Scratches Tellus Online: Veno the Saint of Magic (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 22 December 2015

Kabut tebal sisa dari pertarungan menghilang secara perlahan, langit malam yang penuh bintang dan planet yang berdekatan mulai terlihat dengan jelas, kemudian, garis sihir berwarna-warni terukir indah di langit yang saling terhubung mengitari bumi melewati atmosfer tellus. Aku memalingkan wajahku ke arah seorang pemuda yang tegap berdiri di tengah-tengah cekungan bekas dari pertarungannya dan sosok monster, lalu dia ambruk di atas tanah dengan wajah menghadap ke langit, berkali-kali dia menarik napas dengan cepat hingga menimbulkan suara dengusan yang bisa terdengar hingga sepuluh meter jauhnya.

Aku membuka tas kecil di pinggang kiriku, di sana terdapat dua botol kaca bening berisi ramuan cair berwarna merah darah yang lebih mudah disebut Ramuan HP -Health Point- dan dua botol biru MP -Mana Point, beberapa relic dan kristal berwarna-warni yang tertindih di bagian bawah botol. Aku mengambil botol HP dan berjalan ke arah pemuda yang tergeletak di tengah cekungan kemudian menaruh botol HP itu di atas perutnya dan berjalan dua langkah untuk mengambil drop [1] dari monster Daas Fegus -Lvl 15- yang baru saja dia kalahkan.

Aku mengambil kristal berwarna merah cerah dengan bentuk api yang membeku dengan ketebalan tiga sentimeter, di dalamnya terdapat lambang seperti kepala naga yang terlihat cukup jelas naga itu sedang menyemburkan api. Dan di pinggiran Kristal terdapat mantra yang terukir indah dengan warna emas yang dapat menyala jika dilihat dari samping. Aku menyentuh kepala naga dengan ujung jari kananku hingga muncul kertas tua berwarna cokelat melayang di atas Kristal yang bertuliskan ‘Fragment Hell Fagus Kay’, dan di bawahnya terdapat deskripsi seperti sejarah tentang pecahan Kristal dan bagaimana cara mengunakan kristal ini. aku tidak ingin membacanya karena itu sangat panjang.

“huff..” helaku, “aku berharap bisa mendapatkan Fragment blue,” sambungku tidak puas.

Ada empat macam Fragment yang bisa didapat secara random ketika berhasil mengalahkan monster Daas Fagus. Fragment Hell Fagus kay yang aku pegang saat ini memiliki perbandingan tiga banding seribu artinya jika kita membunuh seribu monster Daas Fagus kita bisa mendapat tiga Fragment Hell Fagus kay. Kemudian pecahan Kristal berwarna zamrud ‘Fragment Wind Fagus kay’ memiliki perbandingan satu banding seribu. ‘Fragment Terra Fagus kay’ merupakan pecahan Kristal dengan harga yang mahal: lima ribu gold, dan untuk ‘Fragment Blue Fagus kay’ semua player menyebutnya sebagai mitos item.

“berapa banyak monster yang kamu bunuh?” tanyaku berjalan pelan menghampiri pemuda yang sedang meminum ramuan merah yang barusan ku berikan.
“empat ratus sampai lima ratus ku rasa,” jawabnya dengan sedikit senyuman.
“hee.. cukup banyak,”
“ya tentu saja, aku sudah online selama empat puluh delapan jam, jadi biarkan aku log out. Ini sudah jam empat subuh van..” ucapannya terhenti saat hendak memanggil namaku, dan kemudian dia melanjutkan dengan suara yang kecil “Veno the Saint of Magic”.

“ya.. ini sudah pagi. Lebih baik kita log out dan berangkat ke sekolah,” aku tersenyum kecut sambil berjalan ke belakang tubuhnya memperhatikan dengan teliti apa dia menyembunyikan sesuatu dariku. Nama Charnya adalah Aliando995 dia seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun, lebih tua dariku tiga tahun. Tingginya 5,8 kaki [2] wajahnya sedikit aneh menunjukkan bahwa dia orang yang absurd dan tak tahu diri.

“Jadi kamu sudah melupakan soal uangmu?”
“tidak-tidak.. kamu masih harus kerja rodi selama empat bulan ke depan untuk melunasi hutang-hutangmu,” ketusku.
“ayolah kita teman kan..”
“kita bahkan tidak saling kenal tahun lalu,” Aku mengalihkan pandanganku pada dagger -pedang pendek yang sering digunakan assassins- yang tersarung di belakang punggungnya, dagger hitam yang memiliki ukiran berwarna darah dari ujung bawah hingga atas.

“oke dengarkan. Aku tahu kamu sangat ingin menjadi orang terkuat dalam game maupun dunia nyata, tapi kamu tahu saat ini seseorang menderita selama dua hari olehmu,”
“bukannya di dunia game dan dunia nyata perbudakan adalah hal biasa,”
“dari mana sumbernya?”
“Deep Web.”
“HOLY S*IT!!” Ucapnya dengan terperanjat kaget.
“oke, kamu boleh log out. Di sebelah timur terdapat desa kecil yang berada di tengah savanna. Desa itu hanya berjarak dua puluh menit dari sini.” Ucapku menunjuk ke arah rimbunan pohon.

Pemuda itu menunjuk ke arah hutan dan mengulangi ucapanku.
“di sana?” sambil mengangguk-angguk dan hendak memalingkan wajah ke arahku. Aku sedikit berjalan mendekatinya, menarik dagger dari balik punggungnya dan mengibaskanya ke atas hingga menggores wajah Aliando995 dari telinga kanan bagian bawah hingga pelipis mata kiri dalam sekejap mata. Kepala bagian atasnya yang ku potong jatuh ke tanah dan efek darah menyembur ke luar membasahi pakaianku.

“efek darahnya terlalu lebay,” Komentarku, bagaimana bisa game yang bahkan sulit untuk dibedakan dengan dunia nyata tapi masih memiliki kecacatan yang sangat jelas di bagian tertentu.

Aku tidak benar-benar membunuh Aliando995, aku hanya melakukan PK [3] -Player Killer- untuk membuatnya Log Out lebih cepat. Jasad Aliando995 akan hilang tiga puluh detik kemudian ditelan oleh Tellus dan akan tertinggal beberapa item-item miliknya yang terjatuh karena di PK, kemudian dia akan muncul kembali di kota atau desa terdekat sama seperti game-game lainnya. Tapi semakin sering kalian mati maka semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk bisa log in kembali.

Aku membuka telapak tangan kiriku menghadap ke atas untuk memunculkan tampilan menu yang bentuknya seperti Tablet Elektronik selebar 12 inchi, tablet itu terbuat dari kaca yang bening tanpa ada dekorasi atau apapun hingga terlihat simple. Di sana terdapat menu dengan tampilan standar, Home, Mission, Guild, Options, Log out dan masih banyak menu-menu yang tersembunyi.

Aku berpikir beberapa saat untuk memutuskan meneruskan permainan dan masuk ke dalam dungeon atau log out untuk pergi ke sekolah. Tanpa sadar api suci terra yang berwarna merah kehitaman mulai membakar jasad Aliando995 hingga menyisakan seratus lebih uang picis, Kristal, sarung dagger, armor ringan, dan beberapa ramuan milik Aliando995.

“kenapa dia hanya mengumpulkan sampah!”

Aku kembali mengalihkan perhatianku ke arah tablet kaca yang sedikit melayang di udara hingga memudahkanku dalam menggunakannya, sebenarnya aku bisa saja merubah tampilan menuku seperti pada anime game yang terkenal itu, tapi menu itu terlalu mainstream hingga membuat setiap player yang menggunakannya merasa dia adalah ‘The Black Swordsman’ yang terkenal itu. Aku membuang tablet menuku -close menu- dan dagger milik Aliando995 bersama tumpukan item miliknya, meninggalkan drop item milik Aliando995 begitu saja dan berjalan ke arah batu besar yang terbelah menjadi dua bagian. Itu terlihat seperti sebuah Goa jalan menuju ke tempat yang menyeramkan.

Aku berhenti tepat di depan mulut goa sedikit memiringkan kepala dan menyipitkan mata berfokus pada semak belukar yang ada di pinggiran batu yang penuh sarang laba-laba.
“hem.. aku yakin laba-laba pria itu sudah mengetahui istrinya telah berselingkuh dan sejak tadi aku tidak melihat istri laba-laba itu. Mungkinkah dia sudah menggulung istrinya untuk hidangan makan malam,” sungguh perkataan yang sia-sia, siapa juga yang peduli dengan laba-laba sialan ini, pikirku.

Aku membuka tas di pinggangku lagi mengobrak-abrik Kristal yang terkumpul di sana dan memilih salah satu silinder panjang berbentuk segi enam berwarna cokelat bercahaya. Aku melemparnya ke tanah dan dalam kurang dari satu detik sebuh pilar cahaya berwarna cokelat terbang ke langit dari tempat silinder itu dijatuhkan hingga menyentuh salah satu garis sihir tellus di luar atmosfer bumi -tellus.

Itu adalah item save point yang memiliki harga cukup tinggi di black market. Item ini berfungsi untuk merekam dan menandai tempat kita log out, sehingga jika aku log out sekarang char game-ku akan dikirim pulang ke rumahku yang berada ratusan kilo meter jauhnya dari tempat ini. Dan saat aku log in kembali aku akan langsung berada di tempatku berdiri saat ini. Kemudian tubuhku yang hilang akan digantikan dengan sebuah penanda berbentuk tongkat yang menyilang dengan dekorasi tengkorak di salah ujungnya.

Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran dari tubuhku yang berada di dunia ini, aku menatap dengan enggan untuk masuk ke dalam goa karena setiap dungeon selalu memiliki syarat party [4] minimal empat sampai delapan orang atau lebih untuk bisa menjelajahi dungeon dan melawan boss dungeon. Aku memejamkan mataku sambil menghela napas panjang karena ku pikir aku akan membayar beberapa orang agar mau membuka kunci dan memenuhi syarat masuk dungeon.

“aku harap di desa dekat sini banyak player yang mampir.” ucapku dengan tidak bersemangat. Kemudian tubuhku berubah menjadi debu dan terbang tertiup angin.

Bersambung

– Catatan:
1. Drop: Barang yang didapatkan dari monster yang sudah dikalahkan.
2. 5,8 kaki kurang lebih 176 cm.
3. Player Kill atau disebut juga Player Vs Player. Pemain dapat menyerang pemain lainnya. Untuk melakukan PK ini, tiap game memiliki ketentuannya masing-masing.
4. Sebutan untuk team atau grup dalam game, dimana berisikan 2 pemain atau lebih. Hunting atau menyelesaikan quest dalam team akan jauh lebih mudah dan cepat.

Cerpen Karangan: Nicorock
Facebook: https://www.facebook.com/jokopramono.usa
Saya seorang pemula, mungkin banyak kesalahan dalam tulisanku tapi aku sudah mencoba sekuat tenagga untuk menuliskannya.

Cerpen Scratches Tellus Online: Veno the Saint of Magic (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teror Beruang

Oleh:
Aku Icha, ketiga temangu Ria, Lia dan Sinta, kami adalah 4 sekawan. sekarang kami tersesat di hutan belantara. Ketika study tour akhir kelas 3, harus melakukan camping di hutan

Taman Rahasia

Oleh:
Hay namaku husnul. Orangtuaku meninggal 2 hari yang lalu sekarang aku tinggal bersama bibi jauhku, aku saja baru tahu kalau aku punya Bibi jauh di sini rumahnya sederhana tidak

Magical of Miror

Oleh:
Gaun hitam menyelimuti seluruh tubuhku. Hari ini adalah hari pemakaman kakekku. Kemarin kakekku baru saja meninggal. Tepat dihari ulang tahunku yang kesepuluh. Di dunia ini hanya kakek yang kumiliki.

Tukang Jamu Yang Misterius

Oleh:
Dahulu kala ada sebuah desa yang sangat damai dan sejahtera. Suatu hari ada dua orang pemuda bernama adam dan guntur. Mereka hendak membeli jamu karena badan mereka sedang sakit

Fog

Oleh:
“Kau merasa nyaman tinggal di sini?” “Tentu tidak,” “Tapi aku selalu di sini,” “Bawalah aku ke luar dari tempat ini,” “Tentu saja, tapi tidak sekarang,” Sepasang kornea indah itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Scratches Tellus Online: Veno the Saint of Magic (Part 1)”

  1. rhaa says:

    bagus ceritanya, tapi kok ya kya agak mirip anime jepang ya?

  2. purwantinurindahsari says:

    Keren, seperti Sword at Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *