Selalu ada Cerita Di Balik Setiap Permainan (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 1 April 2015

“Leif, Dancing Tree kelihatannya permainan yang cocok,” Eileen menunjuk sungai-sungai dan pohon-pohon di pinggir sungai.
“Aku menamatkan game ini dua tahun yang lalu. Kuharap, memainkan game ini di sini sama mudahnya dengan bermain di komputer.” Leif mendekati sungai itu dan menepuk salah satu pohonnya.”
“Ini peraturan permainannya,” Matilda menunjuk papan penunjuk permainan yang lebih tinggi dua centi dari tubuhnya. “Kalian harus melompati sungai ini dengan melompat di daun-daun teratai, tanpa jatuh.”
Kelihatannya sangat mudah, hingga ia melihat lima ekor buaya yang berenang-renang di sungai
“Ada lima belas level, ayo kita mulai, sebelum Cricket datang” Eileen melompat ke daun teratai pertama.

Game Dancing Tree tidak semudah yang Leif bayangkan. Ia berusaha mati-matian agar tidak jatuh. Sekali ia melompat tepat ke air, dan Eileen menariknya tepat sebelum seekor buaya kelaparan melahapnya.
Setiap kali level naik, akan terdengar bunyi lonceng yang bergemerincing lantang dan jernih. Lonceng telah berdentang empat belas kali, dan tulisan “lvl. 15” muncul di salah satu dahan pohon dan berkelap-kelip dengan warna merah.
“Ayo Leif, level terakhir!” Eileen berseru menyemangati selagi ia melompati salah satu daun teratai.
Leif mengikutinya melompat-lompat, hingga mereka sampai di garis finish. Mereka melompat bersama dan mendarat di teratai terbesar, melewati garis finish hitam-putih dicat di bawahnya. Terdengar bunyi dentangan lonceng dan sebuah portal hitam muncul tiba-tiba di hadapan Leif.
“Ayo kita masuk. Portal ini akan membawa kita pulang!” Leif bersiap melompati portal itu, ketika ia mendengar seseorang berteriak di belakangnya.
“Berhenti!” Leif berbalik, dan mendapati Cricket persis di belakangnya. Ia berdiri santai, sama sekali tidak memegang senjata apa-apa.
“Cricket, berhenti mengganggu kami!” Leif mengambil pistol dari kantung celananya dan mengarahnya ke kepala Cricket. Tangannya bergetar, karena ia tidak pernah memegang pistol sebelumnya.
“Aku akan menyingkir,” Cricket bergeser, memperlihatkan apa yang ada di belakangnya. “Mungkin kita bisa melihat keputusanmu.”
Di belakang Cricket, ada sepasukan prajurit hitamnya. Mereka masing-masing membawa pistol dan mengarahkannya pada seseorang di tengah-tengah mereka. Leif mencoba memperhatikan lebih jelas, dan tersentak saat menyadari itu adalah Chessire. Dia terikat dalam posisi duduk.
“Benar sekali, aku menemukan pengkhianat kecil ini, mengendap-ngendap di menaraku dengan kunci tersayang ini,” Cricket menunjukkan sebuah kunci kecil. “Sebuah penjelasan tepat tentang bagaimana kaburnya kalian. Dan, kalau kalian berpikir untuk memasuki portal, kurasa aku terpaksa membunuhnya.”
“Leif, jangan dengarkan dia! Kau harus masuk ke dalam portal, kembali ke dunia kalian. Jangan khawatirkan aku. Kau bisa menginstall ulang…” Salah satu prajurit Cricket membekap mulut Chessire, dan Leif tidak bisa mendengar suara Chessire lagi.
Leif memandang sekelilingnya penuh harap. Pistolnya masih ada di tangannya, tetapi ia merasa sangat lemah. Ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda keberadaan Matilda.
“Nah, sekarang kalian berdua berjalan ke sini, pelan-pelan…” Tetapi Cricket tidak melanjutkan omongannya. Sesuatu menabraknya, dan sesuatu itu menarik Chessire, menjauhkannya dari Cricket. Leif tidak bisa melihat sesuatu itu, dan ia menyadari bahwa sesuatu itu memang tidak kelihatan.
Para prajurit Cricket membidik Chessire, tetapi mereka terlalu kaget dan sesuatu yang tidak kelihatan itu menarik Chessire dengan cepat.
“Rows!” Chessire berusaha berdiri, tetapi ia terjatuh.
“Rows?” Eileen bertanya bingung. Tetapi Leif tau maksudnya. Rows adalah anjing peliharaan Chessire, muncul di level ke-lima game The Dragons Won’t Fly. Seingat Leif Rows memang tidak kelihatan, dan hanya Chessire yang bisa melihatnya.
Tetapi Leif tidak bisa mengkhawatirkan Rows sekarang. Ia berbalik melihat ke arah Cricket, dan terkejut menyaksikan apa yang terjadi.
“Kelihatannya, seluruh dunia game telah berkomplot menyerang Cricket. Leif bisa melihat binatang-binatang dari game Zoos Everyday berlarian dan menyerang prajurit-prajurit Cricket dengan gadingnya. Bidak-bidak catur raksasa melompat-lompat dan memukul-mukul. Pohon-pohon menabrak. Bahkan Hello Kitty dari game konyol yang Leif beli di pasar malam memegang ranting dan memukul-mukul prajurit-prajurit Cricket. Cricket hanya membawa tujuh orang prajuritnya, dan ia kelihatan sangat kaget dengan serangan mendadak ini, menyadari tentaranya kalah jumlah.
“Hei Chessy baik-baik saja di sana?” seorang pria dengan janggut cokelat panjang dan mahkota emas melambai dari atas kuda putihnya.
“Tentu saja ayah,” Chessire membalas. Rows pasti telah menggigiti tali yang mengikatnya, karena Chessire menggerak-gerakan tangannya dengan bebas. Ia berlari mengikuti ayahnya menuju pertempuran.
Raja Tornovilone memacu kudanya, dengan kibasan jubahnya. Di belakangnya Gorius dan bala tentaranya menaiki kuda masing-masing, semuanya bersenjatakan pedang.
Prajurit Cricket kalah jumlah. Bahkan saat perkelahian belum benar-benar padam, Leif bisa menebak kemenangan dunia game. Ia bisa melihat dari kejauhan, Raja Tornovile mengayunkan pedangnya, bertarung dengan Cricket.
“Aku akan membantunya,” Leif menyiagakan pistolnya.
“Jangan, Leif. Aku tidak bisa kehilangan kau untuk kedua kalinya.” Eileen menahan tangannya. “Kau adalah adik terbaik yang pernah kumiliki.”
Leif tidak bisa mengatakan apa-apa. Dan ia memang tidak bisa. Sebutir peluru melesat ke arahnya, dan sebelum ia bisa mulai melompat menjauh, seseorang melindunginya dari depan. Leif merasa panik, menyadari orang itu Eileen. Ia mencoba menarik Eileen, tetapi peluru itu melesat dengan cepat.
Peluru itu terus melaju, dan mengenai, Leif menyadari dengan kaget, bukan Eileen. Peluru itu mengenai Chessire, yang berbaring di permukaan daun teratai tanpa bergerak.
Peluru itu ditembakkan oleh Cricket. Chessire telah mengorbankan dirinya untuk melindungi Eileen dan dirinya, Leif menyadarinya. Amarah mulai mendidih dalam hatinya, dan ia berlari dengan pistol terarah pada Cricket.
Ia baru saja berlari setengah jalan, ketika sesuatu yang kelihatan seperti laba-laba baja berdiri di depannya. Leif menengadahkan kapalanya menatap jendela kaca di bagian atas laba-laba baja itu, dan merasa sangat bersyukur saat ia melihat Matilda duduk di atas laba-laba baja, memegang stang dan semacamnya.
“Hei, butuh bantuan?” Matilda melambaikan tangannya.
“Tentu saja!” seru Leif, dan Matilda melemparkan tangga tali ke bawah. Leif memanjat tangga itu, dan duduk di samping Matilda di atas laba-laba. Matilda menarik salah satu tuas, dan laba-laba itu berjalan maju.

“Kau ingat rencananya?” Matilda menyerahkan pil kaca kecil pada Leif.
“Ya. Tunggu sampai kita berada tepat di atas Cricket, dan lemparkan pil ini ke arahnya.” Lei memperhatikan pil itu dengan hati-hati. “Apa isinya?’
“Kau akan lihat nanti,” Matilda menarik tuas lainnya, dan laba-laba raksasa itu berbelok ke arah Cricket. Leif bisa melihat agak sulit bagi Matilda untuk mengemudikan laba-labanya di antara kerumunan orang di bawah. Ia berusaha sebisa mungkin tidak menginjak orang-orang dengan laba-laba raksasanya.
“Jadi, tadi kau menghilang untuk mengambil laba-laba ini dari rumahmu?” Leif mencoba memancing pembicaraan.
“Tentu saja tidak. Aku baru saja membuat… em… ‘laba-laba’ ini.” Matilda menjawab, tetapi matanya tidak berhenti menatap ke depan. “Sedikit lagi… Sedikit lagi… kau siap, Leif?”
“Tentu. Kapan aku harus melemparnya?”
Matilda menatap semacam peta GPS di sebelahnya. Saat aku bilang ‘lempar’”
Leif mengenggam pil kaca itu dengan tegang.
“Lempar!” seru Matilda, dan Leif menjatuhkan pil kaca itu. Pil kaca itu jatuh dengan mulus. Tetapi, epat lima meter sebelum menyentuh tanah, jaring-jaring berdesingan keluar dari pil itu. Jaring-jaring itu jatuh tepat di atas Cricket, dan membungkusnya dengan sempurna.

“Dimana Chessire?” Matilda bertanya sambil melompat turun dari laba-laba raksasanya. Sekarang Cricket telah dijebloskan ke penjara di salah satu kastil-kastil tua di bagian paling ujung dunia game, dan prajurit-prajuritnya kalah telak.
Raja Tornovile telah memerintahkan seluruh tentaranya menangkap Cricket dan memenjarakannya. Pasukan Cricket kalah. Pertempuran mulai memudar, dan tokoh-tokoh game kembali ke gamenya masing-masing. Leif merasa sangat bahagia, sampai pertanyaan Matilda menghancurkan segalanya.
“Ayo, dia mungkin butuh bantuanmu,” Leif berlari menuju tempat kakaknya dan Chessier berada, dan Matilda mengikuti.
Chessire berbaring di pangkuan Eileen, dan ia kelihatan sangat pucat. Matilda menghampiri mereka dan duduk di sebelah Chessire. Ia memegang tangan Chessire, dan memeriksa getaran nadinya.
Leif duduk di sebelah Eileen. Ia menepuk-nepuk pipi Chessire. Mata Chessire mengedip. “Dia masih hidup,” seru Leif, merasa sangat lega. Tetapi yang lain tidak kelihatan selega Leif, dan ia sadar ia tidak tau seberapa lama Chessire akan bertahan.
“Teman-teman…” Chessire berbisik lirih. “Aku minta maaf atas segala kesalahanku. Leif, bisakah kau menginstall…?”
Ucapannya terhenti, dan Leif tidak merasakan detak jantung lagi. Tetapi ia mengerti apa yang Chessire katakan. Ia bisa menghidupkan Chessire lagi, dengan menginstall game The Dragons Won’t Fly.
“Dia telah pergi,” Eileen menyandarkan kepala Chessire di atas rumput. Leif merasakan Rows di sebelahnya, mendengking-dengking sedih. Sekalipun Leif tidak bisa melihatnya, ia tau Rows juga merasa sangat sedih.
Tubuh Chessir mulai berkilau, dan ribuan angka “0” dan “1” bergerak-gerak di tubuhnya. Selama beberapa detik angka-angka itu semakin jelas, dan menghilang sama sekali. Tidak ada yang tersisa dari Chessire, selain sebuah bros kecil dengan huruf “C” hijau di permukaannya.
Leif memungutnya, dan menggenggamnya erat di tangannya.

Raja Tornovile membawa Leif, Eileen, dan Matilda mengelilingi istananya. Ia agak terguncang mendengar berita kematian Chessire, tetapi dengan cepat memulihkan diri. Sore harinya Matilda pulang ke rumahnya.
“Kalian ingin tau apa yang membuat Cricket pergi ke dunia game?” tanya Raja Tornovile saat mereka berjalan menyusuri sebuah koridor.
“Karena dia membenci kami?” tanya Leif. Ia merasa tidak dalam mood untuk menemukan alasan lain.
“Bukan, akan kutunjukkan pada kalian.” Raja Tornovile menarik sebuah obor di dinding, dan sebagian dinding menggesser, menampilkan tangga batu yang meliuk-liuk tinggi di baliknya.
“Wow,” gumam Leif kagum, sebelum mengikuti Raja Tornovile menuruni tangga.
Raja Tornovile membawa Leif dan Eileen menuruni tangga demi tangga. Semakin jauh mereka turun, semakin gelap ruangannya. Pada akhirnya Leif mengikuti Raja Tornovile memasuki sebuah ruangan gelap dengan dinding batu. Ruangan itu sangat gelap. Satu-satunya cahaya adalah cahaya putih yang sangat cemerlang yang berasal dari sebuah batu Kristal tepat di tengah-tengah ruangan.
“Ini adalah Kristal Kehidupan bagi dunia kami. Siapa pun yang bisa mencabutnya, akan bisa menguasai dunia kami.” Raja Tornovile menjelaskan.
“Lalu, apa hubungannya dengan kami?” tanya Leif.
“Hanya kalianlah yang bisa menyabut kristal ini.”
“Tunggu, maksudmu nama kami tertulis di ramalan atau apalah?”
“Tidak. Hanya kakak-beradik dari dunia luar lah yang bisa mencabut Kristal ini.”
Segalanya sudah jelas bagi Leif, tetapi Eileen terus bertanya.
“Kenapa Cricket menggunakan kami? Kenapa bukan kakak-beradik lainnya?”
Raja Tornovile mengangkat alis. “Tentu saja karena hanya kalian yang paling mudah dia dapatkan.”

Raja Tornovile menjamu Leif dan Eileen makan siang. Raja Tornovile juga mengajak Matilda, tetapi Matilda menolak, menjelaskan bahwa ia harus menemukan micrologicalfiberzinenya entah dimana. Sebenarnya tidak hanya Raja Tornovile yang mengajak mereka makan siang, tetapi Eileen menolak mereka, sehalus mungkin. Leif merasa bagaimana pun juga Eileen masih memikirkan kepergian Chessire. Rasanya Leif tidak ingin makan, tetapi ia berusaha sebisa mungkin menelan makanannya, sendok demi sendok.

Setelah makan siang, Eileen dan Leif siap untuk memasuki portal dan kembali ke dunia mereka. Portal itu masih berada di tempat mereka meninggalkannya. Lubang hitam yang berpusing itu melayang beberapa centi dari tanah, menyambut Leif dengan penuh suka cita.
Leif berdiri membelakangi portal. Matanya memandang semua orang di sekitarnya. Sepertinya semua makhluk di dunia game berkumpul untuk berpamitan dengannya. Bahkan Matilda mengundurkan diri dari pencarian micrologicalfiberzinenya demi berpamitan dengan mereka. Sekalipun begitu, Leif merasa ada sesuatu yang kurang. Ia menggenggam bros Chessire dengan lebih erat, dalam hati mengharapkan gadis itu ada di depannya, tersenyum padanya.
“Ayo,” Eileen menepuk pundak Leif. Leif hampir tidak merasakan tangan Eileen di pundaknya, tetapi pada akhirnya ia mengangguk. “Ayo,” gumamnya lirih, menekankan bros Chessire erat-erat ke dadanya. Ia melangkah memasuki portal, merasakan dirinya tersedot oleh lubang gelap yang hitam itu.

Leif mengucek matanya. Sekali lagi ia terbangun dengan kepala pening dan badan pegal, suatu sensasi yang sama sekali tidak dinikmatinya. Ia berdiri dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, menyadari dirinya berada di ruangan yang sangat familiar baginya, kamarnya yang tercinta.
Terdengar suara langkah kaki di belakangnya, dan Leif melihat Eileen berlari memasuki kamarnya.
“Aku berhasil menemukannya, Leif!” Eileen mengacungkan sebuah VCD hijau tinggi-tinggi di atas kepalanya. “Agak berdebu, tetapi semoga saja masih bisa..” Leif mengerti apa maksud Eileen, dan ia mengambil VCD itu, mengelapnya dengan sangat hati-hati menggunakan selembar tissue, sebelum memasukkannya ke dalam komputer.
Leif tau apa yang akan ia lakukan. Mungkin ini bukanlah Chessire yang sama, tetapi menghidupkan Chessire kembali rasanya merupakan ide yang baik. Dengan pemikiran itu Leif menekan tombol enter di komputernya.

Thanks for reading

Cerpen Karangan: Greenalzine Di
Blog: greenalzine.blogspot.com

Cerpen Selalu ada Cerita Di Balik Setiap Permainan (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Miracle (Part 1)

Oleh:
Tak kusangka masih saja kudekap kedua lutut dan bertopang dagu selama 2 jam, ini benar-benar membuatku lelah. Aku hanya tak mengerti maksud dari bulir-bulir kata yang kupelajari saat ini.

Penjelajah Waktu

Oleh:
2132- Indopolis ISIS berhasil dihancurkan. Semua orang sudah bisa tenang. Tapi hmmm… ini bisa dibilang gila tapi alien sudah menguasai Bumi (BOOM). Tapi untungnya alat pembuat atmosfer sudah dibuat

The Golden Ages of Gaia

Oleh:
Pada awal pembentukan dunia. Tercipta dewi yang bernama Gaia. Dewi tersebut menciptakan seluruh isi bumi. Yang pertama diciptakannya ialah bangsa Elf yang diciptakan dari cahaya bintang kejora. Bangsa itu

Fly For Winged

Oleh:
“Mama, Mama. Aku ingin terbang seperti itu. Peri cantik!,” ucap Felly kecil yang tengah melihat Peri Riska terbang untuk melawan Raksasa jahat. Yah… Raksasa yang biasa mereka sebut dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Selalu ada Cerita Di Balik Setiap Permainan (Part 3)”

  1. Patrice vani hosana says:

    Bagus banget ceritanya. Aku suka tokoh chessire dan leif

  2. Fitri Az-Zahra says:

    Cerita nya seru! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *