Proklamator

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 11 October 2015

Pulau Buru. Tempat penuh dengan aura kejahatan dan kekejaman, tempat di mana ratusan wajah-wajah kotor tahanan politik atau pembunuhan. Tempat di mana setiap detik terhembus napas terakhir sisa kehidupan manusia. Di setiap sudut pulau dan jeruji besi bertandang tubuh-tubuh terkulai layu tak bernyawa. Potongan-potongan jiwa yang tinggal menunggu malaikat pencabut nyawa. Penjara Pulau Buru itulah orang-orang menyebutnya.

Kapten Tandean selalu duduk di tempatnya di meja persegi di ujung lorong penjara: dekat pintu menghadap tepat di depan alat-alat penyiksaan yang masih tercium bau amis dan beberapa tetes darah yang masih lekat. Tubuhnya besar, tegap, dan berbulu menandakan dia seorang penjaga penjara yang perkasa yang sudah biasa melihat kematian para tahanan. Mulutnya selalu menyembulkan asap bulat dari sisa menghisap tembakau. Meninggalkan bau yang menyengat di kumisnya. Kakinya yang berbulu lebat selalu bersilang di atas meja. Itulah mengapa dia menjadi seorang yang selalu ditakuti sebagian orang di sana. Kecuali laki-laki tua di balik jeruji besi paling ujung penjara.

“Dasar Raksasa Berbulu jahanam.” Teriak laki-laki tua di ujung lorong dari balik jeruji besi berkarat. Ditambah satu kali meludah seperti nada mengejek.
Mendengar itu Kapten Tandean geram menghampiri sel laki-laki paling tua itu.
“Berani sekali kau Kakek tua memanggilku dengan sebutan itu. Ingin lehermu patah? Atau lidahmu terpotong hingga tak bisa bicara lagi? Atau langsung ingin menuju neraka?”
“Siapa yang memanggilmu?” laki-laki tua itu tetap menunduk.

Rambutnya panjang kotor tak tertata menutupi wajahnya dan kegelapan seakan berpihak padanya. Kapten Tandean tertawa dan merasa itu sudah cukup membuat laki-laki tua itu jera dengan kalimat-kalimat buaian penyiksaan. Sebelum Tandean melangkah pergi. Terdengar cekikikan dari balik jeruji besi milik laki-laki tua itu. Lalu tak beberapa saat itu tertawa terbahak-bahak dalam kegelapan selnya.

Para tahanan yang lain terdiam di balik sudut sel masing-masing ketakutan melihat wajah Kapten Tandean begitu garang.
“Kurang ajar!” gertak Kapten berkumis itu geram dan kumisnya bergerak-gerak mengikuti napas cepat kemarahan. “Penjahat kelas teri sepertimu berani sekali melawan seorang seperti aku. Kapte-”
“Kapten Tolong? Hanya seperti bidak catur yang mengikuti raja musuh dalam berperang? tanpa memperhatikan langkah kuda hitam dan melaksanakan perintah tanpa tahu duduk perkara?” Laki-laki tua itu memperlihatkan giginya yang putih kekuningan dalam senyumnya yang disembunyikan rambut dan kegelapan selnya.
“Bangs*t!!” Teriak Kapten Tandean meletupkan rasa amarah yang mencuat-cuat.

Suasana panas hati Kapten Tandean menggebu. Kumisnya terasa panas terbakar. Giginya hitam bergemeretak berbunyi seperti para tahanan memukul batu dengan palu. Emosinya memuncak. Matanya merah nyarak. Tangannya menggumpal. Terlintas pekerjaan sebagai seorang sipir penjara yang dibelinya dengan harga mahal ini akan lenyap hanya jika membunuh seorang tawanan tanpa perintah. Kapten Tandean pergi dengan rasa geram yang memenuhi batok kepalanya hingga ke hati.

Pria paruh baya muda Nasution namanya. Sudah lima bulan terkunci di tempat kotor dipenuhi kotoran tikus di balik jeruji besi. Perlakuan orang-orang yang melancarkan kudeta di negara ini membawanya ke sini di Pulau Buru. Masih untung ia masih hidup tetapi sayang rekan-rekannya menjadi korban kejahatan genosida para pengkudeta. Meninggalkan trauma yang mendalam di dalam dirinya. Yang juga meninggalkan garis lurus berkelok di bawah dagu bekas sayatan belati penyiksaan. Tetapi Pria muda nasution itu terkagum-kagum kepada laki-laki tua di seberang selnya yang berani memaki sipir penjara yang ditakuti banyak tahanan.

Nasution menyunggingkan mulutnya ke luar dari balik dua buah besi yang bulat berkarat yang menjulang dari lantai ke atas berbentuk pergesi empat.
“Tuan-tuan.” Panggilnya kepada laki-laki tua yang duduk di dalam kegelapan selnya dengan bersila. “Bagaimana tuan begitu berani memaki raksasa berbulu tadi?”
Laki-laki tua itu mejawab di dalam diam tubuhnya. “Dengarkan ceritaku anak muda.”
Laki-laki tua menegapkan tubuhnya. Namun rambutnya tetap menutupi wajahnya. Hingga akhirnya memulai ceritanya.

“Baru-baru ini negara kita merdeka. Bendera kebangsaan berkibar di seluruh negeri walaupun terbagi-bagi tetapi disatukan gugusan pulau-pulau yang berbaris rapi dari Sabang hingga Merauke. Lima benua sudah tahu tentang negara kita merdeka dan akan segera mengelola kehidupan manusia dan sumber daya di tanah sendiri. Tanpa bentuk jajahan apapun atau pemberontakan apapun.”
“Siapa tuan? Siapa yang membuat itu mampu terlaksana?”
“Semua orang di negara ini pasti tahu. Semua orang telah mendengar suaranya laki-laki itu yang pernah berdiri tegap di atas mimbar dan berbicara kita telah menang. Kita telah bebas.
Dan mengatas namakan negara ini di balik ucapan bijaknya. Hal itu juga disiarkan di radio Mesir, India dan akhirnya Jepang mengetahuinya.”

“Saya melihatnya tuan, melihat laki-laki yang tuan maksud. Dengan dua buah bola mata ini tuan saya melihat lekukan wajahnya, goresan pelipisnya dan guratan dahinya. Saya pernah melihatnya tuan. Sang Proklamator.”
Nasution muda penasaran tentang informasi yang diberi laki-laki tua itu. “Dari mana tuan tahu hal itu?”
“Dengar anak muda, Laki-laki tua itu tersesat, tak tahu di mana dirinya berada, tak tahu dengan kehidupan negaranya, tak tahu bagaimana nasib pemerintahannya di bawah pimpinan para serigala munafik yang menghiraukan orang-orang proletar. Barang kali ia sedang memendam sakit hati yang mendalam anak muda.”
“Apakah tuan tahu sekarang di mana Sang Proklamator itu tuan?”

Tak sampai beberapa detik Kapten Tandean berkumis datang dengan wajah bahagia dengan memegang sepucuk surat dari Jendral tertinggi pengkudeta yang orang-orang menyebutnya dengan inisal ‘SH’.
“Lihatlah ini laki-laki tua. Ini surat pengeksekusianmu. Wajahmu yang tertutupi rambut itu akan beku ditelan bumi dan penjagal akan mengantarkan jiwamu menuju neraka.”
Tanpa menghiraukan ocehan Kapten berkumis itu. Laki-laki tua meneruskan. “Benarkah kamu ingin tahu di mana dia sekarang anak muda?”
“Benarkah tuan tahu di mana dia? Sang Proklamator yang agung itu?” kata Nasution muda yang langsung dipotong oleh Kapten berkumis.
“Darahmu akan menggenang di luar sana dan diminum oleh cacing-cacing tanah yang kehausan dan meninggalkan tubuh tuamu yang sebentar lagi tak bernyawa. Dan Kau laki-laki tua.” Kapten menunjuk laki-laki tua itu. “Tak mungkin lagi berbicara tentang siapa? Sang Proklamator yang barang kali sudah mati?”

“Tuan katakan di mana Sang Proklamator itu dan Kapan dia muncul lagi sebagai pahlawan.” Nasution muda semakin histeris.
“Kurang ajar. Dengarkan aku–” Kapten tandean memotong.
Laki-laki tua itu berdiri dari bersilanya. Laki-laki tua itu berkata dalam kegelapan.
“Dia tidak mungkin kembali lagi anak muda dan sebentar lagi dia akan mati anak muda.”

Laki-laki tua itu mengangkat tangannya ke atas tepat di depan wajahnya namun di belakang rambutnya.
“Benarkah kau benar-benar ingin mengetahuinya anak muda?” Rambut yang menutupi wajahnya dibalikkannya ke belakang dengan punggung tangan.
Kapten Tandean pucat pasi. Rok*knya terlepas dari giginya mengikuti pula sepucuk suratnya terjatuh ke lantai dan tinta suranya terhapus oleh genangan air di lantai. Kapten Tandean berucap gugup.

“Be… Benarkah itu?”

Nasution muda berdiri tegap. Menatap laki-laki tua di seberang selnya dengan mantap.
“Saya tahu laki-laki tua itu Sang Proklamator.”

Cerpen Karangan: Tahta Kurniawan
Facebook: Tahta Kurniawan
Nama pena saya T.K Awan

Cerpen Proklamator merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Di Bawah Tanda (Part 3)

Oleh:
Hujan masih turun sama seperti tadi, tidak ada tanda-tanda mau berhenti Bumbu yang dibuat ardi telah siap dan dani kini sedang mengoleskan bumbu itu ke badan burung yang ia

The Future

Oleh:
“Apa yang kau lakukan?” teriak seorang laki-laki. “Aku?” jawab laki-laki satunya. “Aku hanya mengambil apa yang aku ingin lakukan?” Sinis laki-laki tersebut. “Sebaiknya kau kembalikan! Kalau tidak…” sahut Suna.

Butir Butir Memori yang Terlupakan

Oleh:
Namaku Elis. Setidaknya, itulah yang ku ingat. Sejak kejadian itu, aku tak mampu mengingat apa pun kecuali namaku. Aku bahkan tak tahu dari mana aku berasal, siapa orangtuaku, dan

Hilangnya Preska

Oleh:
Saat baris berbaris tengah dilangsungkan Preska terus saja mengeluh mengenai kakinya. Dia bilang dia tidak bisa lagi melanjutkan baris berbaris karena kakinya sakit. Namun semua temannya tidak ada yang

Rahasia Toca

Oleh:
‘1… 2…” Tesya tiba-tiba berhenti menghitung jumlah gambar domba yang tertempel di dinding kamarnya. Dia selalu melakukan hal ini sebelum tidur. Namun sepertinya malam ini tidak seperti biasanya. “apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *