Sang Miliuner

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 6 September 2017

Pernahkah kau bermimpi untuk menjadi dirimu sendiri?
Pernahkah kau merasa tidak sanggup membedakan antara esensi diri dan batas imajinasi?

Kutenggak kaleng b*r kedua yang kubeli sore ini. Setelah pulang kantor, aku langsung mengunjungi kafe ini seperti biasa. Meretas sepi sembari sejenak mengenyahkan rasa lelahku setelah melayani nasabah seharian. Otakku butuh sedikit ketenangan. Migrain ini hanya akan hilang seketika dengan sedikit pasokan alkohol di otakku. Telah lama sakit kepala sialan ini mengganggu keseharianku. Tak ada dokter yang sanggup mengurangi penderitaanku ini. Salah seorang teman bahkan menyarankanku untuk pergi ke psikiater karena keputusasaanku dengan keefektifan pengobatan konvensional yang telah aku jalani. Tapi sepertinya aku masih waras untuk tidak menemui ahli penyakit jiwa. Ayolah, ini cuma sakit kepala! Aku tidak gila.

Dering ponsel tiba-tiba membangunkan lamunanku. Sebuah pesan masuk. Ini pasti dari nasabah gila itu. Lima hari lalu ada seorang calon nasabah yang hendak meminjam sejumlah uang, tapi ia tak bisa mendapat pinjaman karena belum bisa memenuhi persyaratan yang telah ditentukan bank. Meski aku sudah menolak, tapi ia terus memaksa. Aku menyesal telah memberikan nomor ponselku padanya. Ini sungguh menyebalkan. Inilah resikonya menjadi staf customer service bank. Aku harus selalu siap berhubungan dengan uang dan berbagai permasalahan keuangan seseorang. Bahkan yang telah diluar batas kewarasan.

Sebuah pesan kembali masuk. Aku makin muak dengan nasabah itu. Dia sungguh mengganggu. Setelah kekacauan yang ia lakukan di bank hampir seminggu lalu, kini ia kacaukan pula hari-hariku, dan bahkan mengancamku.

Tujuh hari lalu, ia datang mengunjungi bank. Ia langsung duduk di depan meja customer service tanpa rasa malu. Ia menyerobot nomor antrian dan membuat kesal nasabah lain yang sudah lama menunggu.
“Maaf Pak, nomor antrian Bapak masih lama. Silakan Bapak menunggu!” seruku menyuruhnya kembali duduk di kursi tunggu.
“Tidak Mas, urusan saya penting sekali!”
“Tapi yang lain juga penting, Pak! Kasihan yang lain sudah menunggu dari tadi.”
Orang itu tetap tidak mau beranjak. Aku menghela napas panjang. “Baik, saya akan melayani Bapak. Tapi saya tidak punya waktu banyak, saya tidak akan segan-segan lapor sekuriti kalau Bapak berbuat macam-macam. Jadi, apa yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin meminjam modal usaha, Mas.”
Oh, tentu saja. Sesuai perkiraanku. Orang dengan tampang urakan seperti ini selalu mengindikasikan ke arah itu. Kaca mata tebal dengan jaket kulit lusuhnya sungguh membuatku merasa iba melihatnya. Iba? Ya, tapi cuma sedikit saja.
“Bapak bawa berkas-berkas persyaratannya?”
Ia segera menyerahkan map yang berisi dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Ada KTP, kartu keluarga, surat NPWP dan dokumen pelengkap lainnya.

Usianya 47 tahun. Berstatus duda. Aku takjub melihat profesinya yang tidak sesuai dengan perkiraanku. Dia seorang dosen seni rupa di salah satu universitas ternama. Jurusan kuliah impianku. Sejak dulu aku ingin sekali masuk ke situ.
“Bapak seorang dosen seni rupa?”
“Ya, sekitar 2 bulan lalu.”
“Jadi, sekarang Bapak ini sedang menganggur?”
“Tidak juga. Sebentar lagi saya akan jadi pengusaha dan seniman sebenarnya. Saya berencana menyewa sebuah bangunan kecil di pinggiran kota untuk dijadikan galeri yang akan memajang hasil karya saya.”
“Bapak butuh uang berapa?”
“Satu miliar.”

Aku tersenyum. “Bapak ini sedang bercanda, ya?”
“Saya tidak bercanda, Mas. Saya butuh uang satu miliar.”
“Tapi pinjaman itu terlalu besar untuk kelas pinjaman perorangan. Lagipula, apa Bapak punya syarat jaminannya? Semacam sertifikat rumah atau tanah?”
Ia menggelengkan kepala.
“Bapak tidak punya jaminannya?”
“Ya, tapi saya janji saya akan membayar sesuai tempo yang telah ditentukan. Saya yakin usaha saya akan berkembang cepat dan menghasilkan laba secepatnya.”
“Tapi setahu saya, usaha seni seperti itu sangat beresiko dan upaya balik modalnya pun lumayan lama. Saya harap Bapak mau mempertimbangkannya lagi.”
“Jadi, kamu menolak permintaan pinjaman saya?” sentaknya, mendadak emosi. Mejaku langsung jadi sorotan para nasabah lain yang sudah lama menunggu.
“Bu.. bukan maksud saya begitu, Pak. Tapi permintaan pinjaman Bapak tidak memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan bank.”
“Kamu pikir kamu siapa, hah??” serunya sambil berdiri menunjuk mukaku. Semua mata tertuju ke arah kami. Bapak sekuriti datang mendekat. Ah, aku benci ini. Ternyata yang di depanku ini bukan orang dewasa berusia 47 tahun seperti yang tertulis di dokumennya, tapi ia ini adalah bocah 5 tahun yang sedang merengek karena tidak dibelikan permen oleh ibunya. Orang gila macam apa ini?
“Bapak tolong tenang dulu!” Bapak sekuriti mencoba mengamankannya. Aku bingung setengah mati. “Oke, lebih baik begini saja. Saya akan berikan nomor telepon saya supaya kita bisa membicarakan solusi terbaiknya.”
Kutulis nomor ponselku pada secarik kertas dan menyerahkannya. “Saya berjanji akan berusaha memberi solusi terbaik bila Bapak mau bekerja sama.”
Emosinya sedikit mereda. “Baik, saya akan ikuti kata-katamu. Tapi kamu harus pegang janjimu!”
“Iya Pak, akan saya usahakan.”
Ia singkirkan tangan sekuriti yang sedang memegangi lengannya. Lalu, ia pun berlalu tanpa tahu malu. Dan itulah awal mimpi burukku.

Sekaleng b*r kembali menemaniku di kafe itu. Pengunjung kafe ini memang tidaklah terlalu banyak sehingga bisa dihitung dengan jari. Tapi itulah yang aku suka. Suasana sepi ini membuatku betah duduk berlama-lama di sini dan sepertinya para pelayan kafe itu sudah tahu betul kebiasaanku ini. Sebenarnya aku datang ke sini karena sebuah janji. Ia akan menemuiku hari ini. Pembicaraan yang terpotong di telepon kemarin malam akan dilanjutkan sekarang. Kulihat seorang laki-laki berjaket kulit kumal berjalan dari kejauhan dari arah pintu masuk. Syukurlah, penantianku selama 15 menit tidak sepenuhnya sia-sia. Ia tersenyum menunjukkan keramahan palsu. Kuhela nafas panjang. Oh Tuhan, haruskah aku menghadapi orang gila ini lagi?

Ia duduk di depanku sambil menyalakan sebatang Dji Sam Soe. Asap pun mengepul mengotori udara.. Aku tak percaya kalau orang yang terlihat berantakan ini adalah mantan dosen salah satu perguruan tinggi ternama. Siapa pun tak akan percaya.
“Anda ingin minum sesuatu?” tanyaku basa-basi.
“Tak usah. Langsung saja. Jadi, bagaimana?” tanyanya membuka sua.
“Semua ini tergantung Bapak. Kenapa Bapak begitu ingin membuka galeri seni itu? Bukankah banyak usaha lain yang prospeknya lebih bagus dari itu?”
Asap rok*k sengaja ia kepulkan ke atas. Mulutnya tersenyum. “Ini adalah obsesi masa muda saya.”
“Obsesi masa muda?” Aku terkejut mendengar ucapannya. Sejenak aku teringat apa obsesiku sebelum memilih menjadi sarjana ekonomi yang membuatku terjebak dalam kubangan dunia perbankan.
“Ya. Setelah semua kegagalan yang terjadi dalam hidup saya, saya ingin kembali pada impian saya semula. Pernikahan, jebakan karir dan perceraian telah merenggut kehidupan saya. Saya telah kehilangan segalanya. Keluarga, pekerjaan, bahkan mimpi-mimpi saya. Terkadang saya menyesal telah menjadi dewasa…”
Batinku seketika berontak. Ia menyesal telah menjadi dewasa? Omong kosong apa itu?

“Umurmu berapa, Mas?”
“Umur saya? Umur saya sudah 30, Pak.”
“Tiga puluh? Sudah nikah?” tanyanya sambil menatap wajahku dalam-dalam.
“Belum. Emang kenapa?”
Suara angin berhembus di depanku. Salah seorang pelayan menjatuhkan sebuah lap tangan di meja sebelah. Kufokuskan kembali pikiranku.

“Jadi, kamu masih perjaka?”
Dahiku mengkerut.
“Kamu belum pernah merasakan nikmatnya aroma vag*na wanita, bukan?”
Aku tersenyum. “Saya yakin aroma vag*na wanita tidak ada hubungannya dengan proses aplikasi kredit bapak.”
Ia tertawa. Sikap menyebalkannya mulai kembali.
“Kamu masih muda. Usia 30 bukanlah akhir segalanya. Lagipula tampangmu cukup menjual bagi para wanita. Atau mungkin, ada beberapa obsesimu yang belum tercapai sehingga kamu menunda untuk berkeluarga?”

“Jadi, begini Pak.” Kucoba arahkan ke topik pembicaraan semula. “Saya akan bantu mengusahakan pinjaman untuk Bapak. Tapi bapak harus bersabar dulu. Dana yang dipinjam Bapak sangat besar. Prosesnya pasti memakan waktu yang cukup lama. Jadi, saya harus memastikan dulu apa bapak bersedia mengikuti prosesnya.”
“Oke, saya mengerti.”
“Saya harap Bapak bisa bekerja sama. Ini juga demi kepentingan Bapak.”
“Lalu, apa yang harus saya lakukan?”
“Bapak persiapkan saja dokumen-dokumen persyaratannya. Dan setelah itu serahkan saja semuanya pada saya.”
“Baiklah..”
“Saya beri tenggat waktu 3 hari. Nanti hubungi saya saja. Gimana?”
“Ya, sudahlah kalau begitu.”
Rok*k yang dihisapnya sudah habis. Ia pun mengeluarkan satu slot Dji Sam Soe dari saku celananya.

“Boleh saya minta satu?”
Ia terkejut. “Emangnya kamu perok*k juga?”
Ia serahkan sebatang tembakau pembunuh itu padaku.
“Tidak juga.”
Ia nyalakan pamantik dan menyodorkannya padaku. Ia tersenyum santai. Asap tembakau kembali mengepul ke udara. Sinar mentari senja mulai samar terlihat dari kaca jendela membawa kabar bahwa hari telah usai bercerita. Saat itu aku merasa kalau kami sama-sama gila. Kuterawang langit sudah berganti rupa. Sebentar lagi adzan Magrib akan menggema.

Dering telepon terus berbunyi menghantui hari-hariku. Migrain masih datang menyapa. Tenggat waktu 3 hari seperti yang sudah kami sepakati tak bisa terpenuhi. Ia terus mengulur waktu untuk memberikan dokumen-dokumen yang sudah aku sebutkan. Aku seperti disibukkan sendiri mengurusi urusannya. Tidakkah ia sadar kalau kami sedang berurusan dengan uang. Uang adalah hal yang sangat sensitif. Tak ada seorang pun yang mau memberikan uang sembarangan, apalagi pihak bank. Ia seakan tak serius dengan pengajuan pinjamannya.

“Saya sudah memberi tenggat waktu, tapi bapak masih belum memenuhi persyaratannya. Mau bapak ini apa, sih? Kalau begini mana bisa kami memproses pinjamannya,” ucapku mencoba tegas. Kubiarkan waktuku tersita untuk menjawab teleponnya.
“Tolong beri waktu lagi. Saya akan memberikan berkasnya secepatnya.”
“Bapak cuma perlu menambahkan berkas yang sudah ada. Emang apa susahnya, sih?”
Kesabaranku sudah habis. Orang ini memang tak bisa dipercaya. Aku sudah mengorbankan banyak waktu untuk membantunya, tapi dia sendiri malah berbuat seenaknya.
“Saya janji akan memberikannya secepatnya!”
“Secepat apa? Bapak sudah bilang itu berkali-kali, tapi apa buktinya? Saya sudah lelah, Pak. Ingat, Bapak ini sedang berurusan dengan uang! Bapak harus tahu resiko dan ketentuannya!”
“Saya mohon! Beri saya waktu sehari lagi!”
“Sehari lagi?”
“Ya, saya janji akan memberikannya besok.”
“Oke, ini kesempatan terakhir Bapak. Kalau besok masih belum bisa juga, terpaksa saya akan membatalkan pengajuan pinjaman Bapak.”
“Baik, saya setuju.”

Begitulah katanya. Tapi esoknya ia memberikan jawaban yang lain. Cukup sudah. Aku tidak mau berurusan lagi. Aku hanya berniat membantu. Tapi apa yang aku dapatkan? Cuma omong kosong belaka! Kali ini aku harus bersikap profesional. Sekali lagi kutegaskan, profesional! Aku tidak bisa menghadapi ini secara personal. Aku digaji bukan untuk mendengarkan bualan. Aku digaji untuk melayani masalah perbankan. Cukup sudah kudengar semua alasan tak berlogika ini.

“Maaf, Pak. Saya tidak bisa membantu Bapak lagi. Bapak tidak bisa bersikap kooperatif. Saya sudah lelah, Pak.”
“Saya mohon beri kesempatan saya sekali lagi!”
“Sekali lagi? Lagi-lagi sekali lagi? Saya sudah bosan, Pak. Saya sudah tuli. Saya tidak bisa mengurusi urusan Bapak terus. Kesabaran saya ada batasnya, Pak!”
“Jadi, kamu membatalkan pengajuan pinjaman saya?”
“Ya, ini sudah keputusan final.”
“Kamu pikir kamu siapa, hah! Memutuskan seenaknya saja! Saya ini butuh uang!” Ia mulai tersulut amarah. Aku sudah tahu akan begini, jadi aku sudah mempersiapkan diri. Aku tak akan bisa digertak lagi.
“Maaf, Pak. Tapi saya sudah tidak peduli. Itu sudah bukan urusan saya lagi.” Aku berucap mantap.
“Apa kamu bilang? Saya akan melakukan apapun demi mendapatkan uang itu. Saya tidak main-main! Camkan itu!” Ia mengancam.
“Silakan saja. Saya tak mau tahu lagi, Pak.”
Tut.. tut.. telepon pun terputus. Hatiku lega luar biasa. Aku tak mau disibukkan lagi oleh ocehannya. Aku tak akan berurusan lagi dengannya. Kuharap hari-hari buruk ini akan berakhir secepatnya.

Mata ini terbuka perlahan. Bisa kurasakan dinginnya meja kaca menyentuh pipiku. Tujuh kaleng b*r tampak mengucapkan selamat pagi di hadapanku. Sepertinya aku telah tertidur pulas di kafe ini semalaman. Itu bukan masalah, setahuku kafe ini buka 24 jam dan sangat toleran dengan pelanggan kesepian macam diriku. Seorang pelayan yang sedang mengepel lantai hanya tersenyum melihatku. Oh Tuhan, bisa kubayangkan betapa menyedihkannya penampilanku sekarang.

Kusandarkan badanku di kursi, mencoba mengingat apa yang telah kulakukan semalam. Ponselku berdering seketika. Bisa kulihat pula beberapa panggilan yang tidak terjawab sebelumnya. Syukurlah panggilan ini bukan dari orang gila itu, tapi dari salah seorang rekan kerjaku, Ferdi. Mau apa ia pagi-pagi meneleponku?

”Ya, ada apa, Fer?” tanyaku agak malas..
“Kamu sudah lihat berita pagi ini?”
Ucapnya tergesa-gesa. Maksudnya apa? Perkataanya membuatku penasaran. “Berita apa, Fer?”
“Bank kita kerampokan!”
Jantungku langsung tertohok.
“Kok bisa?”
“Aku juga gak tahu!”
“Uang yang sudah dirampoknya berapa, Fer?”
“Aku juga belum tahu pasti. Tapi menurut perkiraan sih sekitar satu miliaran.”
“Satu miliar??”
“Ya, perkiraannya sih begitu. Polisi sudah berdatangan kemari. Mereka tengah memeriksa TKP. Kami sedang memastikannya lagi. Makanya kamu harus cepat ke sini.”
“Iya, aku akan segera datang ke sana, Fer.”

Berita macam apa ini? Bank tempat kerjaku kerampokan! Aku bergegas bangkit. Aku hendak mengambil jaketku yang tergeletak di lantai. Tapi ketika aku mengambil jaket, mataku tertuju pada tas ransel besar yang tergeletak di bawah meja. Seingatku, aku tak membawa tas ransel itu. Entah kenapa aku begitu penasaran dengan tas itu sehingga tak sadar aku pun membukanya.

Mataku tak berkedip. Mulutku menganga. Tumpukan uang seratus ribuan memenuhi tas itu. Kuhempaskan tas itu ke lantai. Ah, ini cuma mimpi. Kurasa semalam aku terlalu mabuk hingga sampai sekarang masih berhalusinasi.
Kubuka kembali tas itu. Tidak. Uang itu masih ada. Tidak, ini pasti mimpi. Ya mimpi. Sebentar lagi aku akan terbangun seperti biasa. Tapi kalau ini nyata bagaimana? Adakah yang bisa menjelaskan semua ini?

Tanganku bergetar. Aku coba menyentuh uang-uang itu. Aku bisa merasakannya. Oh tidak, apa maksud semua ini? Uang ini bukan milikku. Siapa pemilik uang ini? Jangan bilang kalau ini ada hubungannya dengan perampokan di bank tempat kerjaku tadi! Aku panik. Apa yang harus aku lakukan?

“Saya akan melakukan apapun demi mendapatkan uang itu. Saya tidak main-main! Camkan itu!”
Tiba-tiba aku langsung terhenyak. Teringat aku akan perkataan Bapak itu beberapa waktu lalu. Tak mungkin. Ini tak mungkin ada hubungannya dengan perampokan itu. Ia tak mungkin melakukan hal konyol macam itu. Lagipula, ia tidak mungkin bisa. Mustahil!

Aku penasaran. Aku coba menelepon bapak-bapak gila itu untuk memastikan.
“Maaf, nomor yang anda tuju tidak terdaftar. Cobalah periksa lagi.”
Sial! Kenapa tidak aktif? Aku coba lagi. Hasilnya masih sama. Aku coba dan coba lagi. Masih tak ada jawaban. Argh… aku benar-benar marah!
Aku masih terduduk di kursi dan memejamkan mata. Ini gila. Ya, semua ini benar-benar gila. Aku bahkan tak mau memikirkan ini semua.

Kudengar pintu masuk berderit. Apa-apaan ini! Kulihat bapak-bapak gila itu masuk dan berjalan ke arahku.
Dengan enteng ia langsung duduk di depanku.
“Selamat pagi anak muda,” sapanya sembari tersenyum.
Aku terdiam tidak percaya. Ia duduk di depanku sambil menyalakan rok*k yang ada dalam genggamannya. “Mau satu?”
Ia menawarkan sebatang untukku. Aku tidak menggubrisnya.
“Mau apa anda datang kemari?” Aku menyentaknya. Ia cuma tersenyum. Sungguh senyuman yang menyebalkan.
“Apa maksud semua ini? Apa maksud tumpukan uang-uang ini?” seruku sambil membuka lebar-lebar tas ransel itu.
Ia kembali tersenyum. “Sudah saya bilang saya akan melakukan apapun demi mendapatkan uang itu. Saya cuma melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Apa itu salah?”
“Saya tak peduli anda mencuri uang berapa pun. Tapi kenapa uang itu ada di sini? Apa maksudnya?”
“Kamu membutuhkannya, anak muda. Kamu butuh satu miliar mimpi untuk mewujudkan salah satu mimpi terpendammu. Kamu butuh satu miliar harga diri untuk kembali menunjukkan siapa dirimu. Kamu membutuhkannya, anak muda. Kita membutuhkannya.”
“Kita?”
“Ya, kita. Kamu dan saya. Bukankah kamu menginginkan uang itu untuk mewujudkan semua obsesimu. Ya, obsesimu. Obsesi masa mudamu. Dengan uang itu, kamu bisa kembali merintis kembali mimpimu. Bukankah itu yang kamu mau?”

Aku menatapnya dalam-dalam. Rasa muakku mulai membumbung tinggi. “Kenapa anda melakukan semua ini? Sebenarnya anda siapa?”
Senyumnya kembali merekah. Kali ini diselingi tawa renyah pula.
“Siapa saya? Bukankah kamu tahu siapa saya? Saya hanya orang dewasa gagal seperti yang sering kamu gambarkan. Saya ini mimpi burukmu. Saya adalah kamu!”
“Saya tak mengerti. Jangan main-main. Saya bukan anak kecil lagi. Siapa sebenarnya anda?”
“Saya adalah kamu. Dan kamu adalah saya. Kita ini sama. Hanya usia yang membedakannya. Saya hanya sebatas tokoh fiksi rekaanmu saja. Kamu yang menciptakan saya. Tanpamu dan obsesimu, saya tak akan pernah ada!”
“Anda gila!!”
“Kamu yang gila! Dewasalah, anak muda! Oh ya, saya lupa. Bukannya kamu tidak ingin dewasa. Ya, kamu bisa muda selamanya. Tuhan pun akan memakluminya. Karena seperti yang kamu tahu, menjadi dewasa itu sungguh mengerikan. Mungkin uang itu tak akan cukup untuk mengembalikan waktumu yang sia-sia, tapi dengan uang itu kamu bisa kembali memulai kehidupan yang telah kamu lupakan.”
“Pergiii!!!” Kepalaku serasa pecah.

Para pelayan kafe terkejut melihat ke arahku penuh kebingungan. Aku tidak peduli. Kewarasanku sudah hilang. Aku berteriak sambil melemparkan tumpukan uang itu dari tas ransel itu. “Pergilah sekarang juga atau saya lapor polisi!”
Senyumnya kembali merekah. “Kamu pikir saya ini benar-benar ada? Bangunlah, anak muda! Saya hanya salah satu dari imajinasimu, anak muda! Saya hanyalah majinasi gilamu!”
“Pergiiii!” Aku berteriak sekencang-kencangnya.
“Baiklah kalau begitu. Dengan senang hati saya akan pergi.” Ia lalu beranjak pergi. Tapi sebelum melewati pintu, ia kembali menoleh ke arahku. “Ketahuilah, anak muda. Jadi dewasa itu sungguh tidak menyenangkan. Menjadi dewasa itu kutukan!”

Aku langsung buru-buru mengambil ponselku. Aku segera menghubungi Ferdi kembali.
“Fer, kamu ingat bapak-bapak nasabah menyebalkan yang datang ke bank hari Rabu seminggu lalu? Dialah orang yang merampok bank kita, Fer. Barusan dia datang menemuiku.”
“Rabu minggu lalu?” Ferdi menjawab berbalik bertanya. “Kamu ini bicara apa? Tunggu sebentar, Rabu minggu lalu itu tanggal 5, ya? Bukannya hari itu kamu gak masuk?”
Kujatuhkan ponselku. Percakapan dibiarkan terputus seketika. Jantungku tersentak. Apa lagi ini? Lalu, yang kualami Rabu kemarin itu apa?

Para pelayan memperhatikanku seakan melihat hantu yang sangat mengerikan. Mereka memelotiku dengan lembaran uang seratus ribuaan yang berserakan di dekatku. Mereka seakan takut padaku.
Aku tak peduli. Aku tak peduli semua ini. Kuperiksa catatan histori panggilan ponselku. Tidak ada satupun panggilan dari orang gila itu. Tidak. Ini tidak mungkin. Sudah tak terhitung ia meneleponku. Bagaimana mungkin semua lenyap begitu saja

Aku duduk terluntai. Kutenggak botol b*r yang masih menyisakan isinya di depanku. Ponselku kembali berdering. Meski dengan tangan yang terasa begitu berat, aku angkat panggilan itu.
“Semalam kamu ada di mana?” Ferdi bertanya tiba-tiba.
“Semalam?” Tanyaku heran.
“Ya, semalam.”
“Semalam aku… aku.. entahlah Fer. Semalam aku mabuk. Emang kenapa?”
Terdengar suara Ferdi tengah menelan ludahnya. Percakapan terjeda sejenak.
“Aku gak percaya ini. Tapi semalam wajahmu terekam di kamera CCTV bank. Apa yang sudah kamu lakukan?”

Hening. Tubuhku mendadak lemas seketika. Migrain itu kembali datang. Semakin berputar seakan kepalaku ini berubah menjadi baling-baling helikopter berkecepatan satu miliar putaran per jam. Tubuhku seakan melayang dalam gravitasi nol tak bertenaga. Semua hampa. Ya, hampa. Di manakah diriku? Apakah aku sudah gila sepenuhnya?

Cerpen Karangan: Rosmen Rosmansyah
Blog: http://www.rosmensucks.WordPress.com
Penulis adalah seorang penikmat b*r, pecinta buku, blogger amatir sekaligus penggemar film thriller dan fiksi-ilmiah

Cerpen Sang Miliuner merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sial yang Untung

Oleh:
“Mama! Buka pintunya!” teriak Afri sambil menggedor-gedor pintu bercat putih itu. Tapi tak ada sahutan sama sekali dari mama. Lampu di beranda dan di ruang depan terlihat telah padam.

Teman 4 Hari

Oleh:
Ya, perkenalkan namaku keyl rumania chester. Tapi aku lebih sering dipanggil keyl. Aku berumur 10 tahun, aku tinggal di canberra bersama keluargaku, sebenarnya aku orang asli indonesia. Ya begitulah,

Hidupku Atau Hidupmu

Oleh:
“hey lihat, itu anak barunya!” kata salah satu siswa. “cantik tapi terlihat pendiam dan dingin ya?” kata siswa yang di sebelahnya lagi. Itulah kata-kata yang ku dengar ketika aku

The Dark Fire 2 (Nightmare Part 2)

Oleh:
“Kyaaa!” Sebuah tengkorak keluar dari sana. Tengkorak itu terjatuh seketika ke tanah. Aku hanya bergidik ngeri. Perlahan, aku mulai masuk ke dalam peti kuno itu. Setelah masuk, ku tutup

Ksatria Zaman Edan

Oleh:
Beratus-ratus tahun setelah perang batarayudha, kehidupan di bumi tidak juga lepas dari peperangan. Perang saudara masih berkecamuk dimana-mana, Afganistan, Israel-palestina, Poso. Perang Baratayudha, perang besar yang dewa harapkan dapat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sang Miliuner”

  1. Ragian says:

    Cerita nya bagus bangeet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *