Sebuah Misteri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 6 May 2019

Dunia yang kita tinggali saat ini menyimpan banyak misteri. Contohnya saja, segitiga Bermuda. Sampai sekarang pun sepertinya topik masih akan terasa seru untuk dibahas bersama-sama. Lalu, bagaimana dengan kerajaan Altlantis yang konon tenggelam ke laut? Hal itu pun belum bisa terpecahkan, bukan?
Oleh karena itu, aku mengatakan bahwa hidup kita dikelilingi oleh misteri.

“Hei, Serafina,” Suara itu membuat lamunanku buyar seketika.
Aku menoleh kebelakang dan melihat Nero -temanku- ternyata sedang duduk tepat di belakangku. Ia mengenakan baju hitam, dan rambutnya diberi gel. “Ada apa?”
“Kita manusia yang hidup di dalam dunia ini mengalami banyak kejutan, bukan?”
Aku menganggukkan kepalaku. “Hm, kurasa kau benar,” Kini, badanku menoleh sepenuhnya ke arah Nero. Dia mengerti benar apa maksudku. “Namun biasanya justru kejutan itu yang banyak disukai oleh manusia, mengingat kata ‘kejutan’ itu berkonotasi positif.”
Pria itu terdiam.

“Kalau aku boleh mengatakannya, kurasa kejutan itu ada hubungannya dengan misteri.”
“Bagaimana bisa?”
“Tentu saja,” Kataku. “Aku mendefinisikan misteri sebagai sesuatu yang hanya diketahui oleh Tuhan, dan manusia yang memiliki misteri itu.”
“Kurasa aku mengerti maksudmu,”
“Yah, kecuali kejutan ulang tahun yang tidak direncanakan dengan baik,” Kataku, berusaha bercanda karena melihat wajah Nero yang sama sekali tidak tersenyum sejak tadi. Tapi ternyata usahaku gagal. Oleh karena itu, aku cepat-cepat melanjutkan. “Pada intinya, misteri dan kejutan itu saling beruhubungan.”

Nero menolehkan wajahnya ke arah kanan. Dan aku tahu apa yang sedang ditatapnya. Aku tidak ingin ikut menoleh ke sana. Aku lebih memilih untuk menundukkan kepalaku dan menatap sepatu yang dipakainya.
Menadadak, sepatu Nero terlihat lebih menarik.

“Serafina,”
Seorang lain memanggilku dengan suara yang ragu-ragu. Aku mengerti mengapa wajahnya terlihat begitu ketakutan saat memandangku. Aku sangat tahu.
“Ya?”
“Ngg…”
Aku menaikkan sebelah alisku dan memintanya untuk segera melanjutkan perkataannya, sebelum Nero pergi dari sini. Teman sekelasku ini membuat waktuku terbuang sia-sia.
Dalam hitungan ketiga, kalau dia tidak segera mengatakan apa maunya, aku akan membuang muka dan melanjutkan obrolanku dengan Nero.

Satu…
Dua…
Tig-
“Kau bisa bergeser agak ke sana sedikit?” Tanyanya.
Setelah semua ini? Hanya itu yang bisa dikatakannya? Untung saja aku bukan seorang monster pemarah yang bisa membunuhnya kalau aku sedang marah.
Namun, alih-alih mengatakan pemikiranku, aku hanya mengangguk dan bergeser dua tempat dari gadis itu. Perlahan, wajah ketakutannya memudar. Ah, terserah dia saja. Aku juga tidak peduli. Bahkan aku tidak mengenal dia. Tahu namanya saja, tidak.

“Kenapa kau bergeser?” Tanya Nero setelah puas menoleh ke arah itu. Ia juga ikut bergeser dua tempat sehingga ia kembali berada tepat di belakangku.
“Gadis itu memintaku bergeser,” Kataku. “Mungkin sebentar lagi teman-temannya juga akan datang. Kalau mereka datang, aku akan ikut pergi bersamamu.”
“Jangan,” Kata Nero.
“Kenapa?”
“Kau harus menemani Angelica di sini,” Katanya.
“Dia tidak perlu ditemani,” Pada akhirnya, aku melihat ke kanan. Di sana ada Angelica. “Dia baik, cantik, dan juga selalu optimis. Angelica seperti magnet dan orang-orang di sekelilingnya seperti pasir besi.”
Sejenak, kami terdiam.

“Nero,” Panggilku. “Apakah kau pernah mendengar tentang misteri kehidupan?”
“Ya,”
“Bagiku, misteri kehidupan itu lebih mengejutkan daripada misteri dunia lainnya,” Lanjutku sambil kembali menatapnya. “Misteri kehidupan adalah kejutan yang direncanakan dengan sangat baik.”
“Ya.”
Lalu, kami kembali terdiam.

Kematian, adalah salah satu contoh dari misteri kehidupan.
Aku tidak akan pernah menyangka kalau Angelica, sahabatku, meninggal kemarin malam secara tiba-tiba saat ia sedang menginap di rumahku kemarin. Melihatnya terjatuh, kemudian kejang-kejang lalu tidak bernafas sudah membuatku sangat terkejut.

Sekali lagi aku menoleh ke kanan.
Tempat peti mati besar berwarna putih itu diletakkan. Dan di sekelilingnya, ada banyak orang sedang menangis tersedu-sedu. Aku tidak bisa menangis. Berpura-pura menangis seperti yang dulu sering kulakukan saja aku tidak bisa.
Angin berhembus pelan, membuat Nero perlahan memudar yang menghilang, terbawa oleh angin itu.

Kau mau tahu lagi salah satu contoh misteri kehidupan?
Nero.
Dia adalah ilusi yang berteman denganku sejak kecil. Dari hari pertama kita bertemu, Nero-lah satu-satunya yang bisa memahamiku dengan baik. Oleh karena aku berteman dengan Nero, semua teman di kelas memandangku dengan wajah ketakutan. Bahkan ada yang terang-terangan mengejekku.

Sejujurnya, aku tidak tahu dari mana Nero berasal, dan apa yang membuatnya bisa terlihat hanya olehku.
Nero ‘mengenal’ Angelica, karena hanya Angelica yang benar-benar menganggap Nero ada, meskipun ia tidak dapat melihatnya.
Mereka pikir aku sudah gila.
Atau jangan-jangan, aku memang gila?

Kuberi lagi satu contoh terakhir tentang misteri kehidupan sebelum penulis cerita ini selesai mengetik.
Cinta.
Bodohnya, aku jatuh cinta dengan ilusiku sendiri. Dan lebih bodoh lagi, ilusiku ternyata jatuh cinta pada Angelica yang sudah meninggal.
Jadi, kuralat perkataanku di awal.
Kita hidup bukan hanya dikelilingi oleh misteri. Namun, kita juga hidup di dalam misteri itu.

Cerpen Karangan: Nathania Christabel G
BlogFacebook: niaawrites.wordpress.com
Temukan saya di:
wattpad, niaa27_

Cerpen Sebuah Misteri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sisa Rahasia

Oleh:
“Supri, aku sudah tidak sabar mendengar ceritamu. Tapi sepertinya aku akan telat.” Suara cemas itu kudengar di seberang sana. Masih kugenggam ponsel mini yang menempel di telinga kananku. “Ya

Bizarre Car dan Penyelamat Cinta

Oleh:
Bizzarre car atau mobil yang aneh. Mobil ini berkelakuan sangat aneh dan jarang kita bisa menemukannya. Mengapa mobil ini bisa berada dibumi?. Mobil asal luar angkasa telah mengguncang bumi,

The Grondey: Board of Death

Oleh:
Hari ini Grondey Express mulai berdecit lagi. Suara decitan itu hampir terdengar ke seluruh penjuru kereta. Darwin, Elizateh dan Edgar berada di kompartemen yang sama. Darwin dan Elizabeth tengah

Matahari Dan Bulan (Part 2)

Oleh:
Alven seperti mengetahui bahwa aku mulai menyadari sesuatu. Dia menoleh padaku, tersenyum penuh arti. Sekali lagi aku menelan ludah. “Alven, apa kau..” Lagi, aku memandang patung, lalu kembali pada

My Earth

Oleh:
Namanya Meli. Dia kini duduk di kelas 8, di sebuah sekolah ternama di kotanya. Dia tidak terlalu menyukai hal-hal realistis yang membuatnya harus berfikir sampai jenuh. Bahkan dunia khayalnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *