Roti Untuk Peri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 1 July 2017

Musim dingin tiba di Seal Cottage, sebuah desa kecil yang dikelilingi bukit-bukit tinggi menjulang. Butiran-butiran salju turun perlahan di tengah udara yang dingin. Danau kecil yang membeku terlihat berkilauan ditimpa cahaya matahari yang mengintip di antara awan-awan putih tebal. Jalanan terlihat sepi tanpa seorangpun. Semua orang kini menghabiskan harinya di dalam rumah sambil menghadap perapian.

Tidak untuk seorang gadis bernama Adel, dia harus bekerja dengan menjual roti-roti walaupun di tengah badai salju sekalipun. Dia adalah seorang yatim piatu, kecelakaan mobil telah merenggut kedua orangtuanya. Kini ia diasuh oleh bibinya, Bu Syahdah yang sangat keras kepadanya. Jika roti-roti dalam keanjang kecilnya belum habis terjual, maka Adel tidak mendapatkan jatah makan malam. Bahkan kadang-kadang Adel pun tidak makan sehari penuh.

Adel berjalan di tengah jalanan yang licin. Udara yang sangat dingin membuat nafasnya yang keluar mengembun. Dia merapatkan mantelnya lagi. Lalu kembali menjajakan roti dagangannya. Seharian ini tak ada satu pun rotinya yang terjual. Padahal perut Adel semakin melilit. Kemarin ia tidak diberi jatah makan malam sedikit pun oleh Bu Syahdah.

Adel menghentikan langkahnya di depan jendela sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu besar. Terlihat sebuah keluarga yang tengah makan malam, mereka bercanda riang seperti yang dilakukan setiap keluarga. Adel teringat masa lalunya ketika kedua orangtuanya masih hidup. Ibunya sangat baik, setiap musim dingin ibunya membuat sweater hangat hasil rajutannya sendiri. Setelah itu, Adel selalu menyambut ayahnya yang pulang bekerja. Setelah itu, mereka akan minum susu hangat dan bercanda bersama.

Lamunan Adel terbuyarkan karena melihat seseorang terjatuh di trotoar yang licin. Adel segera menghampirinya dan berusaha untuk membantunya berdiri.
“Apakah anda baik-baik saja, Pak?” tanya Adel.
“Ya, aku baik-baik saja. Terima ka…” mata orang itu seketika membulat melihat Adel yang membantunya.
“Pergi kau gadis kumal, aku tak memerlukan bantuanmu. Bahkan jika kau tidak membantuku, aku tidak akan mati di sini.” Kata orang itu sambil berlalu pergi.
Adel tertunduk, banyak penduduk di sini yang tidak menyukainya. Bahkan, jika Adel menawarkan roti dagangannya, orang-orang akan mengusirnya.

Adel melanjutkan perjalanannya. Berteriak lirih menjajakan dagangannya. Ia terduduk sambil bersandar pada tembok sebuah apartemen bergedung tinggi. Ia pernah mencoba menjajakan dagangannya di apartemen mewah ini, tetapi seorang security berbadan tegap mengusirnya dengan kasar.
Adel mencoba mengambil sebatang roti dalam keranjang kecil. Tapi diurungkan niatnya. Dia saja belum menjual satu pun roti, sudah mengambilnya. Adel merapatkan mantelnya lagi. Udara semakin lama semakin dingin, membuat mantelnya semakin tak mempan melindungi tubuhnya lagi. Ia kembali berdiri, rembulan yang terang menemani perjalanannya. Ia tersenyum, yakin bahwa jika ia bahagia, kedua orangtuanya juga akan bahagia.

Hari semakin gelap, waktunya Adel pulang ke rumah dan duduk tenang sambil menghangatkan dirinya di depan perapian yang menyala.
“Walaupun tak mendapat jatah makan malam, tak apalah. Yang penting bisa menghangatkan diriku.” Pikir Adel menghibur dirinya.

Adel berjalan menyusuri jalanan yang licin dengan hati-hati. Dulu ia bisa berski es di danau yang membeku bersama orangtuanya. Tetapi sepatunya sudah dijual bibinya demi kelangsungan hidupnya. Kedua orangtuanya dulu mempunyai toko roti yang diberikan kepada Adel, tetapi sekarang Bu Syahdah lah yang mengelola.

Awalnya Adel, dan kedua orangtuanya, Bu Cemara dan Pak Bagus adalah keluarga sederhana yang bahagia. Mereka saling menyayangi dan melindungi. Mereka memiliki sebuah toko roti kecil yang sangat laris. Semua penduduk menyukai roti dagangan mereka. Saat itu Adel masih berumur 4 tahun.
Ayah Adel, Pak Bagus, memiliki seorang adik bernama Bu Syahdah. Bu Syahdah tinggal bersama ibunya. Dia sangat pemalas, tubuhnya besar gemuk, kerjanya hanya makan, dan tak pernah membantu ibunya sama sekali. Sebenarnya, Bu Syahdah adalah orang yang baik. Tetapi, sampai sekarang Bu Syahdah masih belum menikah dan bekerja.

Setahun kemudian, saat berumur 5 tahun nenek Adel meninggal. Maka Bu Syahdah pun tinggal bersama keluarga Pak Bagus. Walaupun begitu, Bu Syahdah masih tetap pemalas dan selalu merepotkan. Walaupun begitu, Pak Bagus dan Bu Cemara tetap sabar.

Suatu hari, Pak Bagus dan Bu Cemara pergi ke pernikahan teman mereka. Namun, di tengah jalan mereka mengalami kecelakaan dan tak bisa diselamatkan lagi. Sejak itu, Adel hanya tinggal bersama Bu Syahdah. Bu Syahdah pun masih menjadi pemalas dan membuat Adel bekerja keras dalam usianya yang masih kecil.
Kemalasan Bu Syahdah membuat para penduduk enggan datang ke toko rotinya. Hingga makin lama toko roti itu sepi dan kehilangan pelanggan.

Adel mengetuk pintu toko roti yang sudah tutup itu. Tak ada seorangpun yang membukakan pintu untuknya. Dia kembali mengetuk pintu berulang kali. Akhirya pun terdengar langkah kaki yang mendekat.
“Siapa di sana?” tanya Bu Syahdah.
“Ini aku Bi, Adel.” Jawab Adel.
Bu Syahdah segera membukakan pintu untuk Adel dan kembali duduk di sofa biru empuk di depan perapian. Adel segera masuk, mengganti sepatunya dengan sandal hangat berbentuk marsupilami-nya yang sudah usang. Adel menggantungkan mantelnya dan meletakkan keranjang yang masih penuh dengan roti ke atas meja reyot itu. Adel segera duduk di sofa sebelah bibinya sambil menghangatkn diri di depan perapian.

“Apakah semua roti daganganmu habis, Del?” tanya Bu Syahdah sambil menutup mata.
“Tidak, Bi. Roti-rotiku masih utuh dan tak ada yang terjual. Maafkan aku.” Kata Adel sambil menunduk.
“Kenapa bisa?” tanya Bu Syahdah masih dengan menutup mata.
“Semua orang menghabisan waktuya di dalam rumah, Bi. Tak ada orang yang keluar rumah sama sekali.” Jawab Adel.
“Ya sudahlah. Cepat makan roti dan susu hangat di dapur sana!” kata Bu Syahdah.
“Te.. terima kasih, Bi.” Kata Adel.

Adel berjalan menuju dapur dengan riang. Tak disangka bibinya akan berbaik hati membuatkan roti dan susu hangat untuknya, apalagi kalau dia tidak menjual roti-roti dagangannya. Adel memakan rotinya dengan lahap. Sebentar saja roti itu sudah ludes dihabiskannya. Setelah itu, ia segera meminum susu hangat yang terasa nikmat di lidah.

Adel naik ke kamarnya, ruangan kecil berisi sebuah kamar tidur usang berwarna coklat, sebuah lemari kecil berisi beberapa lembar pakaian, sebuah cermin yang sedikit retak, dan dua jendela kecil di tengah tembok bata yang catnya pudar.
Hidungnya gatal, dia bersin-bersin. Udara yang dingin membuatnya terserang flu. Hari ini bibinya bersikap agak lembut. Hal ini sangat jarang dilakukannya. Ah, sudahlah. Adel merebahkan tubuhnya di kasur yang keras itu, ia ingin menghilangkan rasa penatnya. Ia mencoba menutup matanya, namun terbangun karena suara cicitan tikus dari loteng atas. Lalu Adel mencoba merapatkan selimutnya dan menutup matanya kembali.

Adel membuka matanya. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela-jendela kamarnya. Pagi cerah tanpa ada sebutir salju pun yang jatuh. Adel segera merapikan tempat tidurnya lalu pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya.
Adel menapaki satu persatu tangga dengan ceria. Hari yang cerah berarti banyak orang yang keluar rumah dan membeli beberapa roti dagangannya. Bu Syahdah terlihat duduk di meja makan sambil mengunyah roti coklat. Adel segera duduk di kursi sebelah bibinya tersebut. Sambil mengambil selembar roti tawar dan mengolesinya dengan selai coklat sama seperti yang dimakan bibinya.
Adel menghabiskan susu yang ada di depannya kemudian mengambil keranjang roti dan mantel yang digantungkan di sebelah pintu masuk.
”Bi, aku berangkat dulu, ya. Assalamu’alaikum.” Kata Adel sambil menutup pintu.
Bu Syahdah hanya mengangguk tanpa menjawab salam Adel.

Adel menyusuri jalanan yang masih licin. Dilihatnya beberapa orang sempat terpeleset. Adel menawarkan roti-rotinya kepada beberapa orang yang sedang menunggu bus di halte. Ada beberapa orang membeli rotinya, ada yang mengacuhkannya, bahkan ada pula orang yang mengusirnya.

Senja pun datang. Roti-roti Adel ludes tak bersisa, hanya tinggal jatah makannya yang masih belum dimakan. Jalanan telah sepi, semua orang kini sudah masuk rumah untuk mempersiapkan makan malam keluarga mereka.
Adel berjalan menuju halte bus yang ada di dekatnya. Ia ingin memakan roti bekalnya. Perutnya sudah melilit sedari tadi, sudah tak sabar rasanya melahap roti “gemuk” itu. Adel pun membuka kain kotak-kotak yang menjadi penutup rotinya.

Tiba-tiba ada seorang nenek tua yang lusuh terjatuh di seberang jalan tepat di depan Adel. Adel pun menutup rotinya lagi dan meletakkannya. Kemudian segera menyeberang dan membantu nenek itu berdiri.
“Apa nenek baik-baik saja?” tanya Adel sambil membantu nenek itu berdiri.
“Ya, Nak. Nenek baik-baik saja, terima kasih ya nak. Kau sangat baik.” Kata nenek itu.
“Apa tadi nenek terpeleset?” tanya Adel.
“Bukan, nak. Nenek terjatuh karena perut nenek lapar, sudah dua hari ini nenek tidak makan.” Kata nenek itu.
Adel teringat pada rotinya yang ia tinggalkan di halte seberang jalan.
“Nek, aku memiliki sepotong roti.” Kata Adel

Adel menuntun nenek itu menyeberangi jalan. Setelah itu, nenek itu duduk sambil memperhatikan Adel membuka kain yang menutupi keranjangnya. Adel segera mengambil roti berisi selai kacang yang terlihat sangat menggiurkan itu dan memberikannya kepada nenek itu.
Mata nenek itu berkaca-kaca karena terharu. Nenek itu segera memakan roti yang diberikan Adel dengan sangat lahap. Adel hanya memperhatikannya, perutnya semakin melilit melihat selai kacang yang ada di dalam roti ini lumer keluar. Tapi ia menahannya, masih beruntung dirinya tidak makan dalam sehari, daripada seorang nenek tua yang menahan lapar selama dua hari.
Nenek itu menghabiskan semua roti pemberian Adel.

“Terima kasih banyak, nak. Nenek tidak tahu lagi jadinya kalau kamu tidak membantu nenek, gadis cantik.” Kata nenek itu penuh haru.
“Sama-sama, Nek.” Kata Adel.

Nenek itu berdiri. Tiba-tiba nenek itu diselimuti sinar yang lebih terang dari sinar kunang-kunang di malam hari. Adel terkejut, ia mundur beberapa langkah karena takut terjadi sesuatu. Baju nenek itu yang semula lusuh berubah menjadi baju yang sangat cantik. Punggungnya yang semula bungkuk menjadi tegak, tinggi, dan dilengkapi sepasang sayap yang indah. Kulitnya yang semula keriput menjadi kencang dan putih. Tongkatnya yang semula terbuat dari kayu yang sudah lapuk berubah menjadi tongkat sihir yang indah. Wajahnya yang semula terlihat tua berubah menjadi muda dan cantik.
Adel menatap tak percaya kepada nenek tua yang ditolongnya tadi. Ternyata nenek itu adalah seorang peri.

“Si.. siapa anda?” tanya Adel yang masih tak percaya pada apa yang dilihatnya barusan.
“Jangan takut, anak manis. Aku adalah seorang peri yang menyamar menjadi nenek tua yang kelaparan.” Kata peri itu.
“Lalu, mengapa Anda ada di sini?” tanya Adel.
“Aku sedang mencari seseorang yang mempunyai hati yang baik untuk kuberi hadiah.” Kata peri itu.
“Jadi…” Adel tak melanjutkan perkataannya.
“Ya, kau adalah orang yang sedang kucari untuk kuberi sebuah hadiah karena kau telah memberi roti seorang nenek tua yang kelaparan dengan ikhlas walaupun kau juga sedang lapar.” Kata peri itu.
“Tetapi itu hanya sepotong roti.” Kata Adel.
“Ya. Dan jika saja kau tidak memberikan roti itu, maka nenek itu… kau tahulah. Dan aku akan memberimu sebuah hadiah atas perbuatanmu. Sebutkan permintaanmu!” kata peri itu.
“Tidak perlu, Peri. Aku memberikan rotiku dengan ikhlas, aku tak berharap diberi hadiah apapun.” Kata Adel.
“Kau memang seorang gadis yang baik, Nak.” Kata peri itu.
“Tetapi kau harus tetap diberi hadiah, sayang. Roti-rotimu akan terasa sangat lezat dan toko rotimu akan menjadi toko yang sangat laris di Seal Cottage.” Lanjut peri itu.
Sebelum Adel menjawab, peri itu sudah mengayunkan tongkatnya dan menghilang. Adel pun memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya.

Di sepanjang perjalanan, banyak orang sedang membicarakan toko roti yang menjual roti lezat, Adel pun mempercepat langkahnya. Sesampainya di rumah, Adel terkejut melihat banyak orang yang mengantri di depan tokonya. Adel pun segera ke toko rotinya dan membantu bibinya melayani para pembeli.
“Del, ini sungguh ajaib, ya.” Kata Bu Syahdah sambil melayani pembelinya.
“Ya, Bi.” Kata Adel sambil tersenyum.

Beberapa tahun kemudian….
Toko roti Bu Syahdah dan Adel kini bernama “Fairy Bakery”. Adel sendiri yang menamainya, kalian tahu kan mengapa Adel menamainya begitu? Ya, karena seorang peri yang membuat toko roti ini menjadi ramai.
Pelanggan toko ini semakin lama semakin banyak. Bahkan, kelezatan roti ini telah menyebar sampai keluar kota. Oh iya, Bu Syahdah kini tidak lagi menjadi seorang pemalas, ia sangat rajin melayani para pelanggannya. Bu Syahdah pun kini menjadi sedikit langsing karena sering melakukan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan tenaga.
Adel pun hidup bahagia bersama bibinya, Bu Syahdah.

Cerpen Karangan: Refrina Firdaus
Facebook: facebook.com/refrinafirdaus

Cerpen Roti Untuk Peri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Make Up Kak Shasa

Oleh:
Namaku Vania Rochman anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak tengahku bernama Shasa Rochman dan kakak sulungku bernama Vhika Rochman. Tetapi aku lebih akrab dengan Kak Vhika, karena Kak Shasa

Tiga Anak Anjing

Oleh:
Pada suatu penampungan, terdapat tiga anak anjing Dalmatian yang berbeda-beda sifat. Satu dari mereka sangat cerdas namun mau untung sendiri, anjing laki-laki bernama Tom. Satu lainnya dari mereka sangat

Doppelganger

Oleh:
“Hei, Rika, kemarin sombong banget sih,” Ujar Dika sambil membalikkan badannya, menatap seorang gadis bersurai cokelat ponytail yang baru saja duduk di meja di belakangnya. “Maksudnya?” Iris caramel Rika

Sumpah Langit Bumi (Part 1)

Oleh:
“Ibu.. Ayolah.. aku sudah besar, aku dapat berburu sendiri, aku bisa menjaga diri. Bahkan akan aku jamin, aku akan pulang dengan selamat!” Ucap seorang putri cantik dari ‘Kerajaan Barwasan’.

Rio

Oleh:
Sudah terlalu banyak puisi yang kuciptakan untukmu Rio! Entah kenapa kau belum juga mengerti perasaanku. Tidakkah kau tahu bahwa di luar sana banyak yang menanti dan menungguku untuk hadir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *