Peri Penyelamat Airin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 28 October 2015

Jam dinding itu menunjukan pukul 21.15 waktu tokyo. Waktu yang sangat pantas untuk tidur dan beristirahat di tempat yang paling nyaman. Namun tidak bagi Airin Kinoshiwa, jam segini digunakannya untuk belajar. Memang bukan waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu malam hanya untuk mempelajari setumpuk materi pelajaran yang cukup menguras otak. Tapi ini tetap ia lakukan karena besok diadakan Ujian.

Hari pertama Ujian Sekolah cukup membuatnya melakukan ‘hal gila’ yang tidak biasanya ia lakukan. Yaitu belajar dengan Sistem Kebut Semalam. Memang ia tahu cara seperti ini tidak efektif dan hanya menguras tenaga. Tapi berhubung tadi siang ia habiskan untuk malas-malasan, jadilah malamnya ia gunakan untuk mempelajari materi yang sedari tadi tidak ada yang masuk sama sekali. “aduhh.. Sial, mana ngantuk lagi.” runtuk gadis berusia 15 tahun itu. “andai saja ada peri penyelamat yang membantuku mempelajari materi ini hanya dengan semalam. Pasti gak akan seperti ini. Huwaaa… Ngantuk!!!” ucapnya malas. Disertai matanya yang mulai sayu. Menunjukkan bahwa gadis yang akan lulus Junior High school ini sudah sangat sangat mengantuk.

Ia sudah tidak kuat untuk terjaga. Sedikit demi sedikit, Matanya mulai berat. Dan sedetik kemudian menutup sempurna. Tiba-tiba..
“Kyaa!!!” jerit Airin setelah mendengar deringan ponsel di meja belajarnya yang cukup keras.
“Siapa yang menelepon malam-malam begini??!” teriaknya pada ponsel di hadapannya yang masih berdering mengejek.
“hahh… Mengganggu saja.” runtuknya. Lalu segera mengangkat telepon.
“hallo.. Siapa?” sapa Airin malas pada seseorang di seberang sana.
“Ini aku Kokoru.” jawab seseorang yang diyakini bernama Kokoru itu.
“kenapa menelpon malam-malam.” jawab Airin malas dengan matanya yang terpejam.
“ini, ada berita penting. Katanya besok ulangannya ditambah satu mapel. Matematika.” ucap Kokoru.
“oke baiklah.” ucapnya tanpa sadar.

Pipp!!

Jawab Airin malas, lalu menutup ponselnya secara sepihak. Mengacuhkan orang di seberang sana yang mungkin sedang meruntukinya. Sepertinya dia sangat mengantuk sekarang. Airin kembali ke kasur dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Kantuk sepertinya sudah dapat mengalahkan pikiran Airin yang mengharuskannya mendengarkan ucapan Kokoru ‘baik-baik’. Karena ia harus belajar lagi, untuk ulangan matematika besok. Tiba-tiba ia tersadar dari acara mengantuknya. Ia tersadar akan ucapan Kokoru yang mengatakan besok akan ada ulangan tambahan matematika.

“What??!!” Sepertinya Airin sudah sadar dari tidur sejenaknya. Dan kini dengan cepat beringsut dari kasur menuju meja belajar dan membuka beberapa buku yang berisikan rumus-rumus matematika.
“hhh… Aduh!! Kenapa rumus ini susah semua??!! Aku ngantuk sekali!!!” runtuknya sambil membolak-balik buku matematikanya kesal.
“kenapa bisa ada mapel tambahan. Mendadak Seperti ini mana bisa aku belajar. Mungkin kalau ku telepon Kokoru, dia bisa membantu.”

Tuut.. Tuuut… Tuut..

“kenapa tidak diangkat sih? Huh… Pasti orang itu sudah tidur. Huwaaa..” ucapnya sambil menguap ngantuk. “andai saja ada peri penyelamat yang membantuku mengingat semua rumus menyebalkan ini.” Airin mengigau setelah ia tertidur pulas di meja belajar.

Mimpi Airin.
“hai Airin kinoshiwa, cepat bangun.”
“hah. Ada apa? Siapa yang berbicara padaku? Kau di mana?”
“perkenalkan, aku peri penyelamatmu.”
“Hah? Mana mungkin, pasti aku sedang bermimpi. Lagi pula, aku tidak melihatmu. Dan kenapa di sini putih semua?”
“memang kau sedang bermimpi.”
“oh, begitu ya, berarti kau tidak nyata dong.”
“memang. Kau tidak bisa melihatku, tapi kau bisa merasakanku.”

“oh begitu. Lalu, kau mau apa?”
“bukankah kau tadi memanggilku untuk membantu mempelajari rumus matematikamu?”
“iya benar, lalu bagaimana caranya?”
“aku akan menyalurkan kecerdasanku ke pikiranmu.”
“Hah? Kecerdasan?”
“iya, sekarang, pejamkan matamu. Akan ku salurkan kecerdasanku. Jadi, besok kau bisa mengerjakan Ulanganmu dengan baik.”
“terus aku harus bagaimana?”
“Diam saja di situ. Ini tidak sakit kok”
“baiklah.”

Malam itu terlihat kamar Airin diselimuti banyak cahaya, sampai menembus ke luar jendela. Kemudian dalam beberapa menit, cahaya itu menghilang bergantikan dengan malam yang semakin larut.

Di sekolah. Hari ini ulangan mapel utama dan mapel tambahan yaitu matematika dilaksanakan. Airin sudah bersiap-siap masuk ke ruangan. Ia berdoa agar mengerjakan ulangan dengan baik. Kemudian ia teringat tentang mimpi semalam. “apa itu nyata? Apa aku sudah cerdas?” batin Airin. Ia masih ragu akan mimpi itu. “bagaimana caranya ada peri yang menyalurkan kecerdasan padaku?” batin Airin lagi. Ia masih asyik dengan lamunannya. Lamunan itu buyar setelah Kokoru mengagetinya dari belakang.

“KYAA!!! Kau mengagetiku saja!” runtuk Airin kesal.
“hehe, makanya pagi-pagi jangan melamun!” ucap Kokoru. Gadis yang lebih pendek dari Airin itu merangkul pundak Airin.
“hey, kenapa kau mematikan telponku? Padahal kan aku belum selesai bicara!” ucap Kokoru sebal.
“hehe, maafkan aku. Aku ketiduran.” ucap Airin nyengir. “Kokoru percaya tidak pada peri?” tanya Airin.
“tentu saja tidak, peri itu kan cuma fiksi. Dibuat-buat manusia kan. Tapi kenapa tiba-tiba bertanya begitu?” tanya Kokoru penasaran.
“aku semalam didatangi peri penyelamat. Dia menyalurkan kecerdasannya padaku, biar aku bisa mengerjakan ulangan matematika nanti.” celetuk Airin tiba-tiba. Dan itu membuat tawa Kokoru Langsung meledak.
“Hahaha… Hahaha… Kau mengigau ya.. Hahaha…” ucap Kokoru dibarengi gelak tawa.
“Hey, aku serius tahu!!! Lihat saja nanti, pasti kalau ulangan, aku bisa mengerjakannya!” ucap Airin meninggalkan Kokoru yang masih tertawa di tempat.

Ulangan Dimulai. Pelajaran pertama Airin mengerjakannya dengan mudah. Sepertinya memang soal-soalnya yang tidak terlalu sulit bagi Airin. Pada pelajaran kedua, yaitu ‘matematika’, sepertinya Airin mengerjakannya dengan mudah. Terlihat dari kertas jawabannya yang sudah berisi banyak rumus dan angka.
“Aku sudah selesai.” teriak Airin di dalam ruang ulangan. Membuat siswa lain yang seruangan dengannya ber-HAH ria. Terutama Kokoru yang memandangnya tidak percaya. “mana mungkin Airin bisa selesai secepat itu, padahal waktunya kan masih 3 jam lagi” batin Kokoru.

Pulang sekolah.
“sampai jumpa!”
“sampai jumpa.”

Siswa mulai berhamburan ke luar sekolah untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Termasuk Airin dan Kokoru.
“kau jadi ke rumahku kan”
“tentu saja. Oh iya, ulangan tadi kamu cepet banget.” Ucap Kokoru.
“itu semua berkat peri penyelamatku.” ujar Airin tersenyum. Kemudian berlalu meninggalkan Kokoru yang masih dengan wajah bingungnya. “ayo cepat, mau mampir tidak.”
“iya, iya”

Di rumah Airin Kinoshiwa.
“Ibu sudah pulang ternyata, kenapa sarapan tadi aku tidak melihat?” tanya Airin pada Ibunya yang ternyata sudah pulang dari Amerika.
“maaf Airin, Ibu semalam cape sekali. Itu juga karenamu.” jawab Ny. Kinoshiwa sambil meletakkan 2 gelas teh di meja. “oh, ternyata ada Kokoru juga ya.” sambungnya.
“iya Bibi. Oh, iya. Tadi saat ulangan di sekolah, Airin jago sekali mengerjakannya loh. Sampai-sampai masih 3 jam tersisa, Airin sudah selesai.” celoteh Kokoru berhasil membuat Airin bersemu malu.
“ah.. Tidak sepandai itu kok. Itu juga berkat peri penyelamat” jawab Airin tersenyum malu.
“tuh kan bi, Airin mulai lagi. Katanya ada peri penyelamat yang membantunya belajar rumus matematika. Jadi waktu ulangan, dia bisa semua.” ejek Kokoru dengan mimik wajah yang dibuat-buat. Yang membuat Airin mengerucut sebal.
“itu memang benar Mama…” jawab Airin.

“eh? jangan mengigau terus. Peri penyelamat apanya? Semalam Ibu masuk ke kamar kamu gak ada peri apapun.” ejek Ny. Kinoshiwa pada Airin.
“eh? Berarti Ibu, semalam udah pulang ya? Kok nggak ngasih tahu aku sih..” tanya Airin pada Ny. Kinoshiwa.
“soalnya semalam Mama pulang, kamu sudah tidur di meja belajar. Mana mengigau yang aneh-aneh lagi. Ckck..” ucap Ny. Kinoshiwa.
“memangnya Airin mengigau apa bi?” potong Kokoru.
“tidak jelas, tapi katanya ada peri penyelamat datang buat ngasih kecerdasan untuk Airin.” ujar Ny. Kinoshiwa, kemudian sedikit melirik Airin.
“itu bukan mengigau ma, itu kenyataan. Aku ditakdirkan untuk punya peri. Dan yang pastinya aku tidak mengigau!” runtuk Airin kesal.

“mana kamu tahu mengigau atau tidak, kamu kan tidur.” potong Kokoru. Dari tadi ini anak kerjaannya memotong pembicaraan orang lain melulu. Dan hal itu semakin membuat Arin menggerucut sebal, karena tak ada yang percaya padanya.
“hehe.. Maaf maaf, tapi kalau masalah peri, sepertinya itu tidak pernah ada deh. Mungkin itu cuma imajinasi Airin.” ucap Kokoru, kemudian meneguk tehnya.
“tidak itu benar. Memang ada! Buktinya aku bisa mengerjakan ulangan dengan mudah. Padahal aku semalam tidak ingat aku melakukan apa. Sama sekali tidak belajar mungkin.” ucap
Airin mencoba mengingat-ingat.
“Aisshh… Sudah sudah..” ujar Ny. Kinoshiwa yang melihat keduanya.

“lagian.. Peri apa yang kamu katakan Airin. Semalam kan kamu belajar sama Mama, masa tidak ingat.” tambah Ny. Kinosihwa yang ikut berada di ruang tamu.
“hah? bukannya semalam aku tidur ma?” tanya Airin.
“hem, memang iya semalam kamu tidur. Tidurnya di meja belajar. jadi, Mama pidahkan kamu ke kasur deh, eh. Terus kamu mengigau tidak jelas. Mana minta dibuatkan kopi lagi!” ujar Ny. Kinoshiwa santai sambil menyeruput tehnya.
“apa iya? Ah… Masa iya?” gerutu Airin bingung.
“iya, semalam kamu bangun lagi, katanya kamu belum belajar matematika. Mama sempat khawatir karena kamu kelihatan sangat mengantuk. Tapi karena kamu ngeyel, jadi Mama ajarkan semuanya deh. Kamu juga antusias belajar semalam. Masa tidak ingat.” ucap Ny. Kinoshiwa malah membuat Airin kebingungan. Tetapi tidak dengan Kokoru. Ia sibuk menyeruput teh sambil mendengarkan musik lewat headset.

“masa iya? kok aku tidak tahu semalam Mama masuk ke kamarku terus mengajari matematika. Kok bisa sih? atau jangan-jangan Mama bohong ya, biar aku nggak percaya lagi sama peri itu.” celetuk Airin yang langsung dihadiahi jitakkan dari Mamanya.
“aiishh.. Mana mungkin Mama bohong.” ucap Ny. Kinoshiwa menunjukan raut muka kesalnya.
“ahh… Tapi ini tidak masuk akal!! seingatku, aku tidur semalaman. Juga tidak belajar sama sekali. Melihat Mama pulang pun tidak tahu.” ucap Airin gusar. Ia masih belum mempercayai perkataan mamanya. Seingatnya, semalam ia tertidur setelah beberapa menit membaca buku. Lalu mimpi itu datang dan Airin tidak ingat apa-apa lagi.
“sudahlah… yang penting kan kamu bisa mengerjakan ulangan dengan baik. Itu sudah cukup kan.” ujar Ny. Kinoshiwa. “kalau memang benar kamu dibantu peri atau apapun itu, berterima kasihlah padanya.” tambahnya.
“iya betul, dengarkan ucapan Mamamu Nona Airin!” celetuk Kokoru yang sedari tadi melihat percakapan antara Ibu dan anak itu.
“aiishh… Kau ini!” omel Airin pada Kokoru. “oke, mungkin peri itu tidak ada. Mungkin, aku cuma mimpi biasa. Tapi kenapa aku bisa mengerjakan soal itu dengan cepat? Mustahil kan kalau itu semua berkat belajar biasa!” tambahnya. Ia semakin kebingungan sekarang.
“sudah. Jangan dipikirkan lagi. Mungkin kali ini nona Airin sedang beruntung.” ucap Ny. Kinoshiwa dengan menekan kata ‘beruntung’.
“iya, dengarkan Mamamu Airin.” ejek Kokoru.
“iya, iya deh..” kali ini Airin harus mengalah. Mungkin peri penyelamat itu memang tidak pernah ada. Dan mimpi itu hanya mimpi biasa. Bukan masalah penting.

Tapi Airin masih sedikit bingung bagaimana caranya soal matematika itu bisa dengan mudah dikerjakan tanpa ada kesulitan sedikitpun. Pikirannya masih bimbang antara mempercayainya atau tidak. Ah.. Atau mungkin peri itu memang ada, tapi hanya muncul di mimpinya. Namun dengan cepat Airin menggeleng. Berharap pemikiran ‘kekanak-kanakan’ itu benar-benar hilang dari otaknya. Melihat tingkah laku Airin, Ny. Kinoshiwa beranjak berdiri.

“wah.. Tehnya sudah kosong, Mama ambil lagi ya. Oh iya, bukannya kalian akan belajar bersama? Kenapa dari tadi cuma main-main?” ucap Ny. Kinoshiwa berhasil membuat Airin dan Kokoru saling berpandangan.
“oh iya.. Kami lupa!” ucap mereka serempak. Hal itu membuat Ny. Kinoshiwa tersenyum gemas dengan tingkah laku anak-anak itu.
Kemudian Ny. Kinoshiwa beranjak pergi meninggalkan mereka yang mulai membuka buku dibarengi dengan gelak tawa itu untuk membuat teh lagi.

Ny. Kinoshiwa mulai mengaduk air teh yang telah diseduh. Wajahnya terlihat terkejut setelah melihat cahaya berwarna pink yang berterbangan di sekelilingnya. Sedetik kemudian, bibirnya membentuk sebuah senyuman.
“terima kasih ya, telah membantu anakku.” ucapnya pada cahaya kecil yang terus berterbangan di depan wajahnya itu. Ia membuat senyum ramah terlukis di bibirnya. Lantas cahaya kecil itu menghilang meninggalkan surat kecil bertuliskan.
“sama-sama”

Bibir Ny. Kinoshiwa kembali tersenyum. Ditiupnya surat kecil itu, sehingga musnah dan beterbangan seperti kembang api.
“setelah ini, jangan sering-sering membantu anakku dengan sihirmu ya, aku hanya ingin dia mandiri.” ujar Ny. Kinoshiwa tersenyum berharap sesuatu yang ia ajak bicara mendengarnya.

Cerpen Karangan: Resty Indah Yani
Facebook: Indach Ade Widyaismatriayuningsih
Halo, namaku Resty Indah yani. Panggil saja aku Resty. Aku penulis baru. Sebetulnya belum bisa dibilang penulis sih. Karena tulisanku ini hanya sekedar coret-coretan belaka. Tapi aku berharap kalian menyukainya. Terima kasih telah membaca.
E-mail: Indahcho9[-at-]gmail.com

Cerpen Peri Penyelamat Airin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Di Bawah Tanda (Part 3)

Oleh:
Hujan masih turun sama seperti tadi, tidak ada tanda-tanda mau berhenti Bumbu yang dibuat ardi telah siap dan dani kini sedang mengoleskan bumbu itu ke badan burung yang ia

Beauty Spirit

Oleh:
Dia cantik, lebih cantik dariku. Namun sayang ia tidak pernah bicara sama sekali. Penampilan dan sifatnya yang misterius membuat semua murid di kelasku tak mau mendekatinya sama sekali. Ia

Kunci Ajaib (Part 1)

Oleh:
Dulu saat aku masih kecil, Kakek selalu menceritakan kisah dongeng. Kakek menceritakannya dengan hati senang. Seolah-olah Kakek pernah ke sana. Kakek bilang, jika ingin pergi ke dunia dongeng. Kau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *