Pencuri Pendatang Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 21 July 2017

Hari yang indah di Bennijarre. Siang itu Itzel sedang membawakan kue pai untuk pekerja konstruksi yang ingin membangun sebuah menara untuk museum kota. Sudah lebih dari 2 bulan menara itu belum juga selesai. Wajar saja, menara itu tingginya 235 m (untuk ukuran peri). Cukup tinggi, karena rekor bangunan tertinggi di Bennijarre adalah 124 m yaitu kediaman Pak Connor.

“Oh, selamat siang! Aku membawakan kue pai atas permintaan Pak Connor untuk kalian. Ini adalah kue pai Amberblaze. Dan juga, aku membawakan jus berrynya.” Kata Itzel ramah.
“Terima kasih, Itzel. Kami memang sangat lelah.” Kata salah satu pekerja konstruksi yang sangat Itzel kenal, namanya Jay.
“Sama-sama, pak Jay. Oh ya, aku ingin tahu, kapan museum ini selesai, ya?” Tanya Itzel.
“Yah, diperkirakan sebentar lagi. Kami tinggal membuat kubah untuk atapnya dan sebuah penangkal petir di atasnya,” jelas pak Jay.
“Penangkal petir? Menurutku, Bennijarre sangat jarang dituruni hujan, apalgi hujan petir.” Tanggap Itzel.
“Sebenarnya ada maksud lain dibelakang pembuatan penangkal petir itu. Ya, jika kau amati dengan benar, penangkal petir itu punya motif yang sangat khas yang benar-benar menggambarkan Bennijarre. Tanpa penangkal petir itu, museum ini tidak akan bermakna.” Kata pak Jay. Itzel manggut-manggut.
“Oh, baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya. Selamat bekerja!” Lambai Itzel.

Di perjalanan pulang, dia bertemu Silvana yang sedang duduk di teras rumahnya.
“Itzel, kemari lah!” Panggil Silvana. Itzel datang dengan segera.
“Ada apa? Apa kau ingin memintaku untuk memotong rumput ilalang satu meter di pekarangan rumahmu lagi?” Tanya Itzel.
“Bukan, bukan! Jangan salah sangka dulu! Maukah kau menemaniku untuk menyusuri hutan pinus? Aku ingin melihat kelinci-kelinci lucu hibernasi dari selatan!” Kata Silvana memohon.
“Apa? Menyusuri hutan? Toko kueku istirahat 2 jam lalu! Ada pesanan nyonya Gladys yang harus kuantar.” Kata Itzel.
“Kau ingat pekerjaanku sekarang apa? Fotografer hewan! Oh, tolonglah Itzel! Bukankah kau sahabat sejatiku?” Paksa Silvana. “Oh, atau kita bisa antar kue itu sambil pergi ke hutan? Ya, kan? Ya, kan?”
“… Baiklah. Jangan lama-lama.” Kata Itzel.
“Benarkah? Terima kasih Itzel! Peri koki terbaik di seluruh penjuru dunia!” Kata Silvana sembari memeluk erat Itzel.
“Lepaskan! Sudah sepatutnya aku begini dengan sahabatku sendiri, kan?” Kata Itzel. Silvana senang, Itzel juga.

Mereka pun datang dulu ke rumah nyonya Gladys. Nyonya desainer pakaian terbesar di seluruh antero Bennijarre.
“Nyonya Gladys! Yuhuu …!!” Seru Itzel dari luar pintu sambil menenteng satu keranjang kue.
“Ya, siapa di–, ooh, Itzel! Bolu pisang coklat dengan taburan kismis?” Nyonya Gladys memastikan.
“Tentu, pesananmu, bukan? Jadi semuanya … 15 dolar Bennijarre, Nyonya.” Kata Itzel.
“Ini uangnya. Terima kasih, semoga bolu ini bisa membuat para merpati-merpati yang terancam itu kembali ke habitatnya.” desah Nyonya Gladys.
“Maksudnya?” ujar Silvana yang kink merupakan pecinta hewan.
“Kalian baru tahu? Bukan hanya merpati dengan sayap pelangi itu yang terancam, seluruh hewan! Ini semua karena binatang itu. Ya, aku tak dapt memastikan bentuk rupanya. Tapi dari yang kudengar-dengar. Ia berbulu, memiliki moncong, cakar yang tajam, dan kedua taring yang panjang! Kedengaran menakutkan, bukan?” jelas Nyonya Gladys. Silvana berekspresi takut.
“Benarkah? Kenapa dengan hewan, merpati, dan boluku?” tanya Itzel.
“Hahaha, ini alasan yang lucu Itzel. Saat aku pergi piknik bersama kucingku Pluffy, kami membawa bolu lezatmu ini. Namun, ketika kami ingin memakannya, bolumu habis tak tersisa karena merpati itu. Burung merpati itu melahapnya. Jadi rencanaku, aku ingin memancing burung itu dengan menaburkan remah bolumu agar aku tahu di mana mereka berkumpul dan bisa memberi mereka tempat tinggal! Ya, merpati itu sudah menyebar ke mana-mana karena makhluk itu! Dia sudah mengambil alih habitat burung merpati. Awas saja! Kalau aku bertemu dengan makhluk itu! Akan kucabik-cabik sampai tak tersisa!” Nyonya Gladys mengepalkan tangannya. Secara, dia kan pendiri organisasi ‘Save Bennijarre’s Animal’.
“Itu ide yang bagus! Kapan kau akan melaksanakan rencanamu itu?” Tanya Itzel.
“Minggu depan! Bersama rekan organisasiku!” Kata Nyonya Gladys.
“Itzel, kelinci itu sudah hampir sampai di hutan Bennijarre! Jika kau terus mengobrol dengannya, aku bisa kehilangan pekerjaanku!” bisik Silvana.
“Oh, eh, Nyonya Gladys, aku dan Silvana sangat mendukung rencanamu itu. Tapi kami harus segera pergi. Sampai jumpa!” lambai Itzel meninggalkan Nyonya Gladys.
“Kau yakin masih mau pergi ke hutan? Mungkin makhluk itu resikonya,” kata Itzel di perjalanan.
“Ah, tidak apa! Untuk apa aku menjadi fotografer binatang jika takut dengan binatang? Lagipula jika kita bertemu dengan hewan itu, aku bisa memotretnya dan hitung-hitung bisa menambah gajiku!” kata Silvana.

Mereka sudah masuk di pangkal hutan. Tanpa takut, Itzel dan Silvana yang berani memasuki hutan sambil mengobrol. Namun, Itzel mempunyai firasat aneh. Sering kali dia mendengar suara ranting patah dan daun-daun tertiup.
“Silvana, apakah kau mendengarnya?” tanya Itzel.
“Dengar apa? Suara perutku? Iya, perutku belum mendapatkah jatahnya hari ini.” kata Silvana mengelus perutnya.
“Bukan! Ranting-ranting itu dan suara langkah-langkah kaki itu! Suasananya menegangkan sekarang.” Itzel bergidik ngeri.
“Ah, kau mengigau. Sebulan sudah aku jelajahi hutan ini untuk mengambil foto binatang. Tak pernah aku mendengar bunyi aneh yang kau ceritakan itu,” kata Silvana enteng. Namun, suara-suara itu semakin jelas dan Silvana pun mendengarnya juga. Tapi dia tidak takut sama sekali.
“Oh, aku mendengarnya sekarang! Itu hal biasa, Itzel. Kau kira di hutan ini tidak ada angin, hah?” ujar Silvana. Tapi Itzel tak sesantai itu. Dia tahu benar ada seseorang yang mengintai mereka. Tak lama setelah itu, semak-semak di sebelah Itzel terguncang. Namun Silvana tidak menyadarinya dan terus mengoceh seakan-akan Itzel mendengarnya.

“Kraassszz!!!” suara mengancam terdengar dari situ. Makhluk itu menampakan sedikit tubuhnya. Namun Itzel dan Silvana yang terkejut, sudah takut. Mereka berlari sekencang yang mereka bisa. Menjauh dari makhluk atau binatang aneh itu.
“Apa itu tadi?!” Kata Silvana repot mengatur napasnya.
“Sudah kubilang, ada sesuatu yang mengintai kita!” jawab Itzel.
“Yang kutanya adalah, makhluk apa itu tadi? Apa kau melihatnya?” tanya Silvana.
“Tidak! Hanya dua mata berwarna merahnya yanng menakutkan! Mungkin itu makhluk yang diceritakan Nyonya Gladys.” Itzel menerka.
“Kemungkinan. Tapi kita harus beritahu Pak Connor. Dia harus tahu ada makhluk berbahaya yang mengancam Bennijarre.” Itzel dan Silvana terbang dari hutan. Mereka mengabaikan tujuan mereka pergi ke hutan itu dan segera meluncur ke rumah Pak Connor.

Itzel dan Silvana mengetuk pintu rumah Pak Connor tak teratur. Lama menunggu, akhirnya pintu pun dibuka oleh Nyonya Elle, istri Pak Connor.
“Itzel, Silvana? Ada apa ini?” tanya Nyonya Elle.
“Di mana Pak Connor? Ada hal penting! Sangat penting!” ujar Silvana.
“Penting apa? Dia di tempat proyek pembangunan. Ada masalah yang lebih penting di sana.” kata Nyonya Elle. Usai mengucapkan terima kasih, Itzel dan Silvana segera pergi tanpa mndengar dengan jelas ucapan Nyonya Elle.
“Tunggu Silvana. Untuk apa kita pergi dengan cepat? Toh, makhluk itu juga tidak mengejar kita, bukan?” Itzel benar juga. Silvana memelankan terbangnya.

Sesampainya di sana, Itzel dan Silvana langsung mencari Pak Connor. Tapi tampaknya, dia sedang sibuk dengan para pekerja konstruksi.
“Selamat siang Pak Connor. Kau terlihat sibuk. Apa aku mengganggumu?” tanya Itzel.
“Tidak, Itzel. Masalah ini tidak memakan banyak waktuku. Lagipula, aku juga butuh istirahat. Sedari tadi aku terus memikirkan penangkal listrik itu.” Pak Connor duduk di kursi kayu. Dia tahu setiap masalahnya bisa diatasi berkat usulan Itzel.
“Masalah? Masalah apa?” Silvana tertarik. Dia meminggirkan aduannya bersama Itzel terlebih dahulu. Kelihatannya masalah Pak Connor terdengar lebih penting.
“Yah, penangkal petir itu dicuri.” ucap Pak Connor singkat. Itzel memainkan otaknya. Penangkal petir apa yang dibicarakan Pak Connor. Aha! Dia ingat! Penangkal petir museum itu! Pak Jay sang ketua konstruksi berkata penangkal petir itu sangatlah penting! Tapi Silvana mengernyitkan dahinya. Tak tahu penangkal petir apa dan yang mana yang sedang dibicarakan ini.
“Bagaimana bisa? Penangkal petir itu sangat penting, kan?” Itzel tak percaya.
“Menurut Jay, saat para pekerja baru kembali dari istirahat, mereka menyadari kalau penangkal petir itu sudah hilang. Padahal mereka sangat yakin tidak akan ada yang tahu di mana benda itu tersimpan. Di semak belukar yang tertanam jauh agar keamanannya terjaga.” kata Pak Connor.
“Menurutku, memang pantas sekali benda itu hilang. Bagaimana tidak? Semak belukar? Oh, ayolah … Mereka pasti punya tempat lain untuk menyimpannya.” kata Silvana.
“Tapi aku tahu benar. Jay tak akan seceroboh itu. Aku percaya padanya,” kata Pak Connor.
“Daripada terus mengeluh, lebih baik kita mencarinya sekarang. Aku yakin, penangkal petir itu tak akan hilang jauh dari sini,” usul Itzel. Mendengar itu, Pak Connor memerintahkan seluruh pekerja konstruksi yang sedang terbelit masalah untuk berpencar mencari. Jika mereka benar-benar mencarinya, Itzel yakin penangkal petir itu pasti akan ketemu.

Tapi, dua jam berlalu, tak ada yang menemukan penangkal petir itu. Pak Connor mulai pasrah. Butuh waktu berminggu-minggu untuk memahat motif di penangkal petir itu. Pak Connor pun harus membayar banyak uang untuk sang seniman.
“Sudahlah Itzel. Mungkin kita perlu mengorek kas Bennijarre lagi untuk membuat ulang penangkal petir itu. Aku akan mengirim surat pada senimannya. Semakin cepat, semakin baik.” Pak Connor mengeluarkan kertas.
“Tunggu! Pak Connor, kau tak perlu lakukan itu. Kita akan mencarinya lagi! Jika masih belum ketemu, kau baru boleh mengirim surat kepadanya.” ujar Itzel.
“Tapi, Itzel. Jika–” Tiba-tiba, seruan Nyonya Olive memotong ucapan Pak Connor. Dia berlari pelan ke arah Pak Connor sambil terus menyebutkan namanya.
“Pak walikota! Pak Connor! Hewan itu, dia … hah … dia … menyerbu ladang!” Nyonya Olive, pengurus ladang bunga berkeringat, sulit mengatur napas. Bayangkan saja, jarak ladang dari museum cukup jauh dan dia harus terbang. Sayapnya pasi lelah.
“Hewan? Hewan apa? Kenapa dengan ladang?” Pak Connor berdiri dari kursinya dan segera terbang mengikuti Nyonya Olive, meninggalkan masalahnya yang lain. Tak lupa, dia juga mengajak Itzel dan Silvana.

“Oh, tidak! Ladang jagung! Mereka kenapa?! Bennijarre bisa terancam gagal panen kalau begini!” Pak Connor sangat kaget sesampainya di ladang jagung. Seluruh jagung mati. Hanya tersisa 10% yang bisa dipanen.
“Ya, karena hewan perusak itu. Kudengar, Nyonya Gladys dan beberapa peri lain sudah mendesah khawatir karena gangguan hewan itu. Kurasa, sebaiknya Anda segera menangani hewan itu, Pak walikota.” kata Nyonya Gladys menyeka keringatnya. Pak Connor manggut-manggut. Itzel dan Silvana saling bertatapan, mengetahui firasat mereka sama.

“Pak Connor, aku tahu hewan mana yang merusak ladang jagung kita!” seru Itzel.
“Kau tahu? Hewan apa dia? Katakan, aku akan memanggil petugas untuk menyergapnya!” kata Pak Connor.
“Kau akan tahu segera. Ayo, ikuti aku! Kita akan pergi ke hutan. Di sana hewan itu tinggal!” ajak Itzel.
“Tunggu Itzel, kau ingin membawa walikota kita yang sakit-sakitan kepada hewan mengerikan seperti itu? Mungkin sehabis ini ia akan terkena serangan jantung! Kau tak belajar dari pengalamanmu, hah?” bisik Silvana. Ya, dia benar juga.
“Ehm, Pak Connor, bisakah kita pergi ke sana dengan beberapa petugas hewan? Bagaimana bisa kita membawa hewan itu sendiri?” usul Itzel.
“Kau benar juga, Itzel. Baiklah, aku akan menyuruh petugas kebun binatang Bennijarre untuk segera datang ke hutan.” kata Pak Connor.

Pak Connor, Itzel, Silvana, dan tiga petugas kebun binatang dengan hati-hati masuk ke hutan. Tak lupa mereka membawa kandang jinjing untuk membawa hewan itu.
“Itzel, Silvana, kalian yakin di sini tempatnya? Kurasa di sini hanya semak beri liar yang lebat saja.” kata salah seorang petugas begitu sampai di TKP.
“Kami bukannya pelupa! Tepat si sini kami hampir dimangsa oleh hewan itu!” ujar Silvana yang dibalas dengan anggukan Itzel.
“Baiklah, kalau begitu menjauhlah sedikit, kami akan membuka semak ini.” perintah salah seorang yang lain.

Perlahan tapi pasti, para petugas pemberani itu membelah semak tanpa tahu betapa menyeramkan rupa binatang itu. Silvana berlindung di belakang punggung Itzel dan Pak Connor menutup matanya yang terkadang mengintip sedikit. Detik-detik yang sangat menegangkan!
“Cuit! Cuit! Cuit!” bunyinya. Oh, rupanya hewan dengan taring tajam dan mata merah itu hanya rumor belaka! Hewan pencuri penangkal listrik dan penghancur ladang adalah hewan yang sama! Ternyata, Nyonya Gladys salah! Hewan itu tidak bergigi tajam, tidak memiliki taring, maupun memiliki moncong, tapi lebih tepatnya, sebuah paruh. Ya, hewan itu burung! Burung yang sangat cantik. Bulunya berwarna-warni, memiliki jambul yang indah, ekornya berlenggak-lenggok mengikuti arah angin. Tepat di sebelah sarang burung itu, petugas kebun binatang melihat sebuah benda lancip dari besi yang merupakan penangkal listrik, di sebelahnya lagi terdapat kumpulan biji jagung.

“Apa itu? Apa dia menggigit tanganmu?” tanya Pak Connor.
“Tenanglah semua, hewan ini burung kecil yang kelaparan! Dia sepertinya mengira penangkal listrik itu adalah ranting kayu yang digunakan untuk membangun sarangnya. Dia tidak menggigit kalian, Itzel, Silvana, dia hanya ketakutan. Sebenarnya dia sangat jinak dan pemalu,” kata salah seorang petugas kebun binatang. Dia membiarkan anak burung itu bertengger di lengannya.
“Bagaimana bisa dia berubah menjadi burung mungil tak berdosa seperti ini? Oohh, kau perlu menjadi halaman depan koran harian Bennijarre, burung mungil…” Silvana memotret sang burung.

“Pak petugas, kenapa burung ini bisa di sini? Aku tak pernah melihatnya terbang di pemukiman maupun kota.” gumam Itzel.
“Kami juga. Sepertinya, spesies burung ini minim sekali. Jarang sekali Bennijarre ditinggali oleh burung dengan bulu beragam warna seperti ini.” tanggap petugas.
“Jadi, burung ini langka, maksudmu? Kalau memang benar seperti itu, kita harus merawatnya dengan khusus,” kata Pak Connor.
“Hmm, sepertinya. Kalau begitu, tugas kami selesai. Ayo, kita pulang ke kota,”

Sesampainya di kota, para petugas merawat sang burung di kebun binatang. Jika keadaannya yang lemah sudah pulih, burung itu bisa dipamerkan di kebun binatang. Tapi, lain keadaan dengan rumah sang walikota. Pak Connor kedatangan tamu dari negeri seberang, Palmcott. Peri penting dari sana datang, walikotanya sendiri. Tentu Pak Connor merasa heran.
“Selamat sore, temanku Connor. Bukankah suatu hal yang menarik jika aku datang ke sini?” kata Ferdrick, walikota Palmcott.
“Sore, Erd! Ada maksud apa kau ke sini, hah? Negerimu kedatangan paceklik lagi?” tanya Pak Connor.
“Oh, tidak! Semenjak musim kemarau tahun lalu, Palmcott jadi super hemat. Ya, itu juga berkat bantuan negerimu ini. Oh ya, sekali lagi, Palmcott menyusahkan Bennijarre,” kata Ferdrick.
“Menyusahkan maksudmu? Sobat, walaupun kita ini tua, negeri kita bersahabat sepanjang masa! Sekarang, ceritakan, apa yang membuat Bennijarre kesusahan?”
“Begini, pihak pengurus binatang nasional Palmcott mengadukan bahwa binatang langka Palmcott kabur ke sini. Ya, kebun binatang Palmcott kehilangan burung itu sejak hari senin lalu, tapi kami baru tahu dia di sini kemarin. Ehm, apakah penduduk Bennijarre melihatnya terbang liar? Kami baru sadar bahwa persediaan makanan burung langka itu lebih banyak di Bennijarre.” kata Ferdrick.
“Maksudmu burung dengan bulu warna-warni? Apakah makanannya berupa jagung?” Pak Connor memastikan.
“Nah, itu dia! Kau tahu?”
“Tentu saja! Ayo, kubawa kau ke kebun binatang, dia hampir meresahkan pedudukku.”

Setibanya di kebun binatang, Ferdrick sang walikota segera membawa pulang burung langka itu. Ternyata burung liar pencuri adalah burung langka yang sangat dijaga di Palmcott.

tamat

Cerpen Karangan: Livia Rossayyasy
IG: @liviarssy

Cerpen Pencuri Pendatang Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jembatan Berhantu

Oleh:
Pada suatu hari ada seorang anak bernama Keysha, dia sedang ingin pergi ke mall bersama teman temannya, dia melewati sebuah jembatan, temannya ada yang mengatakan bahwa di jembatan itu

Karena Mimpi

Oleh:
Namaku Erlita Sabrina, panggil saja Erlita. Aku mempunyai seorang adik laki-laki yang sangat menyebalkan, Reno namanya. Besok adalah hari kamis, malam ini aku serius menggambar karena PR menggambarku belum

Sahabat Baru dari Jepang

Oleh:
Burung-burung berkicauan di pagi hari, sedangkan aku sibuk mencari buku KKPK yang entah ke mana. Oh ya perkenalkan namaku Nasha Maura panggilanku Maura. Aku bersekolah di Smart Internasional School.

Perkemahan Yang Menyenangkan

Oleh:
“Eh, ada pengumuman apaan itu, Mul, Zhar?” tunjuk Fretha, sahabatku ke arah manding sekolah. Anak-anak berdesak melihat Manding. “Nggak tau, Tha,” ucap Zharina, sahabatku. “Lihat, yuk!” ajakku. Kami langsung

Peri dan Penebang Pohon

Oleh:
Di sebuah hutan, terdapat seorang penebang pohon bernama arjit. Sehari-hari dia bekerja untuk menebang pohon, tapi setelah ditebang, arjit menanam tunas pohon yang baru sehingga pohon di hutan tetap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *