Real Dream

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 24 November 2017

Pagi yang cerah, bunga-bunga yang bermekaran turut serta menyambut hangatnya mentari pagi. Lain dengan susana hatiku, tidak ada kata lain selain malas, bagiku hari ini tidak menarik.

Seperti biasanya, sesampai di kelas aku meletakkan kepalaku di meja sembari menunggu guru datang. Terdengar celotehan teman-temanku yang tengah membicarakan siswa baru. Siswa baru di sekolahku sudah biasa. Namun, dengar-dengar siswa baru yang ini beda dari yang lain karena kepintarannya.

Beberapa saat kemudian, sang guru datang. Siswa itu pun dipersilahkan memperkenalkan diri di hadapan kami. Namanya Hyun rae. Namun ada yang tidak biasa menurutku. Bukan karena ia tampan, namun karena tatapannya. Entah mengapa aku lebih memilih mengabaikannya dan meletakkan kembali kepalaku di atas meja, atau lebih tepatnya aku tidak peduli dengan kehadirannya.

Tak disangka baru beberapa hari ia pindah ke sekolah ini, kepala sekolah mencalonkan dia untuk mengikuti perlombaan akademik bidang olimpiade kecerdasan ilmu pengetahuan umum. Padahal selama ini, yang mewakili sekolahku dalam hal perlombaan akademik selalu aku. Aku memang suka tidur di kelas dan tidak memperhatikan guru, tidak seperti yang dilakukan anak lainnya. bukan berarti aku bodoh, justru karena aku sudah bisa.

Menurutku anak baru itu adalah sainganku. Bagaimana tidak, dia selalu berhasil mencuri nilai dariku selama pelajaran, berhasil membuatku geram dan berhasil membuatku untuk pertama kalinya mau belajar.

Suatu ketika, aku benar benar penasaran, dia bisa sepintar itu dari mana asalnya. Aku pun mencoba mencari tahu dengan mengikuti langkahnya saat ia pulang sekolah.
Namun sesampainya ia di depan sebuah rumah, tampaknya ia tahu keberadaanku. Ia berhenti di tempatnya tanpa menoleh seraya berkata, “Kenapa mengikutiku Hana jung?” Tanyanya. Aku terkejut dan tidak dapat mengelak. Aku pun menuju ke arahnya.
“Kau tahu aku mengikutimu?” Tanyaku.
“Aku tahu. Mengapa kau mengikutiku?” Tanyanya dingin.
“Aku hanya ingin tahu rumahmu” Jawabku.
“Atau lebih dari itu? Katakan saja” ucapnya sembari menoleh ke arahku. Tatapannya tajam. Aku takut sekali, perlahan nafasku terasa berat dan mataku berkunang-kunang.

Aku terbangun dari tidurku. Seolah telah habis setahun kugunakan untuk tidur. Mengadapkan wajahku ke cermin, tampak mataku memerah namun tidak sakit. Apa yang terjadi?

Kuambil segelas air dan mulai mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Ketika sedikit demi sedikit aku mulai ingat yang sebelumnya terjadi, aku pun terkejut. Perasaanku mengatakan jika aku tadi bertemu dengan anak baru dan mengikutinya pulang. Namun mengapa aku di sini? Di rumah? Aku mulai mengingatnya lagi, aku merasa aneh semenjak datang anak baru itu, karena aku mulai bisa membaca masa depan dan masa lalu orang lain dengan sangat jelas, seperti menonton film. Hal yang membuktikan ialah saat ada masalah di keluarga temanku, dan aku berhasil memecahkannya karena kemampuan itu.

Esoknya, aku berusaha melakukan hal yang sama. Aku membuntutinya lagi, dan dia memergokiku lagi seperti sebelumnya hingga beberapa kali. akhirnya aku pun mengatakan yang sebenarnya.
“Aku membuntutimu karena aku ingin tahu siapa kau sebenarnya” Kataku.
“Seharusnya aku yang bertanya. Bagaimana kau bisa ada di sini?” Aku tidak paham dengan pertanyaannya. Jelas aku ada di sini karena mengikutinya. Namun belum sempat aku menjawab, ia melanjutkan ucapannya.
“Hana jung, kau tersesat. Ini bukan duniamu. Aku hanyalah mimpimu, sekarang bangunlah.” Ucapnya.
“Apa maksudmu? Ini mimpi? Aku tidak sedang tidur sekarang. Ini bukan mimpi.”
“Semua teman yang kau lihat di kelas, itu hanya bayangan mereka. Bukan asli. Kembalilah ke hidupmu. Dan jalanilah hidupmu dengan bahagia bukan dengan malas-malasan.”
“Sampai jumpa lagi” lanjutnya tanpa menunggu jawabanku.

Aku pun tarbangun dari tidur panjangku. Lelah sekali rasanya, seolah baru saja menjelajahi dunia atau baru berlari mengelilingi lapangan sekolah. Kepalaku terasa begitu sakit.

Aku berangkat ke sekolah dengan malas. Sesampai di sekolah seperti biasanya, aku meletakkan kepalaku di meja dan mendengar celotehan teman-teman tentang siswa baru.

Tak berapa lama, siswa baru itu pun masuk ke kelasku lalu memperkenalkan diri. karena penasaran, aku pun mengangkat kepalaku dan menatapnya, tatapannya Raman. Sontak aku terkejut, “Hyun Rae?” Terlihat ia tersenyum padaku.

Cerpen Karangan: Amila Rosyida

Cerpen Real Dream merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bloody Angel

Oleh:
Aku adalah sebuah pisau dapur. Aku dibuat untuk para ibu-ibu yang ku pastikan memakai jasaku melayani suami dan anak mereka. Sebesit pikiran melintas, terbayang seorang ibu-ibu bertubuh gempal bercelemek

Sarangheyo X-Cool

Oleh:
Teriakan dan sorak kegirangan sudah tak terdengar lagi, berganti dengan hening yang membelenggu hati, membuat beberapa pasang mata terlihat memerah karena air mata yang terus mengalir. Begitu menyentuh di

Bimbimbab Bulgogi

Oleh:
“Cincah!, njang! salamdeul-eun wae eojjaessdeun e naleul ttaleula ida?! ttohan sonsil, yeogi seong su issseubnida! jenjang jenjang! salamdeul-eun wae eojjaessdeun e naleul ttaleula ida?!,” hardiknya kepada dirinya sendiri sembari

Imajinasi Naga

Oleh:
Maulana adalah seorang penulis muda yang baru berumur 15 tahun. Sudah ribuan cerita yang ia tulis, dan semuanya disukai oleh semua kalangan, ini adalah prestasi yang sangat tinggi, apalagi

Penyesalan Ketika Dia Pergi

Oleh:
Darimana ku harus memulai? Sungguh sulit bagiku mengutarakan, segenap isi hati yang lama ku pendam, Apakah ada kata yang pantas untukku menggambarkan? Sosok kekasih yang begitu berarti dalam kehidupan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *