Raine Dan Rakyat Negeri Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 27 January 2016

Pada bulan Desember lalu biasanya selalu turun hujan di negara Indonesia. Namun, pada bulan Desember kali ini hujan sama sekali tak kunjung turun dan kisah ini menceritakan tentang kerjasama seorang gadis dan rakyat Negeri Hujan untuk mendatangkan hujan.

“Huuuhhh… aku sedih sekali, setiap hari aku melihat ke luar jendela aku selalu disapa oleh matahari yang terik. Aku ingin menari lagi di bawah hujan rasanya, seperti aku sudah menyatu dengan hujan. Bagiku, hujan adalah sahabatku saat senang dia ada untuk membuat hariku menjadi tambah menyenangkan dan saat sedih dia membuatku terlihat tegar karena jika aku bersama hujan, orang-orang tidak akan tahu bahwa aku sedang menangis. Lihat saja! Aku akan melakukan apa pun agar hujan bisa kembali menemani hari-hariku.”

“Hari ini hari selasa 19 Desember 2015 aku akan mulai penyelidikanku terhadap hujan yang belum juga turun. Oh iyaaa… by the way aku lupa kenalin diriku sang pecinta hujan ini, hehehe. Namaku Angelina Raine teman-teman memanggilku Raine karena mereka semua tahu bahwa aku sangat suka hujan, aku lahir pada tanggal 2 Februari 2002 di kota Bengkulu, aku suka sekali dengan hujan karena yaaa seperti kataku tadi hujan itu sahabatku yang selalu menemaniku di saat suka maupun duka. Sekarang bantu aku untuk menyelidiki mengapa hujan jarang turun? Apa karena ia malu bertemu denganku yang manis ini? atau.. suasana hati langit sedang sangat baik makanya ia sekarang jarang menangis? Ahh… entahlah yang jelas bantu aku untuk mencari tahu ya!”

Pada sore hari dimana langit terlihat seperti lukisan yang indah dan matahari yang mulai istirahat dari jam kerjanya untuk menyinari dunia. Raine sedang duduk sambil membaca buku tentang cuaca di halaman belakang rumahnya ia nampak sedang serius sekali matanya bolak-balik melihat ke kiri dan ke kanan sambil membalikkan halaman bukunya. Namun tiba-tiba sebutir air menetes di lengan Raine, ia pun tersenyum dan terlihat senang karena ia mengira hujan telah turun. “Wah.. apakah hujan akan turun? eeh tunggu sebentar, sepertinya ada yang aneh dengan air ini! Loh, apa itu? se..se..seperti kaki?” Kata Raine yang sedang penasaran.

Lalu, “halo?”
“siapa itu? tunjukkan dirimu!” tegas Raine.
“hei.. aku di sini” kata tetesan air hujan itu. “kyaaa… siapa kamu! mau apa kau ke sini? dan makhluk apa kau itu?” teriak Raine sambil menggoyang-goyangkan lengannya agar tetesan air hujan itu jatuh. “tolong, berhenti! dengarkan aku dulu aku akan menjelaskannya kepadamu” jawab tetesan air hujan itu. Raine pun mulai berhenti menggoyangkan lengannya tapi ia masih sedikit syok. “ba..baiklah maafkan aku, tolong jelaskan semuanya sedetail mungkin” kata Raine. “aku adalah rakyat dari negeri hujan namaku Jeju, aku datang ke sini karena aku ingin minta bantuanmu. Sebab, negeriku saat ini sedang menghadapi masalah yang besar dan ini berhubungan dengan hujan yang tak kunjung turun di negerimu.” jelas si Jeju.

“Hah? Memangnya ada ya negeri hujan? Lalu memangnya kamu kira aku bisa membantumu?” jawab Raine kebingungan.
“ada kok, aku sangat amat yakin kamu bisa membantu negeri hujan, nanti saja aku akan menjelaskan semuanya padamu. Sekarang kamu harus ikut denganku ke awan, tempat negeri hujan berada” jelas si Jeju. “apaa?! ke awan? aku ingin sekali ke sana! tapi bagaimana caranya? aku tak bisa terbang tapi aku sangat ingin membantumu agar aku bisa bermain-main bersama hujan lagi. Apa kau punya caranya agar aku bisa pergi ke awan?” Kata Raine dengan terkejut sekaligus senang karena ia akan diajak pergi mengunjungi awan.

Kemudian Jeju menaburkan serbuk berwana pink ke arah Raine dan tubuh Raine perlahan-lahan mulai menyusut, tumbuh kaki dan tangan kecil di tubuhnya, kepala yang bulat, botak, dan yang paling menarik adalah… kulitnya menjadi biru. “hmm.. aku merasa mendingan sekarang, bagaimana ya bentukku sekarang?” Kata Raine lega, namun saat ia melihat tangannya ia malah berteriak. “kyaaaa… apa yang terjadi? aku menjadi biru dan aku merasa kepalaku ringan sekali!” teriak Raine sambil memegang-megang kepalanya, karena kebingungan.
“sudahlah penampilanmu tidak penting, yang penting sekarang kita harus segera ke awan.” tegas si Jeju.

Si Jeju melempar sebuah serbuk putih ke tanah, dan perlahan-lahan terbentuklah semacam serat-serat halus membentuk sebuah awan kecil, kira-kira seperti saat pembuatan gulali. Jeju pun mengajak Raine menaiki awan tersebut dan mereka pun pergi ke negeri hujan mereka dibawa oleh angin. Awan itu terlihat sangat nyaman, awannya empuk ditambah lagi terkena hembusan angin seperti sedang berada di surga saja dan beruntungnya si Raine pergi ketika sang surya sedang berganti peran dengan sang bulan, langit berwarna kuning oranye sangat indah cahayanya memancar dan menyita perhatian.

Setelah perjalanan selama 2 jam, akhirnya Jeju dan Raine pun sampai ke negeri hujan. Sesampainya di sana Raine hanya bisa melotot, mulut terbuka lebar dengan terkagum-kagum, negeri hujan itu sangat indah. Pohon-pohonnya terbuat dari kapas kira-kira mirip seperti permen gulali, rakyatnya juga menggunakan kendaraan awan seperti Jeju dan Raine, rakyat-rakyat di negeri hujan semuanya berwarna biru, rumah mereka terbuat dari awan juga dan tentunya berwarna sangat indah.

Jeju membawa Raine masuk ke sebuah rumah awan yang lumayan besar. “Jeju, sekarang kita sedang ada di mana?” tanya Reine penasaran. “sekarang kita sedang ada di rumah Tuan Clouden, dia adalah kepala suku di negeri kami selain itu dia juga sangat baik kepada semua rakyat di negeri ini dan dia juga yang memintaku untuk mengajakmu ke sini.” Raine dan Jeju pun melangkah memasuki ke rumah tersebut, “kreeekk.. nyieeettt.”
“ha..halo… Tuan Clouden? Ini aku Jeju dan aku datang bersama seorang anak manusia” kata Jeju, sambil melihat-lihat apakah di rumah tersebut ada Tuan Clouden atau tidak.

“Wuuuussss…” seperti ada sesuatu yang terbang dengan cepat di belakang Raine dan Jeju. “emm.. Tu..Tuan Clouden?” kata Jeju yang mulai ketakutan karena tidak ada seorang pun di sana, “Huwaaaaaahhh!!!!”

“Gyaaaaa..!!” Jeju dan Raine serentak berteriak sebab mereka terkejut mendengar teriakan itu. “haha.. hahaha kalian berdua lucu sekali! coba kalian berdua melihat wajah kalian bisa yang lucu itu. Maafkan saya ya Jeju, saya hanya sedang iseng saja, hehehe” kata seorang laki-laki hujan tua yang ternyata adalah Tuan Clouden sambil terbahak-bahak melihat Jeju dan Raine yang berteriak tadi. Wajah Jeju dan Raine pun tampak kesal, “huuuh! Tuan Clouden tamu bukannya disambut malah dikagetin. Nih aku bawa Raine orang yang anda suruh untuk membantu rakyat negeri hujan” Jeju menjawab dengan nada suara yang agak digertak karena kesal dengan sikap Tuan Clouden tadi.

“Hai, Tuan Clouden? nama saya Angelina Raine karena saya suka hujan saya lebih sering dipanggil Raine. Saya datang ke sini diajak oleh si Jeju katanya, anda membutuhkan saya untuk bisa menurunkan hujan kembali” sapa Raine sambil menjelaskan maksud kedatangannya ke Negeri Hujan. “oh.. yaaaa, selamat datang di Negeri Hujan, saya akan langsung ke intinya saja. Negeri ini sedang kesusahan untuk menghasilkan hujan, karena Rain Jewel sedang rusak dan yang bisa memperbaikinya hanyalah kamu nak Raine” jelas Tuan Clouden dengan serius.
“Rain Jewel? kenapa harus aku yang memperbaikinya?” Raine bertanya-tanya dengan raut wajah yang kebingungan.

“Rain Jewel itu sebuah permata yang mengandung kekuatan magis yang bisa menghasilkan hujan dan yang bisa memperbaikinya hanyalah seorang anak manusia yang benar-benar mencintai hujan.” jelas Tuan Clouden kepada Raine. “Lalu bagaimana caraku memperbaiki permata itu?” tanya Raine. Tuan Clouden menjelaskan kepada Raine dengan penuh semangat, “Itu mudah saja, kau hanya perlu mencium permata itu dengan sepenuh hatimu dan juga sambil berharap dalam hati bahwa hujan akan turun, lalu permata itu pun akan bisa menghasilkan hujan lagi dan misi pun selesai.”

Raine pun merasa senang karena cara memperbaikinya hanyalah semudah itu, tapi ia masih bingung di mana letak Blue Rain Jewel itu dan ia pun kembali bertanya, “waah.. mudah sekali cara memperbaikinya Tuan! tapi, maukah anda memberitahuku di mana letak permata itu?” tanya Raine. “menurut legenda orang zaman dulu, Rain Jewel itu terletak di dalam hati sang manusia yang telah terpilih. Batu tersebut akan muncul dengan sendirinya jika manusia itu memiliki harapan dan ketulusan akan datangnya hujan. Jadi, hanya kamulah yang bisa menemukan permata tersebut.”

Raine merasa itu adalah sebuah tantangan yang menarik, semangatnya untuk mengembalikkan hujan pun semakin membara. “hmm… aku merasa terhormat karena aku telah menjadi manusia yang terpilih. Aku akan berjuang untuk mendatangkan hujan dan aku tidak akan mengecewakanmu, kau boleh pegang janjiku ini Tuan Clouden!” tegas Raine penuh semangat.
“Saya suka semangatmu Nak Raine! Saya yakin kamu pasti bisa mendatangkan hujan kembali untuk negerimu.” kata Tuan Clouden dengan bangga kepada Raine. Berkat perkataan Tuan Clouden Raine pun semakin yakin bahwa ia bisa mendatangkan hujan.

“Hei Raine! Bagaimana kalau kita berjalan-jalan mengelilingi negeri hujan ini aku ingin menunjukkan suatu tempat yang indah kepadamu. Tempat itu sangat indah dan nyaman dan mungkin bisa membantumu untuk menemukan permata itu.” Kata Jeju dengan semangat kepada Raine. “wah, asyik tuh! Baiklah ayooo kita pergi..” kata Raine sambil tersenyum dengan semangat kepada Jeju. Jeju dan Raine pun berpamitan kepada Tuan Clouden dan mulai mengelilingi Negeri Hujan. Raine dengan semangat berjalan-jalan sambil menari-nari dan tampak lengkungan yang manis di wajahnya. Sementara Jeju menjelaskan tempat-tempat yang mereka jumpai di Negeri Hujan itu dengan semangat, mereka berdua nampak bahagia sekali.

Di tengah perjalanan Raine merasa lapar dan Jeju mengajaknya ke sebuah taman yang penuh warna dan indah sekali, Raine kebingungan mengapa Jeju mengajaknya ke taman padahal Raine sudah bilang kalau ia kelaparan. “Raine, kau pasti bingung mengapa aku mengajakmu ke sini. Di sini, engkau bisa makan dan minum sepuasnya! kau lihat pohon berwarna cokelat itu? Itu rasanya seperti cokelat namun diolah dalam bentuk awan tapi rasa dan gizinya tetap saja sama dan masih banyak pohon yang lain.”

“Lalu, itu di sana ada 4 buah kolam yang memiliki rasa yang berbeda-beda kolam yang pertama air mineral biasa, kolam kedua jus melon, kolam ketiga jus apel dan kolam keempat jus sayuran semua itu bisa kau minum. “hah? kau serius Jeju? kalau memang benar bakalan seru nih! aku akan coba pohon rasa daging ayam dan kolam rasa jus apel itu, ayo kita coba bersama!” kata Raine bersemangat sambil menarik tangan Jeju. Mereka berdua mencicipi pohon dan kolam yang mereka sukai, sambil bercanda dan tertawa bersama, lagi-lagi mereka terlihat sangat bahagia.

Raine dan Jeju pun sudah selesai mengganjal perut mereka dengan berbagai macam makanan unik yang ada di taman tadi. Sekarang mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat tujuan mereka yang sebenarnya. Setelah berjalan sejauh 2 km tampak sebuah perbukitan indah yang ikut dihiasi oleh taman bunga, kemudian terlukis di langit sebuah lengkungan 7 warna yang indah sekali dan diselimuti oleh awan-awan kecil di atasnya sungguh meretas gundah suasana hati Raine menjadi terasa lebih sejuk dan lebih nyaman. Tanpa berkomentar sedikit pun Raine langsung berlari, membentangkan kedua tangannya dan menghirup udara yang sejuk di sana, berbaring di antara rerumputan dan tersenyum lembut seakan ia tak peduli lagi dengan seluruh kepenatannya.

“Jeju… aku berterima kasih sekali kepadamu, kau telah membawaku ke tempat yang bagaikan surga ini, selain itu tempat ini mengingatkanku akan hujan, udara di sini sama seperti udara sehabis hujan sejuk sekali, kemudian pelangi tujuh warna yang menghias langit yang terkadang muncul sehabis hujan. Aaaahh… sudah lama sekali aku tidak merasakan ini.” kata Raine sambil tersenyum dan mengingat hujan.

Jeju pun ikut berbaring di samping Raine. Karena itulah aku mengajakmu ke sini, cobalah kau tutup matamu, kemudian bayangkan tentang asyiknya hujan, bayangkan udara sejuk sehabis hujan, pelangi yang indah, bayangkan juga kau sedang menari di bawah rinaian hujan. Kemudian, bayangkan apa yang akan terjadi jika hujan tidak ada…” kata Jeju dengan lembut kepada Raine. Raine pun tahu, apa maksud Jeju mengatakan itu semua, Raine pun mulai menutup matanya, menarik napas yang dalam dan mulai membayangkan tentang hujan.

“Emm… dari kecil aku sudah sering ditemani hujan, aku seperti terlahir bersama hujan, hujan selalu temani sepiku, bersamaku saat aku sedang sedih maupun senang aku juga suka sekali menari di bawah rinai hujan. Jika hujan tidak lagi ada, apalah jadinya bumiku masyarakatnya akan sulit mendapatkan air dan tanaman juga tidak akan bisa tumbuh dan berkembang, tak akan ada lagi yang namanya pelangi dan semakin menambah kerusakan pada alam di bumiku. Aku juga pasti tiap harinya akan merindukan kenanganku bersama hujan, sejuknya udara saat hujan dan pelangi yang mewarnai langit biruku. Aku ingin hujan bisa turun lagi dengan sepenuh hatiku aku ingin sekali.” Raine berkata dalam hati sambil membayangkan tentang hujan.

Tiba-tiba muncul cahaya biru cerah dari dalam tubuh Raine. Jeju yang melihatnya pun mulai merasa bahwa itu adalah cahaya dari Blue Rain Jewel Jeju merasa sangat… senang! saking senangnya ia langsung membangunkan Raine, “Raine! Raine! bangun! Lihatlah cahaya yang muncul dari dalam dirimu! Sepertinya Blue Rain Jewel!” Jeju meneriakkan nama Raine sambil menggoyangkan tubuh Raine.

Karena Jeju yang membangunkan Raine terlalu heboh, Raine pun terbangun dan membuka matanya, ia tercengang dengan sedikit senyuman dan mata yang belok karena melihat cahaya biru cerah bersinar dari dalam dirinya. Kemudian, cahaya itu perlahan-lahan hilang dan terdapat sebuah permata di genggaman tangan Raine. Ternyata benar itu adalah sebuah permata Blue Raine Jewel. Raine merasa sangat bahagia, ia bisa kembali merasakan hujan. Raine dan Jeju dengan perasaan yang bahagia berlari menuju ke rumah Tuan Clouden dan sampailah mereka di rumah Tuan Clouden.

“Raine, Jeju kalian sudah kembali! hmm… tunggu dulu, dari raut wajah kalian yang bahagia itu saya sudah tahu pasti kalian berhasil menemukan Blue Rain Jewel! Iya kan?” tebak Tuan Clouden. “hehehe, iya Tuan kami berhasil menemukan permata itu, ini diaaa… tadaaa!!” Raine menjawab sambil tersenyum bahagia dan menunjukkan permata itu kepada Tuan Clouden. “tunggu apalagi Raine ayo cium permata itu dengan sepenuh hatimu!” kata Jeju dengan tidak sabaran.

Raine pun mencium permata itu dengan lembut dan sepenuh hati, kemudian permata melayang ke atas dan perlahan membesar, kemudian dari permata itu menampilkan turunnya hujan dari tiap kota di negara Indonesia. “wah… lihat itu Raine, Jeju kalian telah berhasil menurunkan hujan.” kata Tuan Clouden dengan bangga kepada Raine dan Jeju. Jeju dan Raine sangat bahagia akan turunnya hujan.

Karena hujan telah turun, misi Raine untuk menurunkan hujan telah selesai. Raine memeluk Jeju dengan erat dan berpamitan dengan Tuan Clouden. “Jeju, aku tidak akan pernah melupakanmu, kalau ada waktu mampirlah ke rumahku, pintuku selalu terbuka untukmu.” Raine pun berangkat untuk pulang kembali ke bumi di temani oleh Jeju. Sesampainya di bumi, “Raine, aku senang berteman denganmu aku juga senang karena kita sudah berhasil mendatangkan kembali hujan. Aku akan sering-sering mengunjungimu Raine.” kata Jeju dengan sedih dan memeluk Raine kembali. Raine pun sedih sekali harus berpisah dengan Jeju. Jeju pun menaburi serbuk putih untuk mengembalikkan Raine menjadi manusia dan setelah itu Jeju pun kembali ke Negeri Hujan.

Satu minggu pun telah berlalu, hujan masih tetap turun pada hari itu, seperti biasanya Raine kembali menikmati asyiknya menari di bawah rinai hujan. “Melihat rinaian hujan ini, aku jadi teringat dengan Jeju.”

Cerpen Karangan: Rachel Carisa Oswandi
Facebook: https://www.facebook.com/rachel.carisa.5
Siswa kelas 8 umur 12 di SMP Sint Carolus Bengkulu

Cerpen Raine Dan Rakyat Negeri Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Story Of Soul Eater

Oleh:
Pada suatu jaman hidup sebuah kerajaan dimana sang raja itu sangat rakus, ia berubah jadi rakus dan kejam karena ditinggal mati oleh ratu di dalam peperangan. Raja itu mempunyai

Liburan Menyenangkan

Oleh:
liburan semester ini aku dan keluarga ingin ke kebun binatang, malam ini aku tidur lebih awal, karena besok akan bangun lebih pagi. Pagi hari jam 04.00. “dek, ayo bangun

Selebrasi Untuk Shania JKT 48

Oleh:
Pada pagi ini tomi yang menerima telpon dari pelatihnya harus latihan pagi ini di GBK lantaran harus tanding hari ini melawan semen padang tomi yang sekarang ini membela persija

Balon Pengantar Surat

Oleh:
Perkenalkan, namaku Vinni Nuraini Azizah. Biasanya, aku dipanggil Aini. Salam kenal! Sore ini, berbeda seperti biasanya. Rumahku ini, hening. Rumput-rumput bergoyang. Hujan yang begitu deras dan juga disertai petir,

My Age to Seventeen Years (Part 5)

Oleh:
Dan sekarang aku tahu mengapa aku sangat senang dengan angin dan merasakan angin di tebing itu. Aku tak menyangka bahwa Foster si pria yang aku curigai ini sebenarnya adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Raine Dan Rakyat Negeri Hujan”

  1. nur aeni says:

    izin share ke wa y kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *