Selalu ada Cerita Di Balik Setiap Permainan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 1 April 2015

Menyelesaikan game sama sekali tidak semudah mengatakannya. Leif menghabiskan malamnya mencoba menamatkan setiap game. Ia mecoba menang di game Minesweeper, dan gagal bahkan pada cobaan pertama. Sebagian dari kaosnya hangus, tetapi untungnya ia berhasil kabur sebelum meledak. Ia mencoba bermain kartu, tetapi entah bagaimana pemain kartu di sini lebih susah dikalahkan daripada di komputernya. Matahari hampir terbit, dan ia belum menyelesaikan satu game pun.
Matilda dan Chessire benar-benar banyak membantu, tetapi tidak sebanyak yang ia harapkan. Akhir-akhir ini Chessire kelihatan benar-benar pucat, dan ia seringkali mencoba bicara dengan Leif, tetapi detik berikutnya menutup mulutnya.
Leif tidak punya waktu untuk mengkhawatirka Chessire, ia terlalu mengkhawatirkan Eileen. Pada akhirnya ia mencoba bermain catur, dan berhasil di level pertama.
Level berikutnya berlalu dengan sangat baik, yang berlanjut dengan peningkatan level dan peningkatan level dan peningkatan level.
“Hebat!” Matilda menyemangatinya. Leif bisa melihat mata Matilda berat oleh kantuk, tetapi ia senang Matilda membantunya menamatkan perjalanannya di dunia game.
Chessire tidak memberi dukungan apa-apa, ia bahkan tidak mengatakan apa-apa. Ia kelihatan benar-benar pucat.
“Level terakhir!” Leif tertawa girang. “Aku tidak tau aku sehebat ini dalam catur!” Ia berlari-lari mengelilingi Matilda dan Chessire dengan girang. Sebentar lagi ia akan menamatkan game, dan kembali ke dunianya yang lama.
“Leif, mungkin sebaiknya kau istirahat sebentar?” Chessire bergeser, memberi tempat bagi Leif untuk duduk.
Leif benar-benar ingin melanjutkan level terakhirnya, tetapi ia menuruti Chessire dan duduk di sebelahnya. Dari sana ia bisa melihat pemandangan matahari terbit, yang meninggi dan terus meninggi.
“Aku tidak pernah menyangka makhluk abu-abu itu jahat,” Leif berbaring di rumput.
“Yap,” Matilda menyahut. Sejak Leif menceritakan tentang pertemuannya dengan makhluk abu-abu itu, Matilda terang-terangan membenci makhluk abu-abu itu. “Dia sangat jelek dan jahat, mengerikan!”
“Tidak semua yang jelek itu jahat,” Chessire bergumam pelan. Leif tau ada sesuatu yang salah dengannya, jadi ia tidak menghiraukannya.
Matahari yang terbit menyinari rerumputan dengan cahaya keemasannya.
Leif memandang takjub matahari itu. Matahari itu bersinar dengan sempurna, hingga ia menyadari sesuatu membayangi matahari. Saat bayangan itu semakin dekat, Leif menyadari itu adalah siluet manusia. Dan saat siluet manusia itu semakin dekat, Leif menyadari itu adalah Eileen, berlari ke arahnya.
“Leif!” Eileen berlari menghampirinya, dan memeluknya erat-erat.
“Eileen, kenapa kau menyusulku ke sini?” Leif melonggarkan pelukan kakaknya itu. Eileen melepaskan pelukannya dan Leif mengenalkannya pada Chessire dan Matilda.
“Aku tidak bisa membiarkan Cricket melukaimu.” Eileen mencoba menjelaskan pada Leif.
“Cricket? Maksudmu monster mengerikan dengan kulit abu-abu itu?”
“Ya. Nah, sekarang bagaimana cara kita keluar dari sini?” Eileen menatap sekitarnya, seperti mencari semacam pintu rahasia.
“Aku tau bagaimana caranya!” Leif melompat tiba-tiba. “Ayo, kita akan bersama-sama menamatkan game ini dan pulang bersama-sama!”
“Tentu saja tidak ada yang akan pergi ke mana-mana sekarang.” Suara dingin Cricket menyahut. Leif berbalik, dan menemukan Cricket di belakangnya menodongkan pistol padanya. Di belakangnya, tiga sampai lima prajurit-prajurit dengan baju besi hitam legam menodongkan pistol padanya, Eileen dan Matilda. Tetapi tidak pada Chessire. Leif meliriknya, dan Leif menyadari kesalahannya. Kesalahannya memercayai Chessire. “Kerja bagus, Chessire.”
Mulutnya membentuk kata “maafkan aku” tanpa suara, tetapi Leif tidak dalam mood untuk memaafkan seorang pengkhianat. Ia hanya memelototi Chessire dengan penuh kebencian,
“Bawa mereka ke menara Aliamphielle!” perintah Cricket, dan seluruh prajuritnya mendorong Eileen, Leif dan Matilda mengikuti Cricket.

“Menyebalkan!” Matilda duduk di atas jerami lembab sambil mengeluh. “Chessire bodoh itu mengkhianati kita semua. Dan para prajurit bodoh itu merampas micrologicalfiberizineku! Padahal, seharusnya sekarang aku ada di rumahku kalian di dunia kalian, dan aku mengerjakan penemuan berikutnya.”
Cricket mengurung mereka di sebuah penjara yang bahkan lebih kecil daripad sel Gorius.
Suara Matilda terus terdengar dari sudut ruangan. Ia kedengaran sangat marah. Sekalipun begitu, ia tertidur lima menit kemudian.
“Eileen,” Leif mendekati kakaknya. “Aku tau ada yang kau sembunyikan dariku. Apa itu?”
Eileen mendesah. “Pernahkah kau memikirkan alasan Cricket melakukan semua ini?” Ia memain-mainkan sehelai jerami lembab dengan tangannya.
Leif mengangkat bahu. Ia tidak sedang ingin berpikir.
“Cricket dendam pada ayahku. Cricket dulu adalah seorang ilmuwan yang ternama. Ia punya cita-cita besar untuk menguasai dunia. Pada suatu hari ia berhasil membuat sebuah alat yang bisa mengontrol manusia sesuka hatinya. Dad termasuk dalam proyek itu. Dulu Dad hanya mengira itu adalah penelitian biasa, seperti apa yang Cricket katakan padanya. Tetapi pada akhirnya Dad mengetahui rencana jahat Cricket. Dad merusak alat Cricket dan menghancurkan desain-desainnya. Terjadi perkelahian, yang menyebabkan Cricket terluka oleh obat-obatannya itu, dan menjadi seperti sekarang. Lalu pada suatu hari Dad meninggal dalam kecelakaan mobil, dan Cricket tidak bisa membalaskan dendamnya.”
Leif perlu beberapa waktu sebelum ia bisa benar-benar mengerti apa maksud Eileen. “Jadi… dia menangkapmu agar ia bisa membalas dendamny padamu?”
Eileen mengangkat bahu. “Aku tidak tau. Dia aneh. Ngomong-ngomong, kenapa temanmu Chessire itu berkhianat?”
“Aku tidak tau. Kukira dia baik, tetapi dia menyebalkan.”
Terdengar suara ‘klang’ dan ‘klik’ dari arah pintu, dan pintu menjeblak terbuka.
“Mungkin itu Cricket,” Leif berbisik.
Tetapi itu bukan Cricket. Cahaya dari lampu di luar cukup untuk untuk menerangi wajahnya, dan dia bukan Cricket. Dia adalah Chessire. Ia menutupi tubuhnya dengan tudung abu-abu lusuh.
“Ayo, kalian harus keluar dari sini,” ia berbisik lirih sambil mengguncang-guncang badan Matilda, membangunkannya.
“Hei, apa maksudmu ke sini?” Leif berdiri, ia sangat marah. “Tidak cukuplah kau mengkhianati kami semua, bahkan Matilda mungil yang umurnya masih di bawah enam tahun?”
“Emm, ngomong-ngomong, tahun ini aku akan berumur enam tahun,” sahut Matilda penuh harap.
“Leif, aku akan membawa kalian pergi dari sini. Kalian bisa kembali ke dunia asal kalian.” Chessire berkata penuh penyesalan.
“Bagaimana? Kau punya ide?” Eileen berdiri dan menghampiri Chessire. Leif tidak mengerti kenapa Eileen bisa memaafkan Chessire secepat itu.
“Tentu saja, aku tau setiap keamanan di sini. Agak sulit mengambil kunci itu,” Chessire menunjukkan sebuah kunci kecil. “Cricket tidak mengizinkanku memegang kunci ini, kau tau. Ayo kita pergi.”
Ia menyiapkan pistolnya di tangannya dan menyerahkan sepucuk pitol lain pada Leif. “Aku tidak bisa mengambil lebih banyak, ayo kita pergi,” ia berjalan keluar dan Matilda, Leif dan Eileen mengikutinya.

Chessire benar-benar mengetahui seluruh pengamanan di Menara Aliamphielle ini. Ia membawa Leif, Matilda dan Eileen melewati lorong-lorong gelap yang aman. Ia menghentikan mereka setiap kali seorang penjaga muncul dari belokan. Mereka berjalan tanpa bersuara. Leif tidak berani bernapas, hingga mereka semua berada di luar menara dengan aman. Di luar sudah malam lagi, karena mereka menghabiskan seharian di dalam menara.
“Akhirnya,” Matilda menghela napas dengan suara tegang yang ia santai-santaikan.
“Sekarang apa?” Leif duduk di akar pohon untuk beristirahat. Ia mengatur napasnya yang tegang.
“Kau bilang, kau tau cara keluar dari sini kan?” Eileen kedengaran penuh harap, tetapi ia cukup santai untuk ukuran gadis umur enam belas tahun yang baru saja mengendap-endap berusaha kabur dari menara yang penuh penjaga.
“Kita perlu bermain game dan menamatkannya, lalu kita akan keluar dari dunia ini. Ya kan?” Leif melirik Matilda.
“Tentu. Sayang mereka merampas micrologicalfiberizineku. Sangat membantu di saat-saat seperti ini.” Matilda menatap tangannya yang tanpa jam dengan penuh penyesalan.
Eileen melihat sekelilingnya penuh harapan. “Apa kalian tau game yang mudah di sini?”
“Kita harus mencoba satu-satu. Bagaimana dengan Dancing Tree?” Leif menunjuk sebuah pohon yang melompat-lompat dengan daun dari balon.
“Tentu saja, ayo!” Matilda berlari sambil menarik lengan Eileen, meninggalkan Chessire dan Leif berdua.
“Maafkan aku,” Chessire menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan.
Leif mencoba memaafkannya dan tidak menghiraukannya. Tetapi sebuah pertanyaan mendesak keluar dari mulutnya. “Kenapa kau mengkhianatiku?”
“Aku membencimu. Aku benar-benar membencimu, hingga suatu hari Cricket mendatangiku, dan memberiku kesempatan untuk balas dendam.” bisik Chessire dengan sangat lirih.
“Membenciku, tapi kenapa?”
“Kau menghancurkan keluargaku. Kau merusak duniaku.”
“Maksudmu?” Leif sama sekali tidak tahu maksud Chessire.
“Semua game yang ada di sini adalah game-game yang ada di komputermu,” kata Chessire dengan suara sangat lirih. Ia mengangkat kepalanya, dan Leif bisa melihat setitik air mata di matanya. “Kau menghapus gameku, dan seluruh keluargaku, duniaku, hilang dari sini.”
“Aku ingat, kau Chessire dari game The Dragons Won’t Fly. Kalau semua yang berasal dari gamemu hilang, kenapa kau masih di sini?”
“Aku kabur, keluar dari gameku, tepat sebelum gameku hilang. Lalu aku bertemu dengan Tornovilone, raja di game The Troops and The Howling Moo. Ia merawatku, dan aku selalu memanggilnya ‘ayah’. Rows juga selamat, kalau kau ingin tau.”
“Lalu, kenapa kau membantu kami kabur?”
“Aku menyayangimu. Maksudku.. sebagai teman. Awalnya kukira kau jahat, tetapi setelah lama berkenalan denganmu, aku sadar kalau kau adalah temanku.” Ia terdiam sementara waktu. “Maafkan aku.”
“Ya.. kurasa juga..”
“Leif! Chessire! Ayo!” Eileen memanggil dari suatu tempat di game Dancing Tree.
“Ayo,” Leif menggandeng tangan Chessire, dan menariknya menuju tempat Eileen dan Matilda berdiri.
Tetapi Chessire menarik tangannya. “Aku tidak bisa. Cricket akan mencariku. Kurasa aku harus kembali ke Menara Aliamphielle.” Ia kedengaran sangat tidak antusias.
“Tentu saja. Daah, Chessire,” Leif balik dan berlari ke arah kakaknya dan Matilda, meninggalkan Chessire sendirian di belakangnya.

Cerpen Karangan: Greenalzine Di
Blog: greenalzine.blogspot.com

Cerpen Selalu ada Cerita Di Balik Setiap Permainan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Paint Without Hand

Oleh:
Dimas bingung apa yang ada di pikiran guru lukisnya itu. Guru lukisnya selalu mengajarkan melukis seseorang di kanvas yang indah namun tanpa sepasang tangan. Setiap Ia melihat lukisan teman-temannya,

Sahabat Scouts Selamanya (Part 4)

Oleh:
Aku bangun lalu berjalan dan berhenti di tengah-tengah mereka semua. “Teman-teman semua,” panggilku lemas, mereka semua mengarahkan pandangannya kepadaku, juga teman-teman Ulfa. “Semuanya harap tenang, dalam situasi seperti ini

Pemuda Gila, Peri dan Bulan

Oleh:
Sore menjelang, dan pemuda itu berjalan menaiki bukit. Bukit yang sangat tinggi, bahkan awan pun selalu berada di bawah puncak bukit itu. Bukit yang sangat sepi, hanya terdapat padang

Kau Tak Pernah Berjalan Sendiri

Oleh:
Entah ini adalah kali keberapa Kayla ingin mengakhir hidupnya, namun selalu gagal, entah ketahuan atau tiba tiba ia diganggu oleh kawanan kawanan hantu yang sering mengganggunya, ya, Kayla merupakan

Are You Brave? (Part 1)

Oleh:
“Fariha!”, “Dret! Dret!”, “Far, bangun dong. Kita kan ke sekolah bareng!”, “Ok. Aku tinggal saja ya!”. “Aaaa!” aku teriak sekesal-kesalnya. Bagaimana tidak, mama dan kakak memanggilku dengan teriakkan khas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *