Pengalaman Jordi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 1 April 2015

Kereta melaju dengan cepat, dia memandang penumpang di depannya, wajah mereka sangat mencurigakan. Seperti ada yang akan mereka lakukan terhadap Jordi dan kakaknya, jordi terus memandangi mereka. Ada tiga orang berpakaian aneh, mereka memakai jubah zamrud, dan memakai penutup kepala, sehingga hanya terlihat mulut dan kulit pipi mereka yang pucat pasi. “Sebaiknya kau jangan memandang mereka seperti itu, mereka terlihat marah”, bisik Faro, kakak jordi. Mereka yang sedang jordi pandangi secara terbuka merasa risih, mereka lalu balik malah memperhatikan jordi. Dengan tatapan kosong, dari balik bayang kerudung mereka yang gelap.

Perjalan menuju Cirebon memang memakan waktu cukup lama, apa lagi mereka dari tanggerang. Jordi semakin curiga “Faro, sebaiknya kau perhatikan mereka, mereka memperhatikanku” bisik jordi. Tanpa peringatan kereta berhenti mendadak, seluruh penumpang baik yang duduk atau berdiri, terhempas jatuh. Jordi tengkurap di atas lantai kereta, sementara faro menimpa jordi. “Kau tidak apa-apa ro?” tidak ada jawaban dari kakaknya, dia memperhatikan seluruh penumpang kereta, “apa yang terjadi?” tanyanya. Dia memutar badannya dengan paksa, walau faro tidak akan setuju hal itu, tapi dia melakukannya. Dia bangkit dan mencoba berdiri, kereta sudah kosong tanpa siapapun, dia melihat faro, sialnya faro juga lenyap. Lalu siapa yang menindih dia tadi, dia berlari ke pintu gerbong, dia membukanya dan terkaget. Rel putus, gerbong ini tidak lagi tersambung gerbong lain, dengan tergesa jordi berlari ke arah pintu gerbong lain, dan hasilnya sama. Gerbong itu berada pada sebuah daratan yang hanya lebih lebar sedikit dari ukuran gerbong. Pada bawahnya jordi bisa melihat jurang gelap yang entah berapa kaki dalamnya. Dia percaya kalau ini hanya mimpi jadi dia mencubit, memukul, menggigit, mencakar, melakukan hal apapun yang menyakitkan tubuhnya.
Dia terkesiap dan memegang tangan faro, “Ada apa?” tanya faro. Jordi meraba wajah faro, terasa sangat nyata, dia menghela nafas “Hanya mimpi” gumamnya.
“Apa yang hanya mimpi?” tanya faro lagi
“Tidak, tidak ada apa-apa” jordi memperhatikan seisi gerbong, saat dia sadar ada sesuatu yang tidak ada “Faro, orang aneh yang tadi kemana?”
“Orang aneh yang mana?”
“Yang itu, yang memakai jubah zamrud, kau kan melarang aku untuk memperhatikan mereka tadi”
“Jangan banyak berkhayal, kita hampir sampai” faro melongok jendela, mereka hampir sampai stasiun. Tiba-tiba gelap dan tangan jordi seperti tertarik sesuatu, dia hanya bisa melangkah mengikuti tuntunan itu, karena dia menganggap itu tangan faro. Dia sudah sangat kenal tangan faro, dalam gelap dia terus dituntun, entah kemana. Tiba-tiba terang, yang menuntunnya telah lenyap terbawa terang, “Mimpi lagi” gumamnya.

Dia berada entah di hutan mana, dari kejauhan dapat dia lihat sesuatu sedang menuju kesini, besar, tinggi, manusia, raksasa. Raksasa itu menginjak pohon-pohon yang mengganggu kakinya, jordi menggigit tangan, sampai terlihat hampir berdarah. Tidak juga terjadi apa-apa, dia berbalik dan berlari dari raksasa, melompati beberapa akar pohon yang sangat besar. Tanah-tanah yang dia injak seperti habis hujan, sangat becek dan agak licin, saat dia menyadari hal itu, jordi tergelincir dan jatuh pada sebuah lubang.

Dia mencakar hingga berdarah, lalu dia mencubit tangan, dia memukul-mukul kepalanya, “Ayo bangun, ayo bangun” dia terus mengatakan hal itu seolah akan membuat ini semua berakhir. Lubang tempat dia jatuh sangat gelap, ini seperti gua, lalu dari kegelapan muncul sesuatu. Mereka penuh asap sehingga tidak terlihat itu apa, ada banyak dan mengepung jordi, dia terdiam dan menatap sekeliling dengan mata nanar. Mereka mengeluarkan suara berbisik yang mendesah, mereka seperti sedang melakukan sesuatu. Jordi jongkok dan menutupi kepala dengan lengan-lengannya, “Aku tidak tahu lagi apa ini, aku mohon cepatlah berakhir” dia menelan ludah “aku mohon”. Mahluk-mahluk itu menghilang dan tidak lagi ada, lubang tempat dia terjatuh berubah menjadi padang rumput yang damai dan asri. Mengetahui tidak ada lagi suara, dia membuka lengan dan lekas berdiri, banyak pepohonan yang mengelilingi padang rumput. Dia terlihat sangat senang melihat kedamaian ini, tapi dia masih belum percaya kalau ini bukan mimpi.

Dia ingin sekali faro disini, kalau faro ada pasti dia tidak akan bingung seperti sekarang, dia menganalisa sebisanya. “Tempat apa ini sebenarnya, oh tuhan kalau ini benar-benar mimpi, bangunkanlah aku sekarang juga”, tapi tidak terjadi apa-apa. Jordi berjalan perlahan lagi, mencoba menyusuri hutan, dia meraba kulit pohon yang kasar, dia mendongak ke atas. Daun lebat yang masih hijau sangat rimbun, dia terpaku lama saat itu, karena indah hijau daun yang berkilauan terkena sinar mentari. Sesuatu mendengus jelas depan dagunya, dia turunkan wajahnya perlahan, sambil melangkah mundur. Jordi sudah melihat segala ketidak masuk akalan hari ini, dia tidak mau lagi terkaget melihat hal itu lagi, terlebih dengan jarak sangat dekat. Dengus itu seperti mengikuti, panas nafasnya sangat terasa, “entah mahluk apa kau, aku mohon jangan ikuti aku lagi, ayolah” jordi masih melangkah mundur dengan kepala mendongak. Jordi tersandung akar pohon, seketika dia menatap lurus kedepan, tidak ada apapun. “Lalu siapa yang bernafas?” gumamnya.
“Aku” ada lubang menyerupa mulut dari pohon yang tadi sempat jordi perhatikan, ada dua buah lubang lagi pada atasnya, itu menyerupa mata. Jordi masih mencari siapa yang menjawab, “Aku. Hey, aku di sini” kata pohon itu lagi, dan jordi terkesiap.
“Kau ini apa?” tanya jordi agak ketakutan
“Ya ampun, bicara dengan siapa aku, kau tinggal di mana tuan? Apa di bawah laut? Kau tidak tahu aku?” ucap pohon itu keras sekali, sehingga pohon-pohon lain ikut nampak dan tiba-tiba tertawa.
Jordi agak kesal karena dia diolok-olok, dia menahan marahnya, dia harus fokus, dia harus keluar dari sini. “Jadi, para pep.. pohon, apa kalian sudah puas tertawa?”
“Ooh, maafkan kami tuan, kami tidak bermaksud mengejek, kami hanya kelepasan saja, tidak biasanya ada manusia datang dan tidak tahu kami ini apa. Aku Sammy” dia mengulurkan salah satu dahan.
“Aku jordi” dengan agak ragu dia menyalami dahan Sammy.
“Jadi tuan, apa keperluan anda datang ke sini?”
“Keperluan” jordi mengerutkan dahi
“Ya, setiap orang datang ke sini selalu punya keperluan”
“Aku tidak punya keperluan apapun”
“Berarti anda dalam masalah cukup sulit tuan”
“Kenapa begitu?”
“Anda sudah menemui penyihir mimpi”
“Apa, penyihir, darimana kau tahu?”
“Ini dunia khayal tuan, dunia ini hanya penyihir mimpi dan orang yang dia izinkan yang bisa masuk, ini dunia di mana khayalan, imajinasi, mimpi, impian adalah sebuah kenyataan”
“Aku belum terlalu mengerti”
“Apa kau punya keinginan atau sesuatu yang pernah kau khayalkan?”
“Tentu saja”
“Ada sebuah alam di mana semua gambaran itu tersimpan, ini adalah alamnya tuan”
“Kalau begitu alam ini sungguh luas?”
“Tidak terbatas tuan, selama masih ada khayalan dan mimpi”
“Kau bilang tadi setiap orang yang datang pasti punya keperluan, apa keperluannya”
“Tidakkah kau peka tuan, ini adalah alam imajinasi, alam khayal, kau bisa menemui secara nyata dan menyentuh semua mahluk atau apa saja yang kau khayalkan selama ini, hanya di alam ini tuan. Tidakkah kau kagum dengan hal itu”
“Sedikit”
“Aku bisa menunjukan jalan ke alam imajinasimu, hanya menunjukan saja, bukan menemani”
“Tidak perlu, jadi itukah kelebihanmu? Penunjuk jalan”
“Tuan sangat benar, kami adalah pohon yang bisa berbicara dan menunjukan arah jalan pada orang lain”
“Bisa kau tunjukan jalan keluar dari sini?”
“Dari jalan kau masuk”
“Aku masuk dengan tidak sengaja, dan aku juga tidak tahu bagaimana tadi masuk?”
“Apa kau telah menganggu penyihir mimpi?”
“Mengganggu” jordi mengerutkan dahi “Lagipula aku masih tidak tahu rupa penyihir mimpi yang dari tadi kau sebut-sebut itu”
“Dia aneh”
Jordi semakin yakin kalau yang dimaksud penyihir mimpi adalah tiga orang aneh itu. Tiga orang yang jordi perhatikan dalam kereta. “Bagaimana aku menemui mereka?”
“Tidak yang bisa kami lakukan untuk menemani, kami hanya imajinasi seseorang, hutan ini area hidup kami, kami akan terhapus otomatis jikalau keluar dan menuju tempat mahluk khayalan orang lain. Tidak ada yang bisa anda lakukan tuan, kau tidak bisa menemui mereka kecuali mereka yang menemuimu”
“Terima kasih sudah membantu” jordi segera keluar hutan, dia berjalan terus sambil memperhatikan cahaya yang semakin dekat. Sebagai penunjuk jalan, pohon-pohon ini ternyata tidak dapat menunjukan jordi jalan pulang, dia menghampiri pohon terakhir. Dia akan menyebrang ke imajinasi orang lain, dia sudah siap dengan apapun ayang dia lihat. Cahaya amat terang membuat jordi harus menutupi matanya, dia terus melangkah maju, lalu dia membentur seseorang. Jordi berada dalam kereta, sangat padat penumpang dan jordi masih berusaha melewati mereka semua. “Akhirnya semua ini berakhir” dia lega saat melihat faro tersenyum, lalu jordi segera menengok ke arah kiri, tempat ketiga orang aneh itu duduk. Jordi merunduk dan tersenyum seolah dia meminta maaf, mereka lalu membuka kerudungnya, dua orang lelaki tua dan satu perempuan tua, mereka juga membalas senyum jordi.
“Dari mana saja kau?” tanya faro
Jordi tersenyum “Toilet”

Tidak lama kereta berhenti, mereka sampai Cirebon, dalam perjalanan menuju tempat tujuan faro terus berfikir, ‘memang dalam kereta tadi ada toiletnya’, sambil menggaruk-garuk kepala. Ada hal yang jordi pelajari walau hanya sedikit, bahwa tidak baik mencurigai orang lain hanya dari melihat penampilan saja. Sejak saat itu dia selalu menghormati siapapun walau dia seaneh apapun.

Cerpen Karangan: Aldy Verdiana
Facebook: aldy.verdiana[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Pengalaman Jordi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Lili Putih

Oleh:
Mary menangis tersedu-sedu di atas kasurnya. Sejak tiga puluh menit yang lalu, air matanya tidak berhenti membasahi pipi anak berusia sembilan tahun yang polos ini. Rambut panjangnya yang acak-acakan

Musuh Dalam Selimut

Oleh:
Namaku rista. Aku punya sahabat bernama rtia (baca: retia). Kami satu les, sekolah dan kelas. Kami juga sebangku. Pagi itu, gheni sedang gosipin rtia. Biasa… Gheni tu emang si

Tragedi Di Perkemahan

Oleh: ,
Pada suatu hari, Nico mengajak teman-temannya untuk pergi berjelajah ke hutan perkemahan untuk mengungkap misteri yang sering terjadi di sana. Ada banyak teman-temannya yang setuju dengan rencananya dan mau

Adventure Land (Part 2)

Oleh:
Pagi, fajar mulai menyingsing dari sebelah timur. Membuat secercah cahaya menerobos masuk ke kamar para gadis. Twilight bangun dibuatnya. Cukup waktu satu menit untuk memulihkan kesadarannya. Kemudian langsung beranjak

Reincarnation

Oleh:
“Bangsa Peri itu ialah makhluk hidup yang tinggal di hutan lebat. Mereka adalah makhluk yang memiliki sayap yang indah dan dipenuhi kemilau. Kehidupannya pun hampir mirip dengan kita. Bedanya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *