Pesan untuk Sarah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 18 July 2018

Malam itu, aku mencoba melupakan apa yang terjadi tiga hari terakhir ini. Tapi aku tak bisa melakukannya. Pesan-pesan bertinta merah serta mawar putih yang tak lupa dikirim selalu aku terima setiap hari, meski aku tak ingin menerimanya. Pesan bernada dendam itu seolah mengisyaratkan bahwa akulah penyebab segala yang terjadi padanya. Tapi aku bahkan tak tahu siapa dia yang begitu membenciku di kota yang pertama kali aku kunjungi ini. Meskipun aku berusaha berkali-kali, tapi aku selalu kehilangan jejaknya. Sungguh sial memang, tapi aku harus bertahan setidaknya untuk seminggu di kota kecil ini dan menulis semua tentang kota ini.

Sinar mentari yang baru saja terbit memecah dinginnya kota ini. Ia seolah menyemangatiku untuk melupakan yang terjadi kemarin. Dan pagi ini, aku akan memulainya lagi tanpa meninggalkan kenangan itu. Kenangan dari sesorang yang terus megancamku dengan pesan bertinta merah dan mawar putih yang dikirimnya. Dan nyatanya tak terjadi apa-apa padaku. Bahkan aku sudah menjalani enam hariku di sini, kota yang masih menyimpan misteri bagiku. Tinggal sehari lagi dan aku akan meninggalkan semua ketakutanku di kota ini.

“Hey, maaf telah membuatmu menunggu lama!” Sapa tour guide-ku, Mat, yang sekaligus membuatku terkejut.
“Ya ampun. Tidak bisakah kau menyapaku biasa saja tanpa membuatku kaget.” Cetusku yang kesal.
“Oh maafkan aku, Nona Sarah.” Jawabnya dengan nada menyesal.
“Sudahlah lupakan itu. Tapi jangan panggil aku nona, cukup Sarah saja.”
“Baiklah Sarah.”
“Lalu ke mana tujuan kita hari ini?” Tanyaku.
“Hutan pinus.” Jawabnya singkat.

Kami pun menaiki mobil Mat yang sudah cukup usang itu menuju hutan pinus yang ia maksud. Seperti para tour guide lainnya, Mat menjelaskan semua yang ia tahu tentang hutan pinus itu dan apapun yang aku tanyakan padanya tantang kota ini. Tapi aku tak banyak bertanya sebab sudah enam hari aku dipandu oleh Mat di kota ini.

Di jalan yang sepi menuju hutan pinus, aku melihat seorang pria dengan belati terikat di pinggangnya menatap mobil kami yang melaju pelan. Tatapannya seolah mengisyaratkan sesuatu yang entahlah apa maksudnya itu.
“Sialan!” Gerutu Mat yang terdengar kecil.
“Hah, ada apa?” Tanyaku untuk memastikannya.
“Oh tidak, aku tidak bicara apapun.”
“Oh begitu. Kalau boleh aku tahu, apa kau mengenal pria tadi?”
“Pria dengan belati terikat di pinggangnya?” Tanyanya memastikan.
Aku mengangguk pasti tanda bahwa itu benar. Kemudian Mat tanpa ragu menceritakan pria itu yang ternyata adalah sahabat lamanya bernama Chris. Mat pun menceritakan bahwa Chris adalah seorang pembunuh yang membunuh kekasihnya bernama Gracesella Sarah karena memiliki kesepakatan dengan iblis. Awalnya aku tak percaya dengan apa yang dikatakan Mat tentang kesepakatan dengan iblis. Tapi ia berhasil meyakinkanku.

Tak terasa percakapan kami sudah cukup mengisi kekosongan waktu menuju hutan pinus. Di hutan itu aku mengambil banyak gambar dan menulis tentang keadaan hutan pinus yang lebat dan masih asri tersebut di ponsel pintarku.

Tanpa terduga awan gelap tergulung menuju hutan pinus dan dengan cepat menjatuhkan tetes demi tetes air hujan yang kian lama semakin deras. Kami berdua pun bergegas berlari menuju mobil dan meninggalkan hutan pinus. Namun sial, baru sempat berjalan beberapa meter mobil tua milik Mat sudah mogok dan tak dapat distarter. Mat pun mengusulkan untuk berteduh di rumahnya yang berada di dekat sini. Aku langsung menyetujuinya karena aku yakin rumah itu akan lebih hangat ketimbang mobil tua ini. Dengan berbekal sebuah payung yang kami gunakan berdua, kami berlari menerjang derasnya hujan menuju rumah Mat.

Sesampai di rumahnya yang memang tak jauh, aku merasakan aura aneh yang di keluar dari bangunan bergaya tahun 80-an tersebut. Di tambah lagi fakta bahwa rumah itu berada di tengah hutan dan Mat hidup sendirian di tempat itu. Meski begitu aku berusaha untuk tidak menghiraukan firasatku itu.

Mat mempersilakanku masuk dan duduk di ruang tamu yang dilengkapi perapian. Ia menyalakan api di perapian itu dan mulai menghangatkan ruangan. Kemudian Mat meninggalkanku di ruangan itu untuk mengambilkan pakaian kering untukku. Sebab pakaianku basah meskipun telah menggunakan payung. Tak banyak yang bisa kulakukan di tempat asing ini. Aku hanya bisa menunggu Mat datang membawa pakaian karena memang aku masih kedinginan meski sudah ditemani oleh perapian yang hangat.

Kemudian di sela-sela suara hujan, aku mendengar ketukan pintu dari arah depan. Dengan inisiatifku sendiri, aku menuju ke sana untuk membuka pintu. Ketika aku membuka pintu, kosong. Tidak ada siapapun di sana, tapi aku menemukan sesuatu yang lain. Pesan itu lagi, pesan bertinta merah dan mawar putih yang sama yang dikirim padaku setiap harinya. Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan orang itu tak pergi jauh. Dan aku melihat sosok yang tak asing lagi, Chris. Dia di sana, di antara derasnya hujan dengan berpayung hitam menatapku penuh kewaspadaan. Aku memalingkan wajahku menuju pesan itu.

“Semua akan berakhir di malam ini
Apapun keinginanku akan terpenuhi
Rintihanmu tak akan berguna nantinya
Ataupun air mata yang kau keluarkan tak akan berarti lagi
Hanya tawaku yang terus bergema memecah hening malam”

“Oh ternyata kamu di sini.” Suara itu membuyarkan lamunanku.
“Bisakah kau berhenti mengagetkanku.” Jawabku kesal kepada Mat.
“Oh maafkan aku, aku hanya ingin memberimu ini. Maaf jika sedikit usang. Tapi apa itu di tanganmu?” Kata Mat sambil mengulurkan gaun berwarna putih.
“Pesan itu lagi. Tapi kali ini aku yakin pasti Chris yang mengirimnya.”
“Bagaimana kau begitu yakin?”
“Aku melihatnya tadi. Di waktu yang sama saat aku menemukan pesan ini.”

Seketika wajah Mat penuh kekhawatiran. Aku tak berani menanyakan tentang kekhawatirannya itu. Kami kemudian masuk ke rumah itu dan Mat pun mengantarku menuju kamar mandi.

Setelah aku mengganti bajuku yang basah dengan gaun putih itu, aku merasakan hal yang aneh pada gaun itu. Seperti gaun yang terkutuk. Tapi aku tak yakin, mungkin saja ini dikarenakan aku tak biasa menggunakan pakaian milik orang lain. Ditambah lagi gaun ini memang sudah usang.

Kemudian aku kembali menuju ruang tamu untuk merasakan kehangatan dari perapian itu lagi. Tak disangka, Mat datang dengan membawa dua mangkuk sup panas, terlihat dari asap yang keluar dari mangkuk bening itu.
“Sudah waktunya makan malam. Aku hanya bisa memasak sup. Semoga kamu menyukainya.” Begitu kata Mat sambil menghidangkan dua mangkuk sup di atas meja kecil. Aku mencicipi sup buatan Mat yang ternyata rasanya cukup enak. Kami pun melahap sup itu sampai habis.

Tak terasa arlojiku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Seharian sudah aku berada di sini dan seharian juga hujan deras itu belum mulai mereda. Terjebaklah aku di rumah ini dengan kebosanan yang mulai meluap-luap. Sedangkan Mat, entahlah di mana ia sekarang. Jika saja Mat di sini, aku bisa mengobrol dengannya. Kemudian aku punya inisiatif untuk membaca salah satu buku di rak buku di ruang tamu. Rasa penasaranku muncul ketika aku menemukan sebuah buku yang telah usang dengan sampul yang didominasi warna merah kehitaman dan bergambar mawar putih. Ketika aku membuka lembar demi lembar buku itu, aku menemukan sebuah kebenaran yang sungguh mengerikan. Belum sempat aku membaca keseluruhan isi buku itu, sesuatu menghantamku yang membuatku tak sadarkan diri.
“Seharusnya kau tidak melihat apa yang tidak pantas kau lihat.”

Aku sadar meski dengan kepala yang masih sakit akibat benturan tadi. Tapi sesuatu membuatku lebih terkejut. Aku tak tahu di mana aku berada, tanganku terikat di sebuah pilar besar di tengah ruangan bernuansa serba merah.
“Akhirnya kau sadar, Sarahku sayang.” Suara yang ku kenal datang dari arah belakang.
“Bagaimana tidurmu, Sarah? Aku harap kau sudah bermimpi indah. Karena malam ini kau tak akan sempat bermimpi. Bahkan untuk hidup esok pagi.” Suara itu semakin mendekat, hingga ia berdiri di hadapanku.
“Apa yang kau lakukan, Mat? Apa kau yang selama ini mengirimiku pesan itu?” Tanyaku dengan histeris.
“Sudahlah Sarah. Hentikan semua pertanyaanmu yang membosankan itu. Aku terlalu sering mendengar pertanyaan itu, terutama dari para korbanku.”
“Apa maksudmu?”
“Baiklah akan kuceritakan semuanya, ketimbang nanti kau mati penasaran. Jadi apa kau ingat ceritaku tentang Chris. Sebenarnya yang kuceritakan itu adalah tentang diriku. Pesan itu juga berpola, jika kau mengamatinya baik-baik. Huruf awal di setiap baitnya membentuk nama ‘SARAH’. Dan kau tahu siapa Sarah? Sarah adalah nama yang wajib aku korbankan. Kau ingatkan kesepakatan dengan iblis. Dan kau tahu Gracesella Sarah itu adalah adikku.” Cerita Mat sambil berjalan mengelilingiku dan memainkan belatinya.

“Lalu kenapa kau membunuhnya?”
“Tak ada pilihan lain. Dan hari ini kau akan menjadi yang terakhir. Dan aku akan terbebas dari kutukan ini. Sebelum kau mati, apa kau punya kata-kata terakhir?”
“Dasar biadab!!!” teriakku histeris.
“Kata-katamu itu terlalu lumrah.” Jawab Mat sambil bersiap melempar belati itu tepat di jantungku. Tak ada yang bisa aku lakukan. Hanya pasrah dan memejamkan mata berharap keajaiban datang.

Belati dilempar. Wuuish. Plaaang. Sesuatu menabrak belati itu, mengakibatkannya jatuh.
“Sudah kubilang, kau tak seharusnya melakukannya lagi.” Suara itu datang dari jendela.
“Dasar tukang ikut campur! Kau merusak ritualku!” Teriak Mat dengan kasar.
“Dan kau sendiri, kau telah merusak hidupmu.” Jawab sosok itu dengan gaya khas seperti pahlawan.
“Tahu apa kau tentang hidupku!!” Teriak Mat dengan kesal sambil berusaha menikam sosok itu yang ternyata adalah Chris.

Pertempuran di antara mereka terjadi begitu sengit tepat di depan mataku. Tak sedikit darah yang keluar akibat pertemuan belati dengan tubuh mereka. Sedangkan aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya mampu menyaksikan itu semua sambil berusaha melepaskan tali yang melingkar di tanganku. Aku berhasil, tapi tidak dengan Chris. Ia terpojok, tanpa belati lagi di tangannya.

“Sekarang sudah berakhir, Chris.” Kata Mat dengan senyum liciknya dan bersiap menghabisi Chris tanpa ampun. Aku panik. Segera kuambil belati di dekatku dan langsung menusukkannya pada punggung Mat, yang mungkin telah menembus jantungnya. Mat menjerit kesakitan. Dan dalam sekejap tubuhnya menguap seperti es terpapar panas dan hanya menyisakan sebuah genangan di tengah ruangan itu.

“Apa yang terjadi padanya?” Tanyaku heran, berharap Chris akan menjawabnya.
“Dia terbebas dari kutukan yang membelenggunya.”

Cerpen Karangan: Ayu Gita
Blog / Facebook: Ayu Gita

Cerpen Pesan untuk Sarah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Zombie

Oleh:
Nama saya Willi, anak pertama dari tiga bersaudara. Sekarang saya duduk di bangku kuliah, tahun ini semester empat. Kedua adikku Beny dan Joe masih di sekolah menengah atas kelas

Novel Berdarah

Oleh:
Aku sedang duduk santai di teras rumah setelah menyelesaikan tugas bersih-bersih rumah yang diberikan orangtuaku sebelum pergi ke rumah Paman Wiko. Bibi Nur datang sambil membawa secangkir kopi panas

Bertemu Sang Idola

Oleh:
Di malam yang sunyi, di kamarnya, Aqila membayangkan wajah idolanya, yaitu Coboy Junior. Ia sangat ingin bertemu Coboy Junior. Ia selalu dilarang untuk pergi menonton konser Coboy Junior ataupun

Robot Penyerang (Part 3)

Oleh:
“ada pesan” kataku sambil membukanya “jangan khawatir mereka dipindahkan ke tugas lapangan, kau disini sendiri dan bekerjalah dengan baik” pesan video dari orang yang aku, ilham dan widya temui

Aku

Oleh:
Aku adalah orang bodoh. Bagaimana tidak bodoh jika Aku itu tidak pernah menyiram bekas buang airnya sendiri. Aku adalah orang yang bodoh. Bagaimana tidak bodoh, Aku bahkan selalu tertawa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *