Secret Agent Member

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 1 August 2016

Claire menatap risih kerumunan perempuan penggosip itu. Ia tahu mereka membahas Ken, pemuda yang terkenal sebagai stalker mengerikan di kampus. Tapi yang membuatnya muak adalah mereka tak punya bukti nyata, kecuali omongan para mahasiswi lain.

Claire bergegas ke luar dari toilet. Ia masih harus mengikuti jam Pak John siang ini. Ya, walau itu menyebalkan, setidaknya itu lebih baik daripada mendengar gosip tadi.

“Claire? Kenapa wajahmu kusam? Oh aku tahu, kau melihat mantan kekasihmu ya?” Tanya Megan menggoda sahabatnya itu.

“Tidak, kau tahu kan aku sudah tidak peduli padanya. Ini tentang Ken, Meg. Gosip itu semakin parah,” jelas Claire sambil geleng-geleng kepala.

“Kurasa gosip itu ada benarnya, Clai. Ya, kau tahu kan Ken suka menghabiskan waktunya dengan mengikuti beberapa mahasiswi unggulan disini?”

“Bisa jadi kan dia iseng?”

“Clai, dengarkan aku, tidak ada orang yang iseng separah itu. Ah, sudahlah, jauhi saja Ken, ya aku tahu kau teman dekatnya, mungkin satu-satunya. Tapi ini demi kebaikanmu,”

Claire tak menjawab lagi. Ia harus mencari bukti itu. Ia sendiri yang akan menemui Ken. Tak peduli apapun resikonya, keputusannya sudah bulat.

Matahari masih bersinar terang. Claire melirik sejenak ke arah jam tangannya. Pukul 14.45. Claire mengambil ponselnya.

“Halo, ada apa Claire?” Tanya seseorang di seberang sana.

“Bisa kita bertemu hari ini?”

“Terserah saja. Kau mau bertemu dimana?”

“Jembatan di pelosok Danton Creek. Sepuluh menit lagi aku kesana,” putus Claire.

“Tidak bisa sekarang, Clai. Aku sedang terapi, pukul 4 sore aja, bye!”

Claire hendak menanyakan pemuda itu sedang menjalani terapi apa, tapi ia sudah terlebih dahulu mematikan sambungan telepon. Claire mulai melangkahkan kakinya tapi Megan menahan tangannya. Bertanya kemana sahabatnya itu akan pergi. Claire hanya berkata bahwa ia ada urusan penting dan ia pun mengucapkan selamat tinggal.

Jembatan Danton Creek, 16.05

Claire tidak melihat tanda-tanda kemunculan Ken. Ia mulai muak menunggu. Ditambah warna langit semakin kelabu, tanda akan hujan. Akhirnya Claire memilih untuk menunggu di salah satu gazebo yang ada.

“Hai! Maaf membuatmu menunggu, Clai.”

Claire berbalik. Pemuda itu datang juga akhirnya. Ken. Claire memutar bola matanya. Sadar akan gerimis yang datang, ia dan Ken berjalan beriringan ke arah gazebo.

“Kau mau bicara apa?” Tanya Ken.

“To the point saja. Gosip tentangmu semakin parah, Ken. Mereka memanggilmu dengan sebutan stalker mengerikan. Kau selalu mengikuti mahasiswi kampus kita. Terutama mahasiswi berbakat. Dan setelah itu, mereka hilang. Aku tak tahu ini sebenarnya ulahmu atau bukan, tapi ini cukup janggal jika dibilang kebetulan, apakah kau bisa menjelaskan sesuatu padaku?”

Ken menghela napas. Ia tak segera menjawab. Suara hujan yang deras mengisi suasana sepi di antara mereka. Claire berdehem. Tanda Ken harus segera menjelaskan sesuatu padanya.

“Clai, aku tak tau aku bisa mempercayaimu atau tidak, tap-” Ucapan Ken terpotong.

“Ken, kau bisa mempercayaiku. Aku tak akan membocorkan rahasiamu, tapi kau harus berjanji untuk berhenti melakukan hal mengerikan tersebut.”

“Oke, aku tahu kau bisa dipercaya, Clai. Jangan potong ucapanku, okay? Baik, aku mulai. Aku memang mengincar mahasiswi unggulan kampus kita. Dan mereka hilang setelah itu memang masih ada kaitannya dengan apa yang aku lakukan. Kau harus tahu bahwa aku seorang anggota dari agen rahasia,”

Claire menutup mulutnya dan menggeser badannya menjauh beberapa langkah. Ken hanya meliriknya sekilas dan melanjutkan kembali kata-katanya.

“Agen ini berusaha membuat robot yang sempurna. Sempurna dalam artian cara robot tersebut berpikir. Lalu hubungannya dengan mahasiswi unggulan adalah agen rahasiaku berusaha membuat klonning otak para mahasiswi. Kenapa mereka memilih mahasiswi? Itu karena menghadapi perempuan jauh lebih mudah dari laki-laki. Ini yang tidak diketahui orang luar. Mahasiswi itu menghilang karena agen kami menghapus semua ingatan penting mereka dan membawa mereka menuju panti sosial yang jauh. Tentunya setiap mahasiswi memasukki panti sosial yang berbeda.”

Ken berhenti sebentar dan meneguk air di botol minumnya. Ia menunduk sejenak dan berkata lagi, “Agen kami menghapus ingatan mereka agar mereka tak melapor kepada pihak yang berwenang. Mereka ingin melakukan semua riset ini secara tertutup. Aku juga tak sepenuhnya mengerti. Alasan aku bekerja pada mereka karena aku memiliki hutang budi pada pemilik agen itu. Ya tak penting untuk diceritakan juga. Kurasa ceritaku cukup sampai disini.”

Claire menggeleng tak percaya. “Maksudmu, kampus kita menjadi incaran karena kampus kita termasuk kampus terbaik?”

Ken mengangguk lemah. Claire bergidik ngeri. Tak bisa ia bayangkan jika ia menjadi para mahasiswi itu. Kenyataan ini terlalu mengerikan.

“Lalu, kenapa kau tak membawaku pada mereka?” Tanya Claire bergetar.

“Ada alasan tersendiri aku tak membawamu. Suatu saat kau akan tahu, Clai. Kurasa alasan itu tak akan penting, karena mungkin kau tak akan mempercayaiku. Tenanglah, aku tak akan melakukan hal serupa lagi padamu atau pada siapapun. Aku terlanjur berbohong pada mereka bahwa tak ada mahasiswi lagi untuk diculik. Ini sudah malam, mari kuantar kau pulang,”

Claire menolak dengan cepat. Menimbulkan segurat ekspresi kecewa di wajah Ken. Tapi ia segera mengangguk tanda jawaban “terserah” darinya.

Mereka berpisah. Ken pergi ke stand yang menjual makanan. Dan Claire menghentikan taksi dan segera pulang ke apartemennya.

Seseorang yang sedari tadi menempelkan indra pendengarannya kuat-kuat, segera menelepon pihak yang berwajib.

Claire tak dapat memejamkan matanya. Kepalanya sakit memikirkan pembicaraannya tadi dengan Ken. Megan, yang merupakan teman sekamarnya sudah sejak tadi tidur pulas. Ia masih tak mengerti kenapa Ken tak menculiknya. Bukan bermaksud sombong, tapi ia termasuk mahasiswi unggulan. Claire menyerah. Ia pun menarik selimutnya dan mencoba tidur.

Universitas Reckton, 07.30

Claire berjalan santai di koridor kampus. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Megan. Claire memutar bola matanya dengan malas. Tapi ada yang berbeda dengan Megan hari ini. Senyumnya itu, terlalu lebar untuk menyambut hari dimana tes Pak John akan berlangsung.

“Ada apa?”

“Kau tahu tidak!? Aku baru saja melaporkan kasus kejahatan!”

Claire mengerinyit. Tumben Megan peduli pada hal seperti ini. Usut punya usut, ternyata kasus yang dilaporkan Megan adalah kasus penculikan mahasiswi oleh Ken!

“Gimana? Sahabatmu ini hebat mendengar percakapan orang kan? Dan tentu saja aku merekam semuanya! Ini sungguh keren!”

“Tidak, Meg! Dimana Ken sekarang?” Claire berteriak histeris.

“Ada apa sih? Dia sedang ada di kantor polisi. Jadwal kuliah kita tinggal setengah jam lagi, kau mau kesana?”

Claire mengangguk cepat. Megan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tentu saja tak akan ikut dengan Claire. Selesai meminta untuk Megan mengisi absennya kelak, Claire bergegas keluar kampus dan menghentikan sebuah taksi.

Kantor Kepolisian, 08.45

Claire hanya menatap sedih pemudia di depannya. Ken. Selain sedih karena Ken akan mendekam di penjara bertahun-tahun, ia juga sedih karena Ken hanya menatap dingin tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.

“Aku bersumpah, Ken! Bukan aku yang melaporkan kasus ini,” terang Claire.

“Lalu siapa? Kau pikir aku bodoh!? Yang tahu tentang kasus ini hanya kau, Claire!” Ken berusaha menahan amarahnya.

Claire terisak. Ia segera menelpon Megan. Ini belum memasuki jadwal masuk, jadi Megan pasti masih sempat mengangkat telepon Claire.

“Dengar ini baik-baik,” ucap Claire pada Ken.

“Halo, Meg. Aku ingin bertanya sesuatu tapi jawab aku jujur,”

“Tentu, apa?” Ucap seorang gadis dari seberang telepon.

Claire mengaktifkan loudspeaker agar Ken juga bisa mendengar percakapan mereka. Claire bertanya dan Megan menjawab sesuai dengan harapan. Raut wajah Ken berubah. Yang semula tegang kini merasa bersalah.

“Claire,” panggil Ken setelah Claire memutuskan sambungan telepon.

Claire hanya menatap mata Ken sambil menunggu apa yang akan diucapkan pemuda di hadapannya itu.”A-aku minta maaf karena telah menuduhmu, Claire. Aku harusnya tahu bahwa kau tidak akan membocorkan ini pada siapapun, aku tahu kau pemegang rahasia yang baik.” Lanjut Ken.

Claire tersenyum simpul. Ia senang Ken tahu bahwa bukan dirinya yang melaporkan kasus itu. Perbincangan mereka dipotong oleh seorang polisi.

“Maaf, nona. Waktu anda sudah habis, mungkin anda bisa kembali lain waktu.”

Claire hanya mengangguk. Saat ia hendak pergi, ia sempat mendengar Ken setengah berteriak. “Aku tak menculikmu karena aku jatuh hati padamu.”

Claire hanya tersenyum tipis menatap punggung Ken yang hilang dibalik tembok antar sel. Claire mungkin tak menyukai Ken, tapi ia tetap sedih ketika teman dekatnya menjadi seorang tahanan.

“It’s okay, kita tetap teman dekat, Ken.” Ucap Claire dalam hati.

Cerpen Karangan: Marcella
Facebook: Marcella Schaeffer
Penulis yang senang berimajinasi dan menuangkannya ke dalam tulisan.
Follow IG : @marcellaaa_

Cerpen Secret Agent Member merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Minum Teh Bersama Tuhan

Oleh:
Pukul 21.09 wib aku meninggalkan kantorku untuk bergegas pulang, langit mendung sekali, hari ini adalah hari rabu 16 desember 2015, mengendarai trail kesayanganku melaju dengan kecepatan standard 60 km/jam

Naura Dan Peri Air

Oleh:
Naura adalah anak yang pintar, cantik dan tinggi. Ia selalu mendapat peringkat pertama di kelasnya. Tinggi badannya mebuat semua orang tertipu. Banyak yang mengira Naura sudah berada di kelas

Tuhan, Kembalikan Cinta Pertama Ku

Oleh:
“Nah anak-anak, sekarang kita sudah sampai di tempat untuk latihan kepemimpinan. Kalian sudah siap untuk menjalani pelatihan ini?” begitu tutur seorang guru yang kini sedang membimbing kami. “Siap Pak!”

Kekuatan Hiro

Oleh:
Pagi hari ketika alarm berbunyi. Hiro terbangun. Hiro akan mengambil kaca mata di meja di samping tepat tidurnya yang berada tepat di samping kepalanya. Namun anehnya Hiro tak bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *