Segel ilusi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 1 May 2017

Kulihat wajah itu, mata itu, bibir itu terbujur kaku bersama tubuhnya. Tak terasa tetesan airmata mengalir di mataku yang tak pernah sekalipun menangis. Irine, istriku telah berjuang 2 windu melawan kesakitan pasca Kyra lahir.

Berlarilah aku berhamburan dari ruang ICU menuju lorong rumah sakit. Malam itu terasa menyesakkan biarpun hujan lebat, ku terus berlari.. lari tanpa henti. Sampai aku terengah lelah di sebuah taman rumah sakit. Wajah kusut dan rambut awut-awutan tak terurus, kutunggu dia selama ini untuk berharap akan kesembuhan.

“Ini tak adil, kau ambil keduanya dan tidak menyisakan bagiku” teriakku di dalam malam dipenuhi petir. Berkali kupukul kedua tanganku ke tanah untuk mengusir rasa geramku. Seperti tak rela bila ini tak terjadi, ku terus menggeram dan mengacak-acak tanah rumput. Seolah mencari sesuatu, tiba-tiba kuterdiam seperti berpikir dalam. Tak lama kemudian aku terngadahkan kepalaku.
“Jika ini takdirmu, aku akan lawan. Aku akan cari jawabannya.. aku cari jawabannya… ha… ha” seruku sambil menyeringai.

Setelah seribu hari kepergian Irine, skarang aku berada di padang pasir Irak yang dulu dikenal Babylonia. Aku sedang mencari jawaban itu di sini, legenda Harut dan Marut konon dua mantan malaikat itu memiliki kitab sihir yang semua jawaban dunia ada di sana.
Kutelurusi tiap inchi pasang pasir untuk menemukan mitos tersebut dan aku percaya itu ada.

Tak terasa 2 tahun berlalu berkelana kesana-kemari dari bumi nusantara ke bumi Sunni dan Syiah ini. Rambut panjang dan muka dipenuhi brewok tak terawat, itu tak kupedulikan.
Suatu ketika saat kelelahan tanpa air minum, ku tak sadarkan diri. Dan tak terasa jatuh pingsan. Badan ini terasa berat rasanya. Panas yang menyengat membuatku kehilangan kesadaran, tenaga yang dipush untuk terus bertahan. Saat injakan terakhir, kaki ini lemah tapi tiba-tiba bumi yang kupijak bergetar hebat.
Pasir itu menyedotku ke dalam lebih dalam, akhirnya aku terhempas di tanah kasar. Posisi terlengkup samar-samar aku melihat dua sosok hitam menggantung di atas langit-langit dan tak terasa mata ini berat dan jatuh pingsan.

“Hei anak Adam, bangun kau!” suara itu teramat berat dan keras mengiang di telingaku membuat kesadaranku pulih. Tak tahu berapa lama aku pingsan, kupaksa berdiri untuk sejenak duduk melihat ke selilingku dan mencari suara misterius itu. Mata ini terbelalak duo sosok tubuh terbujur dari bawah ke atas.
“Apa yang kau cari di sini, hei manusia bernama Penta?” suara lantang membuat jantung berdegup kencang. “Siapa kalian?” berbalik ku bertanya dengan rasa penasaran sambil heran tahu akan namaku. “Ha.. Ha berani juga manusia satu ini” salah sosok sebelah juga berkata. Kuberanikan diri bertanya “Apakah kalian Harut dan Marut yang melengenda itu?”
Tiba-tiba sebelum pertanyaanku dijawab, hembusan keras mengarah kepadaku membuat tubuhku terhempas ke dinding keras. Membuat tulang-tulang di tubuhku bergemeretak dan bergeser “Beraninya kau menyebut nama itu di sini.. hah” tampak rasa marah itu menyengat di telingaku. “Kami di sini telah beribu-ribu tahun menunggu pencipta kami memanggil lagi dan kamu tak layak menyebut nama kami itu”
Dengan sedikit tenaga aku mencoba mendekat “Aku tahu kalian adalah nama itu, kalian yang mengajarkan sihir di bumi Namrud kala itu” suara getirku. “Kedatanganku ke sini kalian pasti tahu maksudku” … Keduanya terdiam “Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kehilangan kepercayaan padaNYA” berkata bersamaan
“Aku tak peduli, Dia telah menggambil hal yang berharga dari aku. Merenggut dengan tidak adil” terasa hati itu sakit mengingat semuanya kembali. “Berikan sihir kalian, biar kutanggung resikonya” tantangku berani. Ada hening di antara keduanya dan .. “Baiklah kami ajarkan sihir yang kamu inginkan, tapi yang kau pelajari tidak memberikan mudharat dan manfaat apapun kepadamu”
“Tapi ada satu syarat, saat terakhir nanti kamu buka ini” dilemparkan di hadapanku gulungan kertas terbuat dari papyrus terdapat stempel segel pengikat dari lilin cair bertuliskan 1846 tekstur persia. “Ini saja syaratnya, baik aku terima” tegasku

Tiba-tiba kedua mata sosok menggantung terbuka terbelalak, bola mata memerah memancar sekeliling ruangan kuno tersebut. Dalam hitungan detik sekejap sebersit cahaya menyambarku, terasa pening tubuh dan lemas. Kehilangan kesadaran seketika, pingsan yang aku ingat hanyalah dua bayangan sosok perlahan menghilang dari mataku.

Terik matahari menusuk di bawah kelopak mataku membuatku membuka mata biarpun terasa berat. Tubuh ini terasa lelah seperti habis aktivitas berat, kesadaranku perlahan pulih. Kulihat sekelilingku seperti kukenal tapi mengapa aku di sini karena sebelumnya di bawah perut bumi bersama Harut Marut. Apakah hanya mimpi atau ilusi, tapi sejenak ku berpikir dan kulihat tangan kananku menggenggam gulungan papyrus dan satu lagi sebuah tanda mirip tatto tertera di bawah siku tangan 2102. Angka 2102.. apa artinya ini semua, apakah sihir Harut Marut itu berhasil?

Di balik pintu depan itu terbuka, kukenal wajah itu… wajah yang selalu kurindu sejak kepergiaannya.. “Sayang… sudah bangun? suara lembut itu terngiang di telingaku lagi lama tak kudengar. “Apakah ini nyata atau hanya khayalanku saja” suara dan tubuh Erine -istriku tercinta. Dia duduk di sampingku, seperti biasa meraba pundakku. “Kenapa sayang?, kok termenung.. gimana enak tidurnya?. Tadi malam sayang baru datang dari kerja. Gimana kerjaan?” tanyanya kepadaku. Hanya kupandangi wajahnya yang begitu menenangkan hati dan jiwa ini. Wajah yang selalu ingin pulang menemui dia.. tak terasa mata ini basah, kurangkul dia kurangkul erat seperti nggak mau lepas.
“Sayang ..kenapa? tak biasa begini” ucap Erine lembut. “Jangan kemana-mana, jangan pergi dari hadapannku ma” kataku. “Hei sayang, aku nggak akan kemana-mana. Di sini kan, bersama kita bersama” kata-kata terakhir bersama apa maksudnya.

Di balik pintu muncul bocah balita perempuan dengan poni rambut panjang lucu dan menggemaskan “Ayah. Hore ayah udah bangun. Entar kita jalan-jalan yah” Anak perempuan menubruk manja bergelayutan di pundakku. Tapi aku masih terheran-heran melihat dia, dalam hati siapakah ini.
“Hei sayang kok diam, ini kan Kyra. Dia kangen ama sayang, tugas luar kota memang kerjaan sayang” ujarnya lagi. Inikah sihir Harut Marut yang dijanjikan olehku, kudapatkan keluarga lagi, kudapat Erine istriku tercinta dan seoarang anak lucu Kyra. Memang semua terbukti, sampai tak teras genggaman gulungan kuno itu telepas dariku. Tapi aku tak peduli, inilah yang kumau dan tidak ada yang lain. Kehidupan duniawi dan seisinya.

Kuhabiskan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun bersama keluarga kecilku. Kujalani semua hariku penuh canda tawa dan gembira seperti dunia ini milik kami. Pernah ku berujar ke Irine “Aku ingin seperti ini selama bersama kamu”

Suatu malam kami habiskan sekeluarga untuk keluar makan dan jalan-jalan, mengendarai SUV, pekat dinginnya malam menuju rumah. Tanpa kusadari masuk tikungan dengan kecepaan rendah, tiba-tiba ada sesosok melintas, tak pelak kubanting setir ke kiri tuk menghindar. Brakk.. bumper depan menyenggol pembatas jalan, SUV itu terguling.. yang kulihat Irine dan Kyra berteriak memanggilku dan.. semuanya gelap.

Saat kubuka mataku, aku sudah terbaring di atas kereta tandu. Kulirik samping Irine dan Kyra tampak diinfus.. tapi petugas koroner melepas infus itu dan munutup muka Irine dan Kyra dengan selimut. “Tidak.. Tidak!!! ini tak mungkin terjadi lagi” tanganku mencoba meraih mereka tapi terasa mati rasa hanya pikiran dan hatiku yang bergerak. Hanya kupandangi mereka memasuki ambulance dan aku tetap di sini.

Sedikit demi dikit jari kelingking bergerak.. kupaksa terus demi menit.. ke jam untuk bisa bergerak lagi. Urat syarafku sudah terasa normal mengalirkan darah dari jantung ke otak, kupaksa berdiri. Langsung ku berdiri beranjak dari kereta tandu itu, mencoba berdiri terus berlari. Tak kuhiraukan seruan suara petugas yang lambat laun menjauh dari telinga. Ku berlari terus menuju rumahku, setiba di sana kucari lembaran papyrus tersebut yang berasaal dari gua Harut Marut. Akhirnya kudapatkan, ku berlari ke luar disaat guntur menggelegar dan kilat menyambar.

“Kenapa ini terjadi lagi!!!” teriakku ke atas langit-langit gelap tanpa bintang sedikit. “Apa ini yang kau mau, membuat hidupku hancur sekali lagi!!” tertunduk di atas lutut yang lemas dan tertunduk di atas tanah yang lembab. Di dalam kegalauanku, kuingat bahwa dua malaikat itu pernah berpesan bahwa gulungan papyrus dibuka saat tepat. “Apakah ini saat yang tepat?” di dalam hati.

Coba kulihat gulungan itu, tidak ada yang istimewa hanya cap lilin warna merah berlogo 1846. Kucoba merobek segel tersebut, kubuka perlahan-lahan. Hanya gulungan kosong tidak ada apa-apa, kubanting gulungan itu “Apa ini, kalian mempermainkan aku” sambil menghujat Harut Marut dengan celaka. Tak terasa hujan turun di atas kepalaku dan gelagar kilat terus bergemuruh. Sebersit mataku menatap gulungan, muncul sebuah tulisan setelah terkena air hujan “Harta, Wanita dan Anak adalah Perhiasan Dunia”. Mata ini terlihat berkaca-kaca memandang tulisan, gemetar badan ini memaknai tulisan itu.

Badan ini lemas secara tidak kusadari lutut memaksaku sujud, kening menyentuh tanah yang telah basah. “Aku paham apa yang Kau sampaikan padaku dan ini jawabannya” menangis tersedu-sedu meratapi kebodohanku selama ini

Cerpen Karangan: Ferry Fansuri
Blog: gembelgaul.wordpress.com
Ferry Fansuri adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs. Eks redaktur tabloid Ototrend Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance untuk berbagai media Nasional

Cerpen Segel ilusi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Kamar Rahasia

Oleh:
Namaku Adinda Nasywa Azalea, kalian bisa memanggilku Dinda. Aku punya satu misteri di rumahku yaitu ruangan sebelahku. Aku penasaran, tapi ketika aku bertanya pada bunda, bunda malah menjawab, ‘Tunggu

Selebrasi Untuk Shania JKT 48

Oleh:
Pada pagi ini tomi yang menerima telpon dari pelatihnya harus latihan pagi ini di GBK lantaran harus tanding hari ini melawan semen padang tomi yang sekarang ini membela persija

Ball, I Wish…

Oleh:
Kamu terdiam perlahan, melihat sesuatu yang menurutmu aneh di meja belajarmu. Sebuah kotak? Kenapa ada sebuah kotak aneh di meja belajarmu? Sebuah kotak merah berukuran kecil, dengan garis-garis warna-warni

Masalah Buat Loe?!

Oleh:
Kalau loe tanya teman-teman gue tentang gue, mungkin kebanyakan dari mereka akan menjawab Kiki (nama gue) itu konyol. Karena gue mau nyeritain kekonyolan gue, kalau loe tipe orang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *