan apa saja yang harus dipersiapkan untuk memenangkan proyek besar itu. Sedari tadi sampai sekarang menunjukkan pukul 10:30 tidak tau kenapa agaknya sangat sulit sekali untuk berpikir bagaimana strategi yang akan dilakukan untuk menyingkirkan perusahaan-perusahaan besar lain dan memenangkan proyek tersebut.

Setelah terdiam beberapa saat, aku teringat kalau ibadah sholat isya tadi belum aku tunaikan. Aku langsung meninggalkan ruang kantor dari lantai tiga belas menuju ke musholla yang berada di lantai dasar. Kantor sudah sepi, semua karyawan sudah pulang hanya tersisa aku dan pak burhan sebagai penjaga kantor yang berada di pos keamanan. Aku berjalan cepat menuju lift dengan lampu kantor yang sebagian sudah dimatikan. Sebelum masuk ke dalam lift, aku merasakan seperti ada bayangan putih yang mengikutiku sehingga membuat sekujur tubuh merinding. Setelah di dalam lift hawa makhluk berbayang putih tadi semakin kuat sampai-sampai aku seakan tak sanggup untuk menekan tombol lift. Lift pun mulai turun menuju lantai dasar, bunyi roda-roda lift yang berdecit seakan menambah suasana seram.

Tiba-tiba terdengar bisikan serak yang memperingatkan aku untuk berhati-hati.
“Aku peringatkan kau agar berhati-hati!”
Terkaget dengan bisikan itu, keluar dari lift aku pun berjalan kencang dengan perasaan deg-degan, jantung berdetak kencang, keringat mulai membasahi kening.

Sesampainya di musholla aku langsung mengambil air wudhu kemudian sholat dan berdoa meminta perlindungan agar Allah selalu melindungiku dan keluargaku. Setelah sholat aku pun langsung menuju ke mobil dan pulang ke rumah tanpa mengambil tas kerja yang tertinggal di ruang kantor.

Kupacu mobil dengan kencang agar cepat sampai ke rumah karena istri dan anakku pasti telah menunggu kedatanganku. Selama mengendarai mobil, aku merasakan kantuk yang teramat berat. Hingga pada akhirnya karena tidak tahan menahan kantuk kepalaku tertunduk ke stir mobil sehingga membuat mobil menabrak pembatasan jalan yang membuat mobil terpental melewati pembatas jalan.

Setelah beberapa saat, aku pun terbangun dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawa. Anehnya, aku terbangun di ruang kerjaku dan melihat diriku sendiri sedang terduduk bingung di depan monitor yang masih menyala. Kemudian aku melihat diriku terkaget langsung meninggalkan tempat duduknya. dari situ aku tersadar kembali ke masa lalu, kembali ke beberapa jam setelah terjadinya kecelakaan. Aku melihat diriku berjalan menuju lift, ketika di dalam lift aku berbicara pada diriku sendiri agar aku lebih berhati-hati. Tetapi diriku di masa lalu terlihat ketakutan nampak dari cara dia yang tergesa-gesa untuk segera keluar dari lift.

Setelah sampai di musholla, aku sudah tidak bisa komunikasi dengan diriku yang ingin segera melaksanakan sholat isya. Bahkan sekedar hanya mengikutinya saja aku pun tak bisa. Setelah diriku mengucap salam tanda berakhirnya sholat aku pun langsung menghilang entah ke mana bak ditelan bumi.

“Ayah,..”
“Ayah, bangunlah yah.”
Terdengar suara lirih anakku memanggilku di tengah kesunyian yang aku rasakan.

Tersentak aku pun berlari menuju suara tersebut, semakin kencang aku mendengarnya dan pada akhirnya aku menemukan cahaya yang membuat mataku tak bisa melihat apa-apa. Setelah cahaya itu mulai redup aku pun tersadar kalau aku sedang berada di rumah sakit bersama Istri dan Anakku yang mendekap dan memeluk tubuhku yang terbaring.

Air mataku tak terasa telah membasahi pipi. Dan aku benar-benar bersyukur, Allah masih memberi kesempatan ke dua untuk membahagiakan keluarga kecilku.

Cerpen Karangan: Yoga Gilang Prasetyo
Facebook: Yoga Gilang Prasetyo

Cerpen Paradoks Penyelamat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Manusia Impian

Oleh:
“Dengan semua yang aku miliki aku akan tetap menjagamu!” aku berlari menuju monster besar itu, yang sedang memenjarakan gadis yang aku sukai di belakangnya. Aku akan membuatmu membayarnya! “Ayo

Oplosan

Oleh:
“Kuberi kau kekuatan sihir. Tapi lenyapkan dia!” Alkisah, hidup seorang gadis. Ia tinggal bersama ibu dan saudara tirinya. Ibu kandungnya pergi entah ke mana. Markonah, selalu menjadi target suruhan

Monster Love (Part 5) Menangis

Oleh:
Beberapa menit pun kami tiba di museum yang memamerkan barang-barang bersejarah serta tulang-tulang dinosaurus yang lengkap (andai itu ada di kenyataan), Pak Guru pun menjelaskan setiap benda dan tempat

Jejak Kaki Misterius

Oleh:
Hari libur semester adalah hari kebahagiaan bagi setiap anak yang memiliki status di bidang pendidikan. Bahagianya adalah mereka bisa terbebas dari pelajaran-pelajaran sekolah yang melelahkan, walaupun hanya sementara waktu.

Mang Ojo Terpidana

Oleh:
“Brakkk…!” suara pintu depan rumah didobrak terdengar keras. Kerumunan orang ramai terlihat di luar. Orang-orang sekampung tampak memenuhi seberang jalan itu. Semuanya dengan wajah penuh ingin tahu. Sepasukan polisi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *