Pemberontakan Kami

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 1 December 2021

Selamat datang di Negara “Tanpa Peraturan”. Negara ini merupakan negara kecil dan terpencil. Kau tidak akan bisa menemukannya di peta, atlas, atau manapun. Negara ini adalah tempat yang indah. Penuh senyuman dan kebahagiaan. Hingga suatu ketika, mereka datang. Nice Guys, sebuah kelompok kriminal yang melakukan berbagai jenis kejahatan. Mereka terkenal sampai negara kecil seperti ini. Mereka mengenakan jaket kulit berwarna hitam dengan lambang tangan mengepal di punggung mereka. Mereka sangat kuat sehingga dapat menguasai negara ini dalam sekejap. Sejak saat itu tidak ada lagi kebahagiaan disini. Orang-orang selalu diselimuti perasaan takut dan cemas.

Tentu saja ada banyak orang yang memberontak, tapi mereka semua gagal. Nice Guys seperti selalu mengetahui rencana mereka. Karena banyak pemberontakan yang gagal, orang-orang memilih tunduk kepada Nice Guys. Mungkinkah kebahagiaan akan kembali?

Suatu hari, bahan makananku menipis. Aku pun pergi ke pasar untuk membeli makanan, tidak lupa membawa pisau milikku, kau tahu, untuk berjaga-jaga. Kalau kalian bertanya, bagaimana aku mendapat uang? Aku berjualan. Orangtuaku sudah wafat sejak lama. Mereka termasuk para pemberontak, karena itu aku tidak sedih.

Ketika sedang berbelanja, terjadi pengeroyokan. Pelakunya empat orang, mereka mengenakan jaket kulit berwarna hitam dengan lambang tangan mengepal di punggung mereka. Sudah pasti itu Nice Guys. Mereka menghajar salah seorang pemilik toko dengan brutal. Meskipun pemilik toko tersebut sekarang sudah babak belur, mereka tidak berhenti.
Tapi, meskipun mereka melakukan itu secara terang-terangan, tidak ada seorang pun yang menghentikan mereka.

“Kenapa tidak ada yang menghentikan mereka? Mereka semua PENGECUT!” Aku mengatakan itu padahal diriku juga seorang pengecut.

Sepertinya para pengeroyok itu mendengarkanku, karena setelah aku mengatakan hal tersebut, mereka berjalan mendekatiku. Semakin mereka mendekat, semakin keringatku bercucuran. Jantungku? Sudah tidak perlu ditanyakan lagi, berdegup sangat kencang.

“Oi, hentikan itu!”
Terdengar suara sangat keras. Dari arah suara itu terdapat seseorang yang berdiri dengan gagah berani. Ia mengenakan pakaian putih dan topeng yang berwarna hitam.
“Siapa kau?” Kata salah seorang pengeroyok.
“Nol.” Jawab orang itu.
Setelah mendengar kata itu, mereka–para pengeroyok, langsung terlihat ketakutan dan lari terbirit-birit. Semua orang bersorak. Itu pertama kalinya dalam hidupku melihat wajah bahagia para penduduk.
“Ini adalah hari yang bersejarah, ini adalah awal kehancuran Nice Guys.” Aku mengulang kata-kata itu beberapa kali dalam hatiku.

Setelah semua sorakan, tepuk tangan, dan pemberian hadiah, Nol mengucapkan selamat tinggal dan berlari ke arah Ia datang. Aku mengejarnya. Aku ingin bergabung dengannya. Aku ingin bertarung melawan Nice Guys. Tapi, sekencang apapun aku berlari, Ia lebih cepat. Nol berlari tanpa istirahat, padahal jarak yang kita tempuh sudah sekitar 10 KM. Karena aku sudah tidak kuat, aku membeli motor milik pemotor yang lewat. Nol lalu masuk ke sebuah rumah kosong yang terkenal angker. Rumah itu memiliki bentuk yang unik. Rumah itu panjang dan dikelilingi oleh pagar besi tinggi. Lengkap dengan tulisan “Do Not Enter” terpaku di pagarnya.

Aku memakirkan motor di depan pintu. Aku membuka pintu dengan menutup mata. Pintu itu berderit layaknya pintu tua, menambah kesan menakutkan. Ketika aku membuka mata, aku terkejut, Ia tidak ada!
“Ti-tidak mungkin Ia diculik hantu, kan?” kataku terbata-bata.

Aku berjalan menyusuri lorong sepanjang kira-kira 24 meter. Satu-satuya penerangan adalah obor, yang ada setiap 2 meter. Terdengar suara-suara dari jauh. Aku lalu berjalan cepat, mencari asal suara itu. Semakin keras… semakin keras… semakin keras, hingga aku menemukan asalnya. Berasal dari ruangan yang sekarang di kananku. Aku melihat dari celah di di pintu. Sepertinya sedang diadakan pesta. Pesta itu dihadiri oleh sekitar 100 orang. Sudah puas melihat, aku berjalan lagi. Setelah sudah jauh, aku mendengar suara lagi, dari ruangan di kiriku. Tidak ada celah di pintunya, jadi aku melihat dari lubang kunci.

“Apa kau telah menangkap para pembelot itu, Nol?”
“Sayangnya belum, bos. Mereka berhasil kabur.”
“Jadi, kau, pulang tanpa membawa hasil?”
“Te-tenang bos. Para penduduk telah di pihak kita. Mereka bisa lari, tapi tidak bisa sembunyi.”
“Hahaha, itu pantas untuk mereka. Beraninya mereka memukuli mata-mataku. Nol! Sekarang kau boleh pergi. Pastikan untuk membawa para pembelot itu ke sini. Akan kuberi mereka pukulan bertubi-tubi.”
“Siap laksanakan, Tuan Evander.”

Aku shock. Tercengang. Tak bisa mempercayainya. Orang yang kupikir penyelamat, ternyata penjahat. Para pengeroyok tadi–meskipun aku tetap tidak suka caranya, ternyata baik. Dan aku tahu Evander, Ia adalah Ketua Nice Guys. Aku berada di markas Nice Guys!

Karena sedang shock, tercengang, dan tak bisa mempercayainya, aku tidak sadar bahwa pintu telah dibuka. Sehingga aku tersungkur dan wajahku menghantam lantai. Tapi rasa sakit itu bukan apa-apa, dibandingkan dengan rasa sakit yang akan kurasakan. Aku ketahuan!

“Penyusup!” Teriak Nol penuh amarah.
Aku langsung bangkit dan lari. Lorong yang tadinya sepi dan sunyi, sekarang dipenuhi dengan suara sirine yang memengkakkan telinga. Membuat orang-orang yang tadi berpesta, keluar dan mengejarku. Aku pikir ini adalah akhirnya. Aku mulai memperlambat langkah-langkahku dan pasrah.

Tiba-tiba, ada banyak bola yang menggelinding keluar dari ruangan di sebelah kananku. Aku memperhatikan bola-bola itu dengan heran. Bola-bola itu mengeluarkan asap yang lebat. Aku yang masih batuk-batuk dengan asapnya, ditarik memasuki ruangan di kanan. Aku yang sudah pasrah, tidak melawan. Aku menutup mataku, aku tidak ingin melihat bagaimana aku akan mati. Terdengar pintu tertutup. Pintu itu meredam kebisingan di luar.

Sesaat kemudian aku merasakan pipiku ditampar sangat keras. Aku masih tidak ingin membuka mataku.
“BUKA MATAMU BODOH!”
Aku mengenali suara malaikat itu. Aku pun membuka mataku. Bellatrix, teman masa kecilku, tetanggaku, dan orang yang kusuka. Coba saja kalau kalian bisa melihatnya, rambut hitamnya panjang dan terurai, kulit cokelatnya menawan, mata cokelatnya yang indah, mengenakan mantel berwarna hitam. Kehadirannya menyapu kekacauan dalam hatiku. Sayangnya Bukan hanya dia yang ada disana; ada sembilan orang di ruangan ini, termasuk aku dan Bellatrix, mereka semua memakai mantel hitam. Satu orang di samping kiri Bellatrix yang merupakan ayahnya. Tiga orang di kanannya, yang tidak lain adalah para pengeroyok. Satu orang lagi berada di belakangku, dia yang menarikku.
Dan ada dua orang terakhir yang berada paling jauh. Yang mengejutkannya adalah, mereka kedua orangtuaku. Aku langsung berlari ke arah mereka. Kami berpelukan dan menangis. Suasana mengharukan ini disela oleh salah satu pengeroyok.

“Ehh… bukan bermaksud menyela, hanya saja, kita harus segera pergi.”
“Kau benar.” Kata ayahku sambil mengusap air mata.
“Kita harus segera pergi, tempat ini akan meledak dalam (mengecek jam tangan), 20 menit!” Lanjutnya.

Kita semua keluar melalui tembok yang telah dibobol beberapa saat sebelum aku masuk. Setelah berlari sejauh 6 KM, terdengar suara ledakan. Aku menoleh ke belakang. Tempat itu meledak bersama dengan isinya.

Ketika kami sampai di tempat ramai penduduk, kami langsung dilontarkan dengan banyak pertanyaan. Para pengeroyok bersembunyi jauh dari kita, agar tidak menimbulkan fitnah. Ayahku langsung menceritakan apa yang terjadi kepada para penduduk. Tentang kehancuran Nice Guys, Nol yang ternyata pengkhianat, dan lain-lain. Awalnya para penduduk tidak percaya, tapi Ayah telah menyiapkan bukti-bukti yang menguatkan. Barulah mereka percaya. Sejak saat itu kebahagiaan telah kembali ke sini. Beberapa hari setelahnya, aku memberanikan diri melamar Bellatrix. Dia bilang “Ya”, dengan suara malu-malu yang manis.

Dan kalau kalian bertanya, apa kontribusiku disini? Kalian bodoh! Aku yang mendokumentasikan cerita ini. Ya… meskipun dari sudut pandangku.

Cerpen Karangan: Andira
Blogk: cerpenandira.blogspot.com
Halo! Terima kasih telah membaca. Tunggu cerpenku yang selanjutnya, ya!

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 1 Desember 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Pemberontakan Kami merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Azalea : First Meeting

Oleh:
Stevan kebingungan. Itu pasti karena dia hanya sendirian di kamar yang lampunya masih menyala terang ini. Pemuda blonde itu merasa malam ini, malam yang sangat berat baginya. Mungkin akan

Pohon Berlian

Oleh:
Namanya Shaqueena Mardhiyyah. Biasa dipanggil Dhiyyah. Namanya cantik pemberian Almarhum dan Almarhumah orangtuanya. Memang Dhiyyah tinggal di tenda. Ia tinggal di hutan tetapi tak terlalu dalam. Sebenarnya, Dhiyyah harus

Buruieni

Oleh:
Aku hanya duduk terdiam sambil menunggu bala bantuan datang. Tangan dan tubuhku terlumuri darah hijau. Aku tidak tahu mengapa air mataku mengucur deras. Mungkin karena ayahku sudah termakan oleh

Sup

Oleh:
Ruang Televisi kosong. Tama menatap sebentar, lalu kembali memotong wortel yang tadi sempat tertunda. Cuaca sangat dingin, suhu sore ini mencapai 10°C. Bahkan pemanas ruangan seakan tak berguna di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *