Rick (Masa Depan)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 June 2017

Ada cerita yang tak boleh kamu ceritakan. Dan inilah ceritaku yang tak boleh aku ceritakan.
Tapi mungkin aku memang membutuhkan seseorang untuk menemaniku bercerita.

Indonesia, 2002 (keynes memiliki seorang putri bernama rani), Baca: KEYNES & HAZTIN

Orang itu menatapku terus menerus, ia melihatku dengan pandangan yang sulit aku artikan. Ada perasaan jangal ketika kedua mataku balas menatap dia. Lalu dia bergerak, berjalan ke arah tempat dimana aku duduk, disudut perpustakaan. Karena rasa takut yang berlebihan aku segera membereskan buku-bukuku dan beranjak dari tempat dudukku menuju pintu keluar perpustakaan.

Orang itu tidak mengikuti. Sepertinya aku salah sangka tentang dia, dia mungkin saja ingin duduk di tempat aku duduk tadi. Ya, dia memang selalu berdiri di sana, di tempat dia berdiri tadi, dekat rak buku psikologi adalah tempat paling gelap dan pojok di perpustakaan kampus. Sudah seminggu ini aku melihat dia berdiri di tempatnya seperti hari ini, dia tidak membaca hanya menatap ke arahku. Ini rasanya seperti sesuatu yang sama seperti penguntit. Tapi mana mungkin orang setampan dia menguntit aku?

Aku buru-buru melangkah memasuki kelasku. Ada beberapa teman-teman sudah duduk manis menunggu dosen, mereka saling berbicara satu sama lain, mungkin hanya aku yang tidak memiliki teman ngobrol di kelas ini. Baiklah, aku tidak terlalu memerlukan pembicaraan yang tidak bermutu.

Jujur saja, aku memang memerlukan seseorang untuk membagikan semua cerita yang tak bisa aku bagikan, tapi aku tidak cukup memiliki kata-kata yang tepat untuk itu. Kegiatanku di kampus ini Cuma belajar dan belajar, sisa waktu menunggu kelas dan istirahat aku habiskan di perpustakaan, makan siang pun sambil belajar dan semua itu aku lakukan di perpustakaan. Aku bersyukur dan berterima kasih pada penjaga perpustakaan yang mengizinkan aku membawa makan siang ke perpustakaan, dengan syarat tidak mengotori meja perpustakaan.

Ada kalanya aku memang merasa jenuh dan kesepian dengan rutinitas yang selalu sama dan monoton tapi mau diapakan lagi, aku cukup bahagia berada di zona nyaman seperti ini. Aku pikir akan seperti ini terus namun ternyata aku salah, sejak cowok yang aku lihat di perpustakaan itu seperti mengikuti dan mengamatiku, aku jadi mengurangi jadwalku untuk ke perpustakaan. Pada faktanya aku tidak terlalu senang diperhatikan, apalagi oleh orang yang tidak aku kenal.

Sejak hari itu kehidupanku mulai berubah. Aku tidak lagi menghabiskan waktu di perpustakaan ketika tahu cowok itu lagi berdiri di tempat nongrongnya, aku mulai menjadi aneh dengan mengajak orang lain makan siang bersama hanya karena takut ke kantin dan memilih makan siang dikelas, aku pun mulai memilih mengerjakan tugas berkelompok karena takut berjalan sendirian ke perpustakaan karena jika sendiri aku pasti akan mengalihkan perhatian ke tempat berdiri cowok aneh itu.
Dan memang ada yang berubah.

Sesuatu yang lebih menyeramkan. Detik dimana aku mencari tahu tentang cowok itu, menit dimana aku melihat dia berdiri di tempatnya tanpa menatapku, jam dimana aku merasa ada sesak ketika dia tak menatapku seharian ini. Ya, itu menyeramkan. Apa aku sudah mulai penyakitan? Bolehkan aku menceritakan ini pada seseorang? Tapi siapa cowok itu? Aku benar-benar harus tahu siapa dia lalu apa tujuan dia terus berada di sana.
“Hey, Rani, diem-diem aje. Gimana tugas hari ini? Sepertinya bakal ada ujian dadakan, Ran.” Gadis berambut cepak itu bernama Kiki, dia menarik kursi disampingku dan mulai mengeluarkan buku lalu duduk dan menyandarkan bahunya dengan santai.
“Tugas aku udah kelar. Tapi kok mau ujian? Tahu dari mana?” aku menyodorkan buku akuntansi dan diterima Kiki dengan cepat.
“Cakep nih, bener semua.”
“Ngomong-ngomong, aku tahu bakal ada ujian dari kenalan kamu. Dia nitip sesuatu buat kamu, kamu kok gak bilang-bilang kalo punya kenalan orang cakep?”
Kiki berujar sembari mengacak isi tasnya mencari-cari sesuatu dan segera mengeluarkan sebuah kotak berwarna Biru tanpa desain, benar-benar kotak yang biasa saja sesuai dengan apa yang aku sukai.
“Nih,” Kiki menyodorkan kotak itu padaku. “Dia bilang agar kamu segera menghubungi dia kalau udah buka kotak ini.” Kiki menambahkan keterangan lagi namun firasat aneh mulai kurasakan ketika melihat kotak itu dan segera kumasukan ke dalam tasku.
“Loh, kok disimpan? Buka dong, aku penasaran apa isinya.” Kiki memprotes ketika tahu aku lebih memilih menyimpan kotak itu.
“Dia bilang apa aja? Kok tahu soal ujian?” aku mencoba mengalihkan perhatian Kiki dan Kiki menjawab dengan santai.
“Aku ketemu dia di depan perpustakaan, dia bilang nitip ini buat Rani dan semoga sukses ujian Akuntansi.”

Keningku berkerut dan merasa ada yang aneh. Kiki bertemu cowok di depan perpustkaan? Dan dia tahu aka nada ujian Akuntansi sedangkan anak kelasku sendiri tidak ada yang tahu aka nada ujian, ini sedikit jangal. Mungkinkah dia asisten dosen?

“Memangnya dia asisten dosen?” aku kembali membaca buku akuntansi, kalau memang benar akan ada ujian sebaiknya aku belajar dari sekarang sebelum dosennya datang.
“Sepertinya tidak. Lalu siapa dia, Rani?”
Aku mengangkat kedua bahuku dan menatap Kiki, Kataku “Kamu tahu sendiri kan, sampai semester tiga ini aku gak mencoba menjalin pertemanan dengan manusia-manusia di sini? Aku Cuma akrab sama kamu.”
Kiki mengangguk kepalanya dan kembali menatap buku akuntansinya. Katanya, “Tapi sepertinya dia ngenal kamu banget, sampai kasih kotak biru itu. Setahuku kamu juga suka warna biru dan sesuatu yang sederhana kan? Dan ternyata bukan Cuma aku yang tahu kebiasaan kamu.”
Perkataan Kiki terus menghantuiku sampai dosen masuk kelas dan memberitahu hal yang sama seperti yang disampai Kiki.

Hari ini kami ujian mendadak.
Dan ada yang aneh, aku bisa menjawab soal hari ini dengan baik. Ya, aku rasa berkat belajar beberapa menit sebelum dosen masuk.

Aku buka? Iya, sebaiknya aku buka.
Tidak. Bagaimana kalau isinya sesuatu seperti kodok atau kecoak? Aduh, aku sangat takut dibohongi.
Baik. Sebaiknya aku buka saja.

Tok tok tok
Aku terkaget Karena ketukan dipintu kamarku. Segera aku menyembunyikan kotak itu di bawah bantal, buru-buru aku berlari dan membuka pintu.
Tampak mama sedang berdiri dengan wajah khawatir.
“Kamu baik-baik saja? Kamu pulang dengan buru-buru tanpa menyapa mama di dapur jadi mama pikir sesuatu terjadi sama kamu.”
Aku tersenyum agar menenangkan mama. “Aku baik-baik saja, ada tugas yang harus segera diselesaikan makanya aku buru-buru ma.”
Mama akhirnya pamit untuk memasak makan malam, aku merasa lega dan menutup pintu kamar. Aku berbalik untuk membuka kotak aneh itu, baiklah aku berharap isinya bukan kodok atau pun kecoak.

Kamu sudah melihat aku? Kapan kita akan bertemu lagi? Kenapa kamu jarang ke perpustakaan lagi? Apakah kamu sudah mengetahui semuanya?
Sevo

Lalu malam pun berlalu. Aku mendapati diriku tertidur terlelap sembari memeluk surat dari seseorang bernama Sevo.

Hey, meski akhirnya kamu tahu yang sebenarnya apakah kamu akan meninggalkan aku? Apakah kamu akan lari? Menjauh dan tak akan bisa kuraih lagi?
Aku melonggo, mencari-cari suara yang mengajak aku bercakap. Tapi yang kudapati hanya Kiki yang sedang berjalan berdampingan denganku, dia sedang membaca sesuatu di handphonenya.
“Kiki, kamu tadi nanya sesuatu?” aku mencoba bertanya pada Kiki ketika ia mengangkat kepala dan mengeleng, wajahku berubah menjadi pucat.
Apakah sekarang aku jadi gila? Kenapa aku berhalusinasi seperti ini?
Benarkan, kamu benar-benar akan pergi dari aku.
“DIAM!” aku berteriak dengan sekuat tenaga mencoba mengahalau suara-suara itu, namun yang aku dapati adalah keadaan dimana Kiki menatapku aneh, dan sedang memeluk bahuku, mencoba menenangkan aku. Beberapa orang berjalan sembari berbisik-bisik, ada yang secara terang-terangan berkata bahwa “APA IA SEDANG MABUK?”

“Ayo, kita ke UKS.” Kiki menuntun langkahku menuju UKS, Kami berjalan agak tertatih namun Kiki tetap mencoba menopang langkahku agar aku tidak roboh.
“Ada apa, Rani? Kamu kok pucat sekali?”
“Apa aku tampak seperti orang gila?”
“Hey, aku gak nanya begitu loh,”
“Aku yang bertanya, Ki.”
“Tidak. Kamu Nampak lelah. Sudahlah.”

Kenapa Rani? Kamu takut padaku? Apa kamu mau tahu semua, ini semua karena kamu.
Dan semuanya menjadi gelap.

Aku merasakan panas yang menyentuh kulit wajahku, mataku merasakan perih dan memaksaku untuk membuka mata.
Ruangan putih, jendelanya terbuka dan membuat matahari memasuki dan menyinari tempat dimana aku terbaring. Aku berusaha mengerakan badanku. Anybody here?
Seseorang terbaring di sofa, tak bergerak sama sekali. Apakah dia sudah mati?
Wajah itu…
Aku pernah melihatnya. Tapi di mana?
Aku…
Aku…
Merasa sesuatu yang sangat aneh, tubuhku gemetaran dan mataku memanas. Airmata mengalir tanpa henti, kenapa? Kenapa aku begini? Kenapa dia disini? Kenapa?
Aku…
Apa benar itu dia?
Rani, mungkinkah kamu sudah kehilangan akal sehat dan memimpikan dia?

“Rani,”
“Rani, ada apa? Kenapa kamu begini?” Kiki memasuki ruangan dimana aku terbaring, dia dengan wajah khawatir memeluk erat tubuhku.
Orang itu terbangun karena keributan, lalu dia menatap aku. Keningnya berkerut dan ia bersadar pada sofa, ia hanya menatapku dengan wajah memencarkan kesedihan.

“Rani, sebaiknya kita pulang. Aku sudah memberi kabar bibi dan paman, mereka sedang dalam perjalanan ke sini,”
“Rick, kamu… kenapa?” aku terisak sembari menatap pada Lelaki yang sedang menatapku, Kiki mencoba memfokuskan padanganya ke tempat dimana Rick duduk, namun wajahnya menampakan kehampaan.
“Kamu tahu, aku gak pernah bisa menjauh dari kamu.” Rick berbicara, wajah itu pucat pasi dan kedua matanya menitikan air mata, seperti kami selama ini, rumit.
“Kenapa? Sevo…”
“Sevo dan aku mengalami kecelakaan, kamu gak tahu? Dia selama ini juga selalu menjaga kamu, hanya saja dia berusaha jadi orang lain demi kamu, demi kamu gak mengetahui yang sebenarnya.”
Aku menangis lagi. Menangis lagi. Aku tidak paham semua ini.
Benar-benar tidak paham.
Sevo yang muncul di hadapanku itu bukanalah Sevo yang aku kenal dulu. Kenapa? Kenapa semua ini terjadi?

“Rani, kamu baik-baik saja? Astaga, putriku.” Mama memasuki kamar dengan buru-buru diikuti papa, mereka Nampak sangat khawatir.
“Ma, Sevo, Ma, Rick” Aku menangis dan mengadu pada mama.
“Ada apa?” Mama mengambil ahli pelukan Kiki, Kiki mundur dan memberi ruang pada mama, papa juga memelukku erat.
“Sevo, Rick”
“Puji Tuhan, mereka baik-baik saja saat ini, kita doakan mereka agar cepat siuman.”
“Maksud mama?” aku terkaget dan melepas pelukan mama dan papa.
“Mereka mengalami kecelakaan sebulan yang lalu di Amerika, sampai saat ini mereka masih mengalami koma. Mereka baik-baik saja, percaya pada mama ya.”
“Mama sama papa tahu semuanya?”
“Maaf sayang, mama dan papa terpaksa menyembunyikan ini dari kamu karena ini permintaan tante Haztin. Mereka hanya gak mau kamu sedih, dan mama yakin Sevo dan Rick juga gak ingin kamu bersedih.”
Aku memeluk mama dan menangis lagi. Aku takut kehilangan Mereka, aku takut kehilangan Sevo, apalagi Rick. Tidak!
Aku melihat Kiki Nampak bengong. Maafkan aku Kiki, kamu tidak seharusnya melihat aku seperti ini.

Aku akhirnya memutuskan untuk bertemu Sevo di Perpustakaan, menit pertama kami hanya terdiam, lalu akhirnya aku menangis dan diikuti dia.
Dia mengutarakan bahwa selama ini dia memperhatikan aku, masuk fakultas Psikologi, menyamar, karena kami memiliki masa lalu yang rumit memaksa kami untuk tidak saling bertukar kabar.
Aku menangis dan meminta permohonan maaf, aku juga memohon agar mereka berdua cepat bangun dari koma. Aku yakin mereka bisa karena aku tak ingin kehilangan mereka.
Karena selama ini aku tidak bisa memaafkan kesalahan kami di masalalu membuat kami sulit untuk berbaikan. Akan kah mereka bangun lagi? Jangan bertingkah seperti hendak pergi dari ku, Rick , Sevo.
Lalu mereka berdua menghilang. Ada apa?

“Jadi mereka kembaran?” Kiki memulai pertanyaan ketika kami sedang berada di dalam kamarku, hari ini aku menangis lagi ketika berusaha menelepon tante Haztin, mereka tidak menjawab telephone dariku, mungkin memang inilah yang terbaik.
Aku mengangguk kepala, membenarkan apa yang dikatakan Kiki. Kiki terus saja menemaniku sejak kejadian di UKS yang membuat dia juga syock.
“Kami memiliki masa lalu yang mengerikan, itu membuat kami jauh.” Aku mengusap air mata yang jatuh lagi dari mataku, Kiki mengusap bahuku agar membuatku tegar.
“Masa lalu? Kau bersedia membaginya?”
“Oh, aku tidak memaksa kamu kok.”
“Ya, akan aku ceritakan.”

SELESAI

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: bungasaljuindah.blogspot.co.id
Sebelum baca ini, Baca dulu KEYNES dan HAZTIN ya.
Terima Kasih telah membaca.
Dukung aku terus agar bisa terus berkarya di cerpenmu.

Cerpen Rick (Masa Depan) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Ada Kejahatan Yang Sempurna

Oleh:
Di seluruh Inggris namanya dikenal. Detektif Richard. Detektif paling berpengalaman di Inggris. Kota kelahirannya di London. Dan hari ini dia akan “bergulat” melawan salah satu dari sekian banyak kasus.

Petualangan Di Dunia Penyihir

Oleh:
Di sebuah desa, ada seorang gadis penyihir yang bernama Levi, ia bermata hijau dan berambut pirang. Levi adalah penyihir tumbuhan, ia juga pandai meracik ramu-ramuan, setiap hari ia pergi

Onema

Oleh:
Pada sebuah massa, di alam semesta, Ada sebuah negeri yang disebut sebagai negeri tertinggi. Di negeri ini dimana orang-orang yang tinggal di sana memiliki kekuatan yang luar biasa serta

Pertaruhan Semu

Oleh:
“Meratapi takdir sendiri tentu saja bukan hal yang dibenarkan. Namun, hanya itu yang bisa kulakukan selama ini.” Ujar Takdir. “Apa motivasimu berbuat seperti itu? Bukankah kau tak harus mati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *