Senja di Batas Kota

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 26 October 2015

Hari ini adalah hari sesudah kemarin, banyak hal yang telah terlewati. Detik demi detik pun telah dilalui oleh seluruh orang termasuk oleh Sarah. Sarah adalah seorang gadis yatim piatu. Orang-orang di sekitarnya mengucilkannya karena dia adalah gadis yatim piatu yang memiliki warisan yang banyak. Setiap orang berpikir, “Jika kita mendekatinya, pasti kita hanya akan jadi bahan olok-olok dia saja.”

Dalam kesendiriannya, dia selalu melihat mentari terbit dan mentari tenggelam di sebuah bukit dekat padang rumput. Dipandanginya mentari tersebut dengan segala harapan, dia selalu menangis melihat mentari yang terbit atau tenggelam tersebut. Semua orang selalu diam seribu bahasa ketika dia melalui mereka. Hingga pada suatu hari, dia melihat seseorang ketika ia melihat mentari terbit. Orang tersebut menghampiri Sarah.

“Kenapa kau menangis?”
“Maaf. Apa itu mengganggumu?”
“Bicara macam apa kau? Aku yang seharusnya minta maaf.”
Dengan senyuman yang lebar, orang itu pun berusaha menghibur Sarah.
“Ku tanya lagi, kenapa kau menangis?”
“Ini bukan apa-apa.”
“Lebih baik aku menghiburmu dari kesedihanmu.”
Orang itu menghibur Sarah dengan menceritakan beberapa cerita. Cerita tentang keluarganya dan masa lalunya hingga perjalan dia bisa sampai kemari. Dia menceritakannya dengan penuh emosional sampai-sampai membuat Sarah tersenyum bahkan tertawa.

Kini hari sudah semakin siang semenjak pertemuan antara Sarah dan orang misterius itu. Sarah berusaha mengajak orang misterius itu untuk singgah ke rumahnya Sarah.
“Hey, maukah kamu mampir ke rumahku?”
“Dengan senang hati.” Jawab orang misterius itu dengan tersenyum.
Mereka berdua jalan menuju rumah Sarah. Berjalan dari bukit melalui padang rumput yang luas dan pemukiman penduduk yang padat. Berjalan melalui orang-orang yang diam seribu bahasa ketika mereka melaluinya.
“Kenapa dengan mereka? Aneh.”
“Biarkan saja.” Jawab Sarah dengan nada dingin.

Akhirnya mereka tiba di rumah Sarah. Sebelum memasuki rumah Sarah, Sarah memperkenalkan dirinya kepada orang misterius itu. Tapi orang misterius itu hanya berjabat tangan sambil terus tersenyum tanpa mengatakan satu kata pun.
“Ayo masuk. Jangan sungkan-sungkan.”
“Wah rumahmu megah sekali. Siapa saja yang tinggal bersamamu?”
“Hanya aku. Tak ada siapa pun lagi.”
Mendengar jawaban dari Sarah dengan murung seperti mengalami kesedihan yang luar biasa, orang misterius itu memberikan senyuman kepadanya lagi.
“Sudah jangan bersedih. Lihat wajahku yang selalu tersenyum ini.”
Sarah pun melihat wajah orang misterius itu dan tampak tersenyum walau pun terpaksa.
“Kau belum tahu namaku kan? Panggil saja aku An.”

Akhirnya orang misterius itu memperkenalkan dirinya kepada Sarah. Sarah tampak senang mengetahui nama dari orang misterius itu. Sarah menceritakan tentang keluarganya, masa lalunya, dan alasan kenapa orang-orang selalu diam seribu bahasa ketika dia melewati mereka semua. Mendengar cerita dari Sarah, An tersenyum dan berusaha menghibur Sarah. An bermaksud melihat-lihat rumah Sarah, hingga akhirnya dia menemukan foto. Foto keluarga Sarah.
“Siapa mereka?”
“Mereka adalah keluargaku.”
“Kita semua adalah keluarga. Benar kan?” ucap An sambil tersenyum kepada Sarah.
“Kau benar. Tapi tak ada yang menyadari itu.”
“Santai saja. Aku menyadari hal itu.”
Mereka terus memperbincangkan hal itu, hingga akhirnya Sarah melihat ke arah jam dinding. Pukul 5 sore. Waktu untuk Sarah bergegas ke bukit untuk melihat mentari tenggelam.
“Kau mau ikut, An?”
“Ke mana?”
“Ke bukit di batas kota ini.”

An menyetujui ajakan Sarah sambil tersenyum lagi. Mereka bergegas ke bukit di batas kota. Kembali melalui pemukiman penduduk. Melewati orang-orang yang selalu diam seribu bahasa. Melewati padang rumput yang terhampar dari pinggir sungai sampai atas bukit. Hingga akhirnya mereka sampai ke atas bukit.
“Bukankah mentari tenggelam itu indah An?”
“Kau benar. Aku belum pernah melihat pemandangan seindah ini.”
“Maukah kau tinggal bersamaku An? Bukankah kau juga hidup berkelana?”

Setelah Sarah mengatakan hal itu, An berdiri kemudian memandang Sarah sambil tersenyum.
“Sarah. Itu namamu kan? Maaf aku tak bisa.”
“Kenapa?”
“Ini bukanlah rumahku. Lagi pula ketika ada pertemuan pasti ada perpisahan.”

Kemudian An berjalan menuju ke arah mentari tenggelam. Berjalan perlahan langkah demi langkah. Semakin menjauh dari Sarah. Sarah terus berteriak memanggil-manggil An. Ketika Sarah memejamkan matanya, An tiba-tiba menghilang. An meninggalkan pesan kepada Sarah melalui sebuah kertas. Sarah berlari menuju kertas tersebut. Kemudian Sarah membaca isi kertas tersebut.
“Aku adalah malaikat yang bertugas menemanimu walau pun sebentar. Ingatlah Sarah. Hidup akan menyenangkan jika kau selalu tersenyum. Mulai sekarang, berjanjilah untuk selalu tersenyum.”

Membaca kertas tersebut, Sarah tersenyum sambil menangis. Menangis penuh kebahagiaan. An telah pergi meninggalkan Sarah. Kemudian Sarah berjalan pulang sambil menggenggam kertas peninggalan An. An adalah malaikat yang menyemangati Sarah.

Selesai

Cerpen Karangan: Muhamad Syarifudin Hidayatullah
Facebook: Syarifudin Emseh
Orang-orang biasa memanggilku dengan nama Emseh.

Cerpen Senja di Batas Kota merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Tiga Kerajaan Lampau

Oleh:
Disuatu masa, jauh sebelum Kerajaan Sumeria berdiri. Ada tiga kerajaan yang selalu berseteru karena perihal luas kekuasaan, tidak pernah berhenti mereka saling membunuh dan menjarah. Kerajaan Marl, Ferah dan

Gadis Berkerudung Biru

Oleh:
Tak berhenti hatiku terus mengagumi kecantikan gadis yang ada di sampingku sekarang. matanya bening penuh dengan ketulusan, tatapannya fokus penuh dengan keikhlasan, wajahnya yang putih mulus membuatku ingin bersujud

3 Hari (Part 2)

Oleh:
Hingga kami tiba di sebuah persimpangan jalan, dengan hujan yang menuruni kota dengan kami di bawahnya. Ia berhenti berjalan dan berbalik menghadapku “besok adalah hari terakhir, aku ingin tahu

Gara Gara UTS

Oleh:
Namaku Gorbe aku tinggal bersama orangtua dan saudaraku di sebuah daerah di dunia ini. Aku 4 bersaudara dan aku adalah anak ke 4, keseharianku sama seperti remaja umur 18

Anti EWB-Virus Zalla

Oleh:
“Katakan apa maumu?” Vatikan menodongkan pistol ke kepala lawannya sembari tersenyum tipis. Rambut putihnya bergoyang mengikuti arah angin dan mata hijau miliknya memancarkan cahaya. Vatikan siap menarik pelatuk pistolnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *