Peri Cinta Via

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 24 July 2018

“Aku harus mengakhirinya.”
Namaku Aldy. Aku memiliki seorang kekasih bernama Via. Dia adalah adik sahabatku, Ari. Karena kami sering bertemu, aku mulai menaruh rasa pada gadis itu. Dia gadis yang baik dan cantik. Gadis penyayang yang menyukai anak-anak. Tapi sayang, terkadang dia kekanak-kanakan. Dia menyukai dongeng-dongeng. Cerita tentang putri, penyihir, peri, keajaiban, dan apapun itu. Aku tidak nyaman dengan sikapnya itu. Namun walaupun begitu aku tetap menyayanginya.

Suatu hari Via dan Ari mengalami kecelakaan mobil. Ari terluka sangat parah di bagian kepala sebelum akhirnya meninggal dunia. Dia sempat berpesan padaku untuk menjaga Via karena Via sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ia hanya memiliki Ari dan kini Ari pun meninggalkannya. Sejak saat itu aku bertekad akan menjaga Via apapun yang terjadi.

Namun setelah satu tahun, sikap kekanakannya semakin menjadi-jadi. Ia lebih manja sekarang. Karena pusing dengan sikapnya aku sering keluar malam. Hingga aku bertemu seorang wanita cantik bernama Wulan. Dia teman SMA ku. Sejak itulah kami sering bertemu dan aku mulai menyukainya. Rasaku pada Via mulai berkurang setiap harinya. Dan malam inilah puncaknya. Aku ingin meninggalkannya.

“Aku harus mengakhirinya. Besok aku harus mengatakannya.” Tegasku.
Tiba-tiba lampu di kamarku mati dan jendelanya terbuka. Angin seolah menerobos kamarku. Sebuah cahaya kecil masuk dan mengarah padaku. Aku terbelalak saat tahu benda yang menghampiriku adalah seorang PERI. Peri kecil itu hanya seukuran telunjukku. Peri itu memiliki sayap seperti capung dan telinga yang runcing. Ia memakai baju, celana dan topi yang tinggi berwarna serba hijau.

“Hai!” sapa peri itu dengan gembira. Namun aku hanya terdiam mematung seolah tersihir olehnya.
“Hai manusia! Apa kau bisa melihatku? Apa kau bisa mendengar suaraku?” tanyanya.
“Hmmm, baiklah perkenalkan namaku Dirly. Aku seorang peri cinta.” Katanya sambil mengulurkan tangan kanannya. Aku hanya diam tak merespon. Aku sangat ketakutan.
“Kau Aldy, bukan? Tenanglah aku bukan makhluk jahat. Sudah kubilang kan aku seorang peri cinta.” Katanya meyakinkan.
“Apa maumu?”
“Aku hanya ingin mengajakmu berkeliling. Tidak jauh. Hanya di sekitar sini saja.” Katanya. Aku hanya diam. Aku tidak percaya dengan ucapannya. Sebenarnya apa maunya?
“Ayolah hanya sebentar!” katanya merajuk.
“Baiklah, aku ikut.” Kataku sambil berdiri mengikutinya. Dan aku semakin terkejut ketika Dirly menyentuh kepalaku lalu aku terbang. Aku tidak bisa mengendalikan diri.
“Tenang saja dan kuasai dirimu. Kau tidak akan jatuh. Ikuti aku.” Katanya sambil tersenyum.

“Kak, apa kakak percaya peri itu ada?” tanya Via saat dia selesai membaca buku dongengnya.
“Tentu saja tidak, hahaha.” Jawabku.
“Kenapa tidak?” tanyanya kecewa.
“Aku tidak mengerti jika mereka benar-benar ada. Lalu bagaimana kita bisa membedakan kenyataan dengan imajinasi?”
“Kakak tidak harus mengerti. Kakak hanya harus percaya. Keajaiban itu nyata, Kak!” kata Via serius. Aku terkejut, apakah aku menyinggungnya? Via beranjak meninggalkanku. Hmmm sepertinya dia marah.

Via, kau benar. Aku percaya sekarang. Mereka nyata. Aku yakin kau pasti akan senang jika bertemu dengan Dirly.
Di perjalanan Dirly menanyakan banyak hal tentang Via. Mulai dari apa yang Via sukai hingga apa yang Via tidak sukai. Aku hanya menjawab seadanya. Dan lama-lama aku geram juga.

“Tunggu! Dari mana kamu tahu Via?” tanyaku kesal.
“Kamu akan tahu nanti.” Jawabnya tenang.
“Beritahu aku sekarang!” seruku. Tapi dia hanya tersenyum dan tetap terbang.
“Tidak, belum saatnya, Bodoh.”

“Kita sudah sampai!”
“Di mana ini?” tanyaku.
“Ini adalah rumah sahabat kecil Via.” Ah, benar. Ini rumah Billy, sahabat kecil Via. Untuk apa Dirly membawaku ke tempat ini. Tidak penting!
“Apa urusannya denganku?” tanyaku ketus.
“Perhatikan dulu!”
“Apa?”
“Lihat di sana! Ada sebuah album foto. Kau ingin melihatnya?” tanyanya sambil terbang menuju sebuah meja kerja.
“Tidak. Kau saja!” jawabku dengan angkuh. Tapi aku penasaran juga ada apa dengan album foto itu.
“Kau harus melihatnya.” Katanya sambil membuka lembar demi lembar album itu.

“Hanya foto persahabatan biasa.” Jawabku datar.
“Kau tidak cemburu? Mereka dekat sekali. Seperti sepasang kekasih.” Katanya sambil terlihat senang. Aku kesal apa maksudnya dia berbuat seperti ini?
“Untuk apa? Mereka sahabat kecil, kan?”
“Kau tidak pernah tahu. Ada sebuah rahasia besar di balik foto-foto itu. Laki-laki itu sudah mencintai Via sejak mereka bersahabat. Dan apa kau tahu sejak kapan persahabatan itu dimulai?” tanyanya. Aku hanya memberikan diam sebagai jawabannya.
“Mereka sudah bersahabat selama lebih dari setengah umur mereka. Dan hingga sekarang Via tidak pernah tahu perasaannya. Kau tahu alasannya? Karena Via telah memilihmu. Jika kau benar-benar meninggalkan Via, dia akan melamar Via dan menikahinya sebulan setelah itu. Dan kau? Akan menyesalinya seumur hidupmu.” Lanjutnya.
“Oh ya?” tanyaku tak percaya.
“Tidak kusangka berbicara denganmu akan sesulit ini!” serunya kesal. Aku juga lebih kesal dengan sikapnya. Ia mengajakku terbang lagi. Baru saja sebentar aku terbang bersamanya aku sudah merasa bosan. Karena yang dia bicarakan hanya Via, Via, dan Via. Seolah Via lah ratu di sini.

“Kita akan ke mana lagi? Bukannya tadi kamu bilang kita hanya sebentar?”
“Ya, kukira juga akan seperti itu. Tapi kau sendiri yang memperlambatnya.” Jawabnya datar.
“Tempat apa lagi ini? Menyeramkan sekali.”
“Dirly, apakah dia Andi?” tanyaku. Andi adalah sahabatku dan Ari. Kami bertiga bersahabat sejak SMP hingga sekarang. Sudah lama aku tidak melihatnya. Dia terlihat berbeda. Lebih menyeramkan dari Andi yang dulu kukenal.

Kami memasuki ruangan tua yang gelap. Andi terlihat sedang memandangi sebuah foto besar di atas perapiannya. Ya Tuhan apa aku tidak salah melihat? Apakah gadis dalam foto itu adalah Via?
“Kau terkejut? Andi juga mencintai Via. Dia sangat mencintai Via. Aku bisa merasakannya.” Kata Dirly. Aku sangat terkejut, aku tidak menyangka Andi juga menyimpan rasa pada Via.
“Andi sangat kecewa dan frustasi ketika Ari menitipkan Via padamu. Itu sebabnya dia menjauhimu setelah Ari meninggal. Karena ia sudah cukup tersakiti melihat wanita yang disayanginya telah bersama dengan orang lain. Ia memilih pergi daripada mengganggu kebahagiaanmu. Itu semua karena dia menghargai persahabatan kalian. Menyedihkan sekali dia.” Kata Dirly dengan nada sedih.
Tanpa kusadari seperti ada sebuah pisau yang menyayat hatiku. Apakah ini cemburu? Jika iya mengapa sangat sakit? Apa karena dia sahabatku luka ini terasa lebih perih?

“Bersyukurlah! Kau lebih beruntung darinya. Karena kaulah yang dipilih Ari untuk menjaga Via. Kau harus menjaga amanat itu! Kau sudah berjanji pada mereka, kan?”
Lagi-lagi aku terdiam. Aku menyadari betapa bodohnya aku jika aku meninggalkan Via. Aku akan menyakitinya, mengecewakan Ari, berdosa, dan akan menyesal tanpa akhir tentunya.

Dirly membawaku terbang lagi. Ia sudah tidak mengoceh sekarang. Entahlah mungkin dia kesal dengan sikapku. Dan akhirnya kami sampai di sebuah tempat yang sangat tidak asing bagiku.
“Bukankah ini kamarku?” tanyaku.
“Ya.”
“Siapa yang terbaring di sana?” tanyaku sambil menunjuk seseorang yang terbaring lemah di ranjangku. Aku heran sedang apa dia di sana.
“Kau.” Jawab Dirly singkat. Aku semakin tidak mengerti.
“Bagaimana?” tanyaku lagi.
“Lihat dan amati lebih dekat! Itu kau!” jawab Dirly kesal.
“Tidak. Aku tidak seperti itu, hahaha.”
“Dia adalah kau 6 bulan kemudian. Tubuhmu akan kurus dan tidak terurus. Kau akan frustasi dan kehilangan semangat hidup. Kau menyesal karena satu-satunya orang yang memperhatikanmu dengan sangat tulus telah kau tinggalkan. Dan penyesalan itu semakin menyakitkan ketika ada laki-laki lain yang sudah memilikinya!” kata Dirly datar.

“Siapa laki-laki itu?”
“Aku tidak tahu.”
“Katakan siapa dia! Kau bilang peri adalah makhluk yang serba tahu. Kenapa kau tidak bisa memberitahuku?” kataku setengah berteriak.
“Percuma saja. Walaupun kuberitahu kau akan tetap meninggalkan dia, kan?” tanyanya sinis. Aku belum bisa menjawab pertanyaannya karena aku ragu dengan perasaanku sendiri.
“Sudah kuduga kau tidak bisa menjawab pertanyaanku.” Katanya setengah mengejek.
“Aku hanya bisa memberi satu nasihat. Cintailah wanita yang mencintai kau dengan tulus. Karena di luar sana banyak sekali yang menginginkan hatinya, tapi untukmu dia sudah memberikannya. Bersyukurlah! Jangan sampai kau menyesalinya suatu hari nanti. Wanita yang baik hanya akan datang sekali seumur hidupmu!” tegas Dirly. Air mukanya berubah menjadi serius.
“Dan kurasa inilah satu-satunya yang dapat menyadarkanmu!” seru Dirly.

Dia membawaku terbang ke rumah Via. Terlihat seseorang sedang salat malam. Dan dia mirip sekali dengan Via.
“Via?”
“Ya, dia sedang berdoa.”
“Tengah malam seperti ini?” tanyaku tak mengerti.
“Dia berdoa setiap malam. Saat kau sedang tertidur lelap dan memimpikan wanita lain, dia bangun dan mendoakanmu.”
Jleb! Sebuah pisau seperti menancap ke dalam jantungku. Aku menangis sejadi-jadinya. Perkataan Dirly sangat mengenai jantungku. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku hanya bisa memukul kepalaku sendiri. Aku mengutuk diriku karena sudah melakukan kesalahan besar. Betapa bodohnya aku jika aku benar-benar meninggalkan Via. Penyesalan tentu akan menghantui sepanjang hidupku. Maafkan Si Bodoh ini, Via. Maafkan aku.

“Aku terharu melihatnya. Ia sering berdoa hingga menangis. Aku bisa mendengar isi doanya. Dia juga mendoakan orang-orang yang dia sayangi tapi namamulah yang paling sering kudengar. Aku sangat marah saat tahu kau berniat meninggalkan dia demi perempuan lain. Aku tahu alasanmu. Via tidak secantik mereka, bukan? Kau bodoh! Hanya menggunakan matamu untuk melihatnya. Gunakan mata hatimu, maka kau akan tahu seperti apa kecantikan yang sebenarnya itu.”

Dory benar. Aku memang bodoh. Aku memang tidak suka jika Via tidak berdandan. Tapi hari ini aku melihat Via sangat cantik. Wajahnya bercahaya ketika sedang berdo’a. Dan itu semua tanpa menggunakan make up sedikitpun.
“Kecantikan itu muncul dari hatinya.” Kata Dirly. Aku sedikit terkejut. Aku lupa kalau dia memang bisa membaca pikiranku.

“Apa kau tahu alasanku mengajakmu dalam perjalanan ini?” tanyanya. Aku menggeleng pelan.
“Karena aku ingin menyadarkanmu bahwa cintanya sangat berarti. Aku tidak ingin siapapun menyia-nyiakannya. Dan karena… aku… mencintainya.” Katanya sambil tersenyum malu. ‘Apa?’ aku bertanya-tanya. Bagaimana bisa? Lucu sekali rasanya! Aku benar-benar tidak mengerti.
“Kau pasti terkejut. Ya, aku juga. Tapi kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta. Aku sadar aku hanyalah seorang peri. Konyol sekali jika aku menyukai manusia. Tapi itulah yang terjadi padaku. Aku sering bertanya kepada Tuhan ‘Tuhan mengapa Kau melimpahkan rasa cinta ini kepadaku jika aku tercipta bukan sebagai manusia?’ Tapi Tuhan belum menjawab pertanyaanku. Dan kurasa jawaban pertanyaanku adalah aku harus menjaga, melindungi, dan menyayanginya dengan caraku sendiri sebagai seorang peri.” Lanjutnya.

“Aku masih ingat pertama kali aku bertemu dengannya. Saat itu dia sedang membaca kisahku. Aku selalu datang saat siapapun membacanya. Aku terkejut melihat Via sangat menyukai kisahku itu. Aku melihat hatinya sangat putih dan bersih. Aku mengaguminya.”
“Lalu kami bertemu kembali. Oh maaf, maksudku bukan bertemu. Aku melihatnya lagi dan tentu saja dia tidak bisa melihatku. Saat itu aku menjadi peri penjaga hewan. Aku menjaga seekor burung pipit. Suatu hari burung itu tersangkut di sebuah pohon hingga kakinya terluka parah lalu ia jatuh ke tanah. Aku panik namun hanya bisa mendoakan semoga Tuhan mengirimkan seseorang untuk menolongnya. Dan doaku terkabul. Via datang dan menolong burung itu. Bahkan Via memeliharanya hingga kakinya sembuh. Dan setelah itu Via melepasnya lagi. Sejak itulah aku semakin mengaguminya. Kecantikan hatinya melebihi para peri. Hingga aku memutuskan kekasih periku hanya untuk membuat perasaanku utuh untuk Via.” Jelasnya. Aku tertegun mendengar kisahnya. Kisah yang cukup indah untuk melukiskan perjalanan cintanya. Bahkan kisah cintaku pun tidak seindah itu.

“Aku sangat kecewa saat Via menerima perasaanmu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa mendoakan agar Via baik-baik saja bersamamu. Aku percaya kau bisa menyayanginya dengan caramu sebagai makhluk yang sempurna. Tapi hari ini aku sangat kecewa. Aku mendengar niatmu akan meninggalkan dia demi wanita yang lain. Aku sangat kecewa. Sangat kecewa.” Lanjutnya. Raut wajahnya dipenuhi kebencian padaku. Aku hanya bisa terdiam. Mulutku seperti terkunci untuk melakukan pembelaan.

“Aku memberimu pilihan. Tinggalkan dia dan jangan pernah menyesal atau tetap tinggal dan cintai dia seumur hidupmu. Karena jika kau tidak bisa melakukannya, aku akan berdoa kepada Tuhan untuk memisahkan kalian. Dan agar Via dijodohkan dengan salah satu dari mereka saja!” seru Dirly dengan nada marah. Ya, aku memang pantas dimarahi. Kebodohanku sudah membuatnya kesal. Dirly tetap diam, membelakangiku dan menangis.

“Dirly, beri aku kesempatan untuk memperbaiki sikapku padanya. Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya aku memikirkan wanita lain. Aku akui memang selama ini aku tidak pernah merasa cemburu padanya. Aku juga tidak tahu kenapa, mungkin karena aku belum menyayanginya dengan setulus hatiku. Tapi hari ini aku merasakannya, Dirly. Aku merasakan apa itu cemburu. Aku merasakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya padanya. Kau telah menunjukkan semuanya, Dirly. Hatiku sakit saat kau menunjukkan banyak laki-laki yang juga menyayangi dia. Aku tidak pernah tahu karena aku memang tidak ingin tahu tentang mereka. Maafkan aku. Jangan berdoa seperti itu! Jangan pisahkan aku dengan Via. Aku menyayanginya.” Kataku memohon.
“Buktikan!” serunya.
“Baik aku akan buktikan!” ucapku mantap.
“Bagaimana caranya?”
“Aku berjanji akan menjaga, melindungi dan menyayangi Via. Aku tidak akan menyakitinya, tidak akan meninggalkannya kecuali jika Tuhan memanggilku. Aku menyesal berniat buruk kepadanya.” Ujarku. Dirly terlihat gembira dengan ucapanku.
“Terima kasih. Aku tahu kata-kata itu sangat tulus dan berasal dari hatimu. Aku percaya kau bisa melakukannya. Tapi… izinkan aku untuk tetap mencintai dia dengan caraku. Jangan marah dan cemburu. Kau lebih beruntung karena bisa memilikinya. Bagiku, melihatnya tersenyum dan tertawa bahagia adalah kebahagiaan terbesar. Tapi ingat, aku akan kembali jika kau mengingkarinya. Oh iya, aku lupa. Tolong berikan bunga ini padanya. Bunga ini memang kecil, tapi warnanya yang putih melambangkan perasaanku yang suci dan tidak mengharapkan apapun darinya.” Katanya sambil memberi setangkai bunga berwarna putih cerah. Aku tidak tahu bunga apa itu dan aku belum pernah melihatnya. Mungkin bunga itu ia bawa dari dunia peri. Dia menyeka air matanya. Aku malu padanya karena ketulusannya yang luar biasa pada Via.
“Baik. Itu janjiku, Dirly.” Kataku sambil tersenyum padanya. Dan dia pun memudar dengan sebuah senyum yang menandakan ia percaya padaku.

Aku terbangun dari tidurku. Rupanya itu semua hanya mimpi. Tapi aku merasa ada sesuatu di tanganku. Bunga itu! Bunga untuk Via dari Dirly! Oh, Tuhan. Ini bukan mimpi rupanya. Kulihat jendela kamarku masih terbuka sama seperti ketika Dirly datang. Dirly, kau benar-benar nyata rupanya.

Aku segera bersiap untuk betemu Via. Aku harus menyatakan perasaanku padanya. Aku tidak ingin kalah dari Dirly. Setelah bersiap aku melajukan motorku dengan kencang. Aku berharap Via tidak ke mana-mana hari ini.
Kuketuk pintu rumahnya. Tak lama kemudian sesosok gadis cantik membukakan pintu, dialah Via. Dengan senyumnya yang khas dia menyambutku.
“Kakak? Tumben pagi-pagi sekali?” tanyanya heran sekaligus senang.
“Aku rindu kamu, hehe.”

Setelah itu aku menyatakan seluruh perasaanku tentangnya. Dia mendengarkan sambil sesekali menyeka air matanya. Pantas saja karena dia mungkin tersentuh. Biasanya aku tidak seperti ini. Aku memberikan bunga dari Dirly. Aku hanya sekedar memberikan tanpa mengucapkan dari siapa bunga itu berasal. Mungkin Via bertanya-tanya ‘Bunga apakah ini?’ ‘Siapa yang memberikannya?’ Tapi kulihat Via tersenyum senang. Itu menandakan bahwa dia menyukai bunga itu. Kalian ingin tahu apa saja yang kukatakan padanya? Tidak akan kuberitahu. Itu rahasia, hehe. Hanya Tuhan, aku, Via, dan mungkin Dirly Si Peri yang tahu.

“Yah, hujan. Padahal aku ingin ke taman hari ini.” Kata Via sedikit kecewa. Hari ini memang aku berencana mengajaknya ke taman kota. Tapi sepertinya cuaca kurang mendukung padahal Via dan aku sudah bersiap dari pagi hari. Via sudah menyiapkan sebuah tas kecil berisi buku-buku cerita tentang peri. Via senang sekali membaca dongeng-dongeng seperti itu di taman.
“Dek, boleh kakak lihat buku cerita kamu?” pintaku tiba-tiba. Via sedikit terkejut namun raut wajahnya berubah menjadi gembira.
“Tumben, Kak. Kakak bukannya tidak suka dongeng ya?” tanyanya sambil memberikan salah satu bukunya padaku.
“Ingin saja, hehe.” Kataku sedikit malu-malu.

Kubuka lembar demi lembar buku itu. Buku yang dipenuhi gambar dengan cerita hanya satu paragraf per halamannya. Dan saat kubuka halaman terakhir aku terkejut karena aku melihat gambar seorang peri yang sangat mirip dengan Dirly. ‘Kau kah itu, Dirly?’ batinku. Tiba-tiba kulihat gambar itu mengedipkan mata. Aku tersenyum dan membalas kedipan matanya. Via memperhatikanku dengan heran.

“Kak? Ada apa senyum-senyum sendiri?”
“Kakak percaya peri itu ada.”
Kulihat mata Via berbinar dan dia tersenyum dengan sangat manis. Ia senang karena pada akhirnya aku percaya akan keberadaan peri.

Tiba-tiba Via meloncat kegirangan “Kak! Hujannya reda! Ayo kita berangkat, kak! Ayo!” ajak Via sambil menunjuk ke arah luar. Aneh sekali padahal hujan itu cukup deras dan awet. Aku tau ini pasti ulah Dirly. Ia menghentikan hujan agar Via bisa pergi ke taman. Aku dan Via tak melewatkan kesempatan lagi untuk pergi ke taman itu.

Sebelumnya aku tidak pernah menjanjikan apapun kepada siapapun. Tapi saat ini aku mempunyai satu janji yang akan selalu kutepati. Janjiku pada Tuhan dan pada Dirly demi wanita yang kucintai, Via. Aku menerima kekurangannya dan aku berjanji tidak akan mengkhianatinya lagi. Terima kasih Dirly. Terima kasih atas banyak hal yang telah kau ajarkan padaku. Terima kasih telah mencintai Via dengan tulus. Terima kasih untuk semuanya.

Cerpen Karangan: Feni Rahmi
Blog / Facebook: Feni Rahmi

Cerpen Peri Cinta Via merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pukul Sembilan

Oleh:
Lelaki yang di seberang sana itu, memakai pakaian seperti yang kukenakan saat ini. Mungkin dia copet juga. Masa semua copet berpakaian sepertiku? Tapi pakaian yang dikenakannya itu terlihat mahal.

Dialog Pikiran

Oleh:
Hawa panas mulai memasuki kamarku. Gorden jendela kamar kubiarkan tetap menutup. Suasana kamar terasa sedikit pengap, tapi kubiarkan saja. Keadaan di sekitar sudah tidak berpengaruh banyak. Aku sudah tenggelam

Kupu-Kupu Api

Oleh:
Dulu, kakek sempat bercerita tentang legenda kupu-kupu api. Kawanan kupu-kupu kecil dengan warna merah menyala. Semerah warna api yang menyalak. Konon, apa pun yang dihinggapi kupu-kupu api seketika akan

Cinta Yang Tertunda (Part 2)

Oleh:
Aku duduk di bangku halaman belakang rumahku, kenapa Andara bersikap seolah-olah kami tidak saling mengenal sebelumnya… Andara biasanya selalu bersikap hangat padaku. Teringat saat-saat di SMU, setelah kejadian Andara

Sekelumit Cerita Dari Sekejap Mimpi

Oleh:
Beberapa hari lalu aku bermimpi. Sebuah mimpi yang sangat menamparku. Saat aku terbangun, aku segera mengambil ponselku dan merekam apa yang aku ingat. Saat ini aku akan menceritakannya kembali.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Peri Cinta Via”

  1. Sonia Jayanti says:

    Waw, ceritanya bagus. Berharap ada peri kayak gitu yah.

  2. Larasasti Putriandi Ashiya says:

    Bagus. Melihat kesetian Via

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *