Sebuah Es Krim

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 September 2016

“Kau! Kau sudah menghabisinya! Kau akan membayar untuk semua ini!!”, teriakku penuh dendam, armor putih yang kukenakan gugur berjatuhan. Harus kuakui, Jake memang lebih kuat dariku, armornya bahkan tidak tergores sedikitpun, tapi aku tetap akan menuntut balas. “Oh, soal itu ya Mike. Biarpun awalnya tidak sengaja, tapi rasanya menyenangkan”, ujarnya tanpa rasa bersalah. “cukup..! Kuhajar kau… uhk…” aku sudah mencapai batasku. Dia tersenyum sinis, aku hanya bisa mengepalkan tinjuku dengan kuat, sadar tidak bisa melakukan apapun dendamku meluap-luap seakan hendak meledak.

Seketika pupil mataku berubah menjadi pupil mata ular, tidak hanya itu irisnya juga menjadi berwarna biru. Aura biru memancar keluar dari tubuhku, aku merasakannya, kekuatan yang besar, lebih besar dari sebelumnya. “Hyaa…!!”, teriakku sambil melepaskan kekuatanku. Seketika cahaya biru menerangi seluruh lembah yang sudah tak lagi utuh bentuknya. “Shiing..!”, armor yang kupakai berganti menjadi berwarna biru dengan ukiran naga dari dada yang menyebar hingga ke tangan dan kakiku. Helm dengan bentuk kepala naga ini benar-benar keren, ditambah dengan sepasang sayap biru langit di punggunggku, semakin menambah nilai artistik armor ini. Sekarang aku yang tersenyum sinis ke arahnya.

Dia melepas armornya, hahaahaa… akhirnya menyerah juga, pasti karena armorku ini.. batinku senang. “Hyaaaa…”, teriaknya tiba-tiba dengan posisi seakan hendak mengeluarkan seluruh kekuatannya. Seketika aura merah menyelimutinya, cahayanya begitu menyilaukan. Saat kubuka mataku, tiba-tiba ia sudah menyandarkan tangannya ke bahu kiriku, “kau! Kenapa kau memakai armor yang sama denganku!”, “matamu kau taruh dimana? Armorku ini warnanya merah, punyamu kan warnanya biru”, “aku tahu itu, tapi bentuknya sama persis!”, dia tersenyum mengejek. Siaal… “khiing.. strak… krek…”, sebuah meriam muncul di pundak kiriku, kunamakan ia “Shoulder Blaster”. Jake mengambil jarak, sepertinya dia tahu aku akan menyerang dengan kekuatan penuh. “Makan ini dasar plagiat!! Shoulder blaster, water!!”, kau bodoh ya, harusnya kau teriak “fire” bukan “water”, “itu kalau yang keluar api!”, balasku.

Tembakan air bertekanan tinggi melesat ke arahnya, dia menyilangkan kedua tangannya di dadanya, haha… jadi dia akan menerima seranganku. Tiba-tiba dia melepaskannya seraya membusungkan dadanya “Cease Fire!!”, teriaknya. Aku merasa geli mendengarnya, “sekarang siapa yang bodoh? Cease fire itu gencatan senjata, harusnya kau mengatakan “Chest Fire””, balasku. “Masa bodo, rasakan ini!!”, seketika api menggulung-gulung keluar dari dadanya. “Jedar..!!! Ssshhh…” bunyi yang timbul dari hantaman tembakan kami. Serangan kami berakhir menjadi uap air. Kalau terus begini, tidak akan ada habisnya.

Aku melangkah maju sambil menjaga tumpuanku. Sepertinya Jake juga berpikiran sama, dia juga bergerak maju. Kami saling berhadapan, uap air ini menghalangi pandanganku, untungnya ada pelindung mata di helm ini. Dorongan yang tercipta dari serangan kami sedikit menyulitkan kami untuk mendekat. Ini dia… aku mengayunkan tinjuku tepat ke wajahnya, Jake juga melakukan hal yang sama. Sedikit lagi… uhk… sial, aku sudah mencapai batasku. Kupikir aku akan kalah, tapi… dia pukulannya terhenti, ha.. ha.. ha… dia juga sudah mencapai batasnya. “Match Draw, Game Over”, ini sudah kesekian kalinya aku mendengar ini.

Kami bertarung di ruangan khusus, kami menggunakan kacamata Virtual Reality juga sarung tangan dan sepatu khusus, jadi kami bisa masuk ke dunia virtual dan bertarung sesuka hati tanpa cidera apapun. “Aku su..dah tida…k kuat… aku… menyerah”, ujar Jake tersengal. “ya, tapi kau tetap harus membayar apa yang sudah kau lakukan”, “tentu, tapi sebelum itu, aku akan membayar ini dulu”, “aku akan menunggu di luar”, aku berjalan gontai. Entah sudah berapa jam kami ada disini, kami bahkan menyewa tempat ini untuk hal “itu”. “kita pergi?”, “tentu”, jawabku.

“Ini, maaf untuk yang sebelumnya, jadi ini sebagai gantinya”, katanya sambil memberiku es krim. Sebenarnya kami bertarung tadi karena Jake menghabiskan es krimku. “Ya, tidak masalah. Pada akhirnya benarlah sebuah peribahasa “kalah jadi abu, menang jadi arang”, ucapku mendapat pencerahan. “Ya, kau benar, berkelahi tidak menyelelesaikan masalah, justru malah memperburuknya. Kalau saja waktu itu aku langsung meminta maaf dan mengganti es krimmu, tentu uang yang “terbuang” tadi bisa kumanfaatkan untuk hal yang berguna”, ucap Jake menyesal. Sore itu, kami mentertawakan kebodohan kami sambil menikmati es krim. Benar-benar pengalaman berharga dari sebuah es krim

Cerpen Karangan: Sigit Pamungkas
Facebook: sigit pamungkas

Cerpen Sebuah Es Krim merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Beauty and Not The Beast (Part 2)

Oleh:
Tawa seseorang menggelegar ke seluruh ruangan diikuti tawa beberapa anak buahnya. “Hey, kenapa kalian ikut tertawa? Hanya aku yang boleh tertawa.” Bentak orang itu. “Bodoh, bodoh untuk Haryono karena

Aku Ada Di Sini

Oleh:
Bisu. Aku diam membisu di pojok kelas. Memperhatikan ia bermesraan dengan perempuan kesayangannya. Tenanglah, ini hanya pemandangan biasa. Tapi sepertinya, aku tidak bisa membohongi perasaan sakit yang membelenggu masuk

Palasakti

Oleh:
Palasakti berhasil tertangkap aparat kepolisian kemarin. Warga Desa Ceboraya sangat bergembira waktu polisi datang menggrebek si ceking gondrong tersebut kala ia sedang buang air besar. Bahkan Pak Kades sampai

Aku, Kamu dan Kita

Oleh:
Aku duduk di sebuah taman dekat sekolah, menulis cerita tentang sebuah kisah persahabatan. Aku Hera, gadis SMP sama seperti kalian, menyukai musik, membaca novel dan dance. Aku mempunyai sahabat

Cinta Pertama Kupu Kupu

Oleh:
Dari celah jendela kelas yang terbuka. Aku melihat kupu-kupu putih menyelinap dan dengan bebasnya disaat jam pelajaran berlangsung terbang kesana kemari menyusuri dinding kelas. Aku melihat kupu-kupu itu sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *