Senyuman Senja Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 July 2016

Kucabut satu per satu kesepian di ruang kelas baruku ini. Kutatap tajamnya sinar mentari pagi yang menembus kelambu biru langit di sampingku. Aku duduk di bangku paling belakang. Kesunyian kelas membuatku termangu dalam lamunan. Teringat sebelum aku berada di sekolah ini, aku akan berkawan. Namun nyatanya, sudah tiga hari melewati proses perkenalan di depan kelas dengan guru bidang studi yang berbeda aku masih sendirian di sudut kelas setiap jeda kelas—bahkan saat kelas sedang berlangsung.

Sudah kedua kalinya aku pindah sekolah. Begitu menyedihkan menjadi orang asing untuk kedua kalinya. Seharusnya aku mendapat teman. Tapi kali ini beda. Sendunya terasa kejam, khususnya di kelas ini, terdapat orang-orang yang cuek.
Aku terenyah duka melihat sudut demi sudut kelas ini. Aku terasa ditahan oleh tombak-tombak penghalang, yang mungkin akan berubah menjadi samurai dalam kediaman ini.

Aku mencoba menginjakan kaki ke luar kelas. Suasana ramai dan kerumunan orang-orang yang tengah asyik dengan topiknya masing-masing. Aku masih berjalan, sendirian. Koridor kelas tampaknya tega melihatku jalan sendiri di atasnya, berwajah kaku dan tak tentu arah, menyakitkan. Beberapa siswi melihatku asing. Sedikit-sedikit, ada yang berbisik dengan wajah beragam —dari yang penasaran sampai berkerut dahinya. Tak satu pun yang gemar menyapaku, apalagi menyambut, runyam. Usahaku untuk melepas duri-duri kebosanan sedari tadi tak berhasil. Aku ingin memulai percakapan sedang, tapi rasanya mereka tak akan menghiraukanku.

Aku tertuju pada sebuah kursi panjang hitam di pinggir taman sekolah. Sekolah ini memang luas dan lengkap. Tak salah Mama memilihkan sekolah yang cukup memadai fasilitasnya untuk anak semanja diriku. Aku duduk sendiri. Semilir angin mengayunkan kain jilbabku pelan-pelan. Kubuka komik yang kugulung di kantongku dan berusaha fokus pada ceritanya. Pikiranku melayang. Bagaimana aku bisa betah hanya dengan ini? Pikirku yang tertuju pada lembaran komik di jemariku.
Aku bukanlah pendongeng ulung yang tahu akhir kisahku ini. Duduk dan tak berkawan di tengah sini mengundang kegundahan hati. Aku pemalu. Aku tak bisa memulai pertemanan. Aku kira mereka akan datang kepadaku, nyatanya tidak sama sekali. Kesepian menumpuk menjadi lembaran cerita yang tersusun dalam buku kehidupan. Mereka terlihat bahagia dengan teman-temannya. Mereka, gadis-gadis sebayaku.

“Kamu anak baru?” tiba-tiba ada suara dari samping kiriku. Sebelum aku refleks menoleh, aku tahu itu suara laki-laki. Aku menoleh bisu. Di sampingku duduk seorang lelaki. Pandangannya lurus ke depan —kami duduk di kursi yang sama. Sesaat aku memicingkan mataku dan tersenyum menyambut hadirnya. Agak ragu, kutelaah kembali dirinya, sekiranya mungkin dia mengenalku. Tapi kurasa tidak. Mataku menangkap tiga bintang emas terbordir di dasinya. Jelas, dia siswa kelas XII.
“Iya….” jawabku ragu. Aku masih bingung. Dia duduk agak berjarak jauh, tapi kurasakan embusan napasnya melanjutkan pertanyaan.
“Kelas XI Bahasa B, kan?” tebaknya cepat. “Mengapa sendirian? Belum punya teman, ya?” tanyanya lagi sebelum kusempat membalas pertanyaan sebelumnya.
Aku terdiam. Rasa gundah yang menyerang lubuk hati seolah pergi senada dengan datangnya anak laki-laki di sampingku ini. Rasanya aku bisa mulai berkawan. Ini yang kutunggu, bukan?
Aku meringis di hadapannya. Tak satu pun kata yang dapat aku keluarkan. Sekejap senyumnya mengembang, manis di sudut bibirnya. Aku masih terdiam merasa minder tak berdaya.
“Kenapa meringis?” tanyanya singkat. Aku belum mengenalnya, aku masih malu untuk membukan percakapan. Mulutku membeku, susah untuk menjawab apalagi bertanya. “Namaku Riky, kelas dua belas,” ungkapnya menoleh ke arahku, yang sedari tadi bertatap ke depan. Tangannya berayun di sampingku, ia ingin bersalaman.
Tanganku kaku. Kutoleh dengan senyuman dan berusaha membalas tangannya dengan anggukan. Aku belum terbiasa bersalaman dengan seseorang yang bukan mukhrim. Suasana menarik rumpang hati yang kosong. Kucoba untuk biasa, tapi tak bisa.
“Namaku Olla,” ucapku singkat. Aku memalingkan pandanganku ke depan —lurus dengan gedung-gedung kelas XI.
“Boleh berteman?” tanya lelaki yang bernama Riky itu.
Aku mengangguk tersenyum. Aku rasa ini saatnya aku membuka diri, untuk tidak tertutup dan berkawan. Beberapa potong percakapan terurai diselingi senyum ramah. Aku mengenal sosok Riky hari ini, di kursi hitam taman sekolah. Sesekali jarum-jarum gugup menjahit bibirku —sebab salah tingkah.
“Jangan ragu, apalagi takut untuk memulai jalin ukhuwah. Bersaudara itu menyenangkan. Mempunyai teman yang sejati itu seorang yang muncul di balik pintu ketika yang lainnya pergi. Jika kamu tak memulai pertemanan yang baik itu, bagaimana kamu punya teman sejati di balik pintu tadi? Mengerti, kan maksudku?” ucap Riky. Hatiku tersentuh ilalang nasihatnya. Aku sadar dengan itu semua. Aku hanya mengangguk malu di sampingnya.

Perkenalan hari ini berakhir saat bel sekolah berbunyi nyaring di sebagian tempat bersamaan. Sesalku terpaut dalam, saat aku berlalu darinya. Aku lupa bertanya tentangnya. Sosok itu, tak pernah kabur dari benakku. Namanya, selalu teringat setiap kali aku memulai hari.

Seminggu setelah perkenalan itu, aku tak pernah bertemu dirinya lagi. Tak kutemukan lagi senyuman damai di taman sekolah seperti siang itu. Sering kali aku mencoba duduk melamun di kursi yang sama. Aku menantinya di sini.
Semangatku redup. Hariku datar. Lagi-lagi aku teriris kesepian. Luka lama akan sekolah yang membosankan ini kembali menggeluti hati. Aku kembali menjadi anak baru yang asing.

Dua pekan berlalu, aku mulai mengenal banyak teman di sekolahku. Aku tak lagi canggung memulai kata. Ini karena pesan dari seseorang yang datang dua minggu lalu, meninggalkan pesan dan tak kembali lagi. Kerisauan akan rindunya sekolah lama pun terobati. Tampaknya aku mampu beradaptasi di sekolah ini.

Pikiranku tak terhenti pada titik temu beberapa hari lalu. Namanya masih jelas terngiang di telinga. Pertanyaan yang sama menjamur dalam benak yang sesak ini.
“Riky? Kelas dua belas?” gumam Kak Namy. Dia adalah senior di ekstra madingku yang paling dekat denganku. “Harus kamu ketahui, sekolah kita itu luas, La. Ada 46 kelas di sekolah ini. Nama Riky itu banyak, bukan hanya satu,” jelas Kak Namy meyakinkan. Kekecewaan mulai menukas kesedihan. Dimana aku bisa bertemu Riky lagi?

Sesering mungkin aku bercerita tentang Riky —walau aku hanya beberapa menit mengenalnya, kepada Kak Namy. Kak Namy begitu antusias mendengarkanku akan deskripsi tentang Riky. Akhirnya Kak Namy menawariku untuk mencari sang empunya nama. Tujuh belas kelas XII yang ada harus kami lampaui.
“Sepenting apa dirinya? Jika kamu bertemu dengannya, apa yang ingin kamu sampaikan?” tanya Kak Namy heran sambil menyeruput es jeruk. Kami sedang ada di kantin siang itu. Baru setengah dari jumlah kelas kami arungi, belum juga bertemu Riky.
Baru kusadar, mengapa hatiku begitu menyeruak penasaran oleh lelaki pemilik nama Riky itu? Sedang ia mungkin tak memikirkan pertemuan beberapa pekan lalu. Ia menghilang bak ditelan bumi.
“Dia hebat. Dia menyadarkanku untuk menjadi wanita yang ramah dan berkawan,” jawabku lancar. Seperti ada yang mengendalikan untaian kata-kataku tadi.
Kak Namy menaikkan alisnya nakal, “Apa kau menyukainya?”
Pertanyaan itu mengundang kekesalan. Kupukul pundaknya. Ia berlari ke luar kantin. Sejak pertanyaan sakral itu dijuruskan, aku mulai menanyai diriku sendiri. Apa benar aku menyukai seorang yang baru kukenal? Apalagi kami hanya bertemu sebentar.

Aku menunggu Mama di depan sekolah. Aku harap Mama tak lama menjemputku. Terik sinar matahari siang itu begitu menusuk hingga menerobos kain seragam putihku. Terlukis fatamorgana di kejauhan langkah kaki ini. Topi oranyeku tak berpengaruh sebagaimana perannya. Sesekali keringat kuusap hingga kurasa satu-dua tetesan di setiap usapannya.
Aku mulai tak sabar. Aku meninggalkan kursi tunggu itu. Aku berjalan pelan meninggalkan sekolah. “Ah, Mama lama sekali!” aku bersungut-sungut sendiri.
“Bersabarlah. Seorang yang hebat itu bukan yang berharta, tapi yang mempunyai kiasan hati yang sabar. Semua akan datang,” ucap seseorang dari belakangku. Refleks aku menoleh cepat ke sumber suara. Seseorang di bawah pohon angsana. Senyumnya masih sama seperti beberapa pekan lalu.
Pandanganku tak terlepas pada lelaki di depanku. Aku terkejut tak percaya. Kini cahaya itu berada dekat. Lagi-lagi mulutku membeku. Lelaki misterius beberapa pekan lalu, Riky.
“Riky!” senyumku mengembang. Segera aku mendekatinya. “Kemana saja kamu?” seruku, tak terkendali. Tanganku menggengggam tali tas ransel yang ikut berguncang dalam lari kecil.
“Hehe… aku masih di sekolah ini, kok,” guraunya.
“Aku berharap bertemu kamu setelah hari itu berlalu. Tapi aku tak tahu harus mencari kemana. Kamu hilang. Padahal kamu siswa di sekolah ini,” kataku, cerewet.
Senyum Riky hilang, sekejap kembali lagi, “Ah, ada-ada saja kamu. Aku sering melihatmu di sekolah. Masa kamu tidak pernah melihatku?”
“Justru itu aku mencarimu. Jika aku melihatmu, tak akan kucari kamu dari satu kelas ke kelas lain,” kataku, mulai akrab. Jelas terlihat senyumku tak terhenti. Hati ini terasa penuh dengan kegembiraan.

Riky menemaniku menunggu Mama di bawah pohon besar itu. Sesekali aku bercerita tentang keseharianku di sekolah.
“Jadi kamu suka jalan-jalan sore?” tanya Riky sembari melipat tangannya. Dia terlihat begitu bersahabat.
“Iya. Apalagi melihat senja dan matahari tenggelam di pantai barat. Itu menyenangkan sekali,” jawabku mantap. Tak ada lagi gundahku. Semua terbayar akan rasa ingin jumpa.
“Jika kamu mau, aku ingin mengajakmu ke tempat yang indah. Di sana kamu bisa melihat senja yang jingganya menenggelamkan mentari. Aku yakin kamu menyukainya. Jika iya, Rabu depan aku tunggu kamu di taman kota,” tawarnya.
Aku terkesima dengan tawarannya. Sepertinya itu ajakan yang hebat. “Boleh juga,” jawabku singkat.

Semenit kemudian, mobil Blazer perak berjalan pelan. Aku yakinkan pandanganku. Ternyata benar, itu Mama.
“Ma!” teriakku. Aku beranjak dari dudukku. “Tunggu sebentar, ya, Ky. Itu Mama,” pesanku sambil berlari kecil ke arah mobil Blazer perak. Mama membuka kacanya. Mama memicingkan matanya yang diserang sinar terik matahari.
“Kemana saja? Mama bingung mencarimu, sayang. Ayo, segera masuk ke dalam. Kamu belum makan siang,” kata Mama.
“Apa aku boleh mengajak teman baruku?” aku menunjuk ke arah belakang. Mama mengecek keadaan di belakangku, aku menunggu jawabannya.
“Siapa?” Mama rupanya masih bingung dengan maksudku. Aku menoleh ke belakang. Aku terkejut, tak satu pun orang duduk di bawah pohon itu, sepi. Hanya ada sinar-sinar kecil yang menembus celah dedaunan pohon. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Riky menghilang.
“Ada siapa, sayang?” tanya Mama lagi. “Mama lihat kamu sendirian di bawah pohon tadi,” ucap Mama. Aku masih bingung. Aku membuka pelan pintu mobil dan menutupnya kembali.
“Tapi tadi ada temanku yang menemaniku menunggu Mama,” ku yakinkan pernyataanku. Mama hanya diam sambil menggeleng, sepertinya Mama menganggapku bercanda.

“Aku lupa menanyakannya,” aku menepuk dahiku.
“Ah, karena rasa cinta, ya? Jadi lupa karena terlalu bahagia berjumpa,” kata Kak Namy dengan alis jahilnya. Aku mendorong pundaknya.
“Eh, jangan begitu. Cinta datangnya tiba-tiba. Bisa-bisa terpikirkan. Bahkan tersembunyi,” kata Kak Namy lagi. Aku cemberut.
Aku rasa Kak Namy benar. Aku jatuh cinta. Tapi apakah ini yang namanya cinta?

Sore itu, aku bertemu Riky di balik bukit itu. Dia tersenyum. “Kamu hampir terlambat. Ayo, ikut aku!” serunya.
Kami berdua berjalan menyusuri rerumputan. Kami tiba di ujung bukit. Dia mengajakku duduk di antara batu-batu itu. Dia terlihat lebih tampan dari pada biasanya. Kemeja biru yang ia kenakan senada dengan senyumnya. Aku sesekali menatapnya malu, seakan kucuri pandang tanpa menoleh.
Jingganya senja itu mewarnai mataku. Embusan angin di atas bukit ini mengelus lembut kulitku. Terlukis kisah di antara aku dan Riky. Lelaki misterius yang kutemui di hari-hari kesepianku.
“Indah, ya?” gumamnya di sampingku. Aku terasa nyaman di sampingnya. Aku berharap hari ini tak cepat berlalu. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Ia mengelus lembut jilbab merahku. Aku terayun kenangan saat pertama aku bertemu dirinya, sesaat aku tersenyum. Mataku tersiram indahnya rasa. Rasa yang susah diungkapkan.
“Kamu lelah?” tanyanya pelan. Aku tersadar dan langsung bangun dari lamunanku di atas bahunya. Aku menunduk seraya menutup wajahku dengan jemariku. Aku meminta maaf.
Dia tersenyum. Senyumannya begitu indah di mataku. Aku memandangnya dalam. Cahaya matanya menembus hati yang tersendu eloknya pandang. Aku tak akan pernah mengira akan bertemu seseorang yang akan datang di hari-hari sepiku.
Ingin hati menyeruak dinding kepalsuan. Aku tak bisa meninggalkannya. Titik-titik yang aku pasrahkan tak bisa aku buang begitu saja. Aku terperosok dalam lantunan cinta yang mengalir deras. Ini memang yang pertama kalinya, dan aku harap ini bukan hanya ilusiku saja.

“Ky, apa yang kamu lihat di sini?” tanyaku memecah kebisuan.
“Kamu lihat itu, ada senja. Senja itu berwarna jingga. Jingganya menghias dunia, bagai layar tertumpu pada silaunya cahaya mentari. Mentari itu indah, seindah hati seorang wanita, wanita yang aku temui. Dan aku ingin menjadi senja agar bisa menenggelamkan hati sang mentari. Tapi tak tau kapan itu akan terjadi. Atau mungkin sudah terjadi,” jelasnya sambil menatap matahari yang tenggelam oleh jingganya. Sayup-sayup terdengar burung-burung kembali ke sarangnya.
Aku menatapnya kaget. Kata-kata itu menyentuh fantasi. Apakah ia mendengar isi hatiku di sini? Aku tak tahu. Aku hanya tersenyum, mengerti maksud dirinya.
Aku tak mengira ini akan menjadi akhir dari semuanya. Senyum damai itu, senyum di akhir senja.

“Olla!!” teriak Kak Namy saat aku melangkahkan kaki ke kelasku.
“Lihat ini,” aku mendekatinya. Kak Namy menunjukkan foto angkatan yang lulus tiga tahun yang lalu. Aku masih bingung maksud Kak Namy.
“Aku harap kamu tak akan pernah mengira ini,” ajak Kak Namy.
Aku menurutinya. Sepertinya ini penting. Aku mengikutinya hingga berujung di pemakaman umum. “Mengapa kakak mengajakku kesini?” tanyaku.
“Lihat itu!” katanya. Aku mulai mengerti kata-katanya. Kulihat selembar koran di tangannya.
Berdiri sebuah nisan bertuliskan nama yang dimaksud. Seperti ada yang mencabut nyawaku. Suara teriakan dalam diriku tak terkendali. Rasanya seperti menggoncangkan diri ini. Kuingat semuanya. Orang yang dimaksud adalah yang ada di dalam berita dalam koran yang kusut itu.
“Dia meninggal di umurnya yang ke-19 tahun. Dia meninggal karena penyakit kanker hati,” jelas Kak Namy membaca berita dalam koran yang terbit dua tahun yang lalu. “Namanya Riky Senja,”
Selama ini yang kukenal nyata tersarukan oleh rahasianya sendiri. Ia adalah sosok gaib di balik cerita kehidupanku. Ternyata seram, terdengar. Gerahamku seakan-akan terlepas dari naungannya. Aku menganga kaget melihat realita yang terjadi di depanku. Bibir bergetar lalu membisu.
“Tidak mungkin!” teriakku. Aku bak teriris pisau tajam. Foto yang kulihat adalah empunya senyum senja kemarin. Namanya terlukis di atas batu nisan itu. Dia, yang selalu memberiku nasihat kecil yang merubah titik-titik kesedihanku. Dia, Riky Senja.

Cerpen Karangan: Farah Isabella Nur Fakih
Blog: farahisabellanf.blogspot.com
Farah Isabella Nur Fakih, 17 tahun.
Nusa Dua, Bali.

Cerpen Senyuman Senja Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengagum Rahasiaku

Oleh:
Huahh.. Aku menggeliat terbangun. Aku mengerjapkan mata, menyesuaikan dengan kondisiku kamarku yang temaram. “Heii.. Si Neva belum bangun?” aku beranjak turun dari ranjang dan berniat untuk membangunkan Neva. Dia

Dari Balik Jendela Kelas

Oleh:
“Teng… teng… teng…” Jam istirahat sudah berbunyi, pelajaran matematika kali ini ditutup dengan pr yang diberikan oleh guru. Kami menarik nafas lega. Akhirnya bisa santai setelah tegang pelajaran tadi.

Kau Punya Luka?

Oleh:
Selalu. Setiap mendung memayungi langit kota ini, aku melihat seorang perempuan menghampiri satu-persatu dari orang-orang yang melintas dan bertanya demikian, Kau punya luka? Aku heran, kenapa hanya setiap mendung

Aku, Kamu, Kita

Oleh:
Aku gadis berusia 15 tahun. Sebut saja namaku YASMIN. Bahagia, senang dan gembira. Tiga kata itulah yang menggambarkan perasaanku saat ini. Aku sangat bersyukur atas nikmat yang telah Allah

Geography Couple (Miss You)

Oleh:
Hai semuanya. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji kepada Tuhan, eh sepertinya gak usah lah ya. Perkenalkan nama ku Nara, Kwon Nara. Kalian boleh memanggilku Nara Cantik, Nara imut, pokoknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *