Psikopat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 16 August 2016

Pada malam hari di sebuah kosan sederhana, Lica dengan memiringkan kepalanya dan tersenyum sinis memandangi 4 foto yakni foto Dave dan Pita sepasang kekasih target utama yang akan diajaknya untuk bermain, Yana mantannya yang akan ia siksa terlebih dahulu. Di lubuk hatinya tersimpan dendam yang membabi buta, sehingga begitu kejamkah perlakuan Lica seorang gadis pendiam dan menjadi incaran para lelaki karena kepolosannya.

Lica gadis yang memiliki dua kepribadian, pendiam dan sadis, dia memiliki rencana yang ia tak sabar untuk memulai aksinya itu.

“Tok, tok, tok” Suara ketukan pintu membuyarkan fikirannya, dia menyembunyikan foto tersebut di kolong tenpat tidurnya.

Lalu membuka perlahan dengan wajah ketakutan “Lica sudah makan belum?” Tanya kakek paruh baya penjaga kos yang begitu kasian kepada nasibnya.

“Be…belum bapa” Ucapnya terbata-bata.

“Jangan difikirkan sayang, bapa gak mau kamu sakit lagi” Jelas Pa Mun lelaki yang super ngerti kondisi dan perasaan Lica, ia sudah Lica anggap seperti ayah kandudungnya.

Lica hanya mengangguk, dengan lahap ia memakan Ayam tanpa nasi, mungkin orang lain aneh dan heran melihatnya seperti ini, Lica memakan daging ayam mentah dan menjilat darah segar itu.

Lica berangkat kerja di sebuah distro baju hal yang membosankan ketika ia harus bertemu dengan Dave dan Pita mereka customer yang sempat menghinanya ketika Lica salah memberi harga sepatu high heels. “Dasar bodoh, kamu hanya pantas di dapur kamu gak pantes berkeliaran di distro ini” sebuah makian yang terus terngiang di teliganya.
“Sudah sayang, tidak ada gunanya berbicara dengan kasir polos sepertinya. Ucapan lelaki itu membuat Lica naik darah seolah mendukung niatnya untuk bermain dengannya.

Tak lama Lica memikirkan rencanaku, mereka datang lagi. Hufft *bng*t* makinya dalam hati.

“Silahkan kaka, ada sepatu model barunya, boleh dilihat dulu” Jelasnya terpaksa menawarkan barang baru kepada mereka lagi, ia lelah rasanya harus berpura-pura manis di depan customer yang menghinanya.
“Tidak, tidak, aku hanya ingin meminta maaf kepadamu, ka” Jelasnya.
“Kenalkan aku Pita dan ini Dave pacarku” Jelasnya lagi.

“Aku Lica, ya tak apa-apa” Ucapnya tersenyum. Awas saja aku tidak akan mengampunimu. Ucapnya dalam hati.

“Ini kartu nama aku, kamu bisa kapan saja datang ke rumah aku, Lica” Jelasnya lalu pergi berlalu seraya berkata “Aku tunggu lho” sembari tersenyum dan mengedipkan mata.

“Rupanya kamu gak sabar ya untukku ajak bermain” Jawabnya dengan nada tinggi.

“Siapa lagi korbanmu De?” Tanya senior sekaligus sahabatnya semasa SD.

“Customer” Jawabnya singkat.

Mata Rey terbelalak tekejut mendengar pengakuannya.

“Astaga, dasar psiko… Emmm tidak” Jelasnya ketakutan.

“Hahaha Tenang saja aku tak akan marah apapun yang kamu bicarakan selagi kamu tidak membuatku ingin mengajakmu bermain” Jelasnya.

“Ampun Lica” Ucapnya sembari menggenggam kedua tangannya.

“Jangan drama kau aku muak!” Ucap Lica kepada Rey.

“Kamu kan udah aku anggep kayak ade sendiri masa kamu mau ngebunuh abangmu dek?” Tanyanya membuatnya menahan tawa.

“Kaka, lihat mataku, aku gak pernah benci sama kaka, aku selalu butuh orang yang mengertiku saat ini, dan itu hanya kau” Jelas Lica.

“Aku sayang sama kamu De meski dengan keadaanmu seperti ini” Pernyataannya kepadaku berhasil membuat Lica meneteskan air mata.

“Aku lelah seperti ini, aku hanya ingin mereka merasakan sakitnya aku seperti apa” Jelas Lica.

“Aku mengerti, tapi gadis cantik sepertimu apakah pantas?” Tanyanya.

Lica hanya menundukan kepala, menyadari semua perlakuannya, tetapi ia tak bisa menghentikan ini semua, dendam itu terlanjur mengalir di darahnya.

Pagi hari ini Lica off day, Lica memutuskan untuk mencari alamat rumah Pita yang tertera di kartu namanya.
Jl. Anggrek No. 2 Lica tersenyum sinis dan dengan cepat membuka gerbang dan mengetuk pintu.

Dibukakan pintu dan Lica melihat Pita gadis cantik berambut pirang mempersilahkan Lica untuk masuk.

“Aku senang, kamu datang kesini” Ucap Pita.

“Aku juga, aku tidak sabar ingin main bersama kamu” Jelasnya, keceplosan.

“Main?” Tanyanya

“Main PS maksudku” Ucap Lica mencari alasan.

Pita bercerita kepada Lica tentang hidupnya yang kesepian, bagaimana tidak? Pita tinggal di rumah seluas ini tetapi hanya ia seorang diri karena ibunya sudah meninggal dan ayahnya pergi ke luar kota tuntutan pekerjaan. Lica mengangguk membuat ini membosankan baginya.

Pita meminta Lica untuk menginap dirumahnya karena saat itu hujan deras di malam hari. Lica hanya mengangguk.

Malam hari lampu tiba-tiba padam ketika Pita tertidur pulas, saat itu Lica sedang menggenggam pisau yang akan ia tancapkan ke perut Pita, tepat di hadapan tubuh pita yang berbaring di tempat tidurnyan Lica menancapkan pisau itu ke perut Pita. Lalu ia membawa senter dan pergi dari rumah itu.

Siang hari Lica dengan sepeda bututnya pergi berangkat bekerja, atas kecerobohannya ia menabrak batu dan terjatuh dari sepeda. Beruntung ketika Dave yang tiba-tiba datang dan menolongnya ia membonceng dan membawa Lica kekosannya.

“Biar kuobati Lica, tahan ya” Ucapnya yang tak tega melihat Lica menangis kesakitan ketika kakinya terus meneteskan darah.

“Makasih Dave” Ucap Lica.

Terkadang Lica luluh terhadap perlakuan musuhnya, dan tumbuh benih-benih cinta seolah ia tidak bisa membunuhnya.

“Aku tak menyangka Pita pergi secepat itu” Jelasnya membuat Lica tersenyum karena mengetahui kabar Pita telah mati di genggamannya.

“Sudah, ini takdir” Ucap Lica yang melihat Dave menangis dan masih menunduk.

“Bakal gak ada yang ngertiin aku” Ucap Dave.

“Ada aku Dav” Ucap Lica.

Dave menatap bola mata Lica seolah ada setitik harapan.

2 bulan lamanya Lica pergi dari kehidupan Rey karena ia merasa ia tak membutuhkan Rey lagi. Lica hanya menghabiskan waktu bersama Dave yang kini menjadi kekasihnya.

Di sebuah taman Lica bertemu kembali dengan Yana mantanya. Ia segera menjalankan aksinya, bagaimana tidak? Yana adalah pembunuh adik tercintanya ia tidak bisa menerima entah atas dasar apa Yana membunuh Duwi adik Lica yang masih berumur 7 tahun, dari samping ia melihatnya lalu menusuk Yana dengan pisaunya itu. Sungguh lihai sekali Lica ia sangat puas karena dendamnya tersampaikan.

Dave yang melihat dengan kedua matanya itu ia terkejut dan kecewa karena ia tak menyangka wanita yang sangat ia cintai adalah seorang pembunuh.

“Jadi kamu yang membunuh Pita?” Tanyanya.
“Maafkan aku, sayang” Ucap Lica.
“Kita putus, jangan ganggu aku, aku benci kamu Lica!” Maki Dave lalu pergi berlalu.

Hujan terus mengguyur tubuh mungil Lica ia kecewa dan sedih bercampur rasa sesal karena ia kehilangan Dave.

“Ayo kita pulang” Ucap seorang lelaki yang tak asing, Rey. Ia menuntunku pulang.

Aku hanya mematung memandangi jalan yang sepi.

Cerpen Karangan: Dita Annisa Wijaya
Facebook: Dita Annisa Wijaya
Hobi menulis cerpen dan novel horor.

Cerpen Psikopat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Waktumu Waktuku (Part 1)

Oleh:
Kriing… Bunyi alarm membangunkanku, di pagi yang kotor ini…, lagi…, dunia sudah berubah tak ada lagi kenyamanan tinggal di negara ini, negara indonesia…, bayangkan saja untuk pergi ke sekolah

Insan dan Waktu

Oleh:
Alkisah, di suatu Lautan Kehidupan berjajarlah beberapa pulau. Pulau-pulau itu bernama Pulau Masa Lalu, Pulau Mimpi, dan Pulau Masa Depan. Ketiga pulau tersebut saling terpisah, namun berdampingan. Suatu hari

Teror Terencana

Oleh:
Di sebuah kota di Amerika Serikat terjadi sebuah teror. Anak-anak nakal di kota itu tiba-tiba menghilang. Salah satu dari anak yang hilang itu adalah Alex. Alex adalah pemimpin dari

Melatonin

Oleh:
Aku terbangun. Di tengah heningnya malam, tanpa tahu apa yang akan kulakukan sampai melihat matahari terbit. Jadi aku melangkah ke meja laptop, membukanya, dan melanjutkan menulis. Dinginnya subuh membuatku

Tanduk Rusa Jantan

Oleh:
Entah aku sedang berada di mana. Yang ku lihat hanyalah ilalang setinggi pinggangku dan beberapa pohon raksasa di ujung utara. Aku berjalan sendirian dengan mengenakan baju terusan selutut berwarna

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Psikopat”

  1. bella says:

    baper :”(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *