Portal Jawaban

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 26 July 2017

“Sinta, kamu kenapa?”
“Enggak Tante, Sinta gak kenapa-kenapa,” Tanteku terlihat khawatir kepadaku. Namun aku tak bisa menjawab pertanyaannya dengan jujur. Apa yang akan dikatakan ibuku kalau mendengar jawabanku yang sebenarnya? Walaupun dia ibuku dia pasti tidak akan percaya kepadaku, malah mungkin akan menganggapku tidak waras.
“Bener gak kenapa-kenapa? Tapi tadi Tante liat kamu kayak ketakutan gitu dan sebelumnya Tante denger kamu ngejerit,” aku merasa bersalah karena telah membohonginya.
“Ya udah tante pergi dulu ya? Kalau ada apa-apa, bilang sama tante,”
“Iya tante”

Aku memang tinggal berdua bersama Tanteku, Tante Rani, di rumahnya yang besar ini semenjak dua tahun yang lalu, karena kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan. Awalnya aku memutuskan untuk tinggal di rumahku sendiri setelah kedua orangtuaku meninggal. Walaupun saudara-saudaraku memaksaku untuk tinggal dengan mereka, aku tetap bersikeras tidak mengikuti permintaan mereka. Alasannya hanya satu, aku belum ikhlas dengan kepergian orangtuaku. Dengan tinggal di rumahku sendiri mungkin akan mengobati rasa rinduku yang teramat sangat, namun bukannya berkurang, rasa rinduku malah semakin menggunung saja.

Aku mulai bertindak tidak wajar, memang saat itu aku mungkin sudah gila, aku berbicara sendiri bahkan pernah mencoba untuk bunuh diri. Tante Rani, adik satu-satunya ibuku, memergoki aku saat akan menenggak banyak sekali obat tidur. Tentu saja saat itu Tanteku panik dan merebut obat-obat itu dari tanganku, aku menangis tersedu-sedu dan menjerit sangat keras. Tanteku sangat marah dan kecewa akan perbuatanku. Aku merasa perbuatanku sudah sangat tepat dan sampai saat ini aku masih berpikiran begitu. Tanteku mencoba mengembalikan kewarasanku dengan mengirimku ke seorang psikiater. Sejak saat itu kewarasanku berangsur-angsur kembali, namun tidak sepenuhnya hilang.

Tanteku memutuskan agar aku tinggal bersama dengannya, kebetulan dia belum berkeluarga dan rumahku dikontrakkan kepada orang lain. Di sana aku memulai kehidupan yang benar-benar baru dan kembali bersekolah. Aku yang dulunya bisa dibilang supel, berubah menjadi sangat pendiam dan anti bersosialisasi. Di sana aku sama sekali tidak memiliki teman, walaupun begitu aku terkenal sebagai murid yang aktif dan pintar namun sombong. Sekarang dua tahun sudah berlalu dan akhirnya aku mengakhiri masa-masaku di SMA. Dan akan memulai masa-masa kuliahku.

Aku menyingkirkan pikiranku, lalu kembali menatap ke arah datangnya cahaya itu, ke sebelah kanan tempat tidurku, tepatnya di tembok. Aku merasa aneh kenapa tanteku tidak bisa melihat cahaya itu. Di sana ada cahaya berwarna biru, merah, ungu berbaur menjadi satu yang sangat terang sampai menyilaukan mataku. Cahaya itu membentuk segi banyak yang sangat besar, di tengahnya terdapat lingkaran yang hitam pekat. Melihat cahaya itu aku jadi teringat pada pintu ajaib doraemon. Apa cahaya itu semacam pintu ke mana sajanya doraemon.

Aku turun dari tempat tidurku, dan melangkah sangat pelan menuju cahaya itu, takut sesuatu muncul dari dalamnya. Aku mencoba menyentuh cahaya itu. Tiba-tiba kepalaku merasakan sakit yang teramat sangat dan tubuhku serasa remuk. Tubuhku tersedot ke dalam cahaya itu, entah apa yang menantiku di sana.

“Apa maksudmu???” Aku tak kenal siapa wanita itu. Sepertinya dia sangat marah. Tapi kenapa?
“Al Alvin penyebab kecelakaan itu kak,” dia menjawab pertanyaan wanita itu dengan terbata-bata. Aku penasaran kecelakaan apa? Jangan-jangan dia pelaku tabrak lari?
“Apa?” suara wanita itu memelan, lalu terduduk lemas ke sofa yang berada tepat di belakangnya. Sedangkan adiknya tetap berdiri. Aku memilih ikut duduk di sebelah wanita itu.
“Alvin gak sengaja kak. Waktu Alvin dapet kabar dari Kakak kalau penyakit jantung Mama kambuh dan harus dirawat di rumah sakit, tanpa pikir panjang Alvin langsung cepet-cepet pergi ke rumah sakit yang kakak kasih tau waktu itu. Alvin gak nyadar kalau Alvin waktu itu ngebut kak,”
“Gimana kamu tau yang nyebabin kecelakaan itu kamu? Belum tentu juga kamu kan?” nada suara wanita itu mulai meninggi lagi. Keningnya pun berkerut, sepertinya dia heran kenapa adiknya bisa menarik kesimpulan kalau dia penyebab kecelakaan yang sedang dibicarakan itu.
“Waktu itu hujan turun dan Alvin ngebut karena panik, mungkin gara-gara jalan licin motor Alvin jatuh kak dan ngehalangin jalan. Pasti spontan kendaraan yang ada di belakang Alvin ngerem mendadak kan? Alvin langsung buru-buru naik lagi ke motor, setelah agak jauh Alvin ngedenger suara yang keras banget, kayak suara benturan kak. Waktu itu Alvin gak nengok ke belakang lagi,” lelaki yang bernama Alvin itu menjelaskan dengan terburu-buru, seakan-seakan yang dijelaskannya itu adalah hal yang sangat tabu.
“Kakak masih gak ngerti, bisa aja kan itu cuma sekedar suara, bukan suara benturan mobil?” Aku tahu wanita itu mulai percaya dengan ucapan adiknya, namun masih berusaha menyangkal.
“Kecelakaan itu terjadi di tempat yang sama dengan tempat aku jatuh kak, dan menurut saksi mata begitulah kejadiannya Kak. Waktu mobil itu ngerem, bannya slip lalu tergelincir, karena benturannya yang sangat keras, pembatas jalan rusak, lalu mobil itu jatuh ke sungai,” Saksi mata? Spontan aku berdiri dari dudukku. Yang dia ceritakan sama persis dengan yang aku katakan kepada polisi dua tahun lalu, ketika hanya aku yang selamat dari kecelakaan itu, tepatnya waktu itu tahun 2016. Aku melihat kalender yang diletakkan di atas meja baca, di sana tercetak angka 2016.

Ya ampun jadi dia penyebabnya… tidak terasa kedua mataku mengucurkan air mata yang sangat deras. Inilah penyebab aku belum mengikhlaskan orangtuaku, aku hanya ingin mendengar kata maaf dari orang yang menyebabkan kecelaan yang dialami aku dan orangtuaku walaupun aku sangat sadar dia tidak sepenuhnya salah, karenanya aku menderita selama dua tahun terakhir ini. ku ingin marah, ingin memaki-maki orang yang bernama Alvin itu, namun semuanya sia-sia, dia tidak akan bisa mendengarku, aku hanya seseorang dari masa depan yang tidak tahu apa-apa. Sekarang aku tahu alasan aku terlempar ke tempat ini. Aku melihat cahaya itu kembali muncul dalam warna yang sama, apakah aku akan mendapat petunjuk bila memasuki cahaya itu lagi? Aku menghapus air mataku. Aku memutuskan untuk mencoba lagi.

Aku kembali terlempar. Tetapi ke tempat yang sepertinya tidak asing bagiku. Oh aku ingat, ini rumah sakit tempat aku dan orangtuaku dilarikan, namun sayang orangtuaku tidak terselamatkan. Sedangkan aku, mungkin karena keajaiban-Nya, hanya mengalami luka-luka dan patah tulang.
Aku mendengar suara seorang perempuan yang terdengar familiar berteriak, oh itu seperti suara Tante Rina. Suara itu datangnya dari sebelah ruang UGD.
Orang-orang sedang menatap Tante Rina yang sedang marah kepada seorang laki-laki yang sedang membelakangiku. Tante Rina memang marah tapi dari wajahnya sangat terlihat bahwa dia sedang menahan kesedihan. Tante Sarah, Kakak tertua ayahku berusaha menenangkan Tante Rina, sama seperti Tante Rina dia terlihat sangat sedih.

“Sudahlah Rin, anak ini tidak bersalah, ini hanya kecelakaan, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah, kita hanya harus bisa bersabar dan ikhlas. Bukan cuma kamu yang merasa sedih, kita semua sedih dan anak ini pun merasa sedih. Kita harus memaafkan dia Rin,” Tante Sarah berkata dengan bijak.
“Walaupun saya tidak sengaja, saya tetap merasa bersalah tante, saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada semua. Saya juga ingin meminta maaf secara khusus kepada keponakan Tante. Saya benar-benar menyesal.” wajah lelaki itu, yang aku tau dia adalah Alvin, terlihat sangatlah tulus, tidak dibuat-buat. Aku sejenak tertegun, terbersit rasa kagum di hatiku, dengan beraninya dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf di hadapan semua orang. Jika kebanyakan orang melarikan diri dari masalah, dia malah tanpa ragu-ragu dan dengan berani mencoba menghadapi masalah yang sedang dialaminya. Aku jadi malu kepada diriku sendiri, diriku sendiri yang membuat aku menderita, bukanlah Alvin atau siapapun, apalagi takdir, sekarang aku akan mencoba mengikhlaskan kepergian orangtuaku, walaupun aku tahu itu berat.

Aku sadar aku telah kembali ke kamar tidurku. Matahari mulai terbit, ditandai dengan ayam yang berkokok nyaring. Perjalanan yang sangat singkat itu telah merubah segalanya.
Portal cahaya itu masih ada di tempat pertama aku melihatnya. Portal itu perlahan-lahan berubah warna menjadi keperakan lalu meledak menyisakan debu berkilauan dan selembar kertas berwarna biru metalik, di atasnya ada tulisan tangan yang rapi, tercatat pengirimnya adalah Alvin.

Teruntuk Sinta
Sebelumnya aku meminta maaf kepadamu atas kesalahanku dua tahun lalu. Aku benar-benar merasa bersalah waktu itu. Kamu tahu sendiri, aku mendatangi keluargamu di rumah sakit. Aku ingin meminta maaf secara langsung kepadamu, namun tantemu melarangku, karena waktu itu kau sedang beristirahat dan juga sangat shock. Aku memutuskan untuk datang keesokan harinya, namun rencana tetaplah rencana, belum tentu bisa direalisasikan. Ibuku di waktu yang sama juga dirawat di rumah sakit, tetapi di rumah sakit yang berbeda dengan tempat kamu dirawat. Waktu itu ibuku membaik dan diperbolehkan untuk pulang oleh dokter, jadi aku memilih mengantarnya pulang. Lalu keesokan harinya aku datang lagi untuk menemuimu, namun sayang kamu sudah pulang dan orangtuamu sudah dikebumikan. Sekali lagi aku minta maaf. Waktu itu aku bingung harus bagaimana? Aku belum meminta maaf padamu. Aku bertanya pada pihak rumah sakit alamat rumahmu, namun mereka tidak memperbolehkan, mungkin memang begitu peraturannya. Aku memutar otak, namun otakku sudah buntu. Saat aku sudah menyerah, terbersit sebuah ide, bagaimana kalau aku membuat alat yang bisa mengirimkanmu ke masa lalu. Dan aku berhasil membuatnya dalam waktu dua tahun. Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak mengirim suratnya saja, tapi juga mengirimkan portal waktu itu kepadamu? Jawabannya aku hanya ingin kau yakin dengan keputusanmu untuk memaafkanku, itu saja. Aku mohon kau bisa memaafkanku. Namun kembali kepadamu, aku tidak bisa memaksakan kehendak.
Alvin

Aku menyimpan surat itu ke laci, lalu ke luar menemui Tante Rina untuk memastikan sesuatu. Ternyata tanteku itu sudah bangun dan sekarang sedang membaca majalah yang baru dibelinya.
“Tante aku boleh bertanya?”
“Eh Sinta kau sudah bangun. Mau nanya apa?”
“Apa orang yang menyebabkan kecelakaan dua tahun lalu sempat meminta maaf,”
Sejenak Tanteku terlihat kaget aku mengungkit-ngungkit kejadian dua tahun lalu. Lalu dia menjawab, “Dia meminta maaf Sinta, namanya Alvin. Dia ingin meminta maaf secara khusus kepadamu. Namun waktu itu kami tidak mengizinkan, karena alasan kesehatanmu. Memangnya kenapa?”
“Ah tidak ada apa-apa tante, hanya ingin tahu,” Sinta tersenyum manis kepada Tantenya.

Matahari bersinar terik. Kulitku bisa-bisa melepuh bila terus berada di bawah sinar matahari siang ini. Hari ini hari pertama aku masuk kuliah, aku memilih jurusan hukum, dari sejak kecil aku bercita-cita menjadi pengacara, sehingga aku memilih jurusan tersebut.

Saat berjalan melewati tangga, aku melihat seseorang yang sangat kuat di ingatanku. Apa aku tidak salah lihat? Apa aku harus menyapanya? Kuputuskan untuk menyapanya. Aku menghampirinya.
“Hei Alvin, apa kau mengenalku?”
Lelaki itu berbalik menghadap ke arahku. Matanya sesaat membulat lalu tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa kau tertawa, apa ada yang lucu?”
“Iya aku kenal kau, kau Sinta kan? Aku tertawa karena akhirnya bisa bertemu denganmu. Kebetulan yang aneh bukan. Emmm… pasti kau sudah memaafkanku karena kau menyapaku,”
“Iya aku sudah memaafkanmu Alvin, karena sebenarnya kau tidak bersalah,”
“Aku tetap bersalah Sinta, sekali lagi maafkan aku,”
“Iya aku memaafkanmu.”

Cerpen Karangan: Hilda Risanthy Febriana
Facebook: Hilda Risanthy Febriana
Lahir pada 2 Februari 2000 dan bersekolah di SMAN 1 CISAAT kabupaten Sukabumi

Cerpen Portal Jawaban merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senandung Seruling

Oleh:
Di Desa Hindun, ada desas-desus menarik yang sedang jadi bahan pembicaraan dari anak-anak sampai orang dewasa. Katanya, di dalam hutan pinggir desa, ada lelembut yang muncul dan meniup seruling

Rahasia Pak Remon

Oleh:
Sebuah kelas yang berisi 38 murid itu kini hening. Murid-muridnya sedang keluar kelas untuk praktek IPA di halaman sekolah yang penuh dengan aneka tumbuh-tumbuhan bermanfaat. Tapi kali ini mereka

Burung Pipit dan Seekor Singa (Part 1)

Oleh:
Sangat sulit menjelaskan mengapa aku sangat mencintainya. Kesempurnaan yang begitu nyata dari segi fisiknya. Namun, pengorbanan yang tak begitu tulus membuatku selalu mengalah. Tapi aku yakin suatu saat nanti

Halusinasi

Oleh:
Sebagian besar orang bilang aku adalah anak yang aneh, Aku duduk di tempat paling belakang karena dipindahin sama wali kelasku. Dulunya duduk agak ke depan atau bisa dibilang tengah-tengah,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *