Purnama Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Pengorbanan, Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 3 August 2018

Lapta, sebuah nama untuk menyebut sebuah pulau buatan. Hanya pulau kecil seluas 610,3 km2 dengan populasi penduduk dua juta jiwa. Sebuah pulau yang berdampingan dengan mitos para manusia di luar pulau kami. Mitos yang melegenda bagi penduduk di luar kami. Mereka tidak tahu kebenarannya, percayalah itu bukan sekedar mitos, melainkan hal yang benar terjadi.

200 tahun yang lalu, manusia dengan witch hidup berdampingan, ya para penyihir. Tidak ada tingkatan kasta di antara kami. Para penyihir melindungi pulau ini, pun sama manusia melindungi para penyihir dengan cara mereka sendiri, menyembunyikan status mereka dari penduduk pulau lain. Penduduk Pulau Lapta menunjuk sebuah keluarga penyihir sebagai pimpinan mereka. Keluarga bangsawan penyihir yang sangat dihormati semua orang saat itu. Penghuni pulau ini hidup begitu harmonis dan selaras sebelum kepemimpinan Lahana, yang tak lain anak laki-laki dari pemimpin terdahulu.

Lahana mengorbankan jiwa seorang anak kaum manusia, hanya untuk menyempurnakan salah satu mantra kaum penyihir. Entah apa yang ada dipikiran Lahana saat itu. Kaum manusia menganggap semua itu sebagai pengkhianatan dari kaum penyihir, meskipun alasan yang dia gunakan untuk penguat mantra pelindung Pulau Lapta. Tepat pada saat bulan menggantung dengan lingkaran penuh di langit malam, para penyihir akan melakukan pengorbanan tiga anak manusia terpilih. Penduduk Pulau Lapta menyebutnya sebagai bulan purnama merah.

Entah berapa ratus orangtua yang harus mengikhlaskan kehilangan jiwa anak mereka. Namun, keadaan tetap sama tidak ada yang berubah dari Pulau Lapta. Populasi manusia di Pulau Lapta semakin berkurang. Manusia dan para penyihir tidak lagi hidup berdampingan. Para kaum manusia membuat pimpinan mereka sendiri. Seorang perempuan yang menikah dengan pria penyihir harus berpisah, pun sebaliknya. Kaum manusia membuat sebuah benteng pembatas di kaki Gunung Mogglo, yang menjadikan wilayah kaum masing-masing. Wilayah timur adalah wilayah penyihir sedangkan wilayah barat adalah wilayah kaum manusia. Meskipun begitu, kaum penyihir masih melakukan pengorbanan itu. Kegeraman kaum manusia akan penyihir membuat pimpinan mengeluarkan sebuah tradisi untuk melindungi anak yang terpilih. Sampai hari ini bulan purnama merah masih berlaku dan sayangnya aku merupakan keturunan keluarga bangsawan itu. Meskipun aku memilih tinggal bersama ibuku, namun darah ayahku seorang penyihir masih tetap mengalir di tubuhku. Bulan purnama merah yang selalu datang setiap delapan tahun sekali, kembali menghantui kaum manusia.

“Emma, panggilkan adikmu di kamar untuk segera sarapan bersama!” Ucap wanita berkulit putih dengan bulu mata lentiknya.
“Sebentar ak-”
“Biar ibu yang membereskannya.” Potongnya seraya mengambil alih alat makan yang sedang ku lap. Sekejap aku menatap ibu, lalu melangkah menaiki setiap anak tangga. Aku tidak mengerti, tapi aku jelas mendengar sedikit kegaduhan dari dalam kamar adikku. Tanganku memutar knop pintu, ini terkunci. Samar kudengar sebuah isakan pelan, nyaris hanya seperti hembusan angin.

“Rena, apa kau baik baik saja?”
“Buka pintunya!” Aku sedikit mengetuk pintu.
“Kak” Suara lirih Rena terdengar dari balik pintu.
Aku mengerutkan kening tidak mengerti, ada keanehan dengan suara ceria Rena. Pintu berdecit ketika Rena membukanya. Aku tetap berdiri di ambang pintu menatap adikku yang juga berdiri memunggungiku beberapa langkah dari tempatku.
“Ibu menunggu kita untuk sarapan di bawah.” Aku memegang pundaknya. Dia masih memunggungiku. Isakan yang samar kudengar, kini dengan jelas masuk ke indra pendengaranku. Rena menangis yang aku sendiri tidak tahu penyebabnya.
“Ada apa?” Tanyaku seraya hendak memutar posisi Rena agar menatapku. Belum sempat tanganku menyentuhnya, dia melangkah membuat sedikit jarak antara kami. Aku dapat mendengar dia menghela napas.
“Kak aku takut.” Ucapnya di sela isakan pelan.
“Kenapa a-” Rena berbalik menatapku. Seketika aku bungkam, kalimatku masih menggantung di ujung lidahku. Napasku tercekat ketika melihat sosok Rena di hadapanku. Matanya merah sembap. Aku menggeleng tidak percaya.
“Astaga” Aku melangkah mendekat ke arahnya, menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Ibu jariku mengusap sebuah tanda goresan petir di kening adikku. Air matanya semakin deras mengalir di pipinya ketika mataku tepat menatap iris lensanya. Aku menarik adikku kepelukanku.
“Tidak apa-apa, aku akan melindungimu.” Ucapku seraya mengelus rambutnya. Aku mengeratkan pelukanku seakan dia akan menghilang.

Para prajurit terpilih untuk melindungi tiga anak manusia kini telah datang berjaga di setiap sudut ruangan. Pimpinan kaum manusia bergerak cepat setelah adanya informasi tiga anak manusia terpilih. Dia mendatangi setiap kawasan wilayah yang ditinggali oleh ketiga anak terpilih, untuk memastikan keamanan mereka.
“Ibu aku mohon, beritahu aku” Ucapku seraya menatap ibuku yang duduk dengan cemas di hadapanku.
“Tidak! sihir itu sangat berbahaya Emma.” Ibu menatapku nanar. Semburat kecemasan tergambar di setiap sudut lekukan wajahnya. ‘Berbahaya’ beberapa kali kalimat itu terlontar dari mulut ibuku sejak kita duduk 45 menit yang lalu.
“Percaya padaku ibu, aku tidak bisa membiarkan Rena menjadi korban berikutnya.” Aku beranjak duduk disampingnya. Sekejap memeluk ibuku.
“Meskipun ayahmu seorang penyihir, dia bahkan tidak pernah membiarkanmu menyentuh apapun mengenai sihir.” Air matanya kini telah jatuh mengalir di wajahnya.

Aku terdiam, mebiarkan kesenyapan dipenuhi oleh senggukan ibuku. Sebagai keturunan bangsawan penyihir kami mengetahui bagaimana melenyapkan kaum penyihir. Ini adalah salah satu warisan yang hanya diturunkan tetua kami kepada generasi berikutnya. Namun, tradisi turun temurun itu tidak berlaku lagi setelah terpisahnya kaum sihir dan kaum manusia. Aku ingin membuka tradisi itu kembali untuk yang terakhir kalinya. Dengan tanganku sendiri aku akan melenyapkan kaum penyihir. Walaupun aku harus membayar mahal akan hal itu, aku akan tetap melakukannya. Biarkan aku menjadi penebus dosa para tetua keturunanku.

“Aku pasti akan kembali padamu dengan selamat ibu.” Ucapku seraya mengusap lembut punggung tangan ibuku. Pertahananku runtuh, cairan bening ini mengalir begitu saja dari pelupuk mataku. Ibu menghela napas, lalu menatapku lamat.
“Ayahmu pun akan lenyap meskipun dia yang paling menentang keras tradisi purnama merah.” Jelas ibuku. Aku mengangguk, meyakinkan ibuku bahwa aku tahu dan siap membayar semahal apapun yang harus kukorbankan demi menebus semua kesalahan tetuaku.
“Hanya ada satu cara untuk melenyapkan kaum penyihir. Rahasia terbesar keturunan ayahmu.”
“Di balik derasnya air terjun di kaki Gunung Mogglo, ada sebuah ruangan tempat disimpannya tuas kehidupan kaum penyihir. Kau harus memasuki air terjun itu, begitulah cara menemukan tempat itu. Mungkin ini mustahil untuk kaum manusia tapi tidak untuk keturunan penyihir. Tidak pernah ada yang tahu bagaimana bentuk tuas kehidupan itu, karena tuas kehidupan bukanlah sebuah tuas dalam artian sebenarnya”
“Lalu bagaimana aku bisa menemukannya?” Tanyaku.
“Kau harus membuka dirimu. Membiarkan tuas itu berbicara padamu, menyatukan tubuhmu, hatimu agar kau dapat merasakan kehadiran tuas itu. Ketika kau berhasil menemukannya, dalam ramalan yang tertulis di buku ayahmu kau harus mengorbankan sesuatu sebagai imbalannya. Apa kau masih ingin melakukannya?”
“Aku akan melakukannya ibu, biarkan aku meluruskan apa yang sebenarnya harus terjadi.” Aku kembali memeluk ibuku. Mengeluarkan semua air mata yang terbendung di pelukannya.
“Sebenarnya apa alasan mereka melakukan bulan purnama merah?”
“Mereka ingin memperkuat mantra kaum penyihir. Lahana menyalah gunakan kekuasaannya saat itu. Sebagian kaum penyihir menjadi serakah karena itu.”

Udara malam menerpa wajahku. Tiga jam ke depan bulan dengan lingkaran penuh akan menggantung sempurna. Kakiku terus melangkah menembus hutan lebih dalam. Tidak ada arti dari kata takut saat ini, aku tidak mengenal kata itu sekarang. Gelap, hanya cahaya seadanya dari lentera yang ibu berikan ketika aku pergi dua jam yang lalu. Kutengadahkan kepalaku, menatap bintang-bintang, lebih tepatnya aku mengecek apakah aku berjalan ke arah yang benar, wilayah timur.

Mataku menangkap selarik cahaya tidak jauh dari tempat aku berdiri. Kuperlambat langkahku untuk mengurangi suara gemersik daun kering yang kuinjak. Aku terus menelisik cahaya itu dari balik pohon besar yang menutupi tubuhku. Sebuah belati sudah ada di genggamanku. Cahaya itu semakin dekat, ternyata itu dari sebuah lentera. Seseorang dengan lentera di tangannya kini tengah berdiri memunggungiku berjarak tujuh meter dari tempatku. Dia menaikkan lenterannya, sehingga lenteranya tepat ada di samping wajahnya. Dia memeriksa sekitar. Tepat saat matanya menatap ke arahku, genggaman belati di tanganku melemah, belati itu terjatuh. Aku mematung saat menatap wajahnya yang terpantul cahaya lentera. Cairan bening meluncur bebas di wajahku.

“Ay-ayah” Suaraku sedikit tercekat ketika menyebutkan kata yang sudah lama nyaris tidak pernah kuucapkan selama sepuluh tahun. Aku melangkah keluar dari persembunyianku. Sama sepertiku, di hadapanku kini ayah tengah mematung menatapku dengan sendu. Tanpa memikirkan apapun, aku memeluknya, menenggelamkan wajahku di dadanya dan menangis tertahan. Ayah membalas pelukanku lebih erat, mengusap rambutku seperti sepuluh tahun yang lalu. Entah untuk keberapa kali aku mengutuk kejadian yang mengharuskan kami berpisah. Aku mendongak menatap ayahku. Jarinya menghapus cairan bening di wajahku.

“Sedang apa kau di sini Emma?”
“Ayah, Rena terpilih.”
Rengkuhan ayahku merenggang. Dia mengusap punggungku sebelum melepaskan rengkuhannya. Matanya menatapku lamat, kedua tangannya memegang bahuku.

“Apa kau mencari tuas kehidupan?” Kini matanya menatapku sendu. Aku mengangguk.
“Kau sudah ada di arah yang benar Emma, tapi di sini berbahaya”
“Aku akan mengantarmu.” Lanjutnya. Dia menghapus cairan bening di wajahku seraya tersenyum tipis.
“Tetap di belakangku.” Ucapnya seraya menggenggam lenganku. Aku mengikutinya melangkah.

Satu jam lagi bulan akan membentuk lingkaran sempurna. Entah telah seberapa jauh kita berjalan. Namun, sejauh ini tidak ada hambatan apapun kecuali ranting-ranting tajam yang menggores kulit. Suara jangkrik malam kini tertelan digantikan suara gemuruh aliran air. Semakin lama suara aliran air itu semakin jelas. Ayah mempercepat langkahnya, pun sama denganku.

Aku menahan napas ketika air terjun itu ada di depanku. Belum pernah sama sekali, aku melihat air terjun ini. Tempiasnya sangat terasa walaupun aku berdiri lima kaki dari sana. Aku berpaling menatap ayahku yang kini sedang membasuh mukanya dengan air jernih itu.

‘Anakku, aku di sini sudut 60°’
Aku mengedarkan pandanganku. Suara apa itu? Bahkan, itu tidak seperti suara seseorang lebih tepatnya seperti hembusan angin ketika menerpa wajahku.

‘Anakku, aku di sini sudut 60°’ Suara itu terdengar kembali saat hembusan angin menerpa wajahku.

“Ayah, apa kau mendengar sesuatu?” Tanyaku yang membuat dia berhenti mengusap wajahnya yang basah. Kami saling berpandangan. Namun, suara itu tidak kembali.
“Suara apa?” Tanyanya. Aku menggeleng, mencoba mengabaikan itu, mungkin hanya sebuah imajinasiku.
“Bagaimana kita men-”
‘Anakku, aku disini sudut 60°’ Suara itu terdengar kembali, kini lebih keras. Ayah menatapku seraya mengerutkan keningnya ketika aku tidak melanjutkan kalimatku.

“Ada apa Emma?” Ayah mendekat ke arahku. Aku memutar otakku. Mungkinkah suara itu petunjuknya.
“Apa ayah tidak mendengar sesuatu?” Aku balik bertanya. Dia menggeleng.
“Apa yang kau dengar nak?”
“Seperti ‘aku disini sudut 60°'” Jawabku. Raut wajah ayahku kini sedikit berbinar, senyuman merekah teroles di bibirnya.
“Itu sebuah petunjuk Emma, bagaimana kau bisa mendengarnya, bahkan aku yang sudah beberapa kali ke sini selalu gagal mendapatkan petunjuk itu.” Jelasnya.

Waktu kami semakin singkat. Aku harus bergegas memecahkan petunjuk itu. Kami sama-sama terdiam memikirkan hal yang sama. Aku mencerna petunjuk itu seraya menatap aliran air dari tebing air terjun itu. Bukankah tebing itu akan membentuk suatu sudut, jika dilihat dari atas? Ingatanku kembali memutar memori ibuku saat siang tadi.
“Di balik derasnya air terjun di kaki Gunung mogglo, ada sebuah ruangan tempat di simpannya tuas kehidupan kaum penyihir. Kau harus memasuki air terjun itu, begitulah cara menemukan tempat itu”
‘Memasukinya’, aku tidak tahu apa memasukinya itu dalam artian yang sebenarnya. Aku melangkah menuju air terjun.

“Emma jangan! Berbahaya kau akan jatuh dan terbawa arus!” Ayah berteriak ketika aku melangkah mendekati tebing dengan batuan penuh lumut sebagai tumpuanku. Dapat kurasakan kederasan air terjun ini melalui tempias-tempiasnya. Kini, aku berdiri tiga langkah dari tebing air terjun itu. Tanganku terjulur untuk merasakan aliran air yang jatuh. Ini berbeda, air ini berbeda. Aku menatap tanganku yang tidak basah sama sekali.

“Emma kema- Astaga!” Ayahku terkejut saat kedua tanganku menyingkap menembus aliran air yang jatuh dan membuat sebuah space yang bisa kita masuki. Aku menarik lenganku kembali, membuat aliran air itu kembali normal. Ayah mendekat ke arahku, kini dia berada di sampingku dengan bertumpu sebuah batu berlumut cukup besar.
“Lakukan lagi nak!” Aku mengangguk, lalu kembali menjulurkan tanganku. Space itu kembali terlihat.
“Ayah masuklah terlebih dahulu” Ucapku yang lansung diturutinya. Kini giliranku yang masuk.

Aku melompat ke arah tebing itu dengan tangan yang masih terjulur untuk menyingkap air. Pendaratanku tidak semulus yang kuperkirakan, aku terjatuh. Aku sedikit meringis sakit, ayah membantuku berdiri. Lagi-lagi aku terpaku dengan apa yang ada di depanku saat ini. Ini sebuah ruangan luas, beberapa peralatan rumah kuno ada di sini. Aku tertarik dengan sebuah rak buku kayu di sudut ruangan. Aku mendekat ke arah rak itu. Ada sebuah cermin besar di sampingnya. Tapi tunggu, cermin itu sedikit berbeda. Aku melihat ke belakangku, di sana ada sebuah kursi kayu dan juga pot bunga besar. Bukankah sebuah cermin itu harusnya memantulkan pantulannya? Pantulan cermin itu berbeda, tidak ada sama sekali kursi ataupun pot besar, hanya ada sebuah kolam kecil. Entah sejak kapan tanganku sudah menyentuh cermin itu. Seberkas cahaya terang membuatku menjauh dari cermin itu seraya menutup mataku. Beberapa detik kemudian cermin itu menghilang digantikan sebuah kolam seperti pantulan di cermin tadi. Kolam itu bersinar, membuat setiap sudut ruangan sedikit bercahaya. Ayah menarikku menjauh.

“Kau berhasil menemukanku anakku.” Kolam itu bersuara. Suara yang sama persis seperti hembusan angin. Aku menatap ayahku. Aku yakin dia bisa mendengarnya juga sekarang.
“Apa kau tuas kehidupan itu?” Bukan aku yang bertanya, melainkan ayahku.
“Ya, apa yang kalian cari hingga mencariku kemari?”
“Aku ingin melenyapkan kaum penyihir.” Ucapku, aku tidak ingin membuang waktu lagi karena waktu kami semakin sempit.
“Kenapa kau ingin melakukannya? Bukankah ayahmu ini penyihir juga?”
“Aku ingin menghentikan bulan purnama merah.”
“Apa kau yakin? Kau harus membayar setimpal untuk mewujudkan keinginanmu.”
“Akan kubayar semuanya, apapun itu.” Aku menatap ayahku yang kini merengkuh pundakku.

“Baiklah ikuti perintahku.”
“Pertama, teteskan darahmu ke kolam ini.”
Aku kembali menatap ayahku. Tanganku mengambil sebuah belati di pinggangnya. Aku memeluk ayahku sekilas, lalu menggoreskan belati itu ke telapak tanganku. Darah segar kini menetes, aku mengarahkan tanganku ke kolam itu. Saat tetesan darahku yang ketiga, air kolam itu berubah menjadi merah pekat dengan letupan-letupan gelembung.

“Apa lagi yang harus kulakukan?”
“Kedua, kau harus menyerahkan sesuatu yang paling berharga untukmu, apa kau yakin melakukannya?”
“Sangat.” Jawabku.
“Kau masih punya waktu untuk memikirkannya lagi anakku.”
“Aku tidak perlu itu.”
“Sekali lagi, apa ka-”
“Cepat katakan apa itu? Aku tidak memiliki banyak waktu!” Potongku.
“Jiwamu.”
DEG!
Aku meremas ujung pakaianku sendiri. Mengigit bibir bawahku. Mataku menatap letupan-letupan gelembung itu dengan kosong.

“Tidak! Jangan Emma!” Ayahku berteriak kalap saat mendengar kata itu. Aku hanya menghela napas seraya menatapnya nanar. Ayah menarikku ke pelukannya. Dia memelukku erat sesekali mencium puncak kepalaku. Air mataku jatuh, bukan karena aku takut, melainkan pertemuan kami yang begitu singkat.
“Ayah aku harus melakukannya.” Ucapku. Dia tidak membiarkanku lepas dari pelukannya. Aku merasakan dia menggeleng, walaupun aku tidak melihatnya.
“Setidaknya kau harus tetap hidup meskipun nanti kaumku dan aku lenyap.” Ucapnya serak.
“Aku yakin dengan apa yang kulakukan ayah. Aku ingin menebus dosa yang telah dilakukan para tetua kita.” Aku melepas pelukannya. Menatap mata ayahku dalam. Dia menangis menatapku.
“Kumohon.” Lanjutku lirih.
“Bukankah waktumu tidak banyak nak? Sepuluh menit lagi bulan akan sempurna membentuk lingkaran.”
Aku menghapus air mataku kasar, lalu berusaha tersenyum kepadanya. Kuserahkan belati itu ke tangannya.
“Lakukan untukku ayah.” Dia menarikku kepelukannya lagi. Aku membalas pelukannya lebih erat, mencium aromanya untuk terakhir kalinya.
“Aku sangat merindukanmu ayah.” Air mataku kembali terjatuh, tidak dapat kukendalikan. Berkali-kali dia mencium puncak kepalaku, meghirup aroma rambutku.
“Ayah juga sangat merindukanmu nak.” Ucapnya. Seketika aku semakin terisak mendengar suaranya. Aku melepas pelukannya, lalu menatapnya. Kedua tanganku menangkup wajahnya, berusaha menghapal lekukan wajahnya yang mungkin pudar dalam ingatanku. Jariku menghapus air mata yang mengalir di wajahnya, pun sama dengannya.
“Terimakasih telah menjadi ayah terbaik untukku.” Tanganku kembali mengeratkan belati yang ada di tangannya.
“Kau tumbuh dengan baik nak, aku sangat bersyukur kau tidak membenciku.” Dia mengusap rambutku, kembali mencium puncak kepalaku.
Aku menatapnya, lalu mengangguk memberi tanda agar dia segera menancapkan belati itu di tubuhku. Dia menghela napas berat. Aku tersenyum tipis meyakinkannya. Dia menarikku kepelukannya lagi. Napasku tercekat ketika merasakan suatu benda runcing menusuk punggungku. Kakiku tidak bisa menahan bobot tubuhku. Aku terjatuh, namun dengan sigap ayah menangkapku. Aku tersenyum ke arahnya.
“Aku mencintaimu ayah.” Ucapku sedikit tercekat. Air matanya kembali jatuh, menetes di wajahku. Aku menghapusnya.
“Aku juga sangat mencintaimu Emma, anakku.” Ucapnya. Mataku memanas, air mata mengalir di pelipisku.

Kurasakan tubuhku terangkat di udara. Seberkas cahaya membungkus tubuhku yang terapung. Cahaya itu membawaku ke arah kolam. Aku dapat melihat ayahku yang berdiri di sana walaupun samar. Tubuhku lenyap masuk ke dalam kolam. Memori masa kecilku satu per satu kembali terputar. Sampai akhirnya, aku tidak tahu kapan tepatnya memori itu berhenti berputar di benakku.

Saat itu bulan menggantung sempurna di langit malam. Sinarnya menyinari malam kecemasan Pulau Lapta lebih terang dari biasanya. Satu per satu tanda di ketiga anak terpilih terhapus. Rena memeluk ibunya seraya menangis. Ibunya menatap langit malam kosong, walaupun air mata jatuh di wajahnya. Di dalam hatinya semua rasa berkecamuk berusaha saling mendominasi. Dia tahu anaknya berhasil menemukan tuas itu. Namun, rasa perih akan hal yang sama menjalar di tubuh seorang ibu itu. Karena, dia tahu bahwa dia kehilangan anaknya.

Keesokan harinya, penduduk Pulau Lapta terbangun dari tidurnya. Mereka bersorak sorai karena purnama merah itu tidak terjadi. Namun, kejanggalan akan kaum penyihir yang tiba-tiba lenyap tanpa jejak masih terus dipertanyakan kaum manusia. Begitulah penduduk Pulau Lapta hidup. Mereka hidup dengan berbagai pertanyaan tanpa jawaban yang mereka buat seolah mengabaikannya. Pertanyaan itu tetaplah pertanyaan, meskipun ada yang bisa menjelaskannya.

Cerpen Karangan: Alfiah Sundara
Blog: Alfiahsndr.blogspot.com
Facebook: Alfiah Sundara
Alfiah Sundara, anak kedua dari 3 bersaudara ini lahir di Tasikmalaya 06 Februari 2000. Menulis adalah salah satu hobinya sejak umurnya 13 tahun. Berstatus sebagai pelajar di SMAN 2 Tasikmalaya. Dia bergolongan darah A dengan rhesus positif.

Cerpen Purnama Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Peri Cinta Via

Oleh:
“Aku harus mengakhirinya.” Namaku Aldy. Aku memiliki seorang kekasih bernama Via. Dia adalah adik sahabatku, Ari. Karena kami sering bertemu, aku mulai menaruh rasa pada gadis itu. Dia gadis

Fungus in Love

Oleh:
Pukul 2.30 PM. Hujan seakan menuntun gue pada suatu tempat yang kadang jadi tumbal PHP angkot cs. Gue ngerasa kayak manusia labil yang lagi long distance transportationship dan galau

Mimpi Buruk dan Zombi

Oleh:
Cerita ini sesuai dengan mimpiku pada suatu malam. Jalan ceritanya hampir sama seperti halnya ‘HIGH SCHOOL OF THE DEAD’ jika kalian tahu atau setidaknya seperti ‘RESIDENT EVIL’ yang episode

Sisa Rahasia

Oleh:
“Supri, aku sudah tidak sabar mendengar ceritamu. Tapi sepertinya aku akan telat.” Suara cemas itu kudengar di seberang sana. Masih kugenggam ponsel mini yang menempel di telinga kananku. “Ya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *