Sebuah Pengorbanan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 6 February 2019

Di dinginnya malam tampak Ayah dan anaknya yang bertemu setelah 3 tahun berlalu
“anakku apakah kau merindukan Ayah?” tanya Ayah memecah keheningan.
“Tentu saja Ayah adalah orang yang luar biasa, aku berharap Ayah bisa tinggal bersama kami di rumah”.
“Ayah harus bekerja sayang” Ujar Ayah sambil mengelus rambut hitam legam putrinya.
Sang Ayah pun menghela nafas dan berkata pelan “Ayah ingin kamu menjadi anak yang luar biasa, jadi Ayah harus berjuang untuk itu”.
“tapi Ayah, kenapa harus bekerja terlalu keras untuk itu”
Sambil menatap langit Ayahnya pun berkata “Nak apakah kau ingin mendengarkan kisah tetang perjuangan nak?”
Anaknya pun menantap kepada Ayahnya dan bersiap mendengarkan kisah yang akan diceritakan Ayahnya.

Jauh sebelum negeri ini bernama Indonesia, sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Makmur tengah menghadapi sebuah masalah.
Malam itu saat Raja tengah pergi kunjungan ke kerajaan tetangga, tiba-tiba lampu istana mati dan suasana kerajaan yang tadinya ramai oleh penghuni istana yang tengah makan malam menjadi senyap. Hening seketika. Angin berhembus kencang tanpa suara dan “Puff” sepersekian detik pangeran langsung menghilang, yang tersisa hanya prajurit dan panglima kerajaan. Lenyap Seketika. Lampu kembali hidup. Malam itu seisi kerajaan panik.

Esok Paginya sang Raja pulang dan mengetahui bahwa semua anggota kerajaan diculik dan diasingkan mengetahui hal itu Raja pun langsung mengadakan sayembara “barang siapa yang bisa membawa kembali pangeran, maka ia akan dihadiahi harta yang sangat banyak, pengumuman itu ditempel di setiap pemukiman penduduk.

Karena banyak yang menceritakan tetang sayembara tersebut sampailah ke telinga seorang pemuda, pemuda tersebut bernama “Jaka” ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana, tetapi ia adalah pemuda yang kuat, di guratan wajahnya telah terlihat guratan sebuah kerja keras, ia tinggal bersama ibunya yang sedang sakit-sakitan di rumah tua yang kumuh. Jaka pun menceritakan tentang berita yang ia dengar kepada ibunya

“Ibu aku hendak mengikuti sayembara di kerajaan bu” Tanya Jaka kepada ibunya seraya memberikan surat pengumuman sayembara yang ia pungut di jalan saat hendak pulang tadi.
“jangan nak kau di sini saja” Ujar ibunya seraya membaca pengumuman tetang sayembara itu.
“tapi bu, Ibu kan sedang sakit, aku harus mengikuti sayembara ini dan kita akan pergi ke tabib setelah itu lalu ibu akan sembuh dan kita akan melakukan hari-hari yang menyenangkan dan tinggal di rumah yang layak” Jelas Jaka panjang lebar
Mendengar keinginan anaknya yang sangat tulus dengan berat hati Ibunya pun mengizinkan Jaka unutuk mengikuti sayembara.

Kau tau nak, itulah kesempatan, kesempatan itu adalah hal yang datang kepada kita dan kita harus mengambil kesempatan itu jangan sampai terlewatkan itulah nak kesempatannya, sambil menatap bola mata anaknya yang berkilau diterpa cahaya bulan Ayahnyapun berkata “kesempatan Ayah adalah bekerja di negeri nan jauh dan Ayah harus mengambil kesempatan itu, jangan sampai Ayah melewatkan kesempatannya. Karena kesempatanyang akan datang belum tetntu lebih baik dari kesempatan hari ini, kautau nak apakah Jaka berhasil menjemput pangeran?”

Dengan persiapan seadanya Jaka berangkat ke istana. Setelah tiba di istana tampak istana begitu lengan tak ada pendaftar yang ada. hanya pengawal kerajaan yang berjaga di bawah istana. Jaka pun menemui Raja dan bertanya beberapa hal, ternyata tidak ada yang mengikuti sayembara dikarenakan kekuatan musuh yang bisa menyerang dalam hitungan detik dari kabar terakir yang didapat dari pesan yang ditinggalkan di atas meja oleh penculik tersebut, Pangeran diasingkan ke Pulau Kabut. mendengar tak ada peserta selain dia, hal itu merupakan sebuah keberuntungan bagi Jaka karena tidak ada saingan baginya dalam mengikuti sayembara itu dan bisa juga sebagai ancaman baginya karena boleh jadi musuh akan banyak dan kuat.

“Jadi anak muda apakah kau siap menyelamatkan kerajaan?”. tanya Raja dengan penuh harapan.
“Baik saya siap!” jawab Jaka dengan mantap.
“Kalau begitu aku telah mempersiapkan perahu untukmu pergi”. Karena saat itu kerajaan hanya memiliki perahu kecil, terpakasa Jaka harus pergi dengan perahu kecil tersebut dan harus singgah-singgah dahulu ke beberapa pulau untuk bersitirahat.

Paginya Ia berangkat dengan sebuah perahu kecil dan dengan peralatan seadanya setelah beberapa lama berlayar tanpa peta, akhirnya Jaka pun memutuskan untuk berhenti di sebuah pulau, dia memutuskan untuk sarapan di dekat bibir pantai ia sudah menyediakan beberapa bungkus makanan untuk di bawa berpetualang, saat sedang makan tiba-tiba langit berubah menjadi gelap pasir-pasir berterbangan, dari ujung pantai nampak bayang bayang hitam di tengah laut dan mulai mendekat ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba langit gelap dan “clap-clap” dua buah pisau menusuk lengannya. berdarah. Dan tiba-tiba seorang kakek menariknya bajunya dari belakang dan dengan secepat kilat ia langsung berpindah dari bibir pantai ke tengah hutan.

Sampai di tengah hutan Jaka diam membisu dan kakek tersebut mulai mengobati luka-luka di lengan Jaka.
“te..te..terimakasih”. Ujar Jaka terbata-bata memecah keheningan.
Kakek itu menganguk mengiyakan dan terus mengobati luka-luka Jaka dengan daun daunan

“apa yang kau lakukan di pulau ini nak?” tanya kakek itu sambil mengemasi peralatan medisnya.
“Aku akan pergi ke Pulau Kabut karena di sana pangeran kerajaan Makmur diasingkan”
“Pulau Kabut itu adalah pulau yang amat berbahaya” kata kakek tersebut memberi peringatan
“Pulanglah” Sambung Kakek itu
“Tapi aku harus ke sana apapun yang terjadi aku harus membawa anggota kerajaan pulang dan akan mengobati ibuku ke tabib dari hasil sayembara Raja”. Kata Jaka dengan nada keras
Mendengar hal itu kakek itu tertawa dan berkata. “Apa kau tau nak di sana adalah markas bajak laut Kabut dan mereka memenjarakan orang-orang dengan keji, dan kau bisa saja mengalahkannya tetapi dengan kapal yang lebih besar dan dengan amunisi yang banyak serta dengan para awak yang banyak sedangkan kau sekarang tidak mempunyai awak kapal seorang pun dan kau juga hanya memiliki sebuah perahu kecil”.
“kalau begitu apa yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan pangeran”
“kau harus mempunyai sebuah kapal besar dan juga kesaktian tingkat tinggi”
“Kalau begitu angkatlah aku menjadi muridmu” ujar Jaka bersemangat.
Karena kau adalah anak yang baik Aku akan mengajarkan semua kesaktianku padamu, ayo ikutlah denganku ke puncak gunung, untuk mencari kayu guna membuat kapal untuk mu.

Setelah dua bulan berlatih akhirnya Jaka pun dapat melanjutkan perjalananya ke Pulau Kabut dengan pelengkapan yang lebih banyak dan kesaktian yang luar biasa Jaka pun melanjutkan perjalanannya dengan sebuah bahtera besar.
Di tengah perjalannan Jaka kembali di serang asap tebal, dengan segera Jaka langsung menutup matanya dan merasakan setiap gerakan di dalam kabut “dor” satu peluru langsung bersarang di lengan Jaka. Berdarah.
“wussssss” Jaka segera berlari ke pinggir kapal dan “tugh” satu tendangan melesat ke kepala musuh jatuh seketika. “duar-duar” dua tembakan langsung melesat ketubuh Jaka. Jaka terjatuh ke lantai dan pingsan.

“DIMANA AKU” teriak Jaka dari dalam sel besi. Jaka melihat sekitarnya dan ternyata ia berada di atas kapal milik bajak laut Kabut dan di dalam kurungan besar.
“PANGERAN!!!” teriak Jaka sambil berlari ke sudut sel melihat sang pangeran yang lemah tengah bersandar di dinding kapal.
“Siapa kau” tanya pangeran lemah.
Aku Jaka dari kerajaan Makmur dan hendak menjemputmu untuk kembali ke Istana.
“Benarkah, baguslah kalau begitu, jangan buang-buang waktu”
“Tidak lama lagi aku akan dipindahkan ke Pulau Kabut dengan kapal besar melalui jalur utara, saat malam para penjaga akan banyak yang tidur dan selanjutnya, Lakukanlah yang kau bisa kau tau apa yang kau lakukan”.
“Ambillah ini”. Ujar pangeran seraya memberikan sebuah belati yang bergagang emas kepada Jaka, setelah itu tak lama kemudian dua orang awak kapal menarik pangeran dengan paksa untuk dipindahkan ke kapal lain dan pergi berlayar melalui jalur utara untuk pergi ke Pulau Kabut, di sanalah pangeran baru akan diasingkan.

10.05. tepat saat cahaya bulan mulai bersinar tedup saat hawa dingin menyelimuti malam yang di penuhi kabut. Malamnya saat bulan purnama sempurna membentung lingkaran gempal, di malam yang dingin hembus angin membuat bulu kuduk berdiri, di malam yang sunyi Jaka menyiapkan semua taktik dan serangan. 23.00. “HEI KAU!!!” teriak Jaka memanggil pertugas sel, saat perugas mulai mendekati pintu sel “clap” dengan cekatan Jaka melemparkan belati emas dan tepat mengenai leher pertugas. Tumbang. Ia segera mengemasi kunci di saku celana petugaslalu segera membuka sel dan pergi dengan naik speedboat yang merapat di kapal itu dan menuju laut utara, 3 mil dari Pulau Kabut.

Jaka membelah lautan dengan speedboat dan dengan amunisi sebilah pisau yang diberikan Pangeran serta dengan kesaktian tingkat tinggi ia mengenakan sehelai syal yang menggantung di lehernya, membiarkan ujung syal tersapu-sapu angim oleh hembusan angin di kencangnya speedboat yang membelah lautan. Bukan sebuah masalah untuk mengejar komplotan bajak laut itu. 5 Menit berlayar samar-samar dari kejauhan tampak dua kapal besar dengan puluhan meriam siap menembak apapun yang mendekat, Jaka segera menghentikan Speedboat dan melompat ke laut, menyelam di dinginnya malam, Jaka sudah berlatih dalam teknik penyusupan, Jaka segera menyelam ke bawah kapal besar itu suasana Sunyi. Jaka menyelam seperti seekor ikan yang lincah tanpa suara. tanpa alat bantuan.

Satu menit kemudian ia sudah sambai di bagian bawah kapal, mulai melubangi bagian bawah kapal satu dengan pisau pemberian Pangeran. Saat air mulai memenuhi kapal satu, Para awak mulai panik. Jaka segera melompat ke atas Kapal 2 diantara kepanikan para awak ia menyusup masuk. Saat Jaka mulai memasuki ruangan penjara 3 Tembakan langsung mengarah ke tubuh Jaka. Meleset. Jaka segera berbalik dan seketika berada di belakan penjaga penjara “Clap-clap-clap” 3 tusukan cukup membuat penjaga penjara itu pingsan.

Jaka segera berlagi ke ujung koridor penjara di ujung penjara tampak seseorang yang sedang disandera oleh 8 awak.
“Jangan mendekat” teriak salah seorang yang menyandra Pangeran di lorong sudut penjara.
di sisi lainnya datang Kapten kapal dengan senjata api di tangannya , posisi Jaka tepat berada di antara kapten dan anak puahnya yang sedang menyandera pangeran ia tak bisa lari dari kepungan tersebut kecuali melawan salah satu dari mereka.
“Hahaha aku yakin kau akan datang nak” ujar Kapten kapal licik..
“aku akan menyelamatkan Pangeran” Teriak Jaka kearah sang kapten.
“Coba saja jika kau bisa” Kata kapten Perompak itu sambil mengokang senjata apinya.
“Akan Kucoba”.
“wuuss” dengan seketika Jaka langsung berada di belakang Pangeran dan para penyandra tumbang seketika. Sepersekian detik Jaka sudah menusuk 8 Anak Buah kapten dengan kecepatan angin.
“mmmhhh… mengagumkan” Kapten tersenyum licik, dan tiba-tiba dari kejauan 12 armada bajak laut datang mendekat ke kapal tempat Jaka berada dengan membawa ratusan bahan peledak dan ratusan bom waktu, ruangan tiba-tiba terkunci ruangan sepi.

12 kapal bajak laut telah mengepung kapal dua dan segera mendekat untuk meledakkan ratusan bahan peledak di dalamnya. Pangeran dan Jaka langsung panik. Saat panik tiba tiba “Trap, Trap, Trap” Ratusan Peluru bius keluar dari dinding kayu bagian kanan yang langsung terbuka saat peluru itu keluar, Jaka dengan secepat kilat berada di bagian kanan tubuh Pangeran, Tubuh pangeran terlindung dari peluru oleh tubuh Jaka, Puluhan peluru bius langsung bersarang di tubuh Jaka.

Di sudut lain Sang Kapten tertawa dan segera berlari ke suatu ruangan kapal, Jaka dan Pangeran segera mengikutinya dengan tertatih-tatih, saat tiba di ruangan kapal yang memiliki jendela kaca, tampak Dua belas Armada kapal yang membawa ratusan ton bahan peledak mulai mendekat dan mulai menghantam dinding kapal 2 tampaknya 12 kapal itu tak berawak dan tak ada seorangpun di sana, tetapi dilengkapi dengan kendali otomatis yang telah dipersiapkkan, jadi tak ada yang awak yang jadi korban kecuali target yang terkepung, di dalam 12 kapal itu tampat ratusan ton bahan peledak dan setiap tonggaknya dipasangkan bom waktu.

Hah! waktu yang tersisa hanya,
“57 s”. Di semua kapal telah terpasang ratusan bom waktu dengan setelan waktu yang sama.
“45 s” Sang kapten segera berlari ke sudut ruangan kapal dan menurunkan kapal kecil berkecepatan tinggi.
“31 s” kapal cepat itu segera dijatuhkan ke laut dan sang kapten siat-siap melompat ke kapal cepat itu.
“Sap” tangan sang kapten di tangkap oleh Jaka, 12 kapal yang sudah merapat mulai berderik-derik. Sang kapten tergantung-gantung.
“24 s” “Pangeran Cepat naik ke kapal cepat itu” Teriak Jaka yang mulai pusing akibat reaksi peluru bius tadi.
“Tapi kau akan meledak bersama 12 kapal lainya
“Tidak ada waktu lagi banyak yang harus tuan urus di Kerajaan”
“kau bagaimana?”
“cepat saja pergi, Aku akan kembali ke kerajaan nanti, Cepat Pergi, Semua Masyarakat kerajaan makmur menantikanmu”
“17 s”
“Ayo Pergi, jangan hiraukan aku” Teriak Jaka yang mulai merintih kesakitan
“Kau punya banyak tugas di Kerajaan Makmur Pangeran” Ujar Jaka yang muali melemah.
“10 s”
“Cepat pergi!!!”
“Maafkan Aku Anak muda”
“wusssss” Pangeran mengendarai kapal cepat dengan meneteskan air mata dan mulai membelah lautan dengan kecepatan tinggi, mulai menyalip satu persatu armada kapal yang membawa ratusan bahan peledak.
“5 s”. Sang kapten yang telah pasrah dan mulai tersenyum kepada Jaka yang masih menahannya.
“3 s”.
“Pengorbanan yang hebat” ujar sang kapten sambil tersenyum.
Jaka menoleh sang kapten.
“Terima Kasih” ujar Jaka tertaih .
“2 s” sang kapten segera mulai melepaskan tangan nya dari genggaman Jaka.
Jaka yang mulai pusing pun juga terjatuh kedalam air.
“1 s” Tepat sebelum tubuh mereka jatuh ke dalam air.
“Duar” Serentak ratusan bom waktu meledak ratusan ton bahan peledak mulai terbakar. Terjadi ledakan yang dahsyat. Pangeran yang sedang mengendarai kapal cepat menangis tanpa menoleh kebelakang. Tidak sanggup melihat besar ledakan yang menghancurkan tubuh Jaka.

“Itulah sebuah Pengorbanan nak, apapun yang terjadi semua itu akan selalu ada sesuatu yang ia akan dapatkan”. Ujar sang ayah kepada anaknya.
“Kenapa ia rela meledak bersama ratusan ton bahan peledak ayah, lalu cita-citanya di awal tadi demi orangtuannya kan tidak akan tercapai”.
“Hmm.. Anakku, Pengorbanan Jaka disini bukan hanya demi orangtuanya saja tapi itu termasuk bagi kerajaan Makmur, yang dimana Orangtuanya juga tinggal di sana, dengan itu ia juga menyelamatkan Orangtuanya. Lagian masih ada lanjutan ceritanya. Apakah kau masih ingin mendengar lanjutannya Anakku?”
Sang anak pun mengangguk dan mulai kembali duduk manis mendengarkan potongan terakhir cerita sang ayah.

Pangeran pun kembali ke Istana Makmur dan ia disambut dengan meriah oleh semua penduduk beserta sang Raja yang tampak gembira akan kedatangan anaknya.
Dan di antara kerumunan orang banyak tampak seseorang dengan memegang belati emas datang mendekat.
“Apa kau baik-baik saja pangeran” seseorang menyapa pangeran. Seseorang yang amat berjasa baginya.
“Hah? kenapa kau bisa berada di sini? Bukankah kau meledak bersama ratusan bahan peledak di kapal itu?” Tanya Pangeran Terkejut
“Apa kau melupakan sesuatu tuan, Bukankah aku bisa berpindah dalam sepersekian detik. Saat aku mulai jatuh ke lautan aku langsung berpindah tempat ke Istana”.
“aduh itu cukup menghabiskan banyak tenaga”. Kesal Jaka
Dan Akhirnya Jaka diangkat menjadi panglima kerajaan dan hidup bahagia bersama orangtuanya di istana.

Kau tau anakku apa keajaiban pengorbanan itu?. Walaupun tujuan awalnya adalah hanya untuk membawa ibunya ke tabib, tapi lihat apa yang ia dapat dari pengorbanan dan tekad yang kuat itu, ia bisa menjadi Panglima kerajaan, mengobati ibunya dan jangan lupa ia juga mendapatkan sebuah kesaktian yang luar biasa, kau tau nak pengorbanan itu bagaikan pohon yang menggugurkan daunnya demi terciptanya sebuah kehidupan yang baru.

Cerpen Karangan: Hakiem
Blog: i-hafizulhakim0924.blogspot.com
www.aoneximshare.blogspot.co.id

Cerpen Sebuah Pengorbanan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Titisan Leluhur (Part 2)

Oleh:
Pada saat itu, keduanya begitu merasa bahagia dan keduanya saling mengungkapkan perasaan mereka untuk yang pertama sekali secara langsung berhadapan empat mata. Wahyu dan Laras berjanji akan saling setia.

Monster Sekolah

Oleh:
Namaku adalah Adit, usiaku saat ini adalah 25 tahun. Aku ingin mengulang ceritaku di masa lalu. Dulu aku dikenal oleh temanku sebagai teman yang sangat penakut dan sangat pemalu.

Alphaterrania (Part 1)

Oleh:
Bag. 1 Kenyataan Aku terbangun dari mimpi indahku, di mimpi itu, aku berada di hutan yang sangat indah, hutan yang memiliki bunga-bunga berwarna-warni, serangga yang beraneka ragam jenisnya, bahkan

My Age To Seventeen Years (Part 4)

Oleh:
Aku berdiri di depan cermin seakan tak percaya memandangi diriku begitu cantik dibaluti gaun mewah bewarna emas kecokelatan dengan hiasan penuh emas sungguhan mulai dari ujung kakiku hingga ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *