Petualangan di Shiltz (Part 1) Malam Kehancuran Gypsi dan Sang Barbarian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 12 June 2017

Malam itu adalah malam yang dingin. Suasana yang mencekam, Bulan Purnama yang menyongsong seakan ingin menelan bumi ini karena Besarnya. Kami Berkumpul dan Membuat sebuah perkemahan. Kami para Kaum Gypsi memanglah selalu berpindah tempat dari satu ke tempat lain. Memang menakutkan awalnya, namun jika berada dalam kelompok yang menggunakan jubah putih dan topi seperti penyihir ini membuatku terasa aman dan nyaman. Malam itu kami berada di area Hutan kematian yang letaknya di sebelah barat Ibu kota Shiltz yaitu kota Elim, Dimana Tujuan kami adalah menuju tempat itu. Kota yang penuh dengan petualang yang kuat dan kota yang sangat damai. Namun karena Malam telah tiba kami memutuskan untuk membuat perkemahan supaya lebih aman dan tidak diserang oleh para Bale yang kelaparan. Ya, sejak 700 tahun yang lalu manusia, Dewa dan para Monster (Bale) memulai perang besar yang belum selesai hingga saat ini. Para Bale diizinkan tinggal di area area yang jauh dari perkotaan, dan tidak bisa menyerang kota karena perlindungan dari para Elim (Dewa dan Dewi di Shiltz).

“Semuanya Mari kita makan malam bersama” Seru Ayahku yang merupakan Kepala suku kaum Gypsi.
“Yoaaa, ayooo yeeey…” Sorak para Gypsi yang tengah menahan lapar sejak tadi.
“Ibu, Apa kita akan benar benar aman di perkemahan ini?” tanyaku kepada ibuku yang sedang mengupas buah untuk kami santap
“Tenang saja Clen, Selama kita bersama kita akan aman, lagipula kaum gypsi memang sering berpindah seperti ini kan?” tanya kembali ibuku padaku
“Tapi ini pertama kalinya kita berkemah dimana para bale level atas tinggal, yaitu Hutan Kematian” Jawabku
“Tenang Saja Clen, nanti kalau ada monster aku akan menghajarnya hahaha…” Ledek sahabatku yang bernama Ruzel, kami sudah bersahabat sejak kami dilahirkan. Dia adalah seorang cleric tipe penyembuh sedangkan aku adalah cleric tipe petarung. Namun entah kenapa aku belum pernah melawan bale yang jauh lebih kuat dariku. Karena aku tidak memiliki keberanian seperti Ruzel mungkin.

“GAWAT!!! SEMUANYA BERLINDUNG!!” Teriak salah satu Gypsi yang bertugas memantau situasi.
“Ada apa ini?!? Jangan panik dulu, semuanya tetap tenang!” Seru Ayahku yang mencoba menenangkan kami semua.
“ada… ada Wolfman dengan jumlah yang tidak sedikit!, jumlah mereka lebih banyak dari kita!” Jelas Gypsi Pemantau.
“Semua Cleric Petarung berkumpul para penyembuh bersiap memberi penyembuhan kepada yang terluka!” Teriak Ayahku memberi perintah kepada yang lain.
Aku benar benar takut karena bale dengan level tinggi akan datang dan mengacau di sini. Aku mencoba untuk bergabung dengan para cleric petarung (Prophet) tetapi aku mengurungkan niatku dan lebih memilih bersembunyi di balik jubah ibuku yang merupakan seoarng Cleric Penyembuh (Priest). Kelompok kami terkenal dengan jumlah Prophet terbanyak di antara kaum gypsi lain. Itulah mengapa kami bisa berjuang hingga hampir sampai di kota Elim.

“Repentice!!!” Teriak ayahku sambil Mengayunkan Crusade Macenya dan mengeluarkan sihir yang melukai salah satu bale dan membuat beberapa bale tidak bisa bergerak.
“Semua Serang!!!!” Teriak Ayahku
Peperangan melawan para wolfman pun tak bisa terelakan, kami mampu mengimbangi mereka yang berjumlah jauh lebih banyak dari kami. Namun Jumlah mereka yang tidak kunjung berkurang membuat tenaga kami terkuras.
“Clen, Larilah menuju Timur menuju kota Elim. Kami akan menyusul setelah peperangan ini usai.” Kata ibuku sambil terus mengayunkan Matry mace nya.
“Tapi ibu… aku takut.. aku takut bila kita dikalahkan” kata ku dengan nada ketakutan. Seluruh badanku gemetar dan terasa dingin.
“Cepat Lari sejauh mungkin, carilah bantuan supaya kita tidak dikalahkan” kata ibuku sambil menitihkan air matanya.
“Clen.. cepat Pergi” suara ibu terus terdengar hingga tiba tiba seekor Wolfman Beyond (Pimpinan) menancapkan cakarnya ke punggung ibuku. Suara ibuku mulai terdengar semakin lirih, aku hanya bisa menatap ibuku dari kejauhan. Dan terus berlari tanpa mempedulikan apakah ada bale yang mengejarku atau tidak.
“IBU!!!” Teriakku kepada ibuku untuk terakhir kalinya. Teriakanku membuat beberapa Wolfman mengejarku dan aku mulai mengayunkan Redemption Maceku dan mengeluarkan mantra pengusir kegelapan.
“Cleansing!!” Cahaya Putih muncul dari redemption maceku. Sebenarnya sihir Cleansing ini hanya untuk melakukan pemurnian terhadap para pejuang yang terkena efek racun maupun sihir kegelapan. Tapi aku tidak menyangka jika itu bisa digunakan untuk menyerang para wolfman ini karena Elemen para wolfman itu kegelapan.

Aku berlari cukup jauh sehingga tidak terlihat lagi perkemahan maupun para wolfman. Namun tiba tiba seseorang mendekap mulutku dengan rapat. Aku sangat bingung dan terkejut, ingin kulepaskan cengkramannya dengan seluruh tenaga namun aku sudah kehabisan tenaga karena berlari terus menerus.
“Ssssstttt!! Diam, aku sedang memanggil bantuan untukmu” Seorang yang sepertinya adalah seorang Trickster (Clown penghibur) mencoba menenangkanku.
“bagaimana keadaannya Shun?” Tanya salah seorang prajurit yang dibawa Trickster itu. Dia melepaskan tangannya dari mulutku. Dan aku mulai memarahinnya.
“Hei! Tidak sopan bagi seorang wanita sepertimu menutup mulut pria sepertiku! Apalagi kau hanya seorang penghibur kan!” Teriakku kesal
“Heih heih… kalau kamu terus berteriak nanti para wolfman akan datang” katanya
“Pokoknya segera bawa pasukanmu menuju perkemahanku.. cepat!” kataku menyuruh trickster itu untuk bergerak.

DUARR!!! Terdengar suara ledakan yang sangat kencang diikuti cahaya yang sangat menyilaukan. Kami segera bergegas menuju perkemahan kami tadi. Tapi Sesampainya di Perkemahan itu aku terkejut karena semua sudah porak poranda. Tidak ada satu orang pun maupun satu bale yang masih tersisa. Yang tersisa hanyalah terpal tenda dan bercak bercak darah di sekitar perkemahan. Aku terduduk lesu melihat semua itu, tapi yang membuatku mampu berdiri dan langsung berlari adalah ketika melihat ayahku yang masih terbaring di balik pohon dengan darah yang memenuhi mulut dan perutnya. Aku memastikan jika dia masih bernapas.

“Ayah… Ayah… Jawab!! Apa yang terjadi!!” kataku sedih dan murung
“Oh… Clen.. kau selamat ya.. syukurlah…” kata ayahku dengan suara lirih dan mulai tidak jelas.
“Siapa saja!! Panggilkan Priest kemari! Ayah bertahanlah… aku akan mencoba menyembuhkanmu!” Aku mengayunkan Redemption Maceku. “Mass Cure!! Cure!! Heal!!” Aku terus mengucapkan mantra mantra penyembuhan, namun luka ayahku tidak kunjung pulih. Tentu saja karena aku adalah seorang Prophet bukan Priest yang ahli dalam bidang penyembuhan. Meskipun Prophet masih bisa menggunakan sihir supporting maupun Heal magic, namun efeknya tidak sebesar para priest.
“Ayah!! Bertahanlah!” Teriakku
“Clen… Semua terjadi begitu cepat, Awalnya kami seimbang… namun tiba tiba sang Raja Iblis Lucifer Muncul di hadapan kami semua, dia menyapu semua bale dan manusia yang ada di sini dengan sekejap.” Jelas ayahku yang membuatku tidak percaya.
“Lu…ci..fer… dia sudah muncul?!?” tanya si trickster yang tadi membungkam mulutku.
“Hanya ayah yang mampu menyelamatkan diri. Dan yang lainnya disapu oleh kekuatan besar Lucifer” Jelas ayahku
“jadi semua…! Tidak mungkin!?!” kataku seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan ayahku.
“Clen… hanya satu pesanku… gunakan Crusade Maceku ini dan kalahkan Para Bale bahkan hingga sang raja iblis Lucifer.” Kata ayahku yang semakin lama denyut nadinya melemah.
“Ayah bertahanlah!! Cure!! Mascure!! Cleansing!!! Heal!!” Racun akibat serangan lucifer tadi sangat kuat sehingga ayahku tidak bisa bertahan.
“Selamat tinggal Clen… Berjuanglah demi aku, ibumu dan sahabatmu Ruzle…” Kata kata ayahku tadi menjadi kata kata terakhirnya kepadaku.
“Ayah… tidak mungkin… ayah!!!”

Setelah Peperangan yang memusnahkan para Prophet dan Priest di kaum gypsi di Hutan Kematian, aku pun dibawa ke kota Elim dan tinggal di rumah Trickster yang akhirnya menjadi temanku itu. Suasana hatiku masih hancur mengingat perkataan ayahku. Apakah aku benar benar bisa mengalahkan Lucifer sang raja Iblis, itu masih belum bisa kujawab. Sesekali aku menengok keluar melihat pemandangan kota Elim. Kota yang Penuh dengan berbagai pejuang di Shiltz ini. Di pusat kota terdapat Air mancur yang merupakan Maskot kota ini. Sebuah Kastil yang ditinggali oleh sang Raja Shiltz Arus dan Permaisurinya Claire juga terlihat dari balik jendela ini. Lampu kota yang belum menyala karena masih siang, serta Papan Wawa bunny yang digunakan untuk berlatih adalah gambaran dari kota yang penuh perdamaian itu. Beberapa orang Asyik berdagang dan hanya bersantai santai saja, ada juga yang sedang berlatih di papan wawa bunny itu. Aku hanya menatap luar sambil menahan kesedihan yang masih mengenai hatiku.

“Clen.. Mau makan apa?” Tanya Shun ketus, namun aku tak menghiraukannya
“Hei… Kau mau makan apa?” tanyanya sekali lagi, namun tetap tidak kugubris.
“Lucky Strike!!!” Dia menembakan salah satu Kartunya kepadaku kepadaku dan mengenai kepalaku. Akhirnya aku menoleh ke arahnya dengan tatapan menakutkan.
“hei hei… ayolah aku hanya bercanda Clen.. Kau seperti orang tuli sih hehehe…” Dia mulai sedikit meledekku
“Aku tidak ingin makan Shun… aku hanya akan menghabiskan sisa hidupku di sini..” kataku
“Apa kamu bilang!!! Kalau kamu di sini terus aku bisa bangkrut dong!!” Teriak Shun tidak ikhlas.
Suaranya yang melengking membuat telingaku lama lama sakit. Shun adalah Seorang Trickster, sesuai dengan jobnya dia membawa sebuah Lucky Dagger serta Topi Badut dan pakaian serba berwarna pink dengan bola bola berwarna kuning di setiap ujung kaki, bahu dan ujung topinya. Wajahnya sedikit imut sih tapi tetap saja suaranya yang melengking membuatku sebal.
“Tentu saja aku akan segera pindah..” ucapku
“Memang kamu punya uang untuk menyewa hotel ataupun tempat tinggal?” Tanyannya
“Tentu saja tidak dasar bodoh ” ucapku ketus
Tiba tiba sebuah kursi kayu melayang mengarah kepadaku dan DUAK!! Kursi itu mengenai kepalaku dan itu terasa sangat sakit. Shun sudah mencoba menghiburku selama ini, namun sebagai Trickster dia sudah gagal karena tidak bisa membuatku tersenyum sedikitpun.
“Kamu harus kuat Clen!! Kamu itu Prophet!! Seorang Pejuang utusan para Elim!! Lupakan saja Semua Kaummu!! Tapi jangan lupakan kehangatan yang kamu dapatkan dari mereka!” Kata kata Shun membuat hatiku tertegun, dan tiba tiba saja shun menunjukan wajah terjeleknya dan hal itu berhasil membuatku tertawa terbahak bahak. Berkat Shun Aku jadi bisa tertawa dan menerima kenyataan ini.

Aku dan Shun memutuskan untuk makan bersama di Bar kota Elim. Di sana katanya adalah rumah makan terenak di seluruh Shiltz. Tapi sebelum menuju ke Bar Elim kami memutuskan untuk melewati Air mancur di pusat kota. Papa wawa bunny yang terpampang sedang dipukuli oleh para pejuang yang sedang berlatih. Tiba tiba saja mataku tertuju kepada seseorang yang mengeluarkan sebuah skill yang luar biasa.
“TORPEDO SLASH!!!” Skill itu membuat sebuah papan wawabunny hancur lebur, padahal setauku papan itu sangat sulit untuk dihancurkan. Seorang Barbarian dengan Oni Swordnya dan Set Oni yang membuatnya semakin gagah. Dengan rambut berwarna abu abu serta Dark wodden wing di punggungnya membuatnya semakin terlihat sangat kuat.
“Hei hei… Bagaimana Pendapatmu Prophet!!” Teriaknya kepadaku, padahal aku tidak mengenalnya sama sekali dan sebenarnya aku memang tertarik melihat skill yang sangat kuat tadi.
“Lumayan lah…” Kataku dengan nada cuek.
“Heeee hanya itu saja??!! Baiklah… sekarang lawan aku… kita bertaruh… yang Kalah… Harus mentraktir ke Bar Elim” katanya
“Terima saja Clen… siapa tau kamu bisa menang dan kita bisa makan gratis” Bisik Shun kepada ku
“Tapi kau tidak lihat tebasannya tadi? Aku bahkan tidak bisa mengukur seberapa kuat dia ” bisikku kembali kepada Shun
“Heii jangan hiraukan aku!! Kamu meremehkanku yaa!!” teriaknya kepadaku
“Haduhh… Beberapa hari lalu aku mengenal trickster yang sama brisiknya denganmu… tapi sepertinya keberisikanmu itu sedikit diatas batas ya.. baiklah aku trima” kataku
“heeeiih… kau pikir aku seberisik dia?” ucap Shun yang terlihat kesal

Kami berjalan menuju area pertarungan Colloseum, Di tengah Colloseum terdapat Pilar yang dapat mencegah terjadinya pertarungan yang berlebihan, sehingga para petarung di sini tidak akan bisa mati akibat serangan orang lain.
“Baiklah… ayo kita akhiri sekarang prophet!!” Teriaknya
“kau ini Berisik sekali ya…” Kataku
“Baiklah… kita mulai pertarungannya..!! 3… 2… 1… mulaii!!” Ucap Juri pertarungan
“Bless, Protect, Devine Force, Wind rush!!” Aku mengucapkan mantra supporting supaya akurasi, pertahanan, serangan dan kecepatan bergerakku meningkat.
“Charge!! Double Slash!! ” Tebasan super cepat dilancarkan Barbarian gila itu namun aku berhasil menangkisnya
“Heee… Lumayan juga kau prophet! Bagaimana dengan ini!! Death Slash!!!” Tebasan super kuat yang meretakkan sebagian tanah itu mengarah kepadaku, namun sekali lagi akibat Wind rush aku jadi mudah menghindarinya.
“Double Sword!!” Pedang Onii yang digunakannya tiba tiba terlempar ke arahku, tapi aku segera bertahan
“Fanaticm!!!” Sebuah Perisai pelindung melindungiku dari pedang tadi. “Rasakan Pukulan ini!!! GIANT SWING!!” Aku mengumpulkan semua kekuatan ke dalam Crusade Mace milikku dan hasilnya, Maceku bercahaya dan aku gunakan untuk menebas Barbarian tadi. Tapi anehnya meskipun terkena seranganku dia seperti tidak berasa.
“wow… pukulan yang menakutkan.. untung saja tadi sedikit meleset, jika tidak aku pasti sudah hancur” katanya, dia mengambil kuda kuda seperti sedang mengumpulkan tenaga dengan jumlah besar.
“Wrath!!” Aku meningkatkan kekuatan serangku menjadi lebih tinggi lagi. Dan bersiap mengambil skill terkuat yang aku miliki untuk segera mengakhiri ini.
“TORPEDO!!! SLASH!!!” Teriak Barbarian itu. Sesuai dugaanku dia akan menggunakan skill Terkuatnya, sama halnya denganku yang mengeluarkan skill terkuatku.
“Judgement!!!” Aku melompat dan melemparkan seluruh energku yang tersisa kepada barbarian itu. Terjadi tumbukan dua energi antara angin dan cahaya, kami sama kuat tapi akhirnya akulah yang terpental. Barbarian itu dengan sedikit kekuatannya yang tersisa mencoba bangkit dengan pedangnya, aku masih tergeletak di sana.

“Pemenangnya adalah… Sang Barbarian!!!” Teriak Juri Pertarungan. Aku melihat Shun menempelkan telapak tangan ke dahinya dan terlihat sangat kecewa, tentu saja karena dia yang harus membayar biaya taruhan karena aku tidak punya uang sepeserpun.
“Mega Cure!!” Sihir dari Juri pertandingan memulihkan semua energi dan menghilangkan luka luka di badan kami.
“Kau sangat hebat prophet, baru kali ini ada orang yang mampu mengimbangiku dalam hal kekuatan” Pujinya
“ya, sebenarnya ini pertama kali aku bertarung melawan seseorang secara langsung.. jadi aku belum berpengalaman… biasanya aku hanya menghajar piya dan beanie saja (Bale Level Rendah) dan paling paling Water Crabs, Jadi menurutku kamu memang lebih berpengalaman” Ucapku merendah
“Apa!! Kamu hanya bertarung dengan monster monster kecil namun sudah bisa mengimbangiku!! Tak kusangka kau sekuat itu… Siapa namamu!! Aku harus mengingat nama orang yang kuat!” Ucapnya seolah tak percaya perkataanku
“Aku Clen, dan dia temanku Shun” Kataku
“haii” ucap Shun
“Lalu Siapa kamu sebenarnya?” Tanyaku penasaran
“Aku adalah Zeon, Barbarian Terkuat dari kota Lime!” Tegasnya
Aku, Zeon dan Shun pun menjadi teman mulai detik ini.

Cerpen Karangan: Mr. I

Cerpen Petualangan di Shiltz (Part 1) Malam Kehancuran Gypsi dan Sang Barbarian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Negeri Jepreth

Oleh:
Chapter 1 Alkisah, di sebuah negeri yang bernama jepreth, ada 3 orang yang sangat jahat yang selalu meneror rakyat. Negeri tersebut awalnya bernama negeri aman sejahtera, tapi dikarenakan ketiga

Rumahku

Oleh:
Windi adalah seorang anak yang baik. Dia tak pernah membantah perintah orangtuanya, dan ramah pada setiap orang. Windi adalah anak yang paling disayangi di tempat tinggalnya. Suatu hari, Windi

Kunci Ajaib (Part 1)

Oleh:
Dulu saat aku masih kecil, Kakek selalu menceritakan kisah dongeng. Kakek menceritakannya dengan hati senang. Seolah-olah Kakek pernah ke sana. Kakek bilang, jika ingin pergi ke dunia dongeng. Kau

Lorong Gelap

Oleh:
Seorang lelaki berjalan menyusuri deretan pertokoan di tepi jalan. Tampaknya ia berusia sekitar 25 tahun bila diperhatikan dari kulit wajahnya yang mulai kasar, dan jejak kumis yang dicukur seadanya.

Hidup Itu…

Oleh:
Hidup itu ibarat ikan yang hidup di kolam. Ikan yang paling besar dan paling berwarnalah yang akan dilirik. “Wah, Jessica itu perfect ya. Sudah cantik, pintar, jago main voli,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *