Ranjang Yang Sama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 6 May 2017

Ketukan pintu berhasil membangunkanku dari tidur. Walau terpaksa aku pun membukanya. Namun, rasa kantuk seketika hilang ketika seorang lelaki dengan sigap masuk dan menutup pintu. Aku pun mencoba untuk berteriak, tetapi dia menghentikanku.

“sstt. Jangan berteriak! Di luar banyak orang. Mereka akan berpikiran buruk jika tahu kita berada di sini” katanya, sambil menempatkan jari telunjuknya di bibirku. Aku yang sangat terkejut, hanya menatapnya bingung, lalu mengangguk. Merasa aku sudah lebih tenang, dia tersenyum lalu menggendong dan mendudukanku di atas ranjang.

Pandanganku tak lepas dari lelaki itu. Senyumnya terasa tak asing. Setiap gerakannya membuatku bingung, tetapi ada perasaan hangat di dalamnya. Sentuhannya pun membuat terlena. Aku berpikir siapa gerangan yang sedang berjalan dan meraba setiap barang di dalam kamarku. Ah! Bukankah lelaki itu yang sering aku temui di bus kampus? Sosok yang selalu aku amati diam-diam? Lalu, bagaimana dia dapat berada di sini? Ah, tidak peduli! Yang terpenting sekarang aku bisa melihatnya lagi. Gumamku dalam hati.

Lelaki itu berjalan mengelilingi kamar yang tidak terlu besar. Meraba setiap barang yang ada. Saat ini pun dia menuju sebuah lemari berwarna hitam, tempat barang-barang pribadiku. Bagian rak atas dipenuhi oleh boneka mickey mouse. Dari sekian banyak, dia mengambil boneka yang berwarna merah. Tahu saja itu yang terbaik, kataku dalam hati.

Lelaki tersebut menoleh padaku dan mengangkat boneka pilihannya tersebut. Aku pun tersenyum seakan mengerti isyarat yang diberikan. Dia kembali menyimpannya di tempat semula. Pandangannya kini menuju rak ke dua, yang mana terdapat sebuah kotak berwana hijau. Tidak! Jangan dibuka! Rasanya aku ingin berteriak untuk melarangnya. Namun, mulut ini terasa kaku dan membisu. Aku hanya dapat menggelengkan kepala saat lelaki itu hendak membuka kotak tersebut. Beruntung, dia mengerti, lalu tersenyum dan meninggalkan kotak tersebut.

Rak paling bawah, rupanya tidak menarik perhatiannya. Dia hanya memperhatikan sekilas, kemudian berjalan meninggalkan lemari. Padahal, pada rak tersebut, tersimpan banyak barang yang sangat berarti, salah satunya buku catatan pribadi.

Kini dia menuju sebuah benda yang paling penting, tabung oksigen. Melihatku yang tertunduk malu, dia menghampiri lalu mengusap rambut. Mataku terbebelak, sangat terkejut. Hingga akhirnya dia kembali memperhatikan seisi kamar dan meninggalkanku yang masih terdiam.

Aku menahan tawa saat dia memperhatikan sebuah meja rias. Sepertinya lelaki itu tidak mengerti masalah make up dan tidak ingin berlama-lama berada di situ. Dia pun meninggalkan meja tersebut dan beralih pada beberapa lukisan yang dipasang berdampingan dengan jam dinding. Lelaki itu sepertinya penasaran dan terus menerus memperhatikannya. Namun, aku hanya menggeleng sebagai isyarat bahwa tidak dapat menjelaskan apapun. Lagi-lagi dia dapat mengerti. Dia pun kembali berjalan dan meninggalkan lukisan.

Lukisan tersebut sangatlah berarti, karena merupakan hadiah dari orang yang istimewa. Setelah menjejaki seluruh barang yang ada, dia berjalan menuju padaku. Lelaki itu kini berbaring di atas ranjang yang sama denganku. Aroma tubuhnya yang wangi, membuat sulit berpikir jernih. Aku pun bahkan tidak peduli bagaimana situasi yang ada di luar kamar ini.

Dia menempatkan lengannya di bawah pundakku. Tentu saja aku terkejut, tetapi sangat nyaman. Lelaki itu tersenyum seakan mengerti. Kemudian dia mengecup dahiku dan kami berdua terlelap di atas ranjang yang sama.

Ketukan pintu lagi-lagi mengganggu tidurku. Rasanya kali ini tidak ingin terbangun dan melanjutkan tidur bersamanya saja. Namun, suara tersebut semakin kencang. Aku pun membuka mata dan melihat sekitar. Lelaki itu tidak ada! Dan kami tidak tidur pada ranjang yang sama. Perasaan lega pun kini bercampur dengan kecewa. Sudahlah, hanya mimpi saja. Gumamku. Aku pun mecoba untuk kembali berpikir jernih dan membuka pintu. Ternyata itu ibu.

“Kamu kok tidur lama banget sih, Kak. Sini ikut, ada yang mau ibu kenalin”. Aku hanya membalas dengan senyuman lalu mengangguk.

Ibu pun mengajakku menuju ruang tamu dan aku terkejut melihat siapa tamu tersebut. Dia! Dia lelaki yang tidur satu ranjang denganku! Jantungku berdegup dengan kencang. Aku pun tidak dapat berkata apapun. Saat ibu meninggalkan kami berdua, lelaki itu membisikan sesuatu hingga membuat jantungku sepersekian detik berhenti berdetak.
“Terima kasih telah berbagi. Kapan-kapan kamu yang harus berkunjung, karena aku juga punya ranjang yang sama denganmu.”

Cerpen Karangan: Fitri Nur Fadilah
Blog: fadilahfitri.blogspot.com

Cerpen Ranjang Yang Sama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis di Tebing Dekat Pantai

Oleh:
Suatu hari, aku dan keluargaku pindah ke rumah baru. Rumah itu berada di dekat pantai yang indah. Kami memerlukan waktu 3 jam untuk sampai di sana. Saat aku tiba,

Upacara Bulan

Oleh:
Pangeran Tsubaki sebagai yang tertua dari sepasang kembar sudah ditakdirkan menjadi pemimpin kerajaan selanjutnya. Semua rakyat menyukai caranya memimpinnya. Pangeran Tsubaki juga disebut “Pangeran Perak” karena rambutnya seperti perak

Bunga Lili Putih

Oleh:
Mary menangis tersedu-sedu di atas kasurnya. Sejak tiga puluh menit yang lalu, air matanya tidak berhenti membasahi pipi anak berusia sembilan tahun yang polos ini. Rambut panjangnya yang acak-acakan

The Shadow

Oleh:
Tetes air ke sepuluh. Aku melenguh. Menepi dari guyuran hujan. Hujan di bulan November ini membuatku cukup menggigil dan sial aku lupa membawa mantel. Tak ada pilihan lain selain

Wajah di Balik Jendela (Part 1)

Oleh:
Tepat pukul 5:45 sore, sambil menatap jam dinding kuno di atasnya, Kondektur tua bermuka masam di stasiun Hualamphong, Bangkok, yang sedang melambaikan bendera merah. Di iringi jerit peluit, Eastern

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *