Pria Misterius

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 3 April 2014

Aku masuk ke dalam bus dan berdiri karena sudah tidak ada tempat yang kosong. Memang,di jam-jam seperti ini bus sedang ramai-ramainya. Aku agak sedikit terlonjak saat bus itu jalan. Hampir saja jatuh ke depan kalau tidak dipegang oleh seorang pria. Masih sedikit bingung aku menatap si pria dan mengucapkan terima kasih. Si pria tidak menjawab dan langsung berjalan menuju bagian depan bus.

Selang beberapa lama, ada beberapa tempat duduk yang sudah kosong, aku pun duduk di salah satu tempat itu. Saat sedang memandang ke kaca bus, ada seorang pria yang duduk di sampingku. Awalnya aku tidak terlalu mempedulikan siapa yang duduk di sampingku, tapi akhirnya aku menoleh dan mendapati pria yang tadi menolongku duduk di sampingku. “Biarkan saja” pikirku.

Bus berhenti di sebuah halte, beberapa penumpang turun. Pria tersebut berdiri dan menarik tanganku. Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangan si pria tapi cengkraman pria tersebut sangat kencang sehingga aku harus mengikutinya turun walaupun tidak mau. Aku mencoba berteriak saat sudah sampai pintu bus, tapi entah mengapa tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Kami berdua turun dan bus itu pergi.

“Lepaskan!” teriakku. Suara ku kembali? Bagaimana bisa? Si pria menggendongku dan membawaku pergi. Pria itu membawaku pergi ke sebuah rumah kecil. Aku dimasukkan ke kamar yang ada di rumah tersebut.
“Siapa namamu?” tanya si pria.
“A-aku—namaku Lily” jawaku terbata-bata.
“Nama yang bagus” sahut pria itu
Si pria pun meninggalkanku dan menutup pintu kamar itu. Terdengar suara “klik” dari pintu itu. Dikunci. Aku harus bagaimana? Kenapa pria itu membawa ku kemari? Sudah jelas kau diculik Lily! suara–suara dalam otakku bersahutan. Aku duduk di sudut kamar itu dan mulai menangis.

Terdengar suara langkah kaki di luar kamar. Aku terlonjak dan langsung bangun. Ternyata tadi aku ketiduran sehabis menangis dan aku sangat pusing sekarang. Aku harus menemukan jalan keluar sekarang, pikirku. Tapi disini tidak ada kaca atau jendela yang biasanya ada di rumah penculik di televisi. Ini bukan film Lily! aku memukul kepalaku sendiri.

Sekarang jam berapa? Sepertinya sudah malam, pasti orangtuaku sangat khawatir. Aku kembali duduk dan mencoba berpikir. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan masuklah pria tadi.
“Pakai ini” ucap si pria sambil memberiku sehelai baju.
“Tidak” jawabku lalu melempar baju itu.
“PAKAI SEKARANG!” bentak pria itu padaku. Pria itu melemparkan baju itu ke wajahku.
Bibirku bergetar, air mataku tumpah membasahi pipiku. Aku sangat takut. Aku mengambil baju itu dari wajahku. Pria itu menatapku lalu pergi lagi.

Pria itu menyuruhku memakai gaun berenda bermotif bunga. Baju terlihat itu lucu kalau saja yang memberikan orangtuaku, tapi terlihat sangat menjijikkan sekarang ini. Akhirnya aku memakainya dengan terpaksa, biar bagaimanapun aku tidak mau pria itu menyakitiku hanya karena aku tidak mau memakai baju ini.

“Klik” terdengar suara pintu dibuka. Pria itu kembali dan membawakan ku makanan. Aku curiga makanan itu sudah diracuni jadi kusingkirkan makanan itu.
“Makanlah. Tidak usah takut, makanan ini tidak mengandung racun” ucap si pria seakan bisa membaca pikiranku.
“Biar bagaimanpun aku tidak bisa membiarkan mu mati. Kau sangat berharga bagiku ” sambung pria itu lagi.

Dia meninggalkan ku lagi. Aku memakan makanan itu karena dari tadi siang belum makan. Aku tidak mau mati karena kelaparan. Tiba-tiba aku terpikir oleh kata-kata pria tadi, apa maksudnya aku sangat berharga baginya? Pasti karena dia kan segera meminta uang tebusan dari orangtua ku, pikirku.

Setelah selesai makan, aku menyusuri kamar ini untuk mencari jalan keluar atau benda apa saja yang bisa menghancurkan pintu itu. Di sini ada banyak barang rongsokan yang tidak terpakai tapi tidak ada yang bisa kupakai untuk menghancurkan sebuah pintu. Aku terus memutar otakku tapi terlambat pria itu kembali masuk ke kamar ini. Dia menarikku keluar dan memasukkanku ke dalam sebuah mobil mewah. Pria itu duduk di depan dan mulai menyetir.

Kulihat pria tersebut memakai pakaian resmi dan rapi, tidak seperti tadi siang. Aku tidak menyangka dia punya mobil mewah padahal rumahnya kecil. Saat di perjalanan aku terus memikirkan bagaimana caranya lepas dari pria ini. Aku pun menerka-nerka mau kemana kita sebenarnya. Pestakah? Tidak mungkin. Atau.. pertemuan resmi mungkin?

Pertanyaanku terjawab sudah. Aku dibawa ke sebuah gedung tua yang kelihatan bobrok. Aku digandeng oleh pria itu layaknya seorang anak dan bapak. Setelah sampai di dalam dia membawa ku ke sebuah kamar dan ternyata disitu ada banyak anak perempuan yang seumuranku sedang dirias. Mereka semua terlihat cantik tapi wajah mereka menunjukkan kesedihan. Aku pun juga dirias oleh seorang wanita. “Tampillah dengan baik. Jangan mengecewakanku” kata pria itu sambil berlalu pergi.

Setelah selesai dirias aku ditinggal oleh wanita itu. Aku ajak bicara seorang anak di sebelahku.
“Hai. Hmm, kalau boleh tau kita di sini mau apa ya?” tanyaku gugup.
“A-aku juga tidak tahu” kata anak itu sendu.

Kami dipanggil satu-persatu dan akhirnya tibalah namaku dipanggil. Aku naik ke atas sebuah mimbar dan tirai pun dibuka. Terlihat di depanku ada banyak pria dan wanita berpakaian mewah. Mereka semua bertepuk tangan. Aku bingung. Lalu aku melihat pria tadi naik ke atas mimbar.

“Ini dia persembahan malam ini!” ucap pria itu dengan suara lantang diikuti suara riuh tepuk tangan lagi.
“Harga dibuka mulai 50 juta rupiah” sambung pria itu.
Aku sangat terkejut. Jadi ini tempat penjualan anak?! Aku dilelang? Kaki ku bergetar dan aku mulai menangis. Aku menangis di depan calon pembeli ku! Tidak terpikirkan olehku bahwa aku akan dilelang. “Menangislah terus, itu akan mempengaruhi hargamu, Nak” ucap pria itu.
Aku ingin berhenti menangis tapi aku tidak bisa. Yang bisa kuperbuat hanya menangis tapi aku tidak mau mereka membeliku.

“60 juta”
“77 juta”
“100 juta”
Semua suara bersahut-sahutan di ruangan ini. Aku pusing, sangat pusing hingga aku jatuh terduduk. “Ya! Sudah tidak ada yang mau menawar lagi?” tanya si pria. Para pembeli menggelengkan kepala dan bergumam “Tidak”.
“Harga sudah ditetapkan. Anak ini terbeli seharga 180 juta oleh Bapak Alfian” kata si pria.

Aku pun diberikan kepada bapak Alfian itu. Aku duduk di sebelah bapak Afian. Kudengar bapak Alfian bergumam “Aku dapat seorang anak cantik malam ini”. Hah! Aku sudah muak dengan semua ini, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa!
Saat tirai terbuka lagi dan menampilkan seorang anak yang lebih muda dariku, samar-samar aku mendengar suara ambulans. Tapi makin lama makin dekat dan ternyata itu dengungan alarm mobil polisi. Mereka semua panik, berlarian ke sana kemari. Tapi ternyata polisi sudah mengepung gedung ini.

Satu persatu polisi memasuki gedung ini. “Diam di tempat! Angkat tangan kalian!” teriak salah seorang polisi. Semua menunduk dan mengangkat tangan. Aku lega dan berlari menuju si polisi. Tiba-tiba terdengar suara tembakan menggelegar. Pria yang tadi membeli ku menembak polisi di depanku. Polisi itu terjatuh tapi tidak mati. Tidak lama kemudian terdengar suara tembakan bertubi-tubi dilancarkan. Kulihat pria yang tadi menembak polisi itu sudah mati.

Aku pun dibawa masuk ke salah satu mobil polisi dan di dalam sana ada juga anak yang tadi aku bicarakan. “Aku yang menghubungi polisi” kata anak itu. Aku terkejut sekaligus senang karena anak itu menghubungi polisi.
“Terima kasih. Kau menyelamatkan ku dan anak-anak yang lain” ucapku pada anak itu. Lalu, aku pun memeluk erat anak itu sambil berlalunya mobil ini.

Cerpen Karangan: Masrikah
Facebook: https://www.facebook.com/rika.k.wardhani

Cerpen Pria Misterius merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjanjian Maut (Part 2)

Oleh:
Cerpen ini lanjutan cerita dari “The Train”, dan “Deja Vu” dan Perjanjian Maut Part 1 “Aku tidak mau!” kataku ketus menolak permohonan Ainara. “Alfi, tolonglah. Hanya kamu harapan negeri

Teror Demi Cinta

Oleh:
Bermula saat Angel mendapat pesan singkat dari seseorang. Nomor baru yang tak ia kenali itu seolah telah kenal akrab dengannya. Namun Angel sama sekali tak mengenalinya. Hai Angel.. Ini

Mrs. Aditya

Oleh:
15 April 2017 06.00 WIB Pagi yang cerah, tetapi sedikit menyebalkan. Bagaimana tidak? Lihatlah, pagi-pagi buta seperti ini, ketika aku masih kusut, kucel, dan ditambah rambut mengembang seperti balon,

Hanya Cerita Sesaat (Part 1)

Oleh:
Mentari pagi yang hangat begitu menyilaukan pandangan ini. Jendela kamar yang sengaja kubuka, tampak memantulkan sinar dan menerangi kamarku yang masih berantakan. Kulihat ke arah jam dinding, sudah menunjukkan

Tina dan Putri Jingga

Oleh:
Di sebuah negeri camelia hiduplah sebuah keluarga pegantar roti untuk raja, namun bu Rika yang biasa mengantar roti itu sakit, dan sebagai gantinya Tina anaknyalah yang mengantarkan roti itu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *