Sekolah Kebaikan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 14 August 2015

Angin menyapa gadis yang sedang duduk menatap bayangan wajahnya di permukaan air danau. Ia termenung tanpa menghiraukan apapun. Duduk termenung di tepi danau, angin menyibak rambut panjangnya. Wajah tirus dengan ekspresi datar menujukkan kesedihannya. Ia terus menatap bayangannya seakan ia sedang berbicara dengan bayangan wajahnya di permukaan air danau.

Gadis yang menatap bayangan wajahnya tampak terkejut, ia menyadari bahwa bayangannya benar–benar sedang berbicara padanya. Bayangannya tersenyum dan membenarkan keterkejutan gadis itu. Bayangan itu bertanya padanya apakah ia ingin menjadi orang yang dapat memberi manfaat untuk orang lain. Gadis itu menjawab “Tentu saja.” Bayangan itu dapat mengetahui perasaan gadis itu, perasaan yang tidak dibutuhkan dan perasaan yang selalu merasa diremehkan. Keinginan gadis itu sangat tulus, ia ingin menjadi seseorang yang dapat dibutuhkan oleh orang lain dan dapat diandalkan.

Bayangan gadis itu memintanya melihat ke atas langit, ia melihat awan yang memperlihatkan sekumpulan orang–orang yang berseragam putih, wajah mereka tampak bersinar, memancarkan sebuah kebaikan pada diri mereka. Gadis itu tersenyum memandang sekumpulan orang–orang yang berseragam putih tersebut.

“Bagaimana pendapatmu, apa kau ingin berada di antara mereka?” Sang bayangan bertanya.
“Siapa orang–orang yang berseragam putih itu? Ketika aku melihatnya, hatiku merasa damai sekali.”
“Mereka adalah orang–orang yang terpilih untuk melakukan kebaikan.” Jawab bayangannya. “Dan kau salah satu dari mereka, sebelum kau diangakat ke langit bergabung dengan mereka. Ada satu syarat yang harus dipenuhi, lakukanlah tiga kebaikan dalam waktu tiga hari. Setelah itu kembalilah ke danau ini.” Mendengar ucapan sang bayangan, Iqlima nama gadis itu tersenyum dengan perasaan yang masih belum percaya dengan apa yang ia lihat.

Ia senang sekali dan menyetujui syarat yang dikatakan sang bayangan.

“Satu lagi pertanyaanku, apa itu seperti sekolah kebaikan?” Tanyanya dan sang bayangan mengangguk.
“Benar, bisa dibilang seperti itu. Hanya seseorang yang memiliki niat yang baik berhak mendapatkan kesempatan ini. Apa sudah jelas? Sekarang kau pulanglah, persiapkan dirimu dan beritahu pada orangtuamu.”

Gadis itu merasa sudah paham. Ia pun bergegas pulang dengan perasaan bahagia. Bayangan itu pun menghilang tepat saat gadis itu berlalu pergi.

Iqlima memulai tugas pertama dan keduanya dengan sempurna, tinggal satu tugas lagi yang harus ia lakukan hari ini. Ia berniat keluar rumah mengelilingi kompleks rumahnya hanya sekedar mencari udara segar sekaligus mencari target kebaikannya.

Seorang wanita berumur empat puluh tahun dengan fisik yang masih tegap menghampiri Iqlima. Ia mendekati putrinya yang tengah mengarahkan pandanganya keluar rumah.

“Kau benar–benar sudah yakin dengan keputusanmu iq?” Tanya Ibunya dengan lembut.
“Tentu saja bu, ini keinginan terbesarku, aku senang sekali bisa memberi manfaat untuk orang lain. Ini adalah kesempatan dan misi yang harus aku lakukan.” Jawabnya menyakini Ibunya bahwa keputusannya adalah keputusan yang tepat. “Ibu jangan mengkhawatirkan aku, aku akan baik–baik saja. Doakan saja aku ya bu.” Ucap Iqlima memeluk Ibunya.

Seketika bayangan wajahnya muncul pada kaca jendela rumahnya.

“Pergilah ke danau, ketiga tugasmu sudah kau laksanakan dengan sempurna.” Ujar bayangannya lalu menghilang.

Iqlima belum sempat menanyakan sesuatu pada bayangan itu. Ia tidak mengerti bagaimana bisa ketiga tugasnya sudah terlaksanakan dengan baik sementara ia merasa tidak melakukan kebaikan apa pun hari ini.

“Ada apa, kau terlihat seperti orang yang kebingungan?” Tanya Ibunya melepaskan pelukan lalu memperhatikan raut wajah anaknya yang kebingungan.
“Ibu, sudah saatnya aku pergi. Jaga diri Ibu baik–baik. Aku pasti akan kembali, secepatnya bu.” Ujar Iqlima memeluk Ibunya dengan erat dan bergegas mengambil ranselnya di dalam kamarnya.

Ibunya terlihat sedih. Ia ingin sekali mencoba menahan anaknya agar tidak pergi. Saat Iqlima menyalami tangannya, ia menangis lalu memeluk anaknya dengan erat. “Jaga dirimu baik–baik iq, Ibu akan selalu mendoakanmu.” Ucap Ibunya melepaskan kepergian anaknya.

Iqlima terus berjalan dengan perasaan sedih yang ia sembunyikan dari Ibunya, ia tidak ingin Ibunya melihatnya menangis yang akan membuat Ibunya bertambah sedih. Ia berusaha memantapkan hatinya bahwa yang ia lakukan adalah tindakan yang mulia, menjadi agen kebaikan. Ia akan dilatih dan didik di sekolah kebaikan di langit.

Langkah kaki yang membawa niat mulianya berhenti tepat di mana ia mendapat tugas khusus. Ia mendekati air danau lalu melihat ke permukaan air tersebut. Gadis bernama Iqlima itu menatap bayangannya, seolah menanyakan apa yang harus ia lakukan. Bayangan itu meminta Iqlima melihat ke atas langit, ia melihat awan yang membentuk sebuah tangga menuju langit. Hal ini membuatnya mencoba untuk menyadarkan dirinya, apakah ini nyata atau hanya mimpi?. Iqlima menampar wajah dan mencubit tangannya. Ternyata benar sesuatu yang terjadi padanya ini adalah nyata bukan mimpi.

“Naiklah.” Pinta bayangannya.
“Baiklah, tapi aku ingin menanyakan satu hal. Sebenarnya kebaikan apa yang telah aku lakukan pada tugas terkhirku ini?” Tanyanya.
“Ketulusan dan cinta yang kau berikan pada Ibumu, itu adalah kebaikan” Ucap bayangan itu tersenyum. “Di atas sana akan ada seseorang yang menyambutmu, dialah pembimbingmu selama kau berada di sekolah kebaikan. Luluslah dengan cepat dan segera kembali ke keluargamu.”
“Tentu saja, sampai jumpa. Aku harap bisa bertemu denganmu, bayangan wajahku.” Ujar Iqlima mulai melangkah menaiki tangga itu.

Iqlima menatap bayangannya dengan tersenyum lalu melangkah menaiki tangga awan itu. Ia menatap lurus ke atas langit dan berusaha tidak melihat ke bawah. Ada perasaan sedih dan bahagia di dalam dirinya. Ia sedih karena harus meninggalkan Ayah dan Ibunya tapi ia juga bahagia karena ia akan bergabung dengan teman–teman baru yang akan mengajarkannya banyak kebaikan, ini adalah kesempatan untuknya bisa berguna untuk orang lain dengan belajar di sekolah kebaikan. Ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan segera kembali kepada orangtuanya setelah mendapatkan ilmu kebaikan.

Cerpen Karangan: Rizka Apriyani Putri
Facebook: Rizka Apriyani Putri

Cerpen Sekolah Kebaikan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seseorang Di Atas Loteng (Part 2)

Oleh:
“Kalau kamu nggak mau kasih tahu kamu itu siapa. Lalu.. kamu itu apa?” Melihat Miya yang hampir menangis, Leon sedikit merasa bersalah pada gadis itu. Kemudian ia membungkuk berusaha

Entity (The Story Of Darkness)

Oleh:
Suatu permukaan fana, dimana diriku terlahir. Terdapat sebuah ikatan suci yang dapat menutup segala keburukkan dimana keburukkan itu dapat merubah setiap ketenangan menjadi kehancuran yang maha dahsyat. Langit kegelapan

Raka Si Tukang Kayu

Oleh:
Raka mengusap keningnya, melihat karyanya yang sebentar lagi selesai. Karya yang entah sudah keberapa diciptakannya. Sebuah kipas sederhana yang terbuat dari kayu cendawan asli yang didapatnya ketika berkeliling hutan

More Then

Oleh:
Aku tinggal di sebuah kota dermaga pinggir lautan. Sebuah kota bernama Loisiana, saat malam datang kota ini akan tampak seperti sebuah kota terapung di atas lautan luas. Di ujung

Damai

Oleh:
Sepi, sunyi. Aku berjalan terus berjalan, yang terlihat hanyalah bunga-bunga di taman. “Nina, banguun!!” Tiba-tiba terdengar suara. Namun aku tak tahu dari mana asalnya. Saat menggeliatkan tubuhku dan membuka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *