Sang Penyelamat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 9 January 2016

“Andra!”

Sandara merengut kesal saat seseorang memanggil namanya seperti itu. Ia berbalik dan mendapati seorang lelaki melambaikan tangan padanya. Raut wajahnya tambah kesal saat melihat pria itu. “Aku mau bicara!”

“Mulutku sampai berbusa untuk mengingatkanmu memanggilku dengan Sandara, bukan Andra. Jadi… lupakan saja mengenai nama panggilan untukku.” Ucap Sandara jengah kemudian berbalik. “Eit, kenapa kamu jadi mudah marah, eh? Aku kan hanya bercanda,” Ucap Andre terkekeh kecil.
“Aku hanya ingin mengingatkan, hari ini kamu jangan lewat jalan depan toko buku saat pulang ke rumah,” Lanjutnya dengan nada yang berubah serius.

Dahi Sandara mengernyit heran. Andre tidak cocok sama sekali bicara dengan nada seserius itu. Mungkin saja kepala Andre terbentur sesuatu tadi, hingga sedikit bergeser. Andre sering sekali meracau hal yang aneh dan tidak penting seperti itu, dan kadang Sandara hanya menganggapnya angin lalu. Toh, apa yang diperingatkannya selalu ia langgar dan buktinya ia baik-baik saja hingga hari ini. “Ingat apa yang aku katakan, Dara. Jangan mencoba melanggar apa yang sudah aku katakan.”

Setelah mengatakannya, Andre berbalik pergi. Kepergian pria itu ternyata membawa tanda tanya yang amat besar untuk Sandara. Biasanya Andre akan memastikan hingga ia berjanji akan menuruti himbauannya. Tapi hari ini rancauannya itu hanya sebatas itu. Sandara merasakan ada yang tidak beres dengan pria itu. Selain pria itu, tampaknya ia juga sedang tidak beres, karena setelah lima menit kepergian pria itu pun ia masih berada di tempat tadi menyaksikan sisa jejak Andre.

Sudah sepuluh menit Sandara berdiri di depan sepeda motornya. Sejak tadi ia hanya menatapi motornya dengan berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya. Apakah ia harus menaiki motornya untuk pulang? Atau ia harus naik bus? “Pulanglah tak apa, jangan takut.” Andre tiba-tiba saja muncul di belakang Sandara.
“Bagaimana aku tidak ta… ehem, maksudku, sejak tadi aku memikirkan alasanmu menghimbauku tidak lewat jalan depan toko buku. Kenapa aku tidak boleh lewat sana? Aku butuh penjelasan,”

“Aku jelaskan pun kamu tak akan bisa mencerna,” Ucapnya malas.
“Cukup dengarkan apa yang aku katakan tadi. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu,” Lanjutnya. Andre mengambil motornya kemudian pulang. Di parkiran hanya tersisa Sandara yang masih bimbang. Tidak biasanya ia seperti ini. Sandara yang biasanya adalah gadis yang cerdas dan pendiriannya kuat. Entah dengan sihir apa Andre mampu menggoyahkan pendiriannya yang sekuat baja itu.

Setelah termenung lebih dari setengah jam, Sandara memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang ia mengendarai motonya dengan sangat hati-hati dan juga pelan. Tak jarang ada kendaraan lain yang mengklaksonnya karena ia berkendara terlalu pelan. Seperti yang Andre katakan tadi, kali ini ia tidak melewati jalan depan toko buku seperti biasanya. Ia melewati jalan memutar yang lebih jauh jaraknya. Jalan yang ia lalui pun lebih sepi, karena di samping jalan hanya ada persawahan yang luas.

Di tengah jalan yang sepi itu tiba-tiba saja sekelompok pria berbaju hitam menghadangnya di perempatan jalan. Mereka memakai topi yang menutupi seluruh wajah mereka, dan juga sarung tangan hitam. Jantung Sandara sontak berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia takut! Rasanya ia ingin memutar balik kendaraannya, namun tak akan bisa karena jaraknya dengan gerombolan itu sekitar sepuluh meter.

Ia memelankan pacuan motornya, dan berharap mereka akan segera pergi. Namun doanya itu tidak terkabul, mereka malah mendekat padanya. “Turun dari motor sekarang!” pekik salah seorang dari gerombolan itu. Dengan patuh, Sandara menghentikan motornya dan turun dari motor kesayangannya itu.
“Ada apa?” tanyanya dengan nada santai, menutupi rasa takutnya. Gerombolan itu tertawa. Kemudian salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipat kecil dari sakunya.

“Tidak apa-apa gadis kecil. Kami hanya ingin sedikit mengobrol denganmu. Hm, sejak tadi pagi kami mencari uang tapi tidak ada yang memberikannya. Dan, untung saja adik kecil ini lewat sini, hingga kita bisa meminta uang dari kamu, adik kecil,” ucap si pembawa pisau lipat dengan nada manis.
Sandara bergidik ngeri mendengarnya. Di balik ucapan pria tadi tersirat ancaman yang begitu kental di sana. Kakinya mulai melangkah mudur sedikit demi sedikit.
“Jangan takut adik kecil, kami tidak minta banyak, mungkin hanya… hmm nyawamu,”

Setelah mengucapkan itu, pisau lipat tadi menusuk dalam di pinggang kiri Sandara. Dia jatuh, tergeletak di atas tanah yang panas. Ia menahan sakit yang sangat menyiksanya. Darahnya pun berlomba ke luar dari tubuhnya. Gadis itu tidak bisa apa-apa kecuali melihat tas dan motornya yang mulai diambil paksa oleh gerombolan itu. Mereka telah pergi membawa apa yang Sandara punya, meninggalkannya yang tengah kesakitan di jalan yang sangat sepi. Dalam sekejap seluruh harta yang dibawa Sandara lenyap. Bahkan nyawanya pun akan lenyap seandainya dalam lima menit tak ada yang membawanya ke rumah sakit.

“Sandara,” Gadis itu mendongak berusaha melihat orang yang berusaha menggendongnya itu.
“Bertahanlah, aku akan menolongmu,”

Andre. Pria itu adalah Andre. Matanya yang berusaha fokus pun melihat Andre dengan raut wajahnya yang sangat cemas. Andre membawa Sandara dalam gendongannya sambil berlari menuju rumah sakit terdekat. Dan sesuai perkiraanya, tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah klinik kecil. “Aku telah mengambil keputusan yang tepat,” ucapnya pada dirinya sendiri.

Sandara membuka matanya perlahan. Sinar yang begitu menyilaukan matanya membuatnya mengerjapkan matanya. Bau obat-obattan menusuk hidungnya. Menyengat sekali. Perutnya pun rasanya sangat perih. Andre datang bersama seorang dokter wanita. Ia mempersilahkan dokter untuk memeriksa keadaan Sandara. Gadis itu hanya pasrah diperiksa dokter tanpa banyak bertanya. Tubuhnya masih terasa sakit untuk sekedar membuka mulut saja.

“Sandara istirahat dulu saja. Semuanya sudah normal, hanya tinggal pemulihan.”
Andre mengangguk mendengarkannya dan mengantar dokter pergi dari sana. Pria itu menatap Sandara dengan tatapan bersalah. “Maafkan aku,” Gumamnya.

Saat ini Sandara ingin memaki Andre sepuasnya. Karena Andre ia mengalami hal ini. Dan dengan bodohnya ia mengikuti apa yang dikatakan Andre dan membuatnya celaka seperti saat ini. Ingin sekali ia menghajar Andre hingga lemas. “Aku pikir dengan mengalihkanmu akan menyelamatkanmu, tapi ternyata sama saja. Sama-sama mencelakakanmu. Sekali lagi maafkan aku,” Ucap Andre begitu tulus. “Namun setidaknya kau tetap dalam jarak pandangku,” Tambahnya dalam hati.

Dewi dalam benak Sandara menunjukkan betapa tulusnya ucapan Andre barusan. Namun dalam sekejap, sisi iblisnya menyalahkan Andre atas hal yang menimpanya ini. Ia bingung mengemukakan apa yang tengah ia rasa saat ini. Ada apa dengannya yang sekarang ini tidak tegas?
“Namun, sekali pun dialihkan takdir tetaplah takdir, tidak akan ada yang merubahnya. Termasuk aku,”

Sandara merasa ada yang aneh dengan ucapan Andre barusan. Ia seakan tahu akan takdirnya dan berusaha menyelamatkannya. Apakah ia tahu bahwa sebenarnya hari ini ia memang ditakdirkan untuk dirampok? “Aku berjanji, akan menyelamatkanmu… lain kali.” Gumamnya.
“Namun jika lain kali itu masih ada,” Tambahnya dalam hati.

Setelah sekitar satu bulan menjalani masa pemulihan, Sandara akhirnya telah sehat seperti sedia kala. Dia sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Ia sudah kuat bolak-balik perpustakaan-kelas seperti kebiasaannya dulu. Seperti sekarang, ia tengah berjalan menuju perpustakaan dengan santai. “Andra!” Sandara tidak mengacuhkan panggilan itu. Kakinya tetap berjalan menuju perpustakaan seolah tak ada interupsi apa pun. Namun tiba-tiba saja lajunya dihentikan oleh orang itu. Ia berdiri di depan Sandara menghalangi jalannya.

“Ada apa?”
“Aku hanya mau bicara… hm sebaiknya nanti kau… pulang bersamaku saja, aku akan mengantarmu pulang,” Ujar Andre gugup. “Dan membiarkan diriku celaka lagi seperti dulu? Terima kasih!”
Sandara mendorong Andre hingga pria itu menyingkir dari jalannya. Andre hanya memandang kepergian gadis itu dengan sendu. Ia percaya, bahwa takdir akan menentukannya.

Sandara mengendarai motornya dengan santai. Sesekali ia mengamati apa yang dilewatinya. Ia ingin membuktikan pada Andre bahwa yang ditakutkan pria itu tidak akan terjadi. Ia akan sampai di rumah dengan selamat. Ia tidak mau hal seperti dulu terulang lagi. Sekali ia menuruti yang dikatakan Andre, dia malah celaka. Seperti kancil, ia tak mau jatuh ke lubang yang sama. Ia sudah mendekati komplek rumahnya. Rumahnya pun sudah terlihat.

Senyum mengembang di bibirnya. Ia menang! Ia akan membuktikan pada Andre bahwa yang dikatakan pria itu salah! Saat ia membayangkan masa kejayaannya itu, sebuah mobil sport warna merah melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak Sandara yang menjalankan motornya dengan pelan. Tubuh gadis itu terpental jauh dari motornya, kemudian jatuh di aspal yang panas itu dengan sangat keras. Bunyi gedebuk terdengar begitu menakutkan.

“Argh,” Sandara merintih kesakitan.

Gadis itu melihat sendiri betapa darahnya telah membasahi bajunya dan mengenang di aspal. Untuk memekik takut pun ia sudah tak punya tenaga. Tubuhnya terasa remuk redam, seakan tak bertulang. Gerakan sedikit saja mampu membuatnya sakit tak terkira. Orang-orang mulai mengerumuni Sandara yang kesadarannya mulai tergerus sedikit demi sedikit. Mereka begitu panik, hingga hanya membiarkan gadis itu tergeletak di sana. Tiba-tiba saja Andre datang. Namun Andre datang dengan penampilan yang sangat berbeda. Dia memakai baju putih bersih tanpa noda. Wajahnya memancarkan cahaya dan senyumnya menenangkan. Dia membawa sebuah buku yang juga mengeluarkan cahaya menyilaukan.

“Sandara, ini aku, Andre,”
“Maaf tidak bisa menyelamatkanmu kali ini. Selama ini aku telah bermain dengan takdir dan mengabaikan tugasku untuk mengawasimu. Aku banyak melanggar peraturan hanya untuk tetap membuatmu… hidup.” Andre membuka buku yang dipegangnya.
“Kamu akan meninggal satu menit lagi karena gagar otak berat dan juga kehabisan darah. Maafkan aku Sandara. Aku menyayangimu,” ujar Andre sambil menutup bukunya.

Tubuh Andre tiba-tiba saja menghilang terbawa angin yang bertiup lebih kencang dari pada sebelumnya. Menghilangnya Andre, diikuti dengan tubuh Sandara yang bergetar dan seolah nyawanya mulai ditarik kuat lewat kepalanya. Sakit sekali rasanya, hingga ia ingin menangis. Di detik akhir hidupnya itu, baru Sandara sadar bahwa Andre bukanlah manusia. Dia baru saja mengumumkan waktu kematian padanya. Andre adalah malaikat yang bertugas mengawasinya hingga ajalnya menjemput sekaligus penyelamat di setiap takdir kematiannya datang.

TAMAT

Cerpen Karangan: Kintaniryu
Blog: allmystory13.wordpress.com

Cerpen Sang Penyelamat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bangku Terlarang

Oleh:
Hari ini adalah hari awal aku masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Namaku Tania. Aku duduk di kelas 1 SMA PERWIRA HUSADA. Aku berjalan melewati koridor kelas yang

18/4

Oleh:
“Eh Fan, denger-denger misteri 18/4 itu datang lagi.” Ucap Vera yang terduduk di sampingku. “Oh.” Ucapku singkat sambil terus menatap buku matematika yang selalu membuat gemuruh di otakku. “Ish,

Azalea : First Meeting

Oleh:
Stevan kebingungan. Itu pasti karena dia hanya sendirian di kamar yang lampunya masih menyala terang ini. Pemuda blonde itu merasa malam ini, malam yang sangat berat baginya. Mungkin akan

Pengulangan

Oleh:
Hujan rintik rintik turun beberapa saat setelah Jenazah Kakakku dimasukkan ke dalam ruang peristirahatannya yang terakhir. Isak tangis yang masih terlihat di beberapa sanak saudaraku termasuk orangtuaku belum terhenti.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *