Pilihan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 January 2017

“Kyaaa!!!” teriak Ara di dalam kelas tatkala menemukan seekor kecoak di dalam kolong mejanya. Pagi buta ini mendadak menjadi pagi melek dikarenakan ulah Ara yang teriakannya sampai membangunkan Raja Neptunus dari tidurnya yang lelap. Aku pun terus mengelus dada, bersabar karena sudah datang pagi-pagi malah disambut dengan teriakan Ara yang menurutku seperti banci mikrolet yang kejepit pintu, coba saja kalau aku tidak piket, mungkin aku masih di rumah sekarang dengan berbagai keindahan dunia dan menikmati sarapan pagi yang nikmat serta terhindar dari jeritan maut.

“Aduh Ara, bisa nggak sih kagak lebay? sakit kuping gue dengernya tau gak?” semprotku saat dia melap tangannya dengan berlembar-lembar tissue, mungkin habis itu ia akan merendam tangannya dengan larutan alkohol dan memanggil ustadz, sakral.
“Yaa habisnya itu ada kecoak tiba-tiba! gimana gak shock coba? lu tau sendiri gue kan gimana?” ujarnya dengan menyalahkan sang kecoak layaknya korban tawuran yang salah sasaran. Aku pun hanya geleng-geleng.
“Hai Cherry” sapa seseorang mengagetiku. Aku pun sontak menoleh ke arah pintu kelas. Kudapati sesosok pria dengan memakai seragam olahraga, serta jam tangan yang selalu mem’follow kemanapun dia hempas, Legi.
“Hay sayang” balasku. Legi pun menghampiriku.
“Gimana? mau dibantu?”
“Nggak usah” tolakku. Aku ingin memperlihatkan ke dia kalau aku adalah gadis yang rajin dan bersih, cleanly, sautificated, elegantly, apalah-apalah terserah.
“Oh ya udah, aku mau ngajakin kamu ke perpustakaan umum nanti, pulang sekolah”
“Oh, oke! aku mau ikut” balasku dengan senyum semanis mungkin. Agar dia tidak tahu bahwa aku ini sebenarnya masih sangat mengantuk, dengan mata beler, dan suara masih berat ini, kuperjuangkan untuk bersikap baik di depan Legi, pacarku.
“Kalau begitu, aku tunggu kamu di depan gerbang sekolah yah?”
“Siap, bos!” timpalku sembari hormat, dia pun heran dengan sikapku, dan meninggalkanku setelah dirinya menyubit pipiku dengan nistanya.

Jam sekolah pun selesai. Aku pun bergegas untuk menuju gerbang sekolah. Kujumpai Legi yang sedang menyeruput es.
“Hey, jadi gak?” sapaku.
“Eh kamu. Iya jadi, ayo!”
“Yuk”. Aku pun menaiki sepeda motor milik Legi. Itulah kebiasaan kami. Saat berangkat sekolah aku diantari oleh Ayahku (Ayahku sekalian berangkat kerja), sedangkan pulangnya aku diantari oleh Legi, aku selalu merasa bak bidadari yang harus selalu diikuti oleh dayang-dayang dan pengawal, tinggal di istana mewah dengan berbagai keindahan. Tetapi..
“AAAAAAAAAA!!!”
CYIIIIIIIITTTT, BUK!!

Aku sekarang berada di dalam ruangan, dengan 2 orang yang mengelilingi diriku. Dimana aku sekarang? dimana Legi sekarang? Sedang apa disini? apa yang terjadi?, Aku membuka mataku, tetapi rasanya sakit sekali. Pandanganku sangat buram, melebihi buramnya penglihatan di dalam air.
“Kedua matanya rusak, pecahan kaca mobilnya menusuk kedua matanya, sepertinya penglihatannya tidak tertolong lagi” Ujar pria di sampingku yang akhirnya kuketahui adalah dokter. Dan aku pun mengetahui bahwa penglihatan orang yang dimaksud adalah aku, karena dari tadi aku menyadari bahwa penglihatanku sudah berubah total, hampir 360 derajat, aku sudah tidak peduli lagi dengan siapapun, aku sudah sangat putus asa. Kuambil dengan cepat jarum suntik di meja sebelahku dan kutikam di urat nadiku, dan di berbagai tubuhku.
“Ya ampun, CHERRY!”

“Legi, udah yah, Cherry udah tenang, lu ikhlasin aja yah” ujar seorang teman Legi yang terbilang akrab dengannya. Sejak kepergianku 2 hari yang lalu, Legi benar-benar berubah, ia menjadi sosok yang pendiam, beda dengan dirinya dulu yang aktif dan selalu terlihat ceria.
“Gue dah ikhlas kok, gue cuman gak nyangka aja” balasnya dengan tepukan berkali-kali dari temannya memberikan Legi kekuatan. Beda dengan diriku. Sekarang diriku tengah disiksa, dianiaya, bukan jarum suntik yang menikamku melainkan jangkar, benda yang besar, dengan sekelilingku api yang membara, kalian pasti tahu dimana aku sekarang. Aku sekarang beeada di tempat terburuk di dunia. Sebagai balasan atas pilihanku, yakni menghilangkan nyawaku sendiri.

Cerpen Karangan: Farel Gerald
Facebook: Farel Gerald
Nama Lengkap: Farel Gerald
Nama Panggilan: Farel
TTL: 29 Mei 2002
Remaja Jakarta yang doyan banget sama Sinetron SCTV, penikmat coklat serebuan. Si Gemini ini suka mengkhayal. Hai, aku berkoar lho di media sosial, intip aku di IG : @je.infarelyuk atau Facebook : Farel Gerald. Makasih yang udah membaca 🙂 saran dan kritikan nya yah…

Cerpen Pilihan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hampa

Oleh:
Senja semakin mendekati klimaksnya, semburat awan yang semula putih kini menjadi kuning oranye sempurna. Suara uap air dalam ketel yang terus berhembus dan mendesak keluar, meramaikan suasana sore itu.

Hati Yang Terluka (Part 2)

Oleh:
“Lo kok bisa ada di sekolah ini?” Tanya Kenneth bingung melihat keberadaan Karin di sekolahnya. “Gue pindah ke sini, Ken. Gue bakalan bikin lo balik lagi sama gue.” Ucap

Gila (Part 1)

Oleh:
Ray menatap sendu ke suatu arah. Melihat sesuatu yang sulit diterima oleh matanya. Dimana keberadaannya itu ada seorang gadis dan pria sedang bersendau gurau. Gadis itu sesekali mengangguk-nganggukan kepala

Pengalaman Yang Tak Terlupakan

Oleh:
Sungguh!! Aku sangat malu jika mengingat hal itu, hal yang paling tak pernah terduga di umurku yang sekarang menginjak 17 tahun. Namaku tiara dewiana teman-teman memanggilku Tiara atau Ara.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *