Putri Salju

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 7 September 2019

Kalian telah mengetahui bahwa kisah “Putri Salju” memiliki akhir yang bahagia.
Seorang putri yang teramat cantik, diusir dari istananya, nyaris ditikam, bertemu para kurcaci, ditipu oleh nenek tua yang menawarkan apel, mati keracunan, dan akhirnya hidup karena ciuman dari pangeran.

Tapi itu bukan kisah “Putri Salju” yang sebenarnya.
Sama sepertiku, sebagai pemilik julukan “Putri Salju”, kisahku tidak seperti tipuan itu maupun kisah sebenarnya. Aku memiliki kisah “Putri Salju” sendiri, dan mungkin saja berbeda jauh dari apa yang diketahui banyak orang.
Aku tidak memiliki seorang pangeran.

Aku hidup ketika kakak-kakakku, Dexter dan Megan, bertengkar memperebutkan kekuasaan. “Pinocchio”, adikku yang paling kecil, tidak ada bersama denganku. “Alice”, sahabatku, tidak ada di sisiku untuk menghiburku. Begitu pula dengan “Cinderella”, “Gretel”, dan “Putri Kaguya” tidak ada yang ada untukku selama konflik berlangsung.

Pernahkah kamu mendengar bahwa sang “Putri Salju” diperintah untuk membunuh para pengkhianat? Mungkin yang ada, kamu mendengar bahwa justru “Putri Salju” dikejar-kejar untuk dibunuh. Aku tidak dihasut oleh siapapun, aku hanya menjalankan perintah kakakku.

Menggunakan pedangnya yang besar dan tajam, banyak potongan mayat dan darah menghiasi jalan. Tidak ada perlawanan sedikitpun dari mereka, karena mereka pantas mendapatkan hukuman yang setara dengan perbuatan mereka. Mereka berontak bukan karena kakakku, tetapi mengerjakan misi yang telah diberikan dengan asal-asalan.
“Putri Salju” yang katanya putih seperti salju, sekarang ternodai oleh darah.

Pedang itupun menjadi saksi bisu kematian “Cinderella” yang kulakukan. Aku membunuhnya tanpa mempedulikannya memanggil namaku berkali-kali dengan histeris. Mungkin saat itu “Cinderella” nyaris memutuskan pita suaranya hanya karena supaya mata pedangku tidak mengambil nyawanya.
Aku hanya mendengarkan dia meneriakkan namaku tepat saat kulit dan mata pedangku bersentuhan. Setelah itu, suaranya ditenggelamkan oleh bunyi pedangku memut*lasinya.

Aku tidak punya waktu untuk menahan air mataku dan mengucapkan kalimat, “Tolong jangan buat peristiwa ini sebagai perusak relasi kita.”
Aku hanya mengingat kata terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, yaitu “Et tu, ‘Snow White’?”
Aku terkesan seperti “Putri Salju” yang kejam…

Tetapi, ada saatnya sang “Putri Salju” keluar dari istananya. Bukan karena sang ratu berniat membunuh “Putri Salju”, tetapi karena mencari ‘kebebasan’. Meskipun banyak suara yang mendukungku, dan kali ini “Pinocchio” ikut terlibat, namun ibuku tetap tidak mau aku keluar. Mau kabur diam-diampun, aku tidak berani.

Aku saja bisa keluar dari sangkar karena bantuan dari Megan dan Dexter. Kakak-kakak pandai berbicara, membuat ibuku yakin dengan argument yang dilontarkan mereka. Sampai sekarang, aku belum sempat untuk berterima kasih pada mereka karena mau repot membantuku. Tapi jika aku bertemu dengannya sekarang, mungkin hanya Megan telah melupakannya.

Di lingkungan baru, “Putri Salju” masih membawa kenangan mengerikan. Hanya karena kehilangan relasi dengan teman-temannya dan kematian “Cinderella” masih terekam di kepalanya, “Putri Salju” menghindari kerumunan orang. Banyak wajah baru yang menyerupai wajah teman-temannya, namun itu tidak menyembuhkan luka hatinya.
“Jangan sampai sejarah terulang lagi,” itu yang dipikirnya.

Diantara mereka, sang “Putri Salju” menemukan sosok pangerannya. Pangeran yang tidak seperti di dongeng-dongeng sebelum tidur, tetapi memiliki kelas yang sama sepertinya. Entah “Putri Salju” itu tepat memilih ‘pangeran’nya dengan benar atau tidak. Dia memiliki perasaan yang berbeda ketika kedua netra abu-abunya menatap sosok sang ‘pangeran’.

Itupun dia juga harus mengulangi kejadian yang sama seperti dahulu kala. Tetapi dia tidak menyaksikannya dari jauh. Dia sendiri yang terlibat, merasakan apa yang pernah dirasakan teman-temannya saat itu.

Mungkin saja, “Putri Salju” akan mendapatkan kisah akhir yang bahagia…

Cerpen Karangan: Nikita Ilona Putri Matakupan
Blog / Facebook: www.nikitamatakupan.com

Cerpen Putri Salju merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kahaani

Oleh:
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagiku, saat aku benar-benar muak dengan semua hal yang terjadi hari ini. Setiap hari keseharianku hanya seperti ini. Malam ini pun mataku enggan

Cinta Atau Negara

Oleh:
Aku adalah Letnan Wili. Aku adalah seorang mata-mata. Sejak umur enam tahun aku mulai menyukai hal-hal yang bersifat militer. Aku memang berbeda dari anak-anak lainnya. Di mana yang lain

Miselium Fungida

Oleh:
Kota Kecil Fergcon, dibangun atas pegunungan dan hutan yang mengelilingi. Tepat dari arah utara jauh berkilo-kilometer jaraknya, kau dapat mendengar debur ombak yang dahsyat menghantam tebing bebatuan curam bertutupkan

Matahari Dan Bulan (Part 2)

Oleh:
Alven seperti mengetahui bahwa aku mulai menyadari sesuatu. Dia menoleh padaku, tersenyum penuh arti. Sekali lagi aku menelan ludah. “Alven, apa kau..” Lagi, aku memandang patung, lalu kembali pada

Menaklukkan Naga (Part 4)

Oleh:
Madfire si naga merah tiba di ibukota. Sesaat ia terlihat terbang berputar-putar di atas istana, seolah mengamati. Lalu si naga terbang lebih rendah. Geramannya menggema memekakan telinga siapa saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Putri Salju”

  1. moderator says:

    putri saljunya horror ini… x_X,

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *