Proyek Kami

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 October 2021

Tim penyelidikan menemukan berbagai bahan kimia terletak di laci meja laboratorium milik kakak. Katanya, bahan kimia itu untuk bahan utama pembuatan obat-obatan. Namun, penggunaannya sudah melebihi dosis yang disarankan, Apalagi bahan kimia yang dipakai kakak tidak diketahui zat nya. Maka dari itu, kakak pun dipenjara selama hidupnya, di dalam penjara kota Fyth.

Sementara itu, di depan rumah telah ramai dikunjungi oleh para wartawan. Mereka ingin mengungkapkan kasus yang terjadi tadi siang. Beberapa polisi sudah menghambat para wartawan untuk memasuki lebih dalam ke rumahku, sedangkan kami, sedang berdiskusi dengan keluarga besar.

“Apa Tyoora baik-baik saja disana? Dengan hartaku, aku bisa membebaskannya dari sana.” Ucap paman.
Kami terdiam sejenak. Aku tahu paman adalah salah satu orang terkaya di dunia. Namun ayah dan ibu merasa membuatnya repot karena putrinya yang telah tertangkap.
“Terima kasih banyak atas bantuannya kak, namun kami merasa Tyoora tidak perlu untuk dibebaskan,” Ucap ibu
“Tyoora telah mengerti risiko yang akan ia tanggung sejak dulu.” Lanjut ayah.
Semua pun mengangguk-angguk mendengarkan pernyataan mereka berdua. Nenek pun memberi aba-aba untuk segera meninggalkan pertemuan singkat ini. Semuanya Kembali ke kamar masing-masing, sedangkan aku berjalan menuju balkoni di lantai 4.
Disana, aku memandangi bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Semoga saja, kakak tidak menyesali perbuatannya. Aku pasti melanjutkan proyek kakak di suatu hari nanti.

“Apa kau sudah menyerahkan uangnya Kez?” Tanya Flora.
Aku mengangguk. Kami tidak ingin pemerintah ikut campur pandemi ini. Alhasil, aku pun menyogok mereka dengan uang tunai yang memiliki jumlah yang sangat besar, cukup untuk melunaskan hutang-hutang negara. Biarkan saja mereka yang menderita sendiri, tapi kan penawarnya ada di tanganku, bagaimana bisa orang-orang itu akan menyembuhkan penyakitnya sendiri?

Aku melihat Flora sedang mengutak-atik ponselnya, beberapa menit yang lalu aku menyuruhnya untuk memanggil helikopter jemputan. Kita akan menghidari Epidemi ini untuk sementara, dan menetap di wilayah yang terpencil, supaya mereka tidak akan menularkan penyakitnya kepada kami. Kami akan membawa beberapa anak buah sebagai uji coba kami di proyek selanjutnya, siapa tahu bisa memperparah keadaan disini.

2 tahun yang lalu, aku bertemu Flora di salah satu taman. Saat itu, aku sedang memikirkan cara untuk menyempurnakan proyekku, namun masih saja tidak ada ide lain yang membantuku. Alhasil, aku mencoba untuk menenangkan pikiranku di sana. Kami pun saling menatap di depan stan yang menjual minuman bersoda. Aku tak menyangka ia juga memiliki tujuan yang hampir sama denganku. Ia pun mengenalkan hasil proyeknya, namun ia tidak tahu hal itu berfungsi untuk apa. Maka dari itu, aku mengusulkannya untuk menggabungkannya dengan proyek milikku. Siapa tahu, hal ini dapat menyempurnakan proyek buatanku.
Dan, epidemi inilah hasil yang kita peroleh setelah bekerja sama. Kita masih belum puas, karena ada satu hal yang masih kurang. Entah hal apa itu, semoga saja aku dan Flora dapat menemukan kekurangan itu.

Helikopter jemputan kami telah tiba. Hembusan angin yang dihasilkan dari baling-baling helikopter tersebut sepertinya menarik orang-orang di sekitar. Alhasil, beberapa dari mereka pun memanggil polisi untuk mengecek apa yang sedang terjadi. Untuk apa memanggil polisi? Padahal kan kami mau lepas landas. Kalau saja mereka memanggil polisi sejak tadi, pasti kami kesusahan.

Tiba-tiba suara sirine mobil polisi terdengar.
Wah, tidak kusangka. Polisi bisa secepat ini setelah dipanggil oleh mereka.
“Tunggu, Kalian siapa! Berani-beraninya memakai helikopter disini tanpa izin!” Ucap salah satu polisi itu.
Kami yang telah menaiki helikopter jemputan kami hanya bisa tertawa. Helikopter kami akan segera lepas landas. Aku melihat Flora sedang menggeledah tas hitam miliknya, mungkin ia ingin polisi-polisi itu segera menyingkir dari pandangannya.
“Terimalah bom asapku kawan!” Teriak Flora.
Cshhh..
Seketika asap beracun menghalangi pandangan mereka. Tidak hanya itu, polisi-polisi tersebut Terlihat sesak napas karena menghirup asap beracun yang seharusnya dilarang untuk dihirup. Memang polisi-polisi yang bodoh. Supir kami pun memerintahkan helikopter nya untuk lepas landas. Kami meninggalkan polisi-polisi itu di bawah sambil melihat mereka sekarat.

Saat aku masih berumur 15 tahun dulu, aku tak sengaja membaca buku harian milik kakak. Bahan kimia yang ia gunakan untuk membuat sebuah proyek yang mengakibatkan sebuah pandemi. Yaah, mungkin seperti wabah yang menular. Ia mencoba menciptakan suatu hal yang dapat dijadikan sebagai penyakit agar hasil proyek yang ia inginkan segera selesai.
Sayangnya, proyeknya terhambat ketika ia ditangkap oleh sekumpulan polisi. Aku tahu kakak sangat menyayangkan proyeknya yang hampir sempurna itu. Maka dari itu, aku lah yang menggantikan kakak untuk melanjutkan proyek ini. Berkat bantuan Flora, kami pun berhasil membuat sebuah epidemi di provinsi Yudha tenggara. Kami hanya perlu menunggu agar epidemi ini menyebar ke seluruh dunia dan menjadikannya sebagai pandemi.

Untung saja aku sempat mencuri zat ‘asing’ yang ada di laci meja kakak, sebelum diperiksa oleh polisi. Jika tidak, bagaimana mungkin impian kakak akan selesai tanpa diriku dan Flora?

Cerpen Karangan: Puruhitatapin

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Proyek Kami merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengganti Ruangan Ke 3

Oleh:
16-4-2024, Natuna “Front Armada-1” Kepada keluarga yang tercinta. XXX-XXX Allhamdullilah tidak terasa sudah 1 tahun lamanya kakak di garis depan, bagaimana kabar keluarga dan adik juga pastinya? Semoga baik-baik

Putri Malam

Oleh:
Bintang. Benda bercahaya yang muncul tiap malam. Jumlahnya banyak. Sangat banyak, juga banyak penyuka. Termasuk aku dan Tira, sahabatku. Entah, sejak kepergian seseorang yang aku sayangi, aku menyukai bintang.

Aku

Oleh:
Aku adalah orang bodoh. Bagaimana tidak bodoh jika Aku itu tidak pernah menyiram bekas buang airnya sendiri. Aku adalah orang yang bodoh. Bagaimana tidak bodoh, Aku bahkan selalu tertawa

Only Dream

Oleh:
Ditengah hujan yang sangat deras ada 2 orang perempuan dan laki-laki yang berumur sekitar 12 tahunan sedang berlari-larian menembus derasnya air hujan di taman kota. Memang sudah menjadi kebiasaan

Perangkap

Oleh:
Aku tidak tahu apa yang kutulis tapi aku merasakan ada sesuatu di hatiku, berkecamuk, meluap luap hingga ke luar batas kemampuanku menahan diri. Jemariku begitu saja bergerak menekan tuts

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *