Pengamat Langit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 10 July 2013

Ia menamai bintang itu, Vernus. Berasal dari kata Virgo yang dekat dengan nama seorang dewi, Venus. Dewi cinta. Entah mengapa pula ia menamai bintang itu Vernus. Dari sekian banyak bintang, entah mengapa pula ia memilih dan menetapkan bintang itu sebagai miliknya. Vernus, adalah bintang yang selalu muncul pertama di langit. Vernus adalah bintang yang selalu berdampingan dekat dengan Bulan. Ya, Vernus adalah bintangnya.

Orang-orang menyebutnya sebagai ‘Pujangga Astronomy’, karena puisi-puisinya selalu mengenai semesta raya. Ada pula yang menyebutnya ‘Pengamat Langit’. Tapi, nama sebenarnya dari sosok perempuan ini adalah, Isabel. Dulu ia memiliki seorang kakak perempuan, saudara kembarnya, Isebel. Namun, Isebel telah lama pergi ke langit. Isabel mengatakan kepada ibunya, kalau kakaknya telah dibawa oleh dewa Baal. Salah satu dewa yang eksistensinya tidak pernah luntur, bahkan sampai pada masa Perjanjian Baru.

* * *

Suatu sore tiga tahun silam, tak lama setelah kematian Isebel.

“Bu, kenapa ibu menamai kakak Isebel? Bukankah Isebel adalah pelopor penyembahan dewa Baal?”

“Itu nama yang tepat untuknya.” Ibunya menjawab singkat dengan raut wajah yang dingin.

Setahun kemudian, perempuan yang ia panggil ‘ibu’ itu, pergi pula menyusul kakaknya. Ia berkata kepada ayahnya, ibunya juga telah dibawa oleh dewa Baal.

Tiba saatnya giliran sang ayah yang ia tanyai. Pertanyaan yang sama.

“Ayah, kenapa kalian menamai kakak Isebel? Bukankah Isebel seorang pelopor penyembahan dewa Baal?”

Pria itu diam sesaat. Kemudian ia tersenyum.

“Cahaya itu sebenarnya ada di dalam kamu. Kamu hanya perlu mempercayai Cahaya itu.”

Dan kini, ayah sedang terbaring koma di Rumah Sakit. Isabel mencoba menebak, siapa yang akan membawa ayahnya ke langit?

* * *

Ia kembali dari lamunan masa silam itu. Dan kembali pada waktu ini. Perkuliahan sedang berlangsung, dan ini adalah kuliah yang penting. Namun ia tidak ada hati untuk itu. Kepalanya bergerak, menghadap jendela. Langit di luar terlihat bersih dan tenang. Otak kirinya segera bereaksi, memancing tangan kanannya untuk menstir pena itu.

Salam kepada Akar dan bagiannya.
Awan dan Hujan sepertinya bergerak seirama.
Langit tampak bersemangat.
Salam kepada Matahari, Bintang Vernus sebaiknya
muncul bersama Bulan ke tujuh, di malam ke sembilan.
Aku menanti.

Salam I.

“Isabel, apa kamu mencatat bagian yang tadi?” tanya Lucille, teman baik yang duduk di meja sebelahnya.

“Tidak,” jawabnya disertai gelengan.

“Lalu, apa yang kau tulis dari tadi?!” seru Lucille seraya menarik buku catatan yang ada di meja Isabel. Ia membacanya. “Sepertinya otakmu sedang dilanda simulakrum* fiksi astronomy. Kau sudah dibuat mabuk fantasi oleh bintang Vernusmu itu. Gelar ‘Pujangga Astronomy’ itu, memang tepat untukmu,” ia mengembalikan catatan itu. “Sebaiknya kau fokus pada perkuliahan ini. Test sudah dekat.”

“Lucille, apa menurutmu Tuhan itu ada?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Kau sudah mulai gila, Isabel.”

“Jawab saja.”

“Tuhan itu ada, karena kita membutuhkanNya.”

“Tapi Vernus telah ada, bahkan sebelum aku memutuskan untuk mencintainya. Ia nyata, tampak, dan bercaya.”

“Cahaya itu sebenarnya telah ada di dalam hatimu. Kau hanya butuh untuk mempercayaiNya.”

Kalimat itu. Ia seperti terkena serangan Deja Vu. Otaknya memutar balik memory silam, bagaikan gulungan film. Beberapa bagian tampak kusut dan kabur. Namun, akhirnya ia berhenti pada satu titik kenangan.
Cahaya itu sebenarnya ada di dalam kamu. Kamu hanya perlu mempercayai Cahaya itu.

Kini ia ingat. Itu kalimat yang hampir sama seperti yang pernah diucapkan ayahnya setahun yang lalu. Entah kenapa pula ia harus mendengar kalimat itu ‘lagi’. Ia tak paham, baik ‘maksud’ dan ‘kenapa’, kalimat itu harus ia dengar.

* * *

Malam itu ia memutuskan untuk tidur di Rumah Sakit menemani ayahnya. Ada begitu banyak hal yang menyisahkan misteri sepanjang hidupnya. Ada pertanyaan yang hingga saat ini belum dijawab oleh ayah dan ibunya. Mengapa kakaknya diberi nama Isebel. Dan mengapa ibunya mengatakan, nama itu adalah nama yang tepat untuk kakaknya.

Ia duduk di sisi ranjang ayahnya. Pria setengah baya itu kini terlihat seperti robot. Ada selang dan kabel yang menempel di tubuh, mulut, dan hidungnya. Pernah ia berniat untuk mencabut itu semua, dan membiarkan ayahnya pergi ke langit. Pertanyaan, bagaimana dengan ‘pertanyaan’ itu? Ia butuh jawaban. Segera.

Ia memandang ayahnya sesaat.

“Ayah, di mana kau saat ini? Apa kau sedang jalan-jalan di luar sana?” ucapnya.

Hening.

“Ayah, apa kau percaya Tuhan?”

Hening.

Kini ia memandang jendela, mengarah pada langit. Berpikir sejenak. Seperti ada yang terlewat olehnya. Oh, ia hampir lupa. Ia belum menyapa Vernus malam ini. Ia segera berdiri, beranjak keluar dari ruangan itu, dan pergi mencari tempat lapang di sekitar Rumah Sakit itu. Ia memandang ke langit. Mencari bintangnya. Tapi.. Langit itu kosong. Gelap, hampa, ditutup awan kelabu. Cahaya bulan pun tampak samar, terhalangi pekatnya awan. Biasanya Vernus selalu dekat di sisi Bulan.

Vernus, di mana kau? ucapnya dalam hati.

* * *

Ia kembali ke ruangan ayahnya. Sesuatu muncul di pikirannya, dipicu oleh daya kerja otak kiri. Ia segera meraih buku catatan dan pena. Menggoreskan sesuatu di sana.

Salam kepada Langit dan Awan.
Waktu ini, Vernus dan Bulan tidak hadir
bersama kalian.
Adakah gerangan yang terjadi di atas sana?
Salam kepada Yang Tak Ternamai.
Adakah Vernus Kau renggut dariku?

Salam I.

Ia menutup buku itu dan meletakkannya di atas meja. Entah kenapa, matanya terasa berat. Memaksanya untuk segera memejam. Ini tidak seperti biasanya. Tapi baiklah. Ia tidak mampu pula melawan. Ia merebahkan diri di atas sofa lenggang itu.

Mimpi dimulai.

* * *

Isabel membuka matanya. Sekitarnya tampak bergoyang, terlihat samar-samar. Tapi, ada seseorang yang berdiri di dekat meja itu. Terlihat sedang membaca buku catatannya. Ia mencoba untuk melihat sosok itu dengan jelas. Tapi, tiba-tiba semuanya bergerak. Menuju waktu dan ruang yang lain.

Kini ia berada di rumah. Melihat dirinya dan Isebel tengah bermain ayunan di halaman belakang rumah. Ia melihat ibunya di dapur. Memandangi dirinya dengan tatapan gembira. Tetapi tatapan itu berubah menjadi dingin ketika melihat kakaknya.

Tiba-tiba seseorang meraih tangan kanannya dan membawanya berlari. Ia tidak dapat bertanya; siapa, ada apa, dan kenapa. Ia hanya menurut giringan langkah dari perempuan berbaju putih berambut coklat itu. Ruang dan waktu kembali berubah.

Kini ia melihat seorang perempuan diikat tangan dan kakinya pada ke empat tiang tempat tidur. Perempuan itu meronta-ronta. Menjerit histeris. Teriakannya terdengar menyedihkan namun terkadang menakutkan.
Banyak orang berkerumun di sekitar rumah perempuan itu. Tetapi, mereka tidak diperbolehkan untuk masuk dan melihat. Kedua orangtua perempuan itu melarang mereka. Beberapa tetangga saling berbisik.

“Aku dengar, kedua orangtua anak perempuan itu pemuja dewa.”

“Ya. Dan katanya, anak perempuan mereka adalah korban persembahan untuk dewa itu.”

“Aku membaca dalam sebuah buku. Jika jiwa manusia dipersembahan kepada dewa, maka tubuh manusia itu akan diisi oleh roh gelap, dan jiwanya akan ditawan.”

“Dewa apa yang dipuja mereka?”

“Baal.”

Hening.

Tiba-tiba seorang pemuda menerobos kerumunan tetangga itu dan maju ke depan pintu rumah tersangka pemuja Baal. Dengan sopan pemuda itu mengetuk pintu. Dan tak lama seorang pria membuka sedikit pintu.

“Ada apa?” tanya pria penghuni rumah itu.

“Bolehkan saya melihat putri anda?”

“Apa urusanmu dengan putri kami?”

“Saya hanya ingin menolongnya.”

Pria itu terlihat berpikir. Sesaat ia tidak yakin. “Masuklah,” ucapnya kemudian.

Pria itu mengantarkan si pemuda ke kamar putrinya. Isabel mengikuti mereka. Di kamar itu tampak pula ibu perempuan itu. Ia menangis di tepi ranjang putrinya. Terlihat pula sebuah Kitab Suci di sisi kepala perempuan itu. Bukankah ia pemuja Baal? Kenapa ada Kitab Suci di sisi perempuan itu?

“Ella, pemuda ini datang untuk menolong Isebel.”

“Tolonglah Isebel. Kami menyayanginya. Kami tidak tahu kalau Baal yang memperlakukannya seperti ini. Aku pikir Kitab Suci ini dapat menolongnya, tapi..”

“Tidak ada gunanya anda menaruh Kitab itu di sana nyonya, jika anda tidak mengimani Ia yang terkabar di dalam Kitab itu. Cahaya itu sebenarnya telah ada pada setiap hati manusia. Yang harus kita lakukan hanyalah mempercayai Cahaya itu.”

Ayah, ucap Isabel seketika. Ia mengenal kalimat itu dan pemiliknya. Pemuda itu, ayahnya. Petra.

“Jika Ia yang kau imani dapat menolong putri kami, kami akan mengimaniNya pula.”

Petra mendekati Isebel yang menggenggam tangan kanannya. Ia mendekatkan kepalanya pada telinga Isebel.

“Segala sesuatu di jagad semesta adalah milik Yang Tak Ternamai. Aku memanggilnya ESA, karena Ia adalah zat murni yang utuh, absolut, abadi, dan tak mampu dijamah oleh makhluk yang terikat dalam ruang dan waktu, termasuk jiwa perempuan ini dan kau.”

Mata perempuan itu menatap nanar kepada Petra. Ia mengerang, marah.

“Kembalilah ke asalmu. Tinggalkan tubuh perempuan ini. Karena ia bukan lagi Isebel milik Baal, tetapi Soteria milik ESA!”

Tubuh perempuan itu berguncang dan terangkat naik. Ia berteriak histeris. Memekakkan. Lampu-lampu pun seakan merintih mendengar histerianya. Kemudian tubuhnya terhempas kembali ke atas ranjang. Sesuatu terjadi. Warna pucat kulitnya berubah menjadi cerah. Wajahnya bersinar, merona. Ia telah kembali. Matanya mulai menyelidik sekitar. Ia bingung pula, ketika melihat tangan dan kakinya terikat.

“Menikahlah denganku, Soteria**.”

“Agunglah TUHAN yang kau imani,” ucap ayah Soteria.

~ ~ ~

Seseorang kembali menarik tangan Isabel. Mereka berlari menembus ruang dan waktu. Kini mereka berhenti pada satu fokus. Itu bukan tempat, bukan pula bangunan. Mereka tidak berada ‘dimana-mana’. Hanya ada putih yang luas. Kini kedua perempuan itu saling berhadapan.

“Isebel.” Akhirnya Isabel mengenali siapa yang berdiri di depannya.

“Senang melihatmu masih sehat hingga saat ini. Maaf, tadi aku membaca catatanmu. Kau masih seperti yang dulu. Seorang ‘Pujangga Astronomy’.”
Hahahaha! Mereka berdua tertawa bersama.

“Kenapa kau lebih memilih mencintai Vernus daripada mempercayai Tuhan?”

“Karena Vernus adalah bintangku. Ia milikku. Ia tampak, dan terlihat.”

“Vernus bukanlah milikmu. Ia milik fantasimu. Ia tidak nyata. Semesta ini adalah milik Tuhan. Kenapa memilih mencintai ciptaan, kalau kau bisa mencintai Penciptanya?
Kau sering bertanya, ‘adakah Tuhan’? Kau ingin melihatNya, seperti kau melihat Vernus. Keinginanmu adalah nafsu yang membutakan. Kau tidak akan pernah bisa melihat langsung Tuhan Yang Agung. Tapi Tuhan bisa saja menghadirkan bagian diriNya dalam rupa Vernusmu. Ia tidak diikat oleh ruang dan waktu, karena Ia adalah Sang Empunya ruang dan waktu itu. Ia tidak diikat oleh hidup dan mati. Tapi Ia bisa hadir dalam rupa Insani.
Jika Tuhan tidak ada, maka siapa kau sebenarnya?”

“Aku adalah manusia. Aku Isabel.”

“Kau bukan siapa-siapa. Kau bernama manusia, karena Tuhan memanggilmu, ‘manusia’”

Isabel terdiam. Otaknya sedang bekerja ekstra. Mengolah kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Darahnya memompa kencang ke seluruh tubuh. Ia anomali***. Ia mulai tidak yakin dengan apa yang ia yakini. Dan pondasi pemahaman itu mulai runtuh. Sesuatu yang baru telah berada di sana. Ia adalah, ‘dasar’.

“Isebel, kenapa ibu membencimu?” Akhirnya Isabel bersuara.

“Ia bukan membenciku. Ia hanya belajar untuk merelakanku. Ia tahu, aku harus mati untuk memusnahkan sisa-sisa Baal dari dirinya, yang berpindah ke dalam tubuhku. Ia tahu siapa aku.”

Ruang dan waktu perlahan berubah kembali. Mereka berdua kini berada di dalam ruang rawat ayah mereka.

“Lalu, siapa kau sebenarnya?”

“Aku adalah ‘yang diutus’. Kau boleh memanggilku Agel.”
Semua tampak bergoyang. Mulai samar-samar. Isabel tiba-tiba terserang kantuk yang luar biasa.

“Tidurlah.”

Ia mencoba meraih Isebel. Memeluknya erat.

“Siapa pun kau, kau tetaplah kakakku, Isebel. Saudari yang kukasihi.”

“Dan Bapa mengasihimu pula.”

* * *

“Isabel.. Isabel..”

Isabel terbangun dari mimpinya. Pandangannya masih samar. Namun matanya menangkap fokus-fokus. Ada Seseorang yang berdiri di sisi ranjang ayahnya. Terpancar cahaya dari Orang itu. Ia mengusap-usap matanya, berusaha untuk melihat. Ketika semuanya jelas, yang tersisa hanya sinar matahari pagi yang bertamu di ruangan itu.

“Isabel..”

Ia mengenali suara itu.

“Ayah!!!” Isabel berlari mendapatkan ayahnya.

Pagi yang indah.

* * *

Salam kepada Vernus, Bulan, Langit,
Awan, dan semesta raya.
Salam kepada Soteria, bunda terkasih.
Salam kepada Petra, ayahku.
Salam kepada Agel, saudariku.
21 tahun bukanlah waktu yang singkat.
Banyak hal telah terjadi.
Anomali tak dapat dihindari.
Namun, partikel-partikel itu kini mulai bersatu,
bagai ombak soliton****, menghatarkan chaos*****.
Memberi ‘dasar’. Tempat dimulainya hal yang baru.
Salam hangat untuk Yang Tidak Ternamai.
Terima kasih.

Salam I.

~ * ~

*Simulacrum adalah sebuah keadaan yang terjadi di dalam otak manusia, di mana realitas dan ilusi melebur di dalamnya akibat fantasi yang terjadi berulang-ulang, yang mengakibatkan objek nyata menjadi samar
**Soteria, merupakan bahasa Yunani, ‘swthria’ yang berarti, keselamatan.
***Anomali, merupakan sebuah penyimpangan atau keanehan yang terjadi. Dengan kata lain, tidak seperti biasanya.
****Ombak soliton, ombak satu gelombong yang mengarungi lautan dengan bentuk dan kecepatan konstan, tanpa pernah melebar dan mengurai seperti obak normal.
*****Chaos adalah sebuah keteraturan dalam keteraturan, atau bisa menjadi sebaliknya. Teori yang masih mengikuti aturan deterministik. Chaos sebuah upaya memahami hal yang memiliki ciri keteraturan dalam sebuah sistem.

Terinspirasi dari:
– Film ‘Constantine’, novel ‘Supernova_KPBJ’, novel ‘Supernova_Akar’.
– Pertumbuhan iman seorang sahabat terkasih, Rachel Claudya Situmorang.
– Dan didedikasikan untuk Tuhanku, Yesus.
Kekasih jiwa dan sahabat terbaik dalam segala hal.

P. Sandra D.
26 Juni 2013
Genre: Fiksi Sains Theology.

Cerpen Karangan: Puspita Sandra Dewi
Blog: http://worldartsandra.blogspot.com

Cerpen Pengamat Langit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Me and Rava

Oleh:
Cuaca di pagi hari ini sangat tidak mendukung. Awan mendung menandakan hujan akan turun, angin semilir mengenai tubuhku, matahari yang biasanya muncul dari arah timur kini tertutup awan yang

Rumahku

Oleh:
Windi adalah seorang anak yang baik. Dia tak pernah membantah perintah orangtuanya, dan ramah pada setiap orang. Windi adalah anak yang paling disayangi di tempat tinggalnya. Suatu hari, Windi

Gadis Cantik Dari Dunia Bawah

Oleh:
Di sebuah kota yang ada di negara yang terletak di belahan bumi bagian barat, tercipta sebuah hukum yang sangat aneh dan sama sekali tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadialan.

Mirror of The Truth

Oleh:
Pemuda itu menghela napas panjang. Peluh keringat membanjiri di sekitar dahi, pelipis, leher dan tengkuknya. Akan tetapi, sepertinya ia tak terganggu oleh hal tersebut. Kembali kedua bola mata berwarna

Penantian Berharga

Oleh:
Gadis berambut hitam itu terkejut ketika menemui sosok pria yang duduk di sampingnya secara tiba-tiba. “Lo kenapa sih ngikutin gue terus?” tanya gadis itu kian kesal. “Emang udah tugas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

6 responses to “Pengamat Langit”

  1. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah berkenan untuk membaca dan men-share-nya.
    🙂

  2. Daniel Libertson Manalu says:

    sangat bagus sekali cerpen ini. imajinatif yang tak terkira dan tidak bisa dibaca hanya 1-2 kali. terimakasih telah meliarkan imajinasi saya. 🙂

  3. Terima kasih, buat teman2 yang sudah mau membaca dan men-sharenya. Terima kasih banyak, ya.

    🙂

  4. nanda says:

    bagus, imajinatif, inspiratif, makanya saya sedikit kenal gaya bahasa dan istilah2 yang digunakan, kental dengan supernovanya ‘dee’. mungkin cerpen ini juga menjadi ‘cahaya’ saya yg sedikit ‘goyah’ saat membaca seri supernova :D/ Good Job!!!

  5. Hehehhehe,, sama sister. Supernova itu, novel yang bikin jantung cenat-cenut. Hehehehe,, harus bnar2 pintar mngupas magnanya.
    🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *