Ramuan Keabadian (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 11 October 2015

“Oh! Andre! Ternyata kamu. Dari dulu kamu tidak pernah berubah senang bikin onar!” kataku sambil tertawa mengingat hal kemarin.
“Yang pertama aku gak sengaja. Yang kedua dan ketiga mungkin. Lilinnya uda keburu mati tuh. Bikin permohonan dulu,” tukasnya.
Hening sejenak. Setelah Shania selesai mengucapkan permohonannya dia meniup lilinnya.

Shania dan Andre menikmati keindahan taman yang sengaja dia dekorasi untuk menyambut kedatangan Shania. Mereka berbagi rasa senang, sedih, suka dan duka yang mereka jalani selama ini. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan.
“Ayo kita pulang,” sahut Andre.
Mereka berada di dalam mobil, dalam perjalanan pulang. Tapi Andre malah membelokkan mobilnya, tidak jadi menuju rumah Shania. Shania menunjukkan ekspresi yang heran.
“Kita jalan-jalan aja yuk. Udah lama gak ketemu sama kamu,” kata Andre.
“Tadi kan udah..” Shania melanjutkan, “Tapi gak apa-apa deh.”

Berikutnya mereka sampai di sebuah restoran mewah yang berhiaskan pilar-pilar emas di depannya, lantai marmer yang bercorak bagaikan ada yang melukisnya. Mereka masuk ke dalam restoran itu. Alangkah terpesonanya Shania, dekorasi restoran itu benar-benar indah. Dinding berwarna putih kekuningan dan jendela di ruangan itu dibuat besar sekali mengalahkan luas dindingnya, bahkan langit-langitnya pun dibuat transparan, seakan didekorasi layaknya tempat terbuka. Bisa memandangi langit-langit berkilauan penuh bintang. Bahkan gemerlapnya kota saat malam hari.

“Ayo duduk.” Andre menarik kursi untuk Shania.
“Iya.” Shania masih takjub melihat restoran ini.
“Aku baru tahu ada tempat kayak gini,” ujar Shania takjub.
“Baru pertama kali ya? Aku sih pernah diajakin ama klien aja. Aku juga kayak kamu. Kejutan.” Andre mengumbar senyum yang lebar. “Ayo kita makan!”
Lalu dia memanggil pelayan di ujung sana dan menunggu pesanan mereka. Saling tertawa membicarakan topik-topik seru dan tiada habisnya, mereka pulang menuju rumah Shania. Kali ini benar, tidak ada menyimpang ke jalan manapun.
“Terima kasih. Nanti aku undang kamu ke sini ya. Mungkin besok.” Shania menunduk melihat wajah Andre lewat kaca mobil.
“Sampai besok,” ujar Andre penuh senyum.

“Shania.” Andre memanggil Shania lewat teleponnya, dan disambut dengan hangat oleh perempuan yang berada jauh di sana. Tak tahu sudah berapa waktu berjalan, Shania dan Andre semakin dekat saja. Mengumbar kebahagiaan, keceriaan dan tawa setiap harinya. Andre ingin mengungkapkan perasaannya kepada Shania. Yang tak pernah dia tutupi. Dia menyadari Shania sudah berdiri di sampingnya. Cepat sekali dia datang, atau Andre sudah terlalu banyak melamun.

“Duduk.” Andre menengok dan matanya berbinar melihat Shania yang berpakaian serba manis hari ini.
Mereka memandang taman tempat Shania merayakan ulang tahunnya, bedanya suasananya ramai. Shania mungkin sama sekali tidak tahu kalau Andre akan menyatakan perasaannya hari ini. Karena tiap mereka bertemu hanya saling mengumbar cerita masing-masing dan Shania pernah berkomentar kalau Andre senang sekali memberi hadiah. Boneka beruang yang berukuran sedang yang dikirimnya membuat Shania ingin memeluk beruang itu setiap malam.

“Aku suka sama kamu.” Andre mengungkapkan perasaannya.
Shania sepertinya tidak kaget. Karena Andre memang tidak menyembunyikan rasa sukanya pada Shania selama ini. Dia hanya tersenyum. Karena Andre pasti tahu perasaannya juga.
Belum sempat Shania membuka mulutnya, Andre menyela.
“Maaf. Aku gak bermaksud untuk buat kamu suka sama aku. Aku cuma mau ngelakuin apa yang belum pernah aku lakuin. Ini adalah saat terakhir aku. Aku gak akan lama lagi ada di sini.”
Shania menganga bingung dengan maksud Andre. “Kamu kenapa? Kamu punya penyakit?” Shania hampir menangis mendengarnya.
“Ngga. Aku berhasil menghindari takdir aku sebelumnya. Harusnya aku sudah mati dari kemarin. Tapi aku punya kesempatan di sini di depan kamu. Untuk ngungkapin perasaan aku.” Andre menangis. Taman mendadak sepi.
Shania ikut sedih. “Terus kenapa? Kalau bukan sakit?”

“Sebentar lagi kamu akan mati mengenaskan, di depan sana. Saat kamu berjalan melewati garis-garis penyeberangan itu,” Kata pria tua itu saat Andre baru beranjak dari bangku tingginya sambil menaruh ramuan itu ke dalam saku jasnya.
“Benarkah? Kalau saya meminum ramuan ini, apakah saya tetap hidup?”
“Ya. Namanya memang ramuan keabadian, tetapi ini adalah saat terakhir hidupmu. Jadi kamu memiliki kesempatan 30 hari. Gunakan itu dengan baik. Hanya 30 hari,” jawabnya.
Terpikirkan Andre apa yang harus dilakukannya untuk 30 hari ke depan. Andre meminum ramuan itu. Dia merasakan pusing sebentar. Lalu dia menyadari pria tua itu sudah beranjak dari kursinya. Menghilang.

“Berapa waktu lagi yang masih tersisa?” Shania menelan ludah. Andre benar-benar merasa bersalah membuat Shania menjadi menyukainya. Seharusnya saat itu dia membuang ramuannya dan mati saja. Tapi yang terpikirkan saat itu hanya Shania. Andre menjawab, “8 hari lagi.”
“Aku tahu kamu merasa bersalah membuat aku jadi begini. Tapi, aku merasa bersyukur kita bisa bertemu. Aku juga suka sama kamu. Dari awal. Jadi kamu gak boleh nyalahin diri kamu sendiri.” Shania meneteskan air mata. Sepertinya dia tahu apa yang Andre rasakan.
Andre menjawab, “Ayo kalau begitu, lebih dari hari sebelumnya, kita habiskan waktu ini dengan penuh kebahagiaan. ”

Mereka berkencan layaknya sudah menjadi pasangan kekasih yang romantis. Tapi sebenarnya tidak. Mereka sedang menelan pil-pil pahit yang semakin pahit ketika menjelang keesokan harinya yang begitu cepat.
“Kamu percaya dengan ramuan keabadian itu?” tanya Shania. Dia tidak percaya dengan adanya ramuan keabadian itu. Siapa tahu saja bohong.
“Setengah percaya, setengah tidak. Tapi aku pikir aku tidak mati karena seharusnya aku sudah mati dari awal. Mungkin menambah kepercayaanku pada ramuan itu.”
“Kalau kamu tidak ingin mati pada hari itu, kamu jangan percaya dengan adanya hari itu,” tukas Shania.
“Kalau hari itu beneran ada?”
“Jangan kamu anggap hari itu seperti ultimatum. Anggap saja itu gak ada. Tuhan yang menentukan takdir, bukan ramuan itu. Jadi tolong, anggap aja gak terjadi apapun.” Shania memohon.

Andre menanggapi, “Nggak. Aku gak mau. Aku harus bersiap-siap.”
“Kalau kamu beneran percaya, itu bener-bener akan terjadi!” Shania menangis, sangat takut kalau Andre benar-benar meninggalkannya.
“Oke kalau begitu aku gak akan percaya. Gimana?” Andre mengabulkan permintaan Shania, walaupun dia sendiri masih was-was, tapi biarlah kekhawatiran ini hanya berpijak pada Andre. Dia tidak ingin gadis itu khawatir. Andre tersenyum meyakinkan.

Mereka akhirnya berusaha memulai semuanya dari awal, tidak memercayai segala sesuatu yang akan terjadi. Shania pun melupakan kejadian ramuan keabadian itu. Tapi tidak dengan Andre. Menyimpan rasa cemasnya, takut akan meninggalkan Shania, membuat Shania sakit hati, mencoba menerka bagaimana dia akan mati. Tapi akhirnya dia mengenyahkan semua itu. Dan merasa dirinya layaknya pria normal yang tidak tahu kapan hidupnya akan berakhir.

Benda-benda itu bersarang di dalam mobil Andre. Berbau harum dan menyegarkan. Andre tersenyum berkali-kali saat melihatnya. Mawar putih. Hadiah termanis kesekian yang Andre berikan untuk Shania. Andre belum pernah memberikan bunga untuk Shania. Bahkan saat menyatakan cinta pun, Andre tidak membawa bunga. Andre menerka kegembiraan yang terpancar dari wajah Shania nanti setelah menerima bunga-bunga ini.

Andre menuju ke taman dan ke luar dari mobil sambil membawa mawarnya. Terlihat Shania terpekik gembira melihat Andre dan sepuluh kuntum mawar putih itu berjalan menuju kepadanya. Dan selanjutnya kejadian yang tak pernah dibayangkan oleh Shania, dan tak akan pernah terlupakan oleh Shania. Kejadian itu berlangsung begitu cepat, mawar putih bertebaran di jalan, beberapa melepaskan mahkotanya, ada pula yang ternoda oleh bercak darah. Taman itu seperti hanya milik mereka berdua. Shania berteriak histeris dan langsung menghampiri Andre.

Kepalanya mengucur darah dengan deras. Dia tidak sadarkan diri. Segera saja orang yang berada di sekelilingnya menelepon ambulan. Tapi Shania tahu semuanya sudah berakhir. Dia hanya menangis memandangi Andre yang wajahnya penuh darah, berteriak memanggil namanya dan tahu pasti tidak akan ada jawaban. Shania berada di rumah sakit. Memandangi surat yang diberikan suster kepadanya sebelum Andre tiada.

“Shania, walaupun aku tidak memercayai adanya takdir ini, tentu saja aku cemas, aku takut kehilanganmu, aku takut tidak bisa membahagiakan kamu. Aku benar-benar takut semuanya. Tapi jika kamu memang tidak percaya adanya hari kematianku, aku juga akan berusaha. Aku akan berusaha menjadi seorang laki-laki yang tidak tahu kapan dia akan mati. Dan jika aku memang mati, aku akan mati tanpa rasa takut. Tapi aku takut kalau aku akan mati di depanmu. Aku akan merasa bersalah membuatmu sedih yang berkepanjangan. Tapi sepertinya itu akan terjadi. Tolong, setelah aku mati, hiduplah dengan baik.

Ini memang menyakitkan, tapi pasti akan sembuh seiring berjalannya waktu. Aku mohon carilah lelaki yang baik dariku. Yang tak tahu kapan dirinya akan mati. Yang menyayangimu, tentunya mencintaimu. Aku memang menyebalkan, suka berbuat onar dan membuatmu kesal. Dan yang satu itu, maafkan aku, tapi aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, Shania.”

Cerpen Karangan: Katrin Kim
Facebook: Katarina Kimberly

Cerpen Ramuan Keabadian (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Lovely Pilot

Oleh:
Pagi itu, Rani bangun lebih awal karena dia harus menjemput sepupunya di bandara. Hal ini membuat Rani kesal, karena yang harusnya menjemput sepupunya adalah adiknya. Rani adalah seorang mahasiswa

Panglima Nanggroe

Oleh:
Ketika daerah operasi militer atau disebut juga sebagai DOM masih berlangsung di Aceh pada tahun 2000, saat itu keadaan Aceh belum tentu aman untuk beraktivitas. Banyak nyawa-nyawa yang tidak

Terjebak Di Dunia Peri

Oleh:
Nica adalah gadis kecil yang berangan angan bertemu peri. Usianya masih 8 tahun. Ia mempunyai 2 sahabat yang bernama Lala dan Shesa. Mereka bertiga sebaya. Liburan sekolah pun sudah

Cinta Harus Terpisah (Part 1)

Oleh:
Suasana dalam gereja begitu tenang dan damai. Gadis itu tengah memejamkan kedua matanya. Dengan kedua tangannya yang tengah bertaut erat, ia melantunkan doa dalam hati kecilnya. Meminta dan memanjatkan

Hati yang Terluka

Oleh:
“Jangan pergi! Tolong tetaplah tinggal!” seru Reina meraih tangan lelaki bertubuh tinggi tegap. Matanya nampak berkaca-kaca menatap lelaki di hadapannya itu. Sementara pria tersebut hanya diam tak menyahut apapun.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ramuan Keabadian (Part 2)”

  1. Faradiba Salsabilla Puteri Santosa says:

    ceritanya bagus kak,menghanyutkan,tapi kak kalau boleh tau,akhirnya tokoh andre tiba-tiba mati karena apa kak?kok tiba-tiba kepalanya mengucurkan darah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *