Sahabat Bayangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 27 June 2016

Ketika sunyi menghampiri
Dan sedih pun menyelimuti
Pabila harap menjadi pinta
Mimpi pun menjadi nyata

“Fiz, gimana pr mu? Udah selesai?”
“Belum nih Qi, coba kamu tanya Risma. Mungkin dia udah.”
“Ris, pr IPSmu udah belum? Aku mau tanya nomor 7 sama 8” Haqi mencoba bertanya ke salah satu teman akrabnya, Risma.
“Sorry Qi, aku juga belum. Soalnya sulit banget sih”
“Hhhh, kok semuanya belum sih? Padahal nanti dikumpulin. Masa nanti aku nggak ngumpulin?” Haqi mengacak-acak rambutnya kesal.
“Udah deh gak usah lebay gitu. IPS nanti kan setelah jam istirahat, jadi gimana kalau nanti istirahat kita pergi ke perpustakaan? Ngerjain pr yang belum dijawab?” tawar Luna salah satu teman Haqi yang dari tadi diam.
“Aku setuju!!” Fiza langsung berbinar-binar.
“Oke, nanti istirahat ya.” Haqi langsung menyetujui
“Sssttt… Bu Ida udah datang tuh.”
Semua langsung terdiam di tempat duduk masing-masing, siap mengikuti pelajaran.

Jam istirahat pun tiba. Haqi, Fiza, Risma dan Luna berjalan beriringan menuju perpustakaan sekolah mereka. Sesampainya di perpustakaan, mereka langsung sibuk dengan prnya masing-masing. Luna, Risma dan Fiza yang telah menemukan buku yang mereka cari, langsung duduk di meja nomor 3. Sementara Haqi masih sibuk mencari-cari buku yang akan ia jadikan referensi.
Setelah membaca cukup lama, Fiza akhirnya bosan dan kesal karena jawabannya tidak juga ia temukan.
“Ris, gimana nih? Aku cari nggak ketemu-ketemu jawabannya” Fiza membolak-balik buku di hadapannya dengan kesal.
“Iya, aku cari juga gak ada. Mana nanti harus dikumpulin” Risma meletakkan bolpoinnya dengan lesu.
“Haqi!!! Udah ketemu belum sih? Lama banget” Fiza sedikit meninggikan volume suaranya.
“Belum, bukunya udah lama sih. Susah nyarinya”
“Luna, kamu udah ketemu belum jawabannya?” Fiza ganti bertanya ke Luna.
Tapi yang ditanya malah melamun.
“Luna!! Udah ketemu jawabannya?” Fiza kembali mengulang pertanyaannya. Luna tetap melamun.
“LUNA!!!!” Haqi menggebrak meja.
Tersadar, Luna bertanya “ha? Iya? Ada apa?”
“Kamu gimana sih? Bukannya nyari jawaban, malah melamun” Haqi berujar dengan agak kesal.
Tanpa menjawab pertanyaan Haqi, Luna berjalan meninggalkan perpustakaan.
“Luna!! Kamu mau kemana?” Fiza sedikit berteriak.
Luna tetap terdiam sambil terus berjalan meninggalkan teman-temannya.
“Luna kenapa sih?” Haqi terheran-heran melihat salah satu teman dekatnya bersikap aneh.
“Udah, biarin aja dulu” Risma berujar lirih, mencoba membuat Haqi dan Fiza mengerti.
“Udah ayo kita selesaikan pr ini. sebentar lagi masuk”

Bel masuk akhirnya berbunyi. Membuat Haqi, Risma dan Fiza melangkah meninggalkan perpustakaan. Mereka kembali berjalan beriringan menuju kelas merekan. Sesampainya di kelas, mereka kaget karena Luna tidak di kelas. Tasnya pun juga tidak ada. Risma, Haqi, dan Fiza berpandang-pandangan. Baru saja mereka mau berjalan keluar kelas mencari Luna, guru IPS mereka, pak Sigit sudah tiba di kelas. Mau tidak mau mereka harus tinggal sampai jam pelajaran berakhir.

Sepulang sekolah, Haqi, Risma dan Fiza berinisiatif untuk mencari ke rumah Luna. Sesampainya di rumah Luna, alangkah kagetnya mereka mengetahui bahwa Luna belum pulang dari sekolah. Mereka bingung mau mencari kemana lagi. Hingga akhirnya, Fiza teringat taman dimana Luna biasa menghabiskan waktu luangnya. Mereka segera menuju ke taman.

Sesampainya di taman, Haqi, Risma dan Fiza melihat Luna sedang berbicara sendiri. Tapi tanpa mereka ketahui, ternyata Luna sedang berbicara kepada Maya. Sahabat ilusinya.
“Kenapa sih orangtuaku selalu nggak ada buat aku di saat aku butuh mereka?” Luna berkata dengan sedih.
“Orangtuamu mungkin sedang sibuk Luna” hibur Maya.
“Kenapa mereka lebih mementingkan pekerjaan daripada aku?” Luna mulai menangis.
“Sudahlah Luna, itu semua juga demi kebahagiaanmu” Maya mencoba menghibur Luna.
Haqi, Risma, dan Fiza heran melihat Luna berbicara seorang diri. Sedangkan tidak ada seorang pun di sekitarnya.
“Luna? Kenapa kamu sendirian disini?” Haqi menghampiri Luna.
Fiza dan Risma kemudian menyusulnya. “Kamu ngapain disini Luna?” Fiza bertanya.
“Aku sedang berbicara dengan Maya” jawab Luna.
“Maya? Siapa Maya?” Risma terheran-heran.
“dia adalah temanku.”
“Luna, disini tidak ada siapa-siapa”
“Ada!! Dia ada!!” Luna mulai meninggikan suaranya.
“Luna sadarlah!! Selain kamu Tidak ada siapa-siapa disini tadi”
“Ada!!! Dia ada!! Dia di sebelah kalian!!” Luna berteriak
“Luna.. kamu tidak akan kesepian lagi” maya memandang ke arah teman-teman Luna.
“Waktunya aku pergi” lanjutnya.
“Maya!!! Tidak jangan pergi!!” Luna mulai menangis.
“Luna, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu di hatimu” perlahan-lahan tubuh Maya mulai menghilang.
“TIDAAAKK!!!” Luna menangis histeris, hingga akhirnya tak sadarkan diri.

Ketika membuka mata, Luna merasa ada yang hilang dari dirinya. Bulir-bulir airmata perlahan menetes. Ia menangis lagi.
Kreeekk.. suara pintu terbuka. Refleks ia menengok ke arah pintu. Ternyata Haqi, Risma dan Fiza. Sedetik kemudian ia tersenyum. Ia sadar merekalah sahabatnya, keluarganya.
Dalam hati ia berujar “sampai jumpa lagi Maya, mungkin kamu teman yang baik. Tapi merekalah sahabatku. Terima kasih”

Untaian mimpi-mimpi
Kan slalu tersimpan dalam hati
Tak akan pergi,
Tapi tak akan kumiliki..

Cerpen Karangan: Kumala Hidayati
Facebook: kumala
Nama: Kumala Hidayati
Sekolah: mtsn grogol kabupaten kediri.
Siswi kelas 8a yang hobi membaca dan menulis

Cerpen Sahabat Bayangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catatan Ucok Si Jomblo

Oleh:
Konon pada zaman dahulu kala, ada seorang Siluman Kera yang dikurung di sebuah gunung karena telah mengacaukan kerajaan langit. Namanya adalah Sun Go Kong, namun cerita itu adalah cerita

Gara Gara Batik

Oleh:
10 Juli 2013 Hari dimana aku mengenalnya. Aku heran dengan semua ini. Aku hanya mengagumi kostum yang dia pakai dan warna yang ku sukai. (sensor akun). Tiba-tiba nama itu

Planet Cokelat

Oleh:
Pagi ini aku terbangun dengan mimpi aneh, mimpi yang menyenangkan dan seru jika itu adalah kenyataan. Aku bermimpi jika aku berada di planet cokelat yang sangat menggiurkan, di sana

Aku, Satu Dari Sekian Banyaknya

Oleh:
Di tengah ramainya malam, Alzana berjalan sendirian sambil menatap layar ponselnya yang saat itu terpampang foto cowok, yang menurutnya ganteng. Dia juga senyum senyum sendiri, menatap cowok itu secara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *