Robot Penyerang (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 23 October 2016

“ada pesan” kataku sambil membukanya
“jangan khawatir mereka dipindahkan ke tugas lapangan, kau disini sendiri dan bekerjalah dengan baik” pesan video dari orang yang aku, ilham dan widya temui kemarin yang ternyata adalah pimpinan mereka

Seminggu lebih aku di dalam ruangan tanpa sinar matahari masuk sedikit pun, kulitku terlihat pucat karena selama 2 hari ini aku dipaksa untuk cepat menyelesaikan program mereka tanpa tidur, mataku mulai sangat lelah dan tak kuat untuk terus bekerja

“hei nak, kau sudah selesaikan semua?” tanya pimpinan mereka yang datang tiba-tiba
Aku hanya menggelengkan kepalaku
“tidak? Bagaimana kau tidak bisa?” tanyanya
“aku tidak tahu apa pun tentang program robot penyerang” kataku mulai kesal
“apa? Kau.. kau tahu darimana tentang itu?” tanyanya
“a..aku..” ucapku
“sudahlah, kau pasti tahu dari mereka ya? Biar aku perjelas dan luruskan pemikiranmu, robot ini dirancang untuk menyerang para pemberontak di kota dan untuk melindungi setiap orang disini” jelasnya
“ta.. tapi..” kataku
“sstttt… kami datang untuk melatihmu dan membantu menyelesaikannya ini buku panduannya, kami akan menggunakannya dengan baik” katanya
“jangan bohong!!” kataku dengan nada agak keras
“kau pikir aku pembohong? Buktikan kalau aku pembohong?” tanyanya
“jawab pertanyaanku, dimana ilham dan widya?” tanyaku
“mereka ada di ruangan kerja yang lain lihatlah!, mereka juga sedang bekerja jadi jangan ganggu mereka” katanya sambil menunjukan sebuah jam dengan video cctv di sebuah ruangan yang terdapat ilham dan widya yang sedang duduk
“baiklah ayo mulai latihannya” lanjutnya
Entah kenapa aku menurutinya badanku seperti bergerak sendiri
“apa benar yang dia bicarakan itu?” pikirku terus bertanya tanya

Setelah satu bulan orang-orang itu datang dan melihat hasil kerjaku
“apa ini yang namanya robot penyerang?” kata salah seorang berbadan tegap
“tenanglah jendral, aku yakin dia melakukannya dengan benar, kau ingat 3 minggu lalu kita telah melatih dan memberitahunya kan?” kata pimpinan mereka
“tidak pak, saat itu aku sedang pergi untuk memantau situasi di kota” jawab jendral mereka
“baiklah, aku yang lupa” kata pemimpinnya
“hei nak, kerja bagus kau menyelesaikannya” lanjutnya sambil mengusap kepalaku
“untuk keamanan, lebih baik kau tetap di dalam sini dan tak seorang pun bisa masuk ke dalam sini” lanjutnya lagi
“ayo semua kita persiapkan” lanjutnya sambil berseru
Mereka pergi dan semua pintu tertutup rapat, aku benar-benar di kunci di dalam sini

“bagaimana aku keluar dari sini? tak seorang pun bisa mengeluarkan aku” kataku
“tunggu dulu, jika tak seorang pun bisa masuk ke dalam sini berarti aku bisa keluar sendiri” kataku
“tapi bagaimana caranya?” tanyaku
“aku jadi ingat rencana melarikan diri bersama…” kataku
“ya itu dia, aku bisa mengambil alih sistem, sekarang semua orang disini telah keluar maka aku akan mudah untuk mengambil alih sistem” lanjutku

Setelah bekerja dengan keras masuk sistem, aku pun mulai mendapat respon yang baik, tak perlu waktu sebulan hanya dua hari saja sistem itu telah selesai diretas, dan aku bisa ambil alih kendali, aku pun mencari ilham dan widya dari satu ruangan ke ruangan lain dengan cctv, aku pun menemukannya dan agak sedikit aneh dengan ilham dan widya, mereka masih di tempat yang sama dan dalam posisi yang sama tapi aku hiraukan itu dan segera pergi ke ruangan itu serta membuka pintunya dengan sistem
“aku tak sabar bertemu mereka dan melihat dunia luar setelah sebulan terkurung disini” kataku begitu senang
“ya ini dia ruangannya” kataku
“ilham! Widya!” kataku tapi tak ada respon dari mereka
Aku pun mendekatinya dan ternyata itu hanyalah sebuah robot boneka yang sudah tak terpakai
“aku tertipu!” kataku
“aku harus segera mencari mereka” kataku

Aku pun bergegas mencari jalan ke luar dari sini tapi tak aku temukan lalu aku pun kembali ke ruanganku dan mencarinya melalui komputer cctv, setiap tempat aku cari mulai dari tempat konsumsi yang banyak makanan dan minuman sampai tempat kosong yang terbengkalai, aku pun melihat hal yang aneh terdapat 4 orang yang terikat di belakang bangunan ini di depan sebuah halaman belakang yang luas dan terlihat panas
“aku harus kesana” kataku yang langsung bergegas kesana

Setelah sampai disana aku melihat mereka sudah terlihat lemas dan dalam kondisi kelaparan
“aku seperti pernah melihatnya, orang ini mirip ilham dan yang ini adit…” kataku yang langsung terkejut
“ilham, adit dan semuanya!” kataku tercengang melihat mereka telah berbeda dengan rupa yang saat itu aku kenal, badan mereka kurus dan banyak luka mereka juga dalam keadaan pingsan
“bagaimana ini? Aku harus mencari makanan” tanyaku

Aku ingat di sekitar sini ada ruangan konsumsi dan masih banyak makanan dan minuman tersisa, aku segera kesana dan mengambil beberapa makanan dan air serta beberapa obat luka, aku pun menyadarkan mereka dan mereka pun bangun
“rizki? kau kah itu?” tanya ilham
“iya ini aku, ayo cepat makan ini dan yang lain silahkah makan” kataku
“apa yang terjadi pada kalian?” tanyaku
“kami diikat, kau tidak lihat?” kata adit
“bukan waktunya untuk menanyakan itu, kita harus segera pulih dan mencoba untuk menyelamatkan semua” kata kak roni
“tapi..” kataku
“benar kata roni kita harus segera menghentikan mereka” kata kak riko
“caranya?” tanyaku
“hanya ada 1 cara untuk mengalahkan mereka” kata adit
“apa?” tanyaku dan ilham hampir bersamaan
“merusak sistem mereka” kata adit
“caranya?” tanyaku lagi
“diamlah, kau terlalu banyak bertanya” kata adit
“rizky, kau sudah ambil alih sistem mereka kan?” tanya adit
“ya” jawabku
“dan ilham, kau sudah baikan? Kalau begitu cari buku tentang robot itu” kata adit
Ilham langsung pergi dan mencari bukunya
“aku?” tanyaku
“kau buka ruang kendali sistem mereka kami akan kesana dan berusaha membuat alat perusak sistem robot” kata adit

Aku langsung ke dalam menuju ruangan itu
“tunggu!!, dan tentunya kami pasti butuh bantuanmu” kata kak riko membuatku terhenti sejenak
“dimana ruangan itu? Aku lupa” pikirku
“aku lupa menanyakan sesuatu pada mereka, dimana widya?” pikirku lagi
“cepat! Cepat! Ingatlah! Dimana ruangan itu?” pikirku terus berbicara dan aku mulai pusing mendengarnya

Aku mencarinya dari ruangan satu ke ruangan yang lain
“syukurlah, ini dia” kataku
Aku segera mencarinya dengan sistem yang aku dapat dan segera menbukakan pintu ruang kendali
“aku harus segera ke ruang kendali” kataku

Aku berdiri dan segera ke ruang kendali
“tapi.. tunggu dulu, aku kan sudah mengambil sitemnya untuk apa aku ke ruang kendali aku bisa mengendalikannya dari sini” pikirku
“aku akan bekerja dari sini kita akan saling berhubungan” kataku membuat sebuah sambungan dengan mereka
“baiklah” kata kak riko

Setelah beberapa jam kami mengerjakan sebuah alat yang membuat gelombang yang akan mengacaukan sistem dan segera pergi ke kota
Kami melihat mereka, dan segera mengarahkan alat itu ke para robot
“apa yang terjadi dengan alat ini? Dia tidak mau menyala” kata adit
Aku langsung melihatnya tapi tak menemukan masalah, begitu juga dengan kak roni dan kak riko
“apa yang salah dengan alat ini? Di saat penting dia tidak mau berfungsi tapi memang kita belum mencobanya” kataku
“kalian butuh ini” tanya seseorang yang ternyata itu widya dian membawa semacam baterai
Dia pun bercerita bahwa dia melarikan diri dari sana
“kalian berceritalah, aku pinjam alatnya biar aku yang mengarahkannya” kata kak roni
Kami langsung berhenti bercerita dan segera menyalakan alat itu
“baik, saatnya menghancurkan mereka” kataku

Gelombang itu mulai menyebar ke robot-robot itu dan itu cukup berhasil melemahkan kekuatan mereka
“kekuatan mereka melemah” kata ilham
“ya, kekuatan mereka melemah tapi kekuatan orang yang memenjarakan kita mulai menguat kembali” kataku
“aku lupa memikirkan mereka yang satu lagi” kata ilham
“tunggu, tunggu.. ayo ikuti aku” lanjut ilham yang sepertinya mempunyai ide

Kami mengikutinya dan pergi menuju penjara
“kita harus membuat pasukan” katanya lagi
“pasukan?” tanya kak roni
“ya, semua orang di penjara ini pasukannya, tapi ada masalah kecil yaitu bagaimana kita melepaskan mereka” kata ilham
“aku tahu” kata dan langsung pergi ke penjara yang dekat dengan penjara bekas ilham yang sekarang semua penjara itu penuh
“maaf, ingat denganku? Yang sebulan yang lalu melarikan diri” kataku pada seseorang di dalam penjara itu
“tidak, aku baru beberapa minggu masuk penjara ini, tolong lepaskan kami semua” jawabnya
“tunggu, aku punya sesuatu” kata seorang dari belakangnya
“ini yang kau cari? Aku sudah berusaha memakainya tapi aku tidak tahu” lanjutnya
“iya, iya itu dia, baiklah akan ku lepaskan kalian semua” kataku

Aku langsung melepaskan mereka dan menuju kelompokku lagi, aku melihat mereka sudah membawa senjata dan semua orang diberikan senjata oleh orang yang memberi makan di penjara dulu serta wanita cantik yang tersenyum padaku dulu,
“sebenarnya siapa mereka?” tanyaku
“mereka berdua kakakku, mereka yang menolong kita saat di serang” kata ilham mengejutkanku dari belakang
“baiklah, sekarang kita ke luar dan segera serang mereka” kata kak roni

Semua orang ke luar dan semua yang berperang tidak menyangka kedatangan kami kedua kelompok itu kewalahan dan kebingungan mana yang harus diserang terlebih dulu, jadi mereka melarikan diri dari sana dan kami menang dan harus kembali membangun kota yang hancur akibat peperangan.

Cerpen Karangan: Nur Hidayat
Facebook: Nur Hidayayat
blog: jawabancari.blogspot.com

Cerpen Robot Penyerang (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kirito san (Part 1)

Oleh:
Aku berlari darinya yang mengejarku sekarang ini. Pedangnya yang mengkilat ditimpa cahaya bulan purnama menimbulkan suara bergesekan dengan lantai karena diseret oleh pemiliknya, membuat jantungku berdetak dengan sangat kencang.

Tristis Finis

Oleh:
Namanya Feliz Flor, umurnya 15. Dia memiliki keistimewaan yang membuatnya sangat spesial. Kebanyakan orang menganggap itu kekurangannya. Dia tak pernah menyukai sekolah dan pelajarannya, dua hal yang membuatnya nelangsa.

Bukan Orang Gila

Oleh:
Senja menjelang malam. Di punggung bukit ini mentari bersandar. Bias cahayanya lembut mewarnai langit barat. Sadar atau tidak sadar bias cahaya itu telah mengubah wajah bukit sandaran matahari ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *