Peri Kecil Yang Kesepian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 2 June 2017

Malam itu tidak akan pernah aku lupakan, karena malam itu merupakan malam yang sangat berarti bagi hidupku. Cahaya kunang kunang tiada henti menyinari malam itu, seraya mengiringi kepergian dirimu yang hilang terbawa kegelapan malam. Yah, 1 bulan yang lalu. Memang terasa sangat cepat pertemuan itu, tepat 1 bulan yang lalu ketika liburan sekolah aku bertemu dengannya di desa tempat tinggal nenekku. Pertemuan pertamaku dengan seorang perempuan yang sebaya dengan umurku. Perempuan yang menggunakan gaun One piece berwarna putih serta topi putih yang membuatnya terlihat manis.

Hari itu kami bertemu dan berpapasan di sebuah sawah di kaki bukit yang sudah mulai menguning karena telah memasuki musim panen. Saat itu aku hanya menggunakan pakaian kaos lengan pendek berwarna merah serta celana berwarna abu abu yang sedikit berwarna kusam karena aku baru saja bermain di pasir sendirian karena aku tak kenal siapapun di desa itu. Tak kusangka pertemuan itu menjadi awal dari persahabatan kami.

“Hei, jika bisa berubah kamu ingin menjadi warna seperti apa?” muncul dari mulut manisnya, entah apa yang harus kujawab karena aku tidak paham dengan apa yang diucapkannya.
“eh, apa maksudmu? Menjadi warna? Kalau bisa berubah aku ingin menjadi seorang super hero” jawabku yang tidak nyambung dengan pertanyaannya tadi.
“Super hero? Warna macam apa itu?” tanyanya bingung seolah tak mengerti gurauan yang sudah ku katakan
“Super hero itu bukan warna loh.., tapi jika menjadi warna mungkin saat ini ingin menjadi warna putih” jawaban yang kuberikan karena aku melihat dia menggunakan baju putih dan itu membuatnya tampak indah. “Oh iya siapa namamu? Kata nenek aku tidak boleh bicara dengan orang yang tak kukenal.”
“Aku Mirani, aku juga orang dari desa ini kok. Hanya saja aku sedang tidur saat ini” jawabnya.
“kalau dia sedang tidur kenapa dia bisa bicara denganku?” pikirku, mungkin dia ini orang gila kali ya. “mendingan kutinggalin aja deh dia” batinku
“Aku Lhevan, eh Mirani hari sudah sore, aku pulang dulu ya, nanti neneku bisa marah, dah”
Setelah meninggalkannya dia tak bicara ataupun membalas kata kataku, sepertinya pemikiranku terhadapnya tidak sepenuhnya benar. Mungkin dia tidak gila tapi hanya sedikit tidak sehat.

Akhirnya aku berjalan menuju rumah nenek sambil berlari karena hari mulai gelap dan aku takut akan kegelapan. Kunang kunang mulai muncul begitu juga suara kicauan burung sore yang menemaniku dalam perjalanan menuju rumah nenek. Sesampainya di rumah aku bertanya pada nenek.
“Nek, apakah di desa ini ada anak perempuan bernama mirani?” tanyaku secara tiba tiba
“Ya memang ada gadis bernama Mirani. Dia anak yang cantik dan ceria. Tapi..” belum selesai bicara ibu sudah memanggilku untuk segera mandi sehingga aku harus segera menemuinya dan segera mandi supaya tak dimarahi.

Keesokan harinya aku bermain lagi di sawah milik kakekku. Saat itu kakek sedang mengurusi ternaknya jadi aku berangkat pagi sekali. Udara segar, kicauan burung, pemandangan hijau daun dan kuningnya padi membuat suara langkah kakiku tak terdengar. Dan saat itu aku segera pergi ke gubuk milik kakek yang letaknya tepat di tepi sawahnya. Dan di kesunyian pagi itu aku melihat indahnya matahari terbit yang muncul dari ufuk timur, matahari yang tadinya tertutup oleh bukit hijau mulai memunculkan sosoknya. Aku menghirup udara pagi sambil menikmati pemandangan indah itu, namun tiba tiba suara yang sangat kecil seperti memanggilku terdengar oleh telingaku.

“Hei, Lhevan. Kamu suka dengan pemandangan ini ya?” aroma bunga tiba tiba tercium oleh hidungku diiringi dengan hadirnya si gadis bertopi yang tak lain adalah Mirani. Aku mulai ketakutan karena masih berpikir mirani adalah anak tak waras. Tapi senyumnya itu membuat pemikiranku berubah.
“Ha..hai M..Mirani, ngapain kamu ke sini pagi pagi?” tanyaku sedikit gugup sekaligus takut
“Hihihi Lhevan kenapa kamu kayak ketakutan gitu?” gaya bicara Mirani mulai berubah seperti anak perempuan biasa dan hal itu membuatku sedikit lebih tenang
“Seperti yang kukatakan aku juga anak dari desa ini jadi aku tau kalau di sini adalah tempat paling bagus untuk melihat matahari terbit. Lihat saja di belakangmu” setelah diberi tahu aku menoleh perlahan ke belakang. Tak kusangka beberapa warga yang memulai aktivitas menuai waktu sejenak hanya untuk melihat pemandangan ini. aku jadi senang karena banyak warga yang tersenyum kepadaku, yah ibuku juga bilang kalau orang di desa ini semuanya ramah dan kebanyakan yang tinggal hanyalah para lansia. Jadi Mira adalah anak desa pertama yang kutemui di desa ini.

Akhirnya aku mulai ngobrol banyak dengan Mira dan dia ternyata anak yang banyak bicara. Kami bermain di sungai yang masih jernih dan arusnya tak begitu deras, lalu kami lanjut bermain petak umpet di semak semak ladang savana yang luas di pinggiran desa. Kami juga bermain dengan orang orang desa yang sedang menggembalakan sapi miliknya. Setelah itu kami bermain di ladang bunga yang penuh dengan warna.

“eh Lhevan. Saat itu aku belum memberitahu kau kan warna yang kuinginkan?”
“ya begitulah, aku tetap masih ingin menjadi warna putih. Kalau kau?” tanyaku
“aku sih ingin menjadi warna cahaya kunang kunang”
“cahaya kunang kunang? Maksudmu putih kehijauan yang cerah?”
“begitulah”

Akhirnya aku selalu bermain dan bermain bersama Mira di sisa Liburanku. Aku hanya menceritakan tentang diriku yang selama ini tinggal di kota hingga aku lupa untuk bertanya tentang Mira yang tinggal di desa ini. mungkin saja dia sangat bahagia bertemu denganku karena jarang ada anak seumurannya di desa ini. Hingga akhirnya hari mulai petang dia berkata kepadaku.
“Lhevan, sebenarnya sudah lama aku ingin menceritakan ini kepadamu. Aku ingin menceritakan tentang diriku” perkataannya membuatku merasa bersalah karena aku egois hanya menceritakan tentang diriku
“oh maaf ya Mira, selama ini aku hanya egois menceritakan diriku.”
“umh.. tak apa apa, aku hanya ingin kau tau sedikit tentang diriku sehingga kau tak akan melupakanku”
“eh? Bagaimana mungkin sih aku akan melupakanmu mira hahaha, kita kan pasti akan berteman selamanya”
“yah, kurasa sekarang saatnya ku harus menceritakan semuanya. Sebenarnya Lhevan, aku ini bukanlah Mira” tiba tiba saja rasa takut ketika pertama kali bertemu mira muncul lagi dan mulai menghantuiku. Bagaimana kalau mira adalah hantu? Bagaimana kalau dia akan memakanku? Bagaimana jika dia hanya menginginkan tubuhku? Pikiran pikiran itu tak berhenti menghantuiku
“eh.. apa maksudmu mira? Kamu hantu? Kamu tak akan memakanku kan?”
“hihihi kamu ini aneh… aku tak akan memakanmu, dan aku bukan hantu. Sebenarnya aku adalah roh dari Mira, jadi tubuh ini bukanlah tubuh asliku”
“ka.. kau pasti bohong kan?”
“terserah kau percaya atau tidak, tapi yang jelas sekarang ini tubuhku sedang berada di rumah sakit. Dan sebentar lagi kurasa tubuh rapuh ini akan menghilang.
“kamu ngomong apa sih.. aku gak ngerti deh”
Tiba tiba saja puluhan kunang kunang tiba dan memancarkan cahaya yang sangat terang, pemandangan sore yang mulai berubah menjadi gelap. Aku tak punya rasa takut sedikitpun saat itu karena puluhan kunang kunang menerangi sekitar tubuhku dan tubuh mira

“lihat deh mira.. ini kunang kunang.. kunang kunang ini memancarkan cahaya kesukaanmu” seakan aku masih tak percaya aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Tetapi tetap saja aku tak bisa. Tubuh Mira yang tadinya utuh mulai menghilang dan pudar dari hadapanku.
“2 Tahun yang lalu, rumahku terbakar, aku tak sempat menyelamatkan diri. Tapi untung saja aku masih bisa hidup karena diselamatkan seseorang, dan orang itu adalah kamu. Saat kita bertemu lagi aku sangat senang jika kau selamat. Tetapi kamu seperti kehilangan ingatan seusai menyelamatkanku. Akhirnya kamu tak pernah ke desa ini setiap liburan hingga akhirnya kita bertemu lagi.”
“Mi..mirani..”
“sekarang tubuhku sedang berada di rumah sakit. Tapi pada akhirnya setelah koma selama 2 tahun aku pun tak bisa menahanya. Aku harus pergi sekarang Lhevan. Kehadiran tubuh palsuku ini hanyalah keinginan untuk mengucapkan terimakasih kepadamu. Jadi Terima kasih untuk semuanya, walaupun kita baru akrab selama 1 bulan ini tapi aku sudah senang bisa mengenalmu Lhevan”

Air mataku tak bisa terbendung lagi. Aku mulai menangis tersedu sedu karena sahabatku akan pergi meninggalkanku sendirian. Tubuh palsu itu mulai memudar diiringi dengan perginya kunang kunang ke atas langit, dan pada malam itu adalah malam yang tak akan kulupakan, karena aku kehilangan temanku untuk selama lamanya.

“Selamat tinggal Lhevan… jangan pernah melupakanku…”
“Mirani… kita akan selalu berteman hingga aku pun mati juga… sampai jumpa Mirani.. Terima kasih untuk selama ini… Mira..”
“Sampai jumpa.. Pria yang kusuka..”
Kata terakhir mira tak sempat kujawab dan untuk pertama kalinya aku mendapat pernyataan seperti itu dari seorang wanita. Topi berwarna putih yang dipakai Mira tergeletak di tanah, dan benda itu adalah kenang kenangan terakhir darinya. Selamat tinggal peri kecil, selamat tinggal Mira.

Cerpen Karangan: Mr. I

Cerpen Peri Kecil Yang Kesepian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cahaya Ku

Oleh:
Sore ini aku masih berada di sekolah karena tugas yang menumpuk. Pukul 17.45 akhirnya tugasku selesai juga, kemudian aku bergegas pergi menuju gerbang sekolah karena tadi paman bilang dia

Bathara

Oleh:
Perang telah dimulai. Sebuah peperangan yang bertujuan untuk kedamaian. Apapun tujuan peperangan, tetap saja menimbulkan korban dan luka yang sulit untuk dilupakan. Para prajurit dari bangsa manusia kalah telak

Memecahkan Misteri (Part 2)

Oleh:
Lanel, si murid baru nan misterius, mengalahkan kehebatan semua orang pandai di kelasku. Itu membuat kami curiga lalu kami mulai melakukan penyelidikan. Dan kami temukan antena, dua buah baterai

Pelangi Senja Di Kelasku

Oleh:
Tidak ada nada pada tiap syair dalam tiap baitnya, aku memang tidak bernada. Apalagi tiap kata yang aku rangkai sangatlah sederhana. Sesederhana aku mencintaimu, tanpa kamu tahu, tanpa harus

Lima Jari Segenggam Cinta

Oleh:
Suatu hari seorang kakek sedang berbincang-bincang dengan cucu laki-lakinya, Bramastra Arjuna. “Cu, mau denger dongeng bagus gak?” “Mau, Kek. Cepet, Kek! Aku dah gak tahan niech.” “Oke. Here we

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Peri Kecil Yang Kesepian”

  1. Dinbel says:

    Ichhhhh, bagus bangetsssss ceritanya.

  2. Affudli Fr. says:

    Saya menyukai alurnya. Tapi sayang. Endingnya kurang klimaks. Kata katanya juga terkesan terburu_buru, kurang rileks. Maaf saya cuma kasih masukan. Tetap berkarya. Break a leg.

  3. David Aji says:

    Ah ceritanya bikin baper. Mira oh mira ternyata kau hanyalah peri kecil yang datang untuk berterimakasih kepada pria yang telah menyelamatkanmu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *