Sebuah Novel dan Kisah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 29 May 2017

Hari kepenatan sudah datang lagi. Aku ingin sekali menghilangkan hari menyebalkan ini. Hari senin dengan kesibukanku.

Aku memilih untuk meminjam buku untuk kubaca dari perpustakaan kota. Langkah kakiku kupercepat demi mendapatkan buku terbaik dari perpustakaan. Aku tidak mempunyai seorang teman, jadi kupilih untuk meminjamnya sendirian.

Suara lonceng dari pintu perpustakaan berbunyi ketika ku membuka pintunya, menandakan bahwa ia menyapaku. “Selamat pagi, Rena. Silahkan memilih sebuah buku untuk membuatmu menjadi lebih rileks hari ini.” Senyumnya. Sapaan petugas perpustakaan yang tampan, perpustakaan bersih, dan rak-rak yang penuh buku. Aku menyukainya.

Tanganku masih sibuk mencari sebuah novel. Aku agak merasa bingung memilihnya. Tak ada yang menarik. Daripada pulang tak membawa apa-apa. Aku menarik buku yang agak tebal dari rak. Lalu membawanya ke Doni, petugas perpustakaan.

“Sudah. aku ambil yang ini,” Kuletakkan di meja, di depanku.
“Hanya satu?” Ia membenarkan kacamatanya sejenak, lalu tersenyum.
“Ya, kupinjam selama seminggu.”
Ia lalu mencatat bahwa aku meminjam buku ini. Aku terus memandangi buku yang kupilih ini dari tadi, tak sabar kubaca.

Sesampainya di rumah, aku duduk di ranjangku. Kubuka halaman pertama, kelihatannya buku ini sudah lama terbit. Ceritanya sangat menarik, mengisahkan kerajaan pada zaman dahulu. Tiba-tiba sebuah asap keluar dari halaman buku!! aku ketakutan setengah mati. Rasanya aku masuk ke dalam buku itu!! “Huaaaaa!!!” Teriakku sekencang mungkin.

Aku bangun, aku kini di mana? Aku melihat sekitar, berada di dalam hutan? Pakaian zaman dahulu?

“Hallo? apa ada orang?” Aku berjalan terus mencari seseorang. “Hallo!!” Teriakku keras. “Hei nona, jangan berteriak begitu. nanti ratu akan mendengar!” Suara itu berasal dari semak-semak. Kumencari sumber suara itu. Ternyata kuda?
“Kau siapa? kenapa kau bisa berbicara?” Tanyaku mencoba mengusap kepala kuda itu. “Aku Max. naiklah ke punggungku. Akan kubawa kau ke tempat aman,” Tak ada pilihan lain, aku menaiki kuda itu dengan susah payah. “Berpeganglah yang erat!” Aku memegang erat leher kuda itu, Ia berlari sangat cepat.

Max membawaku ke sebuah pedesaan. Banyak warga desa yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Max berhenti. “Tinggallah di sini dan pelajari bagaimana cara melawan Ratu Oxy yang licik itu.” Aku turun dari punggung Max dan warga desa kelihatannya senang sekali atas keberadaanku sekarang. “Kamulah orang yang akan terpilih!” Ucap salah satu warga desa itu lalu memelukku sekilas, apa maksudnya?

Tiba-tiba saja aku terhempas kembali. Kubuka mataku, aku berada di kamar rumahku. Aku melihat buku yang terbuka, mungkin aku sudah membacanya setengah dari buku. Kubuka lembaran-lembaran selanjutnya, kosong. Apa aku harus kembali ke sana dan membuat sebuah cerita di dalam novel ini?

Kutinggalkan buku itu di ranjang, aku berjalan ke arah dapur. Lapar sekali. Aku menyantap sepotong kue dan meneguk segelas air. Kumenghela nafas. Tiba-tiba ada yang mengetok pintuku, aku membukanya. “Nak, jangan sampai kau mati di dalam ceritamu sediri. Karena kau akan terjebak di sana selamanya.” Nenek tua itu berucap, “Nek, apa maksudnya?” Nenek itu sekejap menghilang. Kututup pintu dan berpikir.
“Aku ingin menyelesaikan ceritaku!” Aku terhempas kembali, kini aku berada di pedesaan lagi.

“Ajari aku melawan ratu itu!!” Seruku.
Seorang nenek-nenek menghampiriku, bukankah dia nenek yang mengetok pintuku?
“Aku ajari,” Setelah ia berkata, ia mengajakku ke sebuah tempat. Disebuah gua yang atapnya berlubang menampakkan cahaya dari atas. “Duduklah.” Aku duduk diantara batu.

Setelah sekian lama aku belajar dari nenek itu, aku memutuskan bahwa hari ini aku akan melawan ratu itu. Nenek itu banyak menceritakanku sebuah kisah. Aku menyuruh Max mengantarku ke kerajaan Ratu Oxy.
“Apa kau gadis yang akan melawanku?? hahahahaha!!” Ratu itu memang cantik tetapi ia sangat licik.
“Ya. Akulah orangnya!!” Aku bersemangat.
“Mari kita uji siapakah pemenangnya. Jika kau kalah kau akan mati, jika kau menang aku yang akan mati.”
“Aku setuju”
Banyak yang menonton acara ini, riuh sekali.

“Pertanyaan pertama, benda apa yang dapat membuat orang tertegun padaku?”
Aku melihat ke arah kapak emas yang dibawanya.
“Kapak emas yang berada di tanganmu” Jawabku, aku ragu.
“Hmm..” Ia diam sejenak, “Salah!! jawabannya adalah mahkotaku!”

“Pertanyaan kedua, dapat dirasakan tapi tak dapat disentuh”
“Mm..” Aku berpikir sangat lama, apa ya jawabannya?
“Cepatlah!”
“Aku tak tau. Mungkin langkah kaki?” Aku takut.
“Hahaha..” Ia menggelengkan kepalanya menandakan jawabanku salah.

“Dan yang terakhir, siapakah yang paling bijaksana di negeri ini??” Ratu Oxy menyeringai.
“Raja Dahdam!” Tegasku.
“Salah!! akulah yang paling bijaksana! aku! hukum mati gadis ini!”
“Lalu ratu, di mana Raja Dahdam? bukankah kau berjanji padanya untuk setia?” Aku tersenyum miring, inilah kemenanganku.
“Siapa Dahdam? aku tak mengenalnya. Cepat hukum mati gadis ini!!”

Para pengawal yang mau menghukumku mati tiba-tiba saja berhenti. Mereka saling berbincang satu sama lain, warga desa pun begitu. Aku berharap aku dapat selamat dari hukuman ini. “Max?” Aku melihat Max berlari menghampiriku. “Rena. Aku akan membawamu pergi dari tempat ini. Cepatlah naik.” “Tidak! aku tidak mau mengakhiri ceritaku dengan canggung!” Aku menghampiri Ratu Oxy dengan wajah marahnya. “Di mana Raja Dahdam??!! Ketika Raja Dahdam memang ada kau yang harus dibunuh karena kau tidak setia!!” Teriakku.

“Aku di sini. aku sengaja merubah diriku menjadi kuda. Tapi kau malah bersama Yean, Raja kerajaan sebelah kan?” Max berubah menjadi seorang raja, lengkap dengan mahkotanya. “Dahdam?” Ratu Oxy terperanjat. “Kenapa? kau bertanya Yean di mana? Dia mati di tanganku. Apa kau merasa kesepian? Jadi kau membuat acara tidak jelas ini terjadi.” Raja Dahdam semakin emosi, wajahnya memerah. “Tidak, sayangku. Aku.. aku..” Ratu Oxy menghampiri Raja Dahdam dengan gugup. “Sudahlah lebih baik kau mati!” Raja Dahdam merubah Raty Oxy menjadi buih dan menghilang.

“Rena terima kasih. Kembalilah ke asalmu,” Raja Dahdam mengeluarkan sebuah cahaya dari tangannya ke arahku dan semuanya menjadi gelap.

Aku berada di kamarku lagi, lembaran-lembaran yang kosong tadi kini penuh. Aku bersyukur, tapi masih ada yang mengganjal di hatiku. Aku kesepian di kehidupan nyataku.

Cerpen Karangan: Latania Rokhim
Facebook: Latania Rokhim

Cerpen Sebuah Novel dan Kisah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dialog Dengan Lampu Merah

Oleh:
Pukul sebelas malam, kota yang biasa ramai kini sudah bisa dibilang sangat sepi. Hanya ada beberapa warung atau kios yang masih buka. Itu pun sudah tidak ada pelanggannya. Katanya,

Kisah Pemburu Dan Anjingnya

Oleh:
Hidup seorang pemburu dengan anjingnya yang setia bernama Berto. Anjing tersebut sangat setia kepada tuannya senang maupun susah. Pada pagi hari yang cerah, sang pemburu pergi ke hutan dengan

Aku dan Penelitian Ayahku (Part 1)

Oleh:
Namaku Ami Frankland, ini adalah kisahku saat aku berusia 13 tahun. Kisah paling mengerikan dan telah merubah hidupku. Bahkan menjadi sejarah besar di kota kelahiranku -Benchurch. Ayahku – Charles

My Bodyguard Girl (Cause…)

Oleh:
Jika air dapat menjadi bencana, Jika api dapat menjadi petaka, jika tanah dapat menjadi tangisan, dan jika angin dapat menjadi jeritan. Lalu apakah kau menjamin seekor anjing penjaga tak

After Dusk (Part 1)

Oleh:
Lelaki itu berdiri memandang ke ujung senja tempat matahari yang samar tak terlihat lagi. Angin sore menerpa permukaan kulit memberikan perasaan kering yang tak biasa. Perasaan kosong itu begitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *