Phoenix

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fabel (Hewan), Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 18 November 2017

Sore itu, langit tampak dihiasi dengan permadani jingga. Bersamaan dengan awan putih nan lembut yang bergerombol di mana-mana. Di saat yang sama pula, seekor burung Cendrawasih betina tengah bertelur di atas sarangnya yang hangat sambil berharap semoga telur-telur yang akan menetas nanti dalam keadaan baik-baik saja.

Beberapa minggu kemudian, tiga ekor anak burung Cendrawasih menghiasi sebuah sarang yang mereka tempati dengan bulu-bulu mereka yang indah. Mereka bertiga sangat bangga dengan diri mereka. Karena masing-masing dari mereka mempunyai warna bulu yang indah dan menawan.

Namun, berbeda dengan saudara mereka yang satu ini. Hanya bisa tertunduk lesu dengan perasaan yang sedih di pojok sarang. Warna bulu burung kecil ini… hanya hitam. Hitam pekat dan berserakan. Karena memiliki bulu seperti itu, saudara-saudaranya akhirnya mengejeknya dan mengatainya sebagai..

“Kecoak berbulu!” seru salah satu dari saudaranya sambil menunjuk ke arahnya.
“Dasar kecoak hitam! Mati saja sana! Kau tidak pantas ada di sini!” seru salah satunya lagi yang tidak mau kalah.
“Buat apa kau hidup dengan bulu hitam jelek seperti itu? Sia-sia saja kau hidup!” ujar yang tertua sambil melangkahkan kakinya ke depan. “Aku tidak suka jika kau ada di sini! Merusak pemandangan saja!”

Sakit.
Cendrawasih kecil berbulu hitam itu selalu merasakan sakit setiap menerima makian dari saudara-saudaranya. Ia selalu saja berharap semoga hari esok tidak akan pernah ada. Namun harapannya itu hanya berupa angan-angan saja.

Lalu tiba-tiba saja, sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia akhirnya mendapatkan cara agar ia tidak akan pernah lagi mendengar makian dari saudara-saudaranya. Ia memilih untuk… mengakhiri hidupnya. Mungkin itu yang terbaik baginya.

Keesokan harinya saat induknya pergi mencari makanan, ia memanfaatkan waktu itu sebaik-baik mungkin. Ia lalu berdiri dengan tegak di tepi sarangnya.
“Hei bodoh! Apa yang kau lakukan?” tanya saudaranya yang tertua.
“Mau bunuh diri ya? Silahkan saja. Kami sangat mengharapkan kejadian itu!” celetuk salah satu saudaranya yang lain.
Burung kecil berbulu hitam ini tidak menghiraukan apa yang dikatakan saudara-saudaranya. Ia lalu menghela napas untuk yang terakhir kalinya, lalu…
Ia akhirnya membiarkan dirinya yang lemah tak berdaya itu jatuh ke tanah.

Tapi belum sempat sampai ke tanah, tiba-tiba saja setitik cahaya api yang entah dari mana datangnya mengarah ke burung kecil itu.
Tidak.
Ia tidak terbakar.
Setitik cahaya api itu tiba-tiba saja menyelimuti tubuh burung itu. Dan membuat tubuh burung kecil itu semakin besar. Sebesar burung Cendrawasih dewasa. Lalu akhirnya, ia membuka matanya dan membentangkan sayapnya. Kini, bulunya bukan lagi berwarna hitam. Bulunya tergantikan dengan bulu api yang berkobar dan menyala. Sungguh mempesona.

Ia lalu menyadari perubahan yang ada pada dirinya. Ia lalu tersenyum gembira sambil berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberkati dirinya. Ia akhirnya terbang dengan sayap barunya itu sambil mengejar cahaya matahari.

TAMAT

Cerpen Karangan: Aini Ayu Mardhiyah
Seorang otaku yang hobi menggambar anime cogan dan cecan yang gaje. Otaku sekaligus author di wattpad ini juga hobi menulis cerita fantasi dan romance. Otaku yang satu ini juga sangat menyukai hewan berbulu yaitu kucing. Katanya jika jadi orang kaya, ia akan membentuk organisasi peduli kucing se-Indonesia. ^^

Cerpen Phoenix merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Three Destiny (Part 1)

Oleh:
Kaum Paling tak diinginkan Bumi yang telah dihuni oleh umat manusia jutaan tahun yang lalu ini tampak tak ada yang aneh. Hutan yang penuh dengan hamparan pohon lebat dan

Bangku Cadangan

Oleh:
Suara suporter bergemuruh. Sayup-sayup terdengar hingga ke luar stadion. Papan skor masih menunjukkan angka sama kuat, yakni 0-0. Wajah kedua pelatih tampak mengisyaratkan ketegangan. Dari bangku cadangan, pemain yang

Kontes Memasak Endemmo

Oleh:
“Selamat pagi, Itzel! Aku punya kabar baik untukmu!” ujar Silvana di pagi yang cerah itu. Ia datang ke toko roti Itzel dengan semangat hari ini. “Nanti saja, sedang banyak

Live a Life (Part 2)

Oleh:
Setelah berusaha begitu keras, akhirnya ayah angkatku mengizinkan Nat untuk ikut latihan bersamaku di markas pusat, dan bahkan membiarkanku menjadi pelatih Nat. Mengingat bahwa Nat memiliki sepasang sayap, kurasa

Pukul Sembilan

Oleh:
Lelaki yang di seberang sana itu, memakai pakaian seperti yang kukenakan saat ini. Mungkin dia copet juga. Masa semua copet berpakaian sepertiku? Tapi pakaian yang dikenakannya itu terlihat mahal.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *