Pertanyaan Besar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 25 December 2017

Setiap zaman pasti memiliki karakteristik masing-masing, hal itu disebabkan oleh makhluk yang hidup pada zaman tersebut. Seperti zaman yang dialami di Pulau Teru.
Pulau yang memiliki pemandangan indah, melimpahnya sumber daya alam akan tetapi itu tidak akan berarti jika tidak dikelola. Kepentingan tersebut kini tergantikan oleh perdebatan di antara dua kelompok di Pulau Teru.

“Ayah, kenapa kita harus membangun tembok besar itu?” tanya Rick.
“Kamu tidak ingin pencuri masuk ke desa kita, kan?”
Anak itu hanya menganggukkan kepalanya, pertanda ia tidak ingin pencuri masuk ke rumahnya.

Di sisi lain, terdapat desa yang sangat sederhana. Rumah-rumah di sana hanya terbuat dari kayu dan jerami tetapi penduduknya memiliki badan besar dan kekar.

“Ibu, saya boleh bermain keluar?” tanya Brick.
“Tidak boleh! D iluar sana terdapat makhluk licik, kamu ingin diculik mereka?!”
Brick hanya termenung diam ketika ibunya tidak memperbolehkannya pergi bermain.

Rick dan Brick memang terlahir sebagai anak kepala desa namun kebebasan mereka untuk melihat dunia luar selalu dihilangkan. Kehidupan di desa sangat membosankan bagi kedua anak tersebut, tak ada hal baru yang dapat dipelajari.
Keesokan harinya, Rick berniat pergi ke luar desa, ia ingin merasakan dunia luar, Sesampainya di gerbang, Rick tidak melihat satu penjaga pun dan hal itu sangat menguntungkan baginya. Dengan berbekal rasa penasaran, Rick menyusuri hutan yang ada di sekitarnya. Ia sangat takjub ketika melihat keindahan alam yang belum pernah dirasakannya.

“Wow, indah betul!. Tapi kenapa Ayah melarang saya untuk melihat keindahan seperti ini?”
Keindahan alam belum cukup menjawab semua pertanyaan yang pernah diajukan Rick kepada Ayahnya. Jadi, ia kembali melanjutkan petualangannya itu.
“Ada desa lain juga di pulau ini, kukira hanya desa kami saja,” sambil memandang asap yang berasal dari desa kecil itu.

Dengan langkah perlahan, Rick mendekati desa tersebut. Berharap ia dapat melihat siapa yang tinggal di situ. Rick hanya dapat melihat dari semak-semak agar tidak ada yang mengetahuinya.
“Ternyata desa ini ditinggali oleh makhluk-makhluk besar.”
Rick tidak menyadari bahwa yang dilihatnya itu sama-sama manusia. Kebebasan yang direnggut darinya membuat ia buta akan perbedaan fisik maupun non fisik.

“Oouch!”
Kini kaki Rick menginjak ranting yang tajam, ia segera menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak lagi. Akan tetapi, teriakan itu terdengar oleh Brick yang sedang menggambar di tanah. Brick menghampiri semak-semak tersebut dan ia mendapati Rick sedang menahan kesakitan akibat tusukan ranting tadi.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Brick.
“Tidak apa-apa,” sambil merengut kesakitan.
“Akan ku ambilkan obat untuk mu!”
“Jangan… jangan!” Rick melarang anak itu untuk mengambil obat untuknya.
“Kamu harus diobati, saya ambilkan dulu obatnya. Kamu diam saja di sini!”

Akhirnya Rick mau diobati oleh Brick. Setelah mengambil hasil tumbukan daun herbal, Brick membubuhkannya ke luka Rick.

“Sebelumnya saya belum pernah lihat kamu?”
“Ya… aku berasal dari desa lain.”
“Ah!” Brick terkejut. “Jadi ada desa lain juga!”
“Bukan kamu saja yang terkejut, saya juga baru pertama kali melihat desamu!”
“Ngomong-ngomong, saya Brick dan kamu?”
“Rick. Panggil aja Rick.”
“Oh… salam kenal,” sambil menyalami tangan Rick.
Mereka berdua terus bercerita dan saling sharing tentang desa mereka. Rick yang berasal dari desa megah dan Brick yang berasal dari desa sederhana. Tidak ada batasan apapun yang menghalangi mereka saat sharing. Kini mereka saling mengerti perbedaan yang ada di antara desa mereka.

Hari sudah mulai sore dan Rick harus pulang ke desanya. Dirinya tidak ingin membuat kedua orangtuanya khawatir.
“Saya pulang dulu ya.”
“Ya, hati-hati di jalan, Rick!”

Sesampainya di desa, ia melihat muka ayahnya yang sudah memerah akibat mencari anaknya yang hilang itu.
“Dari mana saja kamu!”
“Habis mencari bolaku yang hilang,” Rick tidak ingin menceritakan pengalamannya itu kepada ayahnya.
“Kenapa kamu tidak menyuruh penjaga untuk mencarikannya untukmu?!”
“Tidak ada penjaga satu pun.”
“Masuk ke kamarmu. Sekarang!”
Rick tidak bisa berkata-kata apapun, ia hanya menundukkan kepalanya.
“Kenapa Ayah begitu marah saat saya pergi ke luar desa?”

Sebelum tidur, Rick menatap bulan yang sedang bersinar terang. Hanya bulan yang dapat memahami rasa penasarannya itu.
“Tuan! Tuan!” kini suara penjaga terdengar seperti menemukan pencuri atau penyelinap.
Rick melihat dari jendela dan dilihatnya penjaga itu sedang menarik seorang anak laki-laki dan… itu adalah Brick.
“Brick? Kenapa ia bisa tertangkap? Sedang apa yang dia lakukan di sini?”
Rick segera menghampirinya namun ternyata Ayahnya itu sudah mendahuluinya.
“Tuan, anak ini sedang memata-matai kita!”
“Oh… anak dari desa pencuri itu? Masukkan dia ke dalam kurungan!”
Tanpa basa-basi Brick dimasukkan ke dalam kurungan bambu. Temannya, Rick tak dapat berbuat banyak saat itu, dirinya hanya dapat melihat dari kejauhan saja.

Matahari mulai menampakkan dirinya, saat itu-lah terjadi kegaduhan di dekat pintu desa yang menjadi akses keluar-masuknya penduduk kecuali untuk Rick.
“Kembalikan anak saya!” teriak salah satu orang berbadan besar.
“Ada apa ribut-ribut gini?” Ayah Rick segera menuju sumber kegaduhan itu.
Setelah sampai, dilihatnya kerumunan orang kekar yang siap untuk menghancurkan tembok beserta pintunya itu. Orang-orang itu sudah membawa sejata sederhana seperti kampak dan palu guna untuk berjaga-jaga apabila terjadi perang antar desa.

“Apa maumu ke sini?!”
“Mauku ke sini? Kembalikan anak saya, saya tahu kamu sudah menculiknya! Dasar orang licik!”
Perseteruan itu tidak akan pernah selesai jika tidak ada dari mereka yang mau mengalah.

Akibat dari kegaduhan itu, Rick pergi menuju tempat dimana Brick dikurung. Rick melihat tidak ada penjaga yang berjaga di sana karena semua penjaga ditugaskan untuk berjaga di depan pintu desa.
“Brick! Bagun Brick…”
“Rick! Ada apa?!”
“Ayahmu telah datang ke sini dan beliau sudah membawa pasukannya. Saya takut jika terjadi perang.”
“Ayah?!”

Setelah membebaskan Brick, Rick pergi menuju tempat perseteruan tersebut namun sepertinya tidak mungkin untuk menjelaskannya kepada kedua pemimpin desa tersebut.
“Apa yang harus kita lakukan? Ayah kita pasti tidak akan mendengarkan kita!”
“Sebentar… saya punya sebuah ide!”
Brick membisikan idenya kepada Rick, ia yakin dengan idenya itu dapat menyatukan kedua desa itu. Kemudian, mereka pergi ke hutan melalui pintu belakang desa yang biasa digunakan untuk menggiring hewan ternak keluar.

“Pergi sana! Kalian tidak diterima di sini!”
“Apa kamu bilang?!” Baiklah kalau begitu. Mari kita hancurkan desa ini!”
Ayah Brick berserta pasukannya membobol pintu gerbang desa tersebut dan terjadilah perang yang tidak diharapkan oleh kedua anak tersebut.

Setelah beberapa jam, datanglah air bah. Entah dari mana air bah itu tetapi air itu cukup menghentkan peperangan kedua desa tersebut. Kemudian, seorang kakek datang pasca air bah tersebut, bersama kedua anak yang memanggilnya dan yang tak lain adalah Rick dan Brick.

“Kalian dari dulu tidak pernah akur! Kenapa kalian melakukan peperangan ini?!” bentak kakek itu.
“Si Licik duluan yang menculik anakku!”
“Apa!!!”
“Diam kalian semua! Untung kedua anakmu ini memanggilku ke sini kalau tidak pasti akan ada korban jiwa. Kalian ini hidup di pulau yang sama, kenapa kalian tidak bisa saling membantu. Anak kalian saja tidak diperbolehkan bermain keluar! Ada apa dengan kalian?”
Kedua pemimpin itu tidak ada yang berani untuk melihat wajah kakek itu. Mereka hanya menundukkan kepala saja. Sadar akan apa yang mereka perbuat, membuat mereka tidak dapat menjawab pertanyaan dari kakek.

“Semestinya kalian gunakan perbedaan di antara kalian untuk saling melengkapi bukannya bermusuhan. Anak kalian saja dapat berteman dengan baik kenapa kalian sebagai orang dewasa tidak dapat melakukannya? Terakhir kali, saya tidak ingin melihat kalian berperang lagi!”

Akhirnya kakek itu pergi dan menghilang di antara pepohonan. Sejak saat itu kedua kelompok tersebut dapat menjalin hubungan dengan baik. Hidup bersama dalam perbedaan dan tentunya dengan persatuan yang kuat.

Cerpen Karangan: Ferrin Markoni
Facebook: Ferin Markoni

Cerpen Pertanyaan Besar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Abby Encrusent Neint

Oleh:
Hai, aku Abby. Tahun lalu ketika mau tidur, ayah membacakan dongeng tentang Petualangan di negeri khayalan. Setelah selesai membacanya ayah ke luar dari kamarku dan aku pun sudah tertidur.

Tersangka

Oleh:
Senyumnya telah memudar, tergantikan oleh lengkungan bibir ke bawah dengan muka pucat. Nafasnya terengah-engah tak teratur. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Rambutnya yang tadinya mengembang kini menjadi tipis akibat jatuhnya

Adobencha Sora (Part 1)

Oleh:
“Sorrraaaa… tolong aku” “Tidak… tidak… TIDAAAAK” Sekarang aku tak bisa bergerak sedikitpun setelah melihat Yuuki yang telah diculik oleh tentara musuh, aku masih bingung mengapa mereka menculik Yuuki. “Siall…

Matematika

Oleh:
Pelajaran itu lagi. Ya Matematika adalah pelajaran ke tiga hari ini, Bu shan menjelaskan tentang peluang secara panjang dan lebar. Kepalaku rasanya mulai pusing dan nyut-nyutan mendengarnya, semakin lama

Robot Penyerang (Part 3)

Oleh:
“ada pesan” kataku sambil membukanya “jangan khawatir mereka dipindahkan ke tugas lapangan, kau disini sendiri dan bekerjalah dengan baik” pesan video dari orang yang aku, ilham dan widya temui

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *