Sebuah Pertemuan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 13 November 2015

Angin malam berhembus kencang di kota Barstrii, suasana seperti ini sudah merupakan hal wajar karena Barstrii terletak di pesisir pantai. Kalian tahu Barstrii adalah kota yang indah, kota ini memiliki pantai yang panjang nyar mencapai 1.200 meter dengan ombak ombak tinggi yang pastinya membuat para peselancar merasa tertantang dan pohon-pohon kelapa yang berjajar rapi yang selalu melambai setiap kali tertiup angin seolah-olah memberi sambutan kepada setiap orang yang datang.

Bukan hanya itu kota ini juga terkenal dengan julukan kota seribu menara, julukan itu diberikan karena kota ini memiliki lebih dari seribu gedung yang berdiri kokoh yang pastinya membuat setiap orang yang melihatnya merasa kagum. Tapi bukan itu alasan aku datang ke kota ini tujuanku datang ke kota ini adalah untuk mencari seseorang, ya mencari seseorang.

Nama ku Kaze aku berasal dari kota Claudh sebuah kota yang terletak di tengah tengah gurun pasir tapi walaupun kota Claudh terletak di tengah-tengah gurun pasir kota Claudh adalah kota yang subur, itu semua berkat kerja keras para pendahulu kami yang memiliki impian untuk membangun kota Claudh menjadi sebuah kota yang ditumbuhi banyak tumbuhan. Walaupun impian itu sangat sulit untuk diwujudkan tapi mereka tidak pernah menyerah hingga akhirnya mereka berhasi dan tugas kami sekarang adalah untuk menjaganya.

Sudah larut malam tapi mataku masih tetap terjaga sudah ku coba untuk tidur tapi apalah daya rasa kantuk belum juga menyapaku. Aku memutuskan untuk mencari udara segar dan menikmati dinginnya malam yang mungkin membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Ku langkahkan kakiku di atas trotoar, malam ini suhu udara terasa sangat dingin menusuk tulang mungkin kebanyakan orang lebih memilih untuk berbaring di ranjang mereka yang hangat daripada berada di luar ruangan, tapi berbeda denganku aku menyukai dingin.

Sudah cukup lama aku berjalan, kaki ini juga sudah terasa pegal aku pun memutuskan untuk duduk di sebuah bangku taman yang terletak di pusat kota. Suasana taman sangat sunyi bahkan suara jangkrik pun sangat jelas terdengar. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling taman tidak ada seorang pun, wajar saja sekarang sudah jam sebelas malam lewat mungkin jika ada orang melihat mereka akan bertanya-tanya sedang apa aku di sini. Ku arahkan pandanganku ke arah gedung-gedung pencakar langit yang berdiri kokoh menjulang ke atas “walaupun di malam hari tapi tetap terlihat mengagumkan” gumamku dalam hati tida heran Barstrii menjadi kota paling diminati untuk tujuan wisata.

Aku terbangun ketika aku mendengar suara bising dari kelakson sebuah truk yang baru saja lewat, “mengagetkan saja” gumamku dalam hati sepertinya aku ketiduran dan terlihat beberapa binatang lari ketakutan.
“ternyata bukan hanya aku yang terkejut,” pikirku. Ku arahkan pandangan ke langit nampaknya malam ini tidak ada satu pun bintang yang muncul. Entah kenapa suasan seperti ini membuatku kembali teringat masa lalu saat aku menghabiskan liburan panjang kelulusan tanpa satu pun teman sebenarnya tida selalu tanpa teman.

Pagi yang cerah di kota Claudh suhu udara masih terasa sejuk tapi sayang ini tidak akan bertahan lama karena sebentar lagi suhu udara akan bertambah panas dengan cepat. Ku buka jendela lebar lebar seketika angin sejuk berhembus masuk menggantikan udara pengap yang terperangkap semalaman di kamarku. Ku arahkan pandanganku ke luar melalui jendela, jalan utama terlihat sudah ramai dengan kendaraan yang lalu lalang sepertinya masih banyak orang yang sibuk bekerja di hari minggu. “atau mungkin mereka pergi berlIbur heh… aku jadi iri,” keluhku dalam hati.

Bosan rasanya sepanjang pagi hanya diam di kamar aku pun memutuskan untuk jalan-jalan ke luar, namun sebelum aku membuka pintu aku mendengar Ibu memanggilku.
“Kaze tolong bantu Ibu belanja ke pasar” pinta Ibu.
“iya bu sebentar” jawabku aku pun ke luar kamar lalu menuruni tangga. Sesampainya di lantai bawah aku melihat Ibu ada di ruang makan lantas aku pun menghampirinya.
“ini uangnya dan ini daftar belanjaannya” jelas Ibu singkat saat aku melihat daftar belanjaannya.
“banyak sekali” pikirku, “untuk apa bu belanjaan sebanyak ini?” tanyaku.
“nanti Ibu kasih tahu sekarang kamu belanja dulu ke pasar” jawab Ibu lembut, akhirnya aku pun berangkat bersama teman yang selalu setia mememani kemana pun aku pergi yaitu motorku.

Setibanya di pasar segeran ku titipkan motorku di parkiran terdekat. Ku buka kembali daftar belanjaan yang tadi di berikan Ibu.
“belanjaan sebanyak ini mana dulu yang harus di cari eem… lebih baik cari sesui urutan saja” gumamku dalam hati aku pun mulai mencari.
Setelah mencari ke sana ke mari hampir semua yang ada di daftar aku dapatkan, “satu demi satu barang berhasil aku dapat walaupun harus melalui perjuangan yang tidak mudah” gumamku dalam hati sesaat kemudian aku tertawa, ya menertawakan pemikiranku barusan, “tapi masih kurang beberapa barang lagi” pikirku.

Padahal sudah mondar-mandir tapi aku belum juga menemukan barang yang terakhir. Ku edarkan kembali pandanganku mencoba mencari kembali dan ternyata kios yang menjual barang yang aku cari ada di belakangku padahal aku sudah beberapa kali lewat sini tapi kenapa aku tidak melihatnya, “hehh… aku jadi merasa seperti orang bodoh” keluhku dalam hati.

Hari pun semakin siang, “lelah juga mencari belanjaan sebanyak ini” gumamku dalam hati aku pun memutuskan membeli minuman dingin terlebih dahulu sebelum kembali ke parkiran. Segelas besar minuman dingin sudah ada di tangan sekarang tinggal mencari tempat duduk yang nyaman untuk beristirahat. Ku edarkan pandanganku tidak berselang lama pandanganku tertuju ke arah sebuah bangku panjang yang ada di bawah pohon beringin terlihat sudah ada orang yang duduk di sana. Aku berjalan menghampirinya.
“kelihatannya gadis ini sangat fokus dengan laptopnya sehingga tidak menyadari kehadiranku” pikirku.
“permisi..” tegurku dia pun mengalihkan pandangannya ke arahku lalu tersenyum ramah, “boleh aku ikut duduk di sini?” tanyaku.
“tentu silahkan” jawabnya aku pun segera duduk.

Ku lihat jam arloji di tanganku sudah menunjukkan pukul 12.47, ternyata sudah lebih dari setengah jam aku duduk di sini dan rasa lelah ku pun sudah hilang aku memutuskan untuk segera pulang. Sekilas aku melihat gadis di sampingku menerima telepon dari seseorang seketika ekspresi wajahnya berubah dia terlihat cemas segera dia pun menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas jinjing lalu dia bangkit dan pergi berlalu dari tempat ini.

“sepertinya ada masalah serius” pikirku. Belum sempat aku pergi, langkahku terhenti ketika pandanganku tertuju ke arah sebuah benda yang tergeletak di atas bangku aku pun mengambilnya.
“ini kan kartu identitas milik gadis tadi” gumamku pelan lebih baik aku segera mengembalikkannya, tapi nanti saja Ibu pasti sudah lama menunggu lagi pula tidak lucu kan mencari alamat dengan membawa barang sebanyak ini nanti aku dikiranya kurir.

Cerpen Karangan: Rian Yogaswara

Cerpen Sebuah Pertemuan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Isi Batok Kepala Bertengkar

Oleh:
Seorang pengamen duduk di sisi trotoar perumahan sejenak melepas lelah setelah berteriak ‘menyanyi’ mencari selogam dua logam rupiah. Dipeluknya gitar dengan kedua lengannya, sebatang korek api terselip di sudut

Awal dan Akhir [ Dark Fang ]

Oleh:
Tiba-tiba saja gelas itu terjatuh dari genggaman Alex yang merenggang dan pecah menjadi serpihan-serpihan kecil di lantai kamarnya ini. Sebenarnya bukan sekali ini saja dia memecahkan gelas di kamarnya,

Gitar Sayap

Oleh:
Kasur letih menopang tubuh dalam empuknya. Wajah nan berbinar, sorotan mata tak bertujuan, terhanyut pikiran mengkhayal banyak kisah terkandung dalam kepala. Namun, diri ini juga sadar akan keadaan. “Tidak!

Dreams

Oleh:
Kulihat kristal cair akan mendarat di telapak tanganku. Beberapa detik benda itu tepat membasahi tanganku, hingga seluruh tubuhku. Dalam sekejap, tubuhku telah kering kembali. Aku terhenyak, mengingat sejak kapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *